Nervous sekali sayah. Menghadapi sidang jam 11.30 nanti.
doakan sayah, kawans-kawans….

Beberapa hari ini, aktivitas per-komputer-an saya agak terganggu. Di tengah-tengah kegiatan saya menyelesaikan laporan dan program untuk Tugas Akhir yang nyaris sudah jatuh tempo, tiba-tiba saja muncul balon pesan ini:

Saya langsung kaget; seingat saya, hardisk saya tidak sepenuh itu sampai minta di-clean up. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk menghapus beberapa file yang saya pikir sudah tidak perlu lagi dipertahankan keberadaannya. Hingga bertambahlah free space-nya. (wew, kalau diperhatikan, memang, free space yang tersedia setelah banyak file di-shift+delete pun masih cukup kecil. Tapi, biarlah, beberapa ratus mega mungkin jauh lebih baik daripada puluhan).

Kembali pada pekerjaan utama, setelah beberapa saat, si balon pesan tadi muncul lagi. Dan, saya serasa dipermainkan. Kemudian saya cek kembali di myComputer. Saya berinisiatif untuk mem-PrintScreen-nya demi meyakinkan bahwa setiap beberapa waktu sekali, komputer saya kehilangan kapasitas sekian megabyte.

gambar beberapa saat sebelum si free space hilang entah ke mana

gambar ketika free space itu hilang entah kemana, beberapa saat kemudian

VIRUS!!! Kecurigaan saya hanya itu. Sudah beberapa bulan antiVirus yang terakhir diinstal sudah tak berfungsi sama sekali, minta di-update. Tapi saya malasssssss.

Kira-kira, ada yang bisa mbantu saya?

“Coba lihat,” teriakanmu seketika memisahkan kepalaku dari lamunan yang tengah aku ciptakan bersama jendela dan atap bangunan menjulang yang nyaris sejajar dengan tinggi kita, “bulannya sangat indah.”

Kuikuti arah telunjukmu, menatap sesuatu yang kau sebut indah itu. Jujur, aku lebih suka bulan sabit; jauh lebih cantik.

“Kau bayangkan, seandainya malam benar-benar menelan alam dengan hitam— …” oh, aku tahu sesuatu yang lebih pasti. Ialah suaramu yang hilang ditelan bebunyian kendaraan yang berlalu-lalang di belakang kita. Bagaimanapun, kita tidak sedang berada di kafe temaram atau longue yang sangat nyaman. Kau tahu, aku sempat frustrasi saat pertama kali kau mengajakku ke tempat ini. Dalam mimpi sekalipun, aku tak pernah berani memikirkan diriku duduk pada pembatas sisi jalan layang sambil berbincang dengan seseorang atau hanya sekadar menikmati malam. Terlalu berbahaya untukku.

“Kebisingan dan sedikit ketegangan di sini akan memberimu kedamaian dalam bentuk lain,” meski kutahu kau hanya berusaha mengatasi ketakutanku waktu itu, “percayalah,” ya, aku percaya, bersamamu segalanya akan baik-baik saja.

Rasa percaya diriku kian bertambah ketika kulihat sepasang sejoli duduk mesra di atas sepeda motor yang ditepikan beberapa meter dari keberadaan kita, bahkan juga beberapa meter dari keberadaan mereka. Tiba-tiba aku teringat perkataan temanku tentang jalan layang yang menghubungkan Pasteur – Surapati ini. “Di sini tempat orang pacaran, kan?” pertanyaanku terdengar sangat norak di telingaku sendiri.

“Apa?” kau berteriak sambil mencondongkan telingamu ke mulutku. Oh, terima kasih, Makhluk-makhluk Beroda yang mendesau bising. Lain kali aku akan berusaha lebih baik lagi dalam membuat pertanyaan. Dan aku perlu sedikit penyesuaian teknik vokal untuk dapat memproduksi suara yang baik saat berbincang—tepatnya berteriak.

Tetapi, ada saatnya kita tidak harus berteriak. Kau memberitahu, “Pertama, ketika jalanan lengang; kedua, ketika jalanan ramai dan kita hanya perlu berbicara tanpa ingin didengar siapa pun namun tetap mendambakan keberadaan seseorang di samping kita.” Terima kasih, kau berhasil membuatku bingung untuk yang kedua itu.

“Ayolah, kau pasti lelah menulis diary, dan merasa semakin gila setiap berbicara dengan dirimu sendiri di depan cermin,” paparmu sebelum akhirnya kau mendemonstrasikan metode yang lebih baik dari kedua hal itu. Kau menoleh, memastikan sekelompok kendaraan lewat secara bersamaan. Kemudian kau berkata-kata seolah aku mendengarnya. Aku hanya memandangi wajah dan gerakan bibirmu yang ajaibnya berbunyi WHUZZZ, BRMMM, NGEEENG, TIDIIID atau bahkan BLAR!!!

“Ah, lega,” ucapmu setelah selesai. Aku mulai paham, lalu berkesimpulan: inti dari metode yang kau maksudkan adalah mengungkapkan sesuatu yang kau anggap sangat pribadi dan rahasia kepada seseorang tanpa perlu kehilangan arti kerahasiaannya. Menarik. Hei, ternyata tidak semua pasangan yang datang ke tempat ini hanya untuk berpacaran.

“Sekarang giliranmu,” kau menantangku.

Aku? Ah, orang bodoh sepertiku bukanlah penganut spontanisme yang baik. Pada malam-malam berikutnya, aku baru menemukan banyak materi rahasia yang selama ini hanya bergaung double stereo di ruang kedap suara dalam dadaku saja. Dari mulai masalah perceraian kedua orang tuaku, adikku yang menderita syndroma down, pengalaman seksual pertamaku yang mengerikan, kebohongan kecil dan besar yang pernah kubuat, hal-hal paling konyol dan memalukan yang pernah kulakukan, hingga penyakit-penyakit menjijikan yang sempat menyerang daerah paling sensitif di tubuhku. Wow, tak kusangka aku se-ekstrovert itu.

“Kau tahu, hanya ketika bersamamu aku merasa menjadi seseorang yang berbeda dalam versi aku yang sebenarnya. Maksudku, kaulah yang membantuku menemukan sisi yang lebih aku dari diriku sendiri,” pada malam kesekian itu, kau menatapku dengan ekspresi sedikit bingung saat mendengar sepenggal pengakuanku. Volume suaraku mengecil karena bising kendaraan kembali hadir, “Biasanya, ketika kita jatuh cinta, kita jusrtru merasa gamang dengan diri kita sendiri…” dan suaraku benar-benar menghilang ketika kukatakan, “tetapi, jatuh cinta padamu sangat berbeda; begitu sederhana namun istimewa.” Sekali lagi aku berterima kasih pada makhluk beroda di belakang kita. Betapapun aku belum siap dengan reaksimu ketika mengetahui perasaanku yang sebenarnya.baca lebih lengkap

Ia menangis sedari aku datang. Mereka salah; tidak semua air mata perempuan mampu melumpuhkan hati lelaki. Kecuali ada rasa bersalah menjelma bayanganku di matanya.

Kau kenapa?” aku bertanya untuk kesekian kalinya, dengan nada kesal.

Aku hamil,” akhirnya ia menjawab. Barulah hatiku lumpuh, kemudian lepuh. “Dua bulan.”

Mestinya ini menjadi kabar bahagia. Kelak. Beberapa tahun lagi, dalam situasi dan kondisi yang tidak seperti ini. Aku lupa mau berkata apa. Tepatnya, mendadak tak mampu berpikir dan memproduksi kata-kata dengan lancar dan semestinya. Air mukaku kering dan napasku sesak. Kupertemukan punggungku dengan dinginnya dinding kamar kostnya, lalu menatap langit-langit dan seekor cicak yang kesepian. Setelah itu aku menyulut rokok dan berusaha mencari ketenangan dalam setiap hisapan.

Secangkir air mata yang ia suguhkan menjadi kopi terpahit sepanjang malam Minggu yang pernah kami lalui. Aku ingin pergi ke tempat yang jauh dan melupakan semuanya. Semuanya. Tetapi, menyangkal fakta bahwa ia adalah kekasihku bukan hal yang mudah. Terlebih karena aku sangat mencintainya.

Kau tahu, hari Senin aku ada ujian,” kata-kataku seperti udara tak nampak yang sedang berkejaran dengan kepulan asap.

Ia menatapku. Aku menduga, ia pikir ini saat yang paling salah untuk membahasnya. Dan aku hanya si bodoh yang tak kenal situasi.

Konsentrasiku akan sangat terganggu jika aku diperbolehkan mengikuti ujian hari Senin. Yah, syukurlah, catatan administrasiku semester ini cukup buruk sehingga namaku belum terdaftar sebagai peserta ujian.”

Ada iba di balik derai air matanya. Sementara batinku sibuk menakar-nakar rasa yang mulai duduk manis dalam singgasananya. Satu per satu menampakkan diri, namun aku tak juga mampu menerjemahkannya.

Aku ingin marah, pada diriku sendiri, pada dirinya. Dan pada rasa cintaku terhadapnya. Tetapi kemudian aku tidak menginginkannya. Entahlah.

Ibumu masih sakit?” tiba-tiba ia bertanya dan menyeka air matanya.

Ya. Dan ayahku baru di-PHK,” spontanitas seseorang dalam kondisi tertekan memang terdengar begitu polos, sekaligus memalukan. Oh Tuhan, apakah membahas masalahku di tengah masalahnya dan masalah kami saat ini adalah berdosa? “Ehm, maksudku, lupakan saja. Tadinya aku hanya berusaha membuatmu sedikit lega dengan ‘penundaan’ ujianku lusa,” kuketukkan ujung rokokku pada asbak. Seandainya masalah ini sesederhana abu rokok, semudah itu aku akan menghempasnya. Dan ia akan hilang dengan sendirinya seiring arah angin.

Ia memelukku, “Maaf, aku tak bermaksud memaksamu untuk…”

Bertanggung jawab. Aku melepaskan pelukannya, “Orang tuamu tetap akan mencariku hingga ke ujung dunia,” ya, selama dua tahun ini, nama dan wajahkulah yang mengakrabi ingatan mereka sebagai kekasih puteri bungsunya, “dan kakak-kakakmu juga. Tentu saja aku buronan keluarga.”

Ia menangis lagi.

Saat ini aku benar-benar membenci ketakberdayaan perempuan; tak ada yang dapat kumanfaatkan darinya, terutama tangisannya. Oh, tidak. Aku tidak pernah memanfaatkan apa-apa darinya. Bahkan malam itu pun, aku tidak benar-benar memanfaatkan ketakberdayaannya. Kami hanya mengikuti tuntutan dan tuntunan berahi. Satu-satunya hal yang tak kusesalkan dari kejadian malam itu adalah bahwa aku tidak memperkosanya, dan tentu saja ia tidak merasa diperkosa. Dan, satu hal yang membuatku tenang selepas kejadian malam itu: aku mengenakan pengaman. Aku harus yakin bahwa pengamanku benar-benar aman.

Mestinya aku manut pada petuah kedua orang tuaku,” kumatikan bara di ujung rokokku, kutekan pada asbak dengan segenap kekuatan. “Mestinya aku tidak membolos waktu pelajaran agama, hingga mendapatkan informasi yang keliru dari teman-temanku. Tetapi ini sudah terjadi. Jadi, mestinya aku lebih skeptis dengan alat kontrasepsi. Maksudku, aku tak perlu menggunakannya malam itu,” ya, andai kutahu rasanya jauh lebih nikmat tanpa benda sialan itu.

Maafkan aku…” kini ia lebih dari sekadar menangis.

Apa yang bisa dilakukan seorang lelaki ketika hatinya benar-benar hancur tak berampun? Menangis hanya membuatku lebih hancur. Air mata seorang lelaki tak secair dan sebening milik perempuan. Amarah jauh lebih indah untuk ditunjukkan. Tetapi, masalahnya aku tak mampu melakukan itu kepadanya hanya karena alasan yang tak masuk akal: cinta.

Hanya saja, apakah cinta bisa memberikan jaminan terbaik dalam situasi ini, untuk saat ini?

Aku tak tahu apakah aku perlu tahu siapa yang lebih berhak bertanggung jawab. Dan aku pun tak tahu apakah aku tetap berhak menghindar jika cinta tak mengijinkanku menemukan banyak alasan.

Baiklah, apa maumu sekarang?” aku bak penjinak bom yang sedang berusaha keras mencari kabel pencegah ledakan.

Ia memegangi perutnya, kemudian meremasnya, “Selagi masih dua bulan…”

Tidak!” aku menamparnya. Oh, maafkan aku. Aku hanya terlalu mencintainya. “Biarkan ia tetap hidup. Lebih baik kau membunuh ayahnya saja.”

Aku mencintaimu,” pelukannya kini lebih erat hingga dadaku sesak. “Maafkan aku. Maafkan aku. Ia memperkosaku. Aku bersumpah akan membunuh bajingan itu.”

Biar aku saja…”

Tidak. Kau cukup berjanji untuk melupakan dan meninggalkanku. Karena hanya dengan begitu, aku bisa memaafkan diriku sendiri.”

Aku meledak dalam tangis. Dan cinta—ah, hanyalah cinta…***

Dadan Erlangga

Bandung, 29 Juni 2008 10:57:47

Panggung untuk acara inagurasi sudah nampak dari kejauhan, sedari jalanan sebelum memasuki gerbang kampus. Dan suara bising anak-anak yang sedang cek alat sekaligus latihan terdengar cukup mengerikan di tengah hari yang panas ini.

Ah, lagu–sialan–itu lagi! Aku lupa judulnya, dan sama sekali tak menyesal membiarkan memoriku menghapus ingatan tentangnya. Sambil memarkir sepeda motor, batinku bersungut seperti telah lama memusuhi suara itu.

Baru seminggu yang lalu, lagu itu kuunduh dari sebuah situs penyedia file MP3 yang dapat diunduh secara bebas. Tak ada yang istimewa bagiku. Bahkan versi akustiknya mengingatkanku pada suara pas-pasan teman perempuanku yang hobi membuatku menutup telinga rapat-rapat saat ia mulai membuka mulutnya. Dan kualitas audio yang buruk menjadikan lagu itu tak lebih dari sekadar “bukan sesuatu”.

Sebut saja ini hanya sentimen pribadiku. Hei, aku punya hak untuk suka dan tidak suka terhadap sesuatu. Dan kupikir, tidak melibatkan diri dalam euforia “Misteri di Balik Lagu Gabby” tidak akan memposisikanku pada sekte minoritas yang udik.

“Eh, katanya lagu itu ditulis Gabby sebelum ia bunuh diri, karena frustrasi.”

Oh, please! Perbincangan beberapa mahsiswi tingkat tiga yang kudengar saat aku berjalan menuju laboratorium komputer mengingatkanku pada diskusi serius adik perempuanku dengan teman-temannya yang masih kelas tiga SMP. Ya, adikku-lah yang memaksaku mengunduh lagu itu demi dapat dikatakan “teraktualisasi” diantara teman-temannya sehingga ia bisa menjadi juru bicara dalam setiap wacana gosip tentang Gabby–setelah isu setan SMS merah. Dan kemudian, setiap hari di sepanjang minggu ini, adikku tak pernah tidak memutarnya. Baik itu dalam MP3 player maupun play list di komputernya. Sementara aku selalu memilih untuk jauh-jauh dari semua hal tentang itu.

“Abang takut, ya, mendengar lagu itu?”

Pertanyaan konyol adikku saat itu kujawab, “Bukannya takut. Abang hanya tidak suka mendengar lagu yang hit hanya karena isu sensasionalnya yang murahan, bukan karena kualitasnya.” Entahlah, apakah adikku paham apa maksud dari jawabanku.

Dan hari ini, di siang yang panas ini, aku harus mendengar lagu itu, lagi, sekaligus opini-opini menggelikan dari teman-temanku–yang mestinya bisa jauh lebih realistis daripada adikku dan teman-temannya.

Tapi, ah, sudahlah. Kupikir, lebih baik aku berkonsentrasi pada materi praktikumku daripada ikut dipusingkan dengan lagu yang–konon–misterius itu.

Ya, aku nyaris terlambat. Kelas tepat dimulai saat aku tiba di laboratorium komputer. Sial! Ternyata aku lupa membawa modul! Praktis, aku tidak boleh berkedip barang setengah detik pun demi mampu menangkap semua hal yang divisualisasikan sang dosen. Dan tentu saja, telingaku mesti lebih tajam dari pendengaran seekor anjing kala menyimak penjelasan dosen yang bersuara ekstrim lirih itu.

Oh tidak! Suara di luar (baca: lagu itu) masih saja terdengar. Jelas. Seperti tidak ada stok lagu lain lagi untuk dibawakan. Tetapi masalahnya, aku dan teman-temanku di sini sedang membahas subjek tersulit dan terpenting. Konsentrasiku kian kacau. Oh Tuhan, tolong hentikan mereka!

Tetapi lagu itu semakin jelas terdengar, bahkan dari ketinggian lantai tiga ini.

Aku pun berlari ke jendela dan berteriak pada mereka yang berada di panggung untuk lekas menghentikan lagu itu, dan suara apa pun yang membuat temperatur udara semakin tak keruan.

Mereka balas meneriakiku, dan beberapa mendongakkan wajah dengan tatapan aneh.

Astaga. Bagaimana bisa? Ternyata mereka tidak sedang menyanyikan lagu apa pun, bahkan tak ada yang memegang satu alat musik pun! Mereka justru tengah beristirahat dan hanya berkumpul-kumpul di atas dan di bawah panggung.

Sementara lagu itu masih terdengar, dan semakin mengerikan.

Lalu aku berpaling pada teman-temanku di dalam laboratorium komputer ini, dan mendapatkan tatapan aneh yang sama dengan yang diberikan teman-temanku di luar sana.

“Jangan katakan kalau kalian …”

Oh Tuhan, apakah lagu itu hanya terdengar olehku saja? Bagaimana bisa?

Tiba-tiba seorang gadis muncul, dan tak ada yang merasakan dan melihatnya, kecuali diriku. Ia gadis berambut panjang yang sedang membawakan lagu (yang terus terdengar di telingaku) sambil memetik gitar. Gadis yang tak kukenal, namun tanpa sengaja pernah kulihat dalam sebuah tayangan televisi yang membahas misteri lagu itu, dan diklaim sebagai sosok Gabby. Aku benci menebak. Aku benci ketakutan tak bersebab.

Ia semakin mendekat, seperti pengamen di dalam bis yang menadahkan kantong permen kosong pada setiap penumpang. Bedanya, ialah satu-satunya penyanyi yang bernyanyi tanpa ekspresi. Wajahnya putih pucat dan tanpa riak air muka. Dan aku semakin tak tahan mendengar lagu yang terdengar bagai Lingsir Wengi (dalam film Kuntilanak) itu terus dan terus diperdengarkan. Bahkan kedua telapak tanganku pun tak mampu mencegahnya masuk ke dalam pendengaranku.

Hentikan!

Kulemparkan sebuah speaker kecil dari meja komputer terdekatku ke arah gadis itu. Yes, tepat pada kepalanya. Namun ia tak bergeming dan terus mendekatiku sambil menyanyikan lagu sialan itu. Oh, aku benci mengakuinya, tetapi memang saat ini aku ketakutan. Saat ia semakin mendekat, dan nyaris tak ada jarak di antara kami, spontan aku mendorongnya hingga ia terjerembab ke lantai; dan entah kenapa ia masih bisa memetik gitarnya dan terus bernyanyi.

HENTIKAN!

Kali ini kulemparkan monitor empat belas inchi pada tubuhnya yang terbaring di lantai. Ia berdarah. Sebagian darahnya terciprat ke tubuhku.

Dan aku terjatuh dari tempat tidurku.

“Hhhh, syukurlah…” napasku panjang terhembus, meskipun sakit berkumpul di syaraf lenganku yang menahan bobot tubuhku saat terjatuh.

Huh, mimpi sialan!

Tapi… lagu itu masih saja terdengar. Oh Tuhan, apakah aku masih bermimpi?

Tidak. Aku sudah bangun. Dan suara itu sepertinya terdengar dari kamar sebelah. Adikku tak bisa pelan-pelan dan sekali saja memutarkannya. Ya, kali ini aku yakin bisa menghentikannya. Akan kuhapus secara permanen lagu itu dari komputer juga MP3 playernya.

Tapi… tidak. Lagu itu bukan dari sana. Jelas bukan. Melainkan dari komputerku sendiri. Tapi, bagaimana bisa? Aku tak mungkin menyalakannya dalam keadaan tidur, dan lagi pula tak pernah kusimpan file lagu itu di sana.

“Lagunya bagus, kan?” kursi belajarku berputar, dan nampak seorang gadis yang kulihat dalam mimpiku.

…***

Dadan Erlangga,
Bandung, 01 Juli 2008 15:05:26

Sudah lama ia tak mendengar pertanyaan itu. Sudah lama ponselnya tak berbunyi dengan nada dering khusus untuk perempuan itu.

Ia merindukannya.

Apa kabar, ‘Ta?

Sudah lama pula ia tak mengucapkannya, tak mengetikkannya pada keypad dan menemukannya di sent item dalam ponselnya.

Apakah perempuan itu juga merindukannya?

Tak ada lagi yang menggenggam tangannya ketika menyeberang jalan. Tak ada lagi yang mengaitkan sikutnya saat mengitari mal, mengobrak-abrik Factory Outlet dan berburu film di bioskop-bioskop di Bandung pada tanggal-tanggal merah.

Ia kehilangan.

Tak ada lagi keluh-kesah dan kisah-kisah yang bisa ia dengarkan selama jam makan siang di foodcourt tentang suasana kerja di kantor (bos dan customer yang menyebalkan, karyawan yang genit dan curi-curi kesempatan), atau tentang kegilaan dunia hiburan di Jakarta (serunya mengikuti shooting hingga tengah malam-bahkan pagi, bahagianya bertemu dengan Raffi Ahmad dan Velove Vexia, repotnya mengurusi kostum para pemain, hingga asyiknya melahap fakta-fakta tentang mereka yang tak terekspos infotainment). Tak ada lagi yang (hanya) bisa ia beri buku antologi cerpennya, juga CD tentang program TV yang pernah dibuatnya hanya karena di situ ada potongan gambar mereka berdua.

Apakah perempuan itu juga kehilangan?

“‘Ta, aku lagi suntuk banget. Lagi nggak ada kerjaan. Lagi di Bandung, nih.”

Ia menyesal telah menghapus SMS terakhir dari perempuan itu. SMS terakhir. Ia pun lupa kapan waktunya itu. Mungkin tiga atau bahkan enam bulan yang lalu. Tetapi ia tak pernah lupa dengan perempuan itu.

Ia ingin sekali menemui perempuan itu, atau sekadar menelponnya. Ada banyak pertanyaan untuknya: “Apa kabar, ‘Ta?”, “Kamu di mana, ‘Ta?”, “Apa yang terjadi?”, “Kenapa nggak pernah ngasih kabar lagi?”, “Kok semua nomormu nggak aktif, sih?”, “Apa saya perlu ke rumahmu untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja?”.

Ia benci setiap mendengar suara operator menjawab panggilannya untuk perempuan itu. Dan ia teramat benci berada dalam situasi begini.***

Entah kenapa istilah ini yang harus digunakan untuk menyebut kegiatan pertemuan—tatap muka (di dunia nyata) bagi orang-orang yang sebelumnya hanya saling berinteraksi di dunia maya. Padahal, secara padanan kata, Kopi artinya apa, Darat artinya ke mana. Konon, dahulu kala, sebelum teknologi internet merajalela, istilah Kopi Darat ini ngetren di kalangan orang-orang yang saling berkirim salam di radio. Ah, wallahualam…

Saya sendiri baru tahu istilah Kopi Darat (Kopdar) setelah bergabung beberapa lama dengan komunitas Kemudian.com. Itu sekitar setahun yang lalu. Dan rasanya menyesal telah melewatkan begitu saja kesempatan Kopdar Kemudianers pertama di Bandung. Tetapi akhirnya, penyesalan itu sedikit terobati seiring berjalannya waktu, beberapa Kemudianers mulai mengajak Kopdar kecil-kecilan; sekadar ketemuan di kafe. Dan, efek terbesar yang benar-benar saya rasakan dari sebuah agenda Kopdar adalah ketika menghadiri Kopdar akbar Kemudian.com yang bertajuk PERKOSAKATA2008 yang diselenggarakan di Jakarta, 6 April 2008 lalu. Mungkin tepatnya, lebih kepada kesannya yang mendalam.

Bayangkan saja, selama berwaktu-waktu kita hanya bisa chit-chat di YM! dan saling berbalas kritik-caci dan puji di akun masing-masing di Kemudian.com, membayangkan sosok-sosok manusia di seberang sana dari avatar-avatar dan tulisan yang mereka tampilkan sebagai perwakilan atas dirinya, hingga merasakan kecocokan yang membuat kita nyaman bertukar pikiran dan berkeluh-kesah, merasakan pertemanan bahkan persaudaraan yang cukup mendalam… semua itu kita lakukan di dunia maya.

Tidak adakah sedikit keinginan untuk mencocokkan segala interpretasi yang tercipta selama kita berinteraksi di dunia penuh tipu-daya itu dengan segala kondisi yang apa adanya di dunia yang lebih riil dan nyata? Tidakkah energi pertemanan yang kita rasakan ingin benar-benar kita wujudkan dalam bentuk yang lebih nyata dan berhakikat dari sekadar memandangi monitor dan memijit-mijit keyboard?

“Ah, lebih baik kita gak usah ketemuan. Gue takut lo kecewa dengan bentuk asli gue. Udah, asyikan kek gini aja kan?”

“Gue ekstrovert cuma pas waktu online doang. Aslinya gue introvert dan ngebosenin banget. Gue bingung, nanti kita mo ngomongin apaan, malah diem-dieman.”

Baca Lebih Lanjut »

Dalam situasi tersudut dan tertekan, kecenderungan manusia adalah menghindari kejujuran. Ya, tentu saja kejujuran yang jika diutarakan akan berdampak ancaman terhadap diri yang bersangkutan.

“Kalau hari ini hari jujur sedunia, apa yang akan kamu katakan padaku?” SMS dari seorang teman beberapa waktu yang lalu kembali terngiang.

Saya berpikir cukup lama waktu itu, kemudian berusaha menjawab, “Saya jujur, bahwa saya bukan orang yang jujur, setidaknya sampai saya menemukan efek terbaik dari kejujuran itu.”

Saat itu saya tidak sedang dalam kondisi tersudut dan tertekan, dan saya tidak sedang menghindari kejujuran. Bahkan ketidakjujuran yang saya miliki pun menjadi kejujuran tersendiri ketika saya mengungkapkannya. Dan karena memang saat itu saya rasa, saya tidak perlu mengungkapkan kejujuran lain, kecuali tentang ketidakjujuran itu.

Baca Lebih Lanjut »

Memang tidak ada hubungannya dengan kegiatan blogging yang saya jalani selama setahun pas ini. Anggap saja, ini sebagai bagian dari, katakanlah, trilogi postingan saya dalam rangka SETAHUN NGEBLOG ini.

Saya mulai aktif menulis sekitar Desember 2005, dan semakin aktif menulis, terutama cerpen, sejak bergabung dengan Kemudian.com, April 2007 hingga sekarang (Juni 2008). Dan selama perjalanan itu, alhamdulillah sudah cukup banyak cerpen dan sedikit puisi, juga sangat sedikit cerita bersambung yang saya hasilkan, dan saya publish sebagian besar di dengan review dan saran-kritik dari teman-teman sesama penulis di sana.

Berikut, daftar tulisan saya sesuai waktu posting di Kemudian.com:

Satu
Daster
Sepuluh Tahun
Surprise!!!
Cinta vs Realita
Di Kontrakan
The Amfoter
Semacam Cinta
Diamnya Dian
Elegi Mei
Dan Akhirnya…
Saya Tampan, kan?
Nihilatifa(1)
Gedung Enam Lantai(1)
Andai Kau Tahu itu, Anak-anakku
Saat Jena Bertemu Joni
e-love
2 istri 3 kekasih
Biar Aku Saja!
Nihilatifa(2)
e-love: Cinta Macm Apa?
Alasan
Cinta, Jangan Panggil Aku Cinta!
Kita Harus Menikah Dulu
Sayang, Kamu Terlalu Cantik
DZIG!
Cinta, Simfoni 3 Hati
Cinta, Bersemi di Awal Juli
Viurs
Jangan Nengok ke Belakang!
Lampu Teras Depan
Masih Tentang Cinta
Mug Hitam Alan
Eskapisme
Angka(1): Angga
Lelaki di Ruang Tamu
Angka(2): Nur
Bulan Kesiangan
Hilang
Estafet(7): Pre-Clues
Tertusuk
A Dudulz Story(4)
Pulang
Catatan Kecl Tentang Cinta
Lovaskeptika(1)
Lovaskeptika(2)
Lovaskpetika(3)
Kemudian Kami…
Tunggu Menunggu
The Phyton
Matahari Berganti
Biru-biru
Besok
Vacation
Terimakasih Banyak
Newbie
Malam Minggu Pertama
Ide-ide Edi
Foto di Dompetmu
Saya (hanya) Lelaki yang Bertanggung Jawab
Ini Terlalu Sulit (Membunuh Sang Presiden)
Saya Hanya Pemuda Desa Biasa
The “L”
Papa Baru (Om Dadun dan Toko Buku Kemudian)
Saya di PerkosaKata
Anu dalam Kepalaku
2. The Savior
Pesan
Satu Hari Sebelum Kita Berpisah
4. I’m Sorry, Niwa
Di Kebun Binatang ini …
Elegi Sebuah Rasa
Secangkir Kopi untuk Hanny
Coming Out (From The Closet)

#1. Sama Saya Saja
Entah kenapa, tiba-tiba terpikir frasa itu ketika saya harus mengetikkan judul (pertama kali) untuk blog ini. Sejak awal suka menulis, saya memang pencinta permainan kata. Ya, terlepas dari maknanya seperti apa, yang penting padanan katanya terasa pas dan unik. Dan, percayalah, ketika kata-kata itu sudah terangkai, dengan sendirinya makna itu akan datang, tanpa diundang. Sama Saya Saja, terdiri dari kata-kata yang didominasi huruf S dan A, hanya tinggal mengganti huruf ketiganya saja. Artinya sendiri, ya, sama saya saja, jangan sama orang lain atau siapa. Maksudnya, ya, kalau mau curhat, sama saya saja; mau bagi-bagi duit, sama saya saja; mau bercinta, sama saya saja (hehe, kidding). Tapi kalau mau pinjem uang, apa lagi minta uang, ya, sama bank atau orang tuamu saja. ;p

#2. Saya Seperti Perempuan
Sebuah imej, atau citra diri. Ya, buka-bukaan sajalah, sepanjang masa-masa sekolah dari SD sampai SMA, beberapa teman saya bilang (mengejek), Saya Seperti Perempuan. Sempat kesal dan sedih, kemudian saya menyadari bahwa mereka bilang Saya Seperti Perempuan karena memang saya seorang LELAKI. Dan berarti, jauh di dasar kesadarannya, betapa mereka mengakui bahwa saya seorang LELAKI. Toh jelas, kalau saya perempuan, mereka tidak akan bilang demikian. Ya, Saya Seperti Perempuan karena saya lelaki, dan tak ada perempuan yang seperti perempuan, begitu juga sebaliknya. Baca Lebih Lanjut »