Feeds:
Tulisan
Komentar

“Semua orang di ruangan ini suka ngegosip ya?” Pertanyaan saya langsung diiyakan seorang teman yang dengan baiknya menemani saya selama waktu lembur kemarin. “Nggak bawahan nggak atasan, hobinya ngomongin orang lain.”

“Kalau bawahan sih wajar ngomongin atasan,” saya melanjutkan. “Setiap hari kita ngalamin tekanan yang kadang-kadang tidak berperikemanusiaan-dan-kekaryawanan. Saya pikir, atasan kita yang well-educated dan terhormat itu nggak bakalan melakukan kegiatan serendah yang kita lakukan. Pantes gitu atasan kita ngomongin klien-klien sampai koleganya di belakang? Dan yang paling saya benci adalah sikap hiprokrit mereka. Kamu tau, di depan saya, si Bos bilang hasil desain Mr.X itu jelek dan kurang teliti, sementara si Mr.X sendiri masih diforsir kerja dengan sallary yang dimanipulasi.”

“Makanya, kamu jangan sakit hati kalau sampai nama kamu dijelek-jelekkan di hadapan karyawan lain,” kata teman saya.

Lanjut Baca »

[cermin] Expired

Awalnya saya tidak menginginkan dia. Bersikap biasa-biasa saja, bahkan saya cenderung menepis semua umpan-umpan yang dilemparnya. Hingga ketika dia mengajukan suatu hal yang bersifat sangat pribadi, saya menanggapinya dengan sikap dingin. Dan saya bilang, dia bukan tipe saya.

Namun akhirnya saya menginginkan dia. Dan kesadaran itu datang bersamaan dengan saat dia pergi. Mungkin dia bosan. Atau jera. Barangkali lelah menanti.

Lantas saya teringat pada pengalaman seorang sahabat jauh saya. Sejak awal masuk kuliah setengah tahun yang lalu, ia memendam perasaan mendalam terhadap seorang seniornya. Ia menjadi pengagum rahasia. Dan sikapnya lama-lama menjurus pada tindakan obsesif, sampai-sampai ia kesengsem sopir angkot yang mirip dengan seniornya itu. Namun sayang, ia selalu gagal mendapatkan nomor ponsel dan alamat facebook seniornya.

Hingga akhirnya, pada suatu ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, seniornya tengah bermesraan dengan seseorang yang tak asing baginya. Orang itu adalah teman ia semasa SMA. Orang itu adalah predator yang memangsa sahabat-sahabat dekatnya kala SMA. Dan orang itu kini menjadi jurang curam yang memisahkan ia dari seniornya. Orang itu, selalu orang itu yang mengacaukan hidupnya.

Sahabat saya sempat berniat menyadarkan seniornya dengan cara memberi tahu kelakuan si predator. Hingga kemudian kami berdiskusi. Hingga kemudian kami sepakat bahwa selera seniornya bisa dilihat dari pilihannya. Saya dan sahabat saya percaya bahwa orang baik hanya akan mendapatkan orang baik juga.

Sahabat saya pun pelan-pelan memupuskan perasaanya pada seniornya. Dan setelah hatinya terbebas dari ambisi dan obsesi mendapatkan seniornya, ia baru mendapatkan apa yang selama ini diinginkannya: nomor ponsel dan alamat facebook seniornya.

“Wah, selamat! Ditunggu traktirannya!” saya ikut senang.

“Biasa aja ah! Gue malah udah wall to wall sama dia. Tapi gue udah bener-bener ilfil. Cinta sudah terlambat. Na na na na…” Lanjut Baca »

[cermin] The Kiss

“Kapan lo dapet ciuman pertama?” pertanyaan itu dihunjamkan temanku setelah kepala botol yang diputar dalam permainan TRUTH OR DARE itu mengarah padaku.

Menatap kelima wajah temanku, kemudian aku menjawab, “Gue belum pernah ciuman.” Dan mereka tertawa. Tawa yang terbuat dari campuran ironi dan ketidakpercayaan.

“Ciuman tuh asik dan menyenangkan lho!” komentar temanku. “Pacaran tanpa ciuman tuh kayak sayur tanpa garam.”

“Tapi buat gue, itu terdengar sangat menjijikan! Ciuman itu ketika bibir bertemu bibir; lidah beradu lidah; ludah bercampur ludah. Dan lo nggak bisa mastiin apakah mulut pasangan lo itu berada dalam kondisi steril atau berkuman. Ih, menjijikan deh!” dan lagi-lagi mereka tertawa. Tawa yang terbuat dari campuran ironi dan ketidakpercayaan. Tapi aku tak perduli.

“Pantes aja lo diputusin mulu!” ejek salah satu temanku.

Hm, ya, mungkin benar. Beberapa pacar terdahuluku menjadikan keenggananku berciuman sebagai alasan untuk meninggalkanku. Mereka bilang, aku tak benar-benar mencintai mereka. Hell, picik sekali! Bagaimana bisa cinta yang sakral disebandingkan dengan ciuman yang brutal.

Dan kurasa, itu hanyalah soal proses seleksi alam. Jika kau paham.

Lanjut Baca »

[cerpen] That Is It

Aku selalu berusaha berpikir bahwa hidup ini adil dengan caranya sendiri. Cara-cara yang tersembunyi, yang tak mampu kumengerti. Sepertihalnya mereka yang tak mampu mengerti keadaanku. Dan aku pun selalu berusaha berpikir bahwa mereka selalu berusaha berpikir untuk memahamiku dengan cara yang lain. Cara yang ajaib.

Tapi, adakalanya aku lelah dan berhenti berusaha. Terlalu banyak berpikir membuatku lupa bagaimana caranya menikmati hidup. Menikmati cinta. Sebab hidup ada untuk dijalani dan dinikmati. Dan sebab cinta tercipta untuk dirasakan dan dinikmati.

Ini cinta. Bisikan itu selalu terdengar di setiap dia datang. Gadis itu. Yang sudah beberapa kali kulihat berjalan-jalan di taman ini. Di hadapanku. Tubuhnya tinggi—cukup tinggi untuk ukuran seorang perempuan (jika dibandingkan denganku, agaknya kami memiliki tinggi yang sama, bahkan bisa jadi aku lebih pendek darinya). Ia memiliki rambut yang panjang berpola gelombang. Mengingatkanku pada laut, pada birunya hidup.

Aku merasakannya. Pasukan kupu-kupu yang berpetualang di dalam perutku. Kupu-kupu yang lucu. Gadis yang lucu. Yang diam-diam menyelinap ke dalam tidurku. Menawarkan mimpi indah yang kutangisi dengan darah di setiap aku terjaga pada akhirnya.

Saat pertama melihatnya, waktu berjalan mundur, kemudian maju, lalu diam. Hanya aku yang bergerak. Hanya aku yang berjalan. Kudekati dia, kutelusuri garis wajahnya yang tampak lugu dan bercahaya. Sungguh indah. Sungguh memesona. Memekarkan bunga-bunga layu di dalam dada.

Waktu masih diam. Hanya aku yang bergerak dan berjalan. Kubelai rambutnya yang panjang. Tercium aroma shampo yang menyegarkan. Perpaduan bunga dan buah-buahan. Membuatku haus sekaligus lapar. Membuatku terbakar.

Lanjut Baca »

Garis

Ternyata, saya punya masalah serius dengan garis. Saya disadarkan seseorang (sebut saja bakal bos saya). Ia bilang, goresan garis yang saya hasilkan tidak rapi. Kemudian saya mulai mencari-cari kambing hitam. Pertama, rasa pegal di tengkuk dan punggung membuat saya berpikir bahwa saya terlalu kaku dan tegang saat sedang membuat garis. Kedua, rasa sakit di buku-buku jari membuat saya curiga bahwa ada yang salah dalam cara saya memegang/menggenggam pensil. Ketiga, saya tidak mengerti kenapa saya selalu gagal membuat garis semulus yang diinginkan; dan ini membuat saya menghawatirkan sesuatu yang saya sendiri sulit menjabarkannya.

Dari ketiga poin itu, poin pertama saya aborsi. Titik beratnya di poin kedua, yang kemudian beranak jadi poin ketiga. Lanjut Baca »

Bangun tidur nonton Inbox, Dahsyat, Dering, lanjut Ampuh, Happy Song, Play List, Missing Lyrics sampai Mantap, membuat saya seolah-olah sudah sedarah daging dengan Pasha Ungu, Charlie ST12, Ridho Rhoma, Andhika Kangen Band, hingga Coky Sitohang. Oh may Gudnes. Beginikah nasib jadi ibu rumah tangga?

Nyalain komputer, muter winamp yang isinya lagu-lagu mereka lagi (kecuali Coky Sitohang). Teman saya sampai harus berbekal MP3 koleksinya sendiri setiap kali mampir nyalain komputer di rumah saya saking merasa haramnya mendengar lagu-lagu mereka. Oh la la cafe (boleh pake “deh”). Adakah yang salah dengan Mas-Mas yang saya sebutkan di atas?

“Kenapa sih kamu nggak suka lagu Indonesia?” tanya Ridho Rhoma dengan suara yang kata ibu saya sebening embun di pagi hari tanggalan muda awal bulan. Tapi kemudian Ridho Rhoma-nya dikutuk dan menciut jadi liliput.

“Kenapa juga kamu suka lagu Indonesia?” tanya balik teman saya pada saya. “Apa bagusnya?” Lanjut Baca »

Kegiatan MataKataKita berupa sayembara penulisan cerita pendek bagi penulis mata awas (masyarakat normal) dan penulis tunanetra untuk dikolaborasikan dalam sebuah penerbitan buku dua aksara. Penerbitan buku tercetak aksara braille untuk tunanetra, dan penerbitan buku aksara latin untuk masyarakat mata awas.

Syarat dan Ketentuan Karya

1. Peserta: Terbuka untuk umum, baik dari kalangan mata awas maupun tunanetra.

2. Tema : Perjuangan hidup

3. Isi :

  • Maksimal 5 halaman A4 untuk aksara latin; dan 15 halaman untuk aksara braille.
  • Diketik dengan aksara latin berspasi 1,5 fontasi 12 poin Times New Roman; dan aksara Braille (manual atau tik) untuk tunanetra
  • Harus karya asli, bukan saduran atau jiplakan
  • Memenuhi kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar serta sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD)
  • Karya yang dikirimkan adalah karya yang hak ciptanya masih menjadi milik penulis, dan belum pernah dipublikasikan di media massa

4. Pengiriman:

  • Untuk pengiriman cerpen beraksara latin, baik dari kalangan mata awas maupun tunanetra, dikirim melalui email dalam bentuk lampiran softcopy dokumen (attachment) berformat *.doc atau *.rtf. Email dikirimkan ke matakatakita@gmail.com dengan subjek: “Sayembara Cerpen MataKataKita” dengan mencantumkan:
  1. Nama lengkap
  2. Biodata singkat penulis (maksimal 50 kata)
  3. Alamat surat menyurat
  4. No. Telepon / ponsel
  • Bagi yang mengirimkan cerpen dalam bentuk aksara braille, baik tertulis manual atau dengan mesin tik braille, naskah dapat dikirimkan melalui pos ke alamat:

Komunitas EnamPena
d/a Jln. Jenderal Ahmad Yani No. 608 Bandung 40115

  • Setiap peserta paling banyak mengirimkan 2 (dua) judul karya
  • Batas akhir penerimaan karya adalah tanggal 4 Oktober 2009

5 . Seleksi:

Satu buku akan memuat 7 karya dengan perincian:

  • 1 buah karya dari sastrawan Putu Wijaya sebagai penulis tamu
  • 1 buah karya dari sastrawan Iwan Dwi Kustanto sebagai penulis tamu
  • 2 buah karya dari penulis mata awas hasil seleksi sayembara
  • 2 buah karya dari penulis tunanetra hasil seleksi sayembara
  • 1 buah karya dari panitia penyelenggara

6. Penjurian:

  • Penjurian sayembara akan dilaksanakan oleh tim yang diketuai sastrawan Hudan Hidayat. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.

7. Hadiah:

  • Masing-masing peserta yang cerpennya terpilih mendapatkan hadiah uang senilai Rp.500.000,-. Cerpen yang terpilih seleksi sayembara akan diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen beraksara braille yang akan disebar di perpustakaan Sekolah Luar Biasa dan Panti Tunanetra di wilayah Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan D.I. Yogyakarta. Selain itu juga diterbitkan buku aksara latin yang akan disebarkan secara gratis di seluruh Indonesia.

sumber : MataKataKita

Bahwa kebetulan adalah kata magis yang sengaja mengalihkan perhatian kita dari satu fakta di mana memang-sebenarnya-hal-itu-harus-terjadi.

Saya menghubungi dia untuk menemani saya menghadiri sebuah acara. Bukan kebetulan jika namanya terlintas begitu saja di kepala saya saat seorang teman memberi tahu bahwa ada banyak tiket untuk dibagikan secara cuma-cuma. Cukup lama kami saling mengenal, meski tidak terlalu intim. Beberapa kali agenda nonton bareng menjadi latar dan alasan kami berjumpa.

Dia sangat ramah. Mudah baginya untuk bergaul dengan siapa saja. Jadi, saya tidak perlu khawatir melibatkan dia di antara segerombolan lelaki-gila-kata-kata-yang-sedang-berburu-pustaka. Ya, tampak kontras di mana dia perempuan satu-satunya. Untungnya, kami sama sekali bukan lelaki-lelaki buas.

Tetapi, saya tetap merasa perlu bertanggung jawab atas kebosanannya ikut menunggu bagian lain dari kami (si gerombolan) yang belum datang (atau memang sama sekali tidak akan datang). Maka, saya mengajaknya berkeliling mall, lalu berakhir di 21. Membicarakan pemandangan dan ‘penampakan’. Membahas poster film. Lalu duduk-duduk di sofa tanpa punggung, tepat di seberang loket.

Lanjut Baca »

LOVASKEPTIKA

lovaskeptika

lovaskeptika

Judul: Lovaskeptika
Penulis: Dadan Erlangga
Penerbit: Masmedia Buana Pustaka
Terbit: 2009
ISBN: 602835062-1
Jumlah halaman: 146
Harga: Rp. 24.000

 

“Love is shit!” Lagi-lagi frasa itu yang kauungkit. Sejak malam hitam—malam di mana kau kehilangan DUA hal yang paling berharga dalam hidupmu itu, kau selalu menasbihkannya. Kalimat yang juga kau teriakkan sejalan darahmu menerjang luka torehan pisau kiriman iblis dari neraka… {LOVASKEPTIKA}

 

Cinta, mama dan papaku pasti kecewa banget karena hal ini. Please, tolong aku, Cinta. Kamu bisa kan berpura-pura menjadi ayah bayi ini kalau sewaktu-waktu kedua orang tuaku menanyakannya?…
{CINTA, JANGAN PANGGIL AKU CINTA!}

 

Senja datang membawa jingga yang terlalu menusuk mata, hingga jauh menembus ke lubuk jiwa. Entah kenapa, aku merasa baru dikhianati seseorang yang paling aku cintai. Sakit sekali. Kakiku tak mampu berdiri. Seperti tidak makan nasi berhai-hari. Tuhan, beginikah rasanya dikhianati?…
{SIMFONI TIGA HATI}

 

Kami hanya mengikuti tuntutan dan tuntunan berahi. Satu-satunya hal yang tidak kusesalkan dari kejadian malam itu adalah bahwa aku tidak memperkosanya, dan tentu saja ia tidak merasa diperkosa. Dan, satu hal yang membuatku tenang selepas kejadian malam itu: aku mengenakan pengaman. Aku harus yakin bahwa pengamanku benar-benar aman…
{MALAM MINGGU TERAKHIR}

 

Aku bangkit, berpakaian dan teringat akan susu cokelat panas yang tentunya sudah mendingin di atas meja samping tempat tidur kita. Manis, dan dingin. Tetapi masih cukup enak dinikmati. Ya, seperti hubungan kita. Tidak ada yang terlambat untuk dinikmati, sekalipun hanya dingin yang tersisa…
{DINGIN}

 

Kamu telah berubah dari seseorang yang biasa-biasa saja menjadi seseorang yang membuat saya serba tak biasa. Saya pun merasa telah menjadi seseorang yang tidak biasa karena menganggapmu luar biasa. Dan sejak saat itu juga, mulai tumbuh perasaan-perasaan yang tak biasa…
{ESKAPISME}

 

Lovaskeptika adalah gabungan dari kata Love dan Skeptic, yang merupakan kumpulan cerpen yang tidak menghadirkan kisah percintaan yang serta merta diwarnai keindahan dan kebahagiaan, tetapi justru nuansa abu-abu dan kegamangan cinta. Melalui ke-15 cerpen di dalamnya, penulis mengajak kita untuk memandang cinta dari perspektif yang berbeda: kelam namun mencerahkan, pedih namun mendewasakan. Layak dinikmati oleh mereka yang membutuhkan cinta, bahkan oleh mereka yang sama sekali merasa skeptis terhadap cinta.

————————————————————-
Pembelian secara online dapat dicek di sini
————————————————————-

Duadua

Duadua datang mengusir Duasatu. Diam-diam, seperti cicak menangkap nyamuk, mengusirnya dari hidup.

Duasatu menghilang bersama nyala lilin yang padam oleh beberapa kali tiupan. Dan tandas seperti minuman dalam gelas di akhir perayaan.

Banyak hal yang diwariskan Duasatu kepada Duadua. Kebahagiaan. Ketidakbahagiaan. Daftar orang yang patut dikenang dan dilupakan. Dan selembar daftar harapan yang harus diwujudkan.

Duasatu pergi dengan senyuman. Lebih dari jam dua belas malam. Senyum plastik, memang, tetapi itu jauh lebih baik daripada kemarahan atau bahkan kesedihan.

Duadua datang dengan senyuman. Sempat bermain-main dengan Duasatu sambil perlahan membujuknya pergi sebab dunia tak menginginkannya lagi. Mau tak mau, ia harus mengusirnya.

Banyak hal yang harus diperbaiki, bahkan dimulai kembali oleh Duadua. Ah, apa sih yang diperbuat Duasatu selama ini?

Tetapi Duadua bukan lagi Duasatu.

Duadua memulai harinya bukan dengan terbangun melainkan tertidur. Ah, Duadua hanya ingin lebih menikmati hidup. Dengan caranya sendiri. Dengan cara-cara yang tak mungkin dilakukan Duasatu.

Sebab Duadua bukan lagi Duasatu.

Duadua adalah fase kedua gemini—rasi bintang kembar—setelah Sebelas. Apa pun artinya, yang jelas Duadua hanya ingin bersenang-senang.

Duadua, selamat datang.***

======================
Bandung, 04/06/2009 14:33:36
*tanpa catatan penulis*

Tulisan Sebelumnya »