Januari 19, 2012

Cepat Pulang, Bu, Kami Rindu

 

 

Teruntuk Ibu,

 

 

Ini adalah hari keempat Ibu dirawat. Dan saya belum sempat melawat. Ah, ya, kita memang tidak begitu dekat. Namun begitu, saat hari Senin kemarin Bapak memberi kabar bahwa Ibu sakit parah dan harus dilarikan ke rumah sakit, ada sebagian di dalam hati saya yang serasa tercubit.

 

Selama tiga hari kemarin, Bapak selalu pulang dengan membawa kabar yang berbeda-beda. Bapak bilang, Ibu kena gejala DBD, kemudian ada masalah dengan jantung, lalu meranggas ke gangguan paru-paru hingga saluran kemih. Tapi yang pasti, Ibu harus dipindahkan ke ruang ICU.

 

Ya Tuhan… sebenarnya apa yang terjadi pada Ibu?

 

Yang saya tahu, beberapa bulan belakangan ini, Ibu jarang keluar kamar. Saya faham. Mungkin beberapa wanita hamil akan mengalami fase kemalasan yang luar biasa. Sempat juga sesekali saya dengar kabar bahwa Ibu sakit. Tapi sepertinya sakit ringan, dan kalaupun harus ke dokter, itu lebih dikarenakan untuk mengecek kandungan.

read more »

Januari 18, 2012

Perbincangan Semalam

 

 

Teruntuk Kamu,

 

 

Dari perbincangan semalam, rasanya aku perlu bertanya, kamu itu manusia atau siluman? Datang tiba-tiba, pergi begitu juga. Mungkin, seharusnya aku melakukan hal yang sama, supaya kamu juga berpikir hal yang sama tentangku. Tapi itu tak mungkin. Kamu terlalu realistis untuk kuajak berkelana di dunia abstrakis.

 

Semalam, kamu lebih banyak berbicara, berkata-kata. Entah salah makan atau memang itu adalah sisi lain kamu yang menyenangkan. Biasanya, cuma kata-kata semacam hoi, ya, hehe, atau hanya emotikon senyum, nyengir, dan melet saja yang kamu ketikkan di jendela pesan instan sebagai balasan.

 

Aku tak henti tersenyum waktu kamu menjelaskan kesibukanmu akhir-akhir ini. Terlalu detail untuk ukuran manusia irit kata-kata seperti kamu. Sampai kemudian, kamu bertanya tentang aku. Dan kamu bilang, tak banyak hal yang kamu ketahui tentang aku.

 

Ya, selama ini, kamu memang tak pernah peduli kepadaku.

 

Kamu tertawa usai membaca kalimat itu. Kamu bilang, kita hanya dua orang yang baru berkenalan, dan rasanya masih terlalu dini untuk memvonis salah satu dari kita dengan kalimat “kamu memang tak pernah peduli kepadaku” itu.

 

Aku tertegun. Kamu benar. Kita memang bukan siapa-siapa.

 

Bagaimana bisa aku merasa kalau kamu juga merasakan apa yang aku rasakan? Aku tahu ini gila, dan bagimu tak masuk akal. Apa yang kamu katakan membuatku merasa semakin terpartisi jauh darimu. Kita tidak hanya dipisahkan dua jarak yang cukup jauh, melainkan dua dunia yang luput ditempuh. Kamu yang realistis, dan aku yang hiper melankolis.

read more »

Januari 14, 2012

Setelahmu


 

 

 

Dalam benak tersimpan kenangan

yang tak ‘kan kubilang pada semua

Dalam ingatku ada namamu

belahan hatiku waktu dulu…


 

 

Aku yakin kamu akan menyebut ini sebagai serendipity. Hanya karena aku merasa bosan dan ternyata salah menekan tombol yang seharusnya mengaktifkan pemutar CD dan bukannya radio, lagu lama itu pun tepat terdengar mulai dari intro. Lagu kesukaanmu. Lagu yang sering kamu putar dan nyanyikan berulang-ulang. Di kamarmu. Di kampus. Hingga di kamarku. Dulu.

 

Seharusnya di luar macet dan hujan, biar dramatisasi akibat ingatan tentangmu ini terasa lebih maksimal. Namun lalulintas lancar, dan cuaca hari ini terlalu manis untuk dibilang buruk. Matahari bersinar penuh toleransi dan kebijaksanaan. Langit pun seperti kain yang baru dibeli, dicuci, dan disetrika rapi, seperti yang sering kamu katakan untuk mengumpamakan langit cerah waktu itu.

 

“Hei, di luar cerah banget. Kita makan eskrim, yuk!”

 

Aku tak langsung menggubris usulmu, sebab tugas-tugasku masih menumpuk. Hari itu adalah dua hari sebelum ujian akhir semester terakhirku. Kode program salah satu tugas besarku masih kacau dan tombol enter di laptopku kerap menjadi korban pelampiasan emosiku akibat program buatanku belum bisa dieksekusi dan dioperasikan.

 

“Lagi sibuk banget, ya?”

 

Dan lagi-lagi responku teralihkan tugas-tugas sialan itu. Entah berapa lama aku tak mengacuhkanmu. Sampai kemudian kusadari sesuatu, kamu tertidur dalam posisi duduk, dengan kepala beralaskan ranselku di atas meja. Wajahmu menghadap ke arahku, menampakkan keluguan yang indah, kesederhanaan yang mewah.

 

Sore harinya, kita meninggalkan perpustakaan dengan langkah riang. Dan sebagai penebus rasa bersalahku, aku mentraktirmu makan eskrim sepuasnya. Sampai kamu kenyang. Sampai kamu senang. Untuk yang keberapa kalinya kamu menyadarkanku tentang sesuatu, senyummu adalah kebahagiaan terdekat dan terlengkap untukku.

read more »

Januari 12, 2012

Kisah-Kisah yang Tak Boleh Dikisahkan

Judul: Kisah-Kisah yang Tak Boleh Dikisahkan

Penulis: Aan Bintang, Aditya Nugraha, Akbar Hendrawan, Anthony Chiaroscuro, Catz Link Tristan, Crescentia Phalita, Dadan Erlangga, Liz Levin, M. Ihsan Darhany, Muhamad Rivai, Rio Johan, Satria Anggaprana

Editor: Dadan Erlangga, Akbar Hendrawan & Aditya Nugraha

Desainer Sampul & Tata Letak : Dadan Erlangga

Terbit Januari 2012

Diterbitkan melalui Nulisbuku: http://www.nulisbuku.com

Harga: Rp. 40.000 (belum termasuk ongkos kirim)

Metode Pembelian:

1. Melalui web Nulisbuku.com –> Kisah-Kisah yang Tak Boleh Dikisahkan

2. Melalui saya di email: dadan.erlangga@yahoo.com

* * *

Endorsmen

Kumpulan bisikan ini mengundang pembaca buat masuk ke dalam “lemari” dan melongok ada rahasia apa saja di dalamnya. Semua dituturkan dalam berbagai bentuk kegelisahan. “Kisah-Kisah yang Tak Boleh Dikisahkan” adalah bacaan yang dengan jujur mengganggu dan merisaukan—sama sekali bukan untuk mereka yang hanya mencari rasa aman dan nyaman, melainkan buat yang siap berkelana ke dalam sebuah relung jiwa manusia yang jarang dikunjungi.

(Ve Handojo – Penulis)

Membaca setiap kisah pada buku ini membuatku seperti terlempar pada sebuah dunia berwarna samar namun terasa kuat. Bukan putih, hitam, apalagi pink. Jangan pernah mengabaikan warna itu, sebab warnanya telah membuat dunia kita demikian lengkap. Kisah-kisah ini sungguh menyentuh, mengharukan, menyentil, dan membuat merinding!

(Retni Sb – Novelis, perempuan pencinta warna) 

* * *

Kisah-Kisah yang Tak Boleh Dikisahkan berisi 14 kisah tentang kegelisahan, kesedihan, kerinduan, cita, cinta, dan liku kehidupan manusia, dengan sebuah benang merah, yaitu homoseksual. Kisah-kisah di dalamnya dikisahkan dari sudut pandang seorang anak, ayah, ibu, sahabat, kekasih, dan istri, dengan gaya bahasa ringan, indah, dan bermakna dalam. Ditulis oleh 12 penulis yang berasal dari komunitas dan non-komunitas, yang beberapa di antaranya sudah menerbitkan buku secara indie.

read more »

Januari 11, 2012

Bulan Kedua Puluh Empat

11 Januari, dua tahun yang lalu.

Ia terbangun dengan kantuk yang masih menggunung. Ah, lebih tepatnya, ia dibangunkan seseorang. Ibunya. Sudah lewat dari pukul lima, dan ibunya yang masih mengenakan mukena, membangunkan ia untuk sholat subuh. Tak ada yang baru dari rutinitas hari itu. Kecuali, sebuah kenyataan bahwa ia resmi meninggalkan predikat pengangguran yang sudah disandangnya selama berbulan-bulan.

Tak ada yang lebih mendebarkan dari saat-saat pertama, terutama baginya. Dalam hal apa pun. Proses adaptasi layaknya sebuah permainan yang pada akhirnya menentukan apakah ia kalah atau menang. Ia tak setangguh manusia kebanyakan. Namun, ia bisa jadi lebih tangguh dari yang dibayangkan, jika segala sesuatunya terasa memungkinkan.

Satu hal yang ia rasakan tatkala menempati meja kerjanya untuk pertama kali: nyaman. Ruang kerjanya tak jauh beda dengan suasana kamarnya yang bersahaja. Ia tidak berbicara tentang hal-hal material, melainkan kebutuhan personal. Entah bagaimana harus menjelaskan detailnya, hari itu ia merasa senang, dan telah menang.

Hari itu berbeda dari hari pertama-hari pertama yang pernah dilaluinya. Ia jatuh cinta pada ruangan dan meja kerjanya, pada perangkat komputer yang membantu pekerjaannya, juga pada tugas-tugas yang harus dikerjakannya. Ia menikmati detik-detik kebersamaan mereka. Dan ia pun menyukai atasan dan rekan-rekan kerjanya.

***

11 Januari, satu tahun yang lalu.

Beberapa kali, komputernya diganti. Beberapa kali, meja kerjanya berubah-ubah posisi. Bahkan, beberapa kali pula teman-teman kerjanya datang dan pergi, berganti-ganti. Tetapi ia masih tetap setia pada meja kerjanya. Juga pada jendela di dekat meja kerjanya.

***

11 Januari, saat ini.

Ia sedang mengetik, mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi selama dua tahun terakhir ini. Di tempat ini. Dua tahun yang mungkin tak akan didapati dan dijalaninya di tempat lain. Dua tahun yang terasa singkat seperti hari ini dan kemarin.

Dua tahun, rentang waktu kebersamaan yang bahkan tak pernah terjadi dalam hal relationship-nya dengan siapa pun.[]

Bandung, 11 Januari 2012, 11:12

Desember 30, 2011

Vacation

(1)

Kenapa aku di sini?

Pagi kedua di sebuah pulau nan sepi. Ia tampak menikmati tiupan angin Bintan yang mendesir dari luar, membiarkan dirinya terombang-ambing.

Tak berapa lama, angin membawanya pada sebuah panorama pantai yang sejak kemarin hanya terbingkai jendela kamar hotel. Hembusan yang sempurna menerpa-nerpa wajahnya, mengoyak rambutnya. Sang ombak bergantian menepi, menggoda kakinya. Terjejak tapak-tapak mungil pada putihnya pasir kemudian hilang tercuri gelombang. Kali ini ia boleh tenang bertelanjang kaki sebab tiada bulu babi dan antek-anteknya yang akan ia temui di sini. Setidaknya itu yang ia dengar dari seorang pelayan hotel yang tadi mengantarkan sarapan.

Kenapa dan untuk apa aku di sini?

Liburan ini bahkan tak pernah ia rencanakan. Keputusan yang mendadak dan –mungkin– dianggap tidak rasional mengingat seminggu yang lalu sepupunya baru meninggal. Sepupu tersayang, tempat curahan segala perasaan.

“Kalau aku mati, kamu jangan nangis, ya!” ia tak pernah lupa kata-kata itu. Beberapa hari sebelum kecelakaan, sepupunya menginap di rumahnya dan tidur sekamar dengannya. “Nanti, siapa yang akan melipurmu? Cowokmu, kan, nggak tahu apa-apa tentang kamu. Malah ia pikir, lucu, waktu kamu menangisi kematian kucing tetangga yang sering main di rumahmu.”

Seandainya ia tahu itu malam terakhir mereka; semalaman ia coba membelalakkan mata, menghadapkan muka, tak sedikitpun menyisakan kata yang besok atau lusa tak lagi dapat diungkapnya.

“Setelah kupikir panjang, ternyata mati itu enak juga; damai, tenang, istirahat panjang. Jauh dari hiruk-pikuk kehidupan yang penuh kesibukan, melelahkan, menyakitkan,” ia malah berusaha menutup mata dan telinganya dengan bantal demi mengabaikan sepupunya yang semakin meracau. “Pantas nenekku, teman sebangkuku waktu SD, kemudian mamaku, adik lelakiku yang baru lahir, sampai beberapa orang tua temanku yang sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri berlomba-lomba pergi, secepat itu mendapat tiket mati.”

read more »

Desember 28, 2011

Cerita dari Jendela

Bekerja dengan tirai jendela yang tertutup di siang hari itu rasanya cukup aneh. Setiap kali cahaya matahari terasa menyilaukan, tirai akan diturunkan, dan sebaliknya. Saya pernah mengusulkan agar meja kerja saya dijauhkan dari jendela. Namun, untuk beberapa alasan yang tak pernah diutarakan, hal itu tak pernah dikabulkan.

Saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan melindungi kesehatan mata saya. Sebab mata adalah aset berharga, penunjang utama produktivitas sehari-hari saya. Di luar itu, bagi saya, mata merupakan media sederhana namun paling sempurna untuk menikmati keindahan dunia—menikmati keberadaan dia.

Ya, dia. Saya ulangi, dia.

Awalnya, dia bukan objek menarik di mata saya. Mungkin selalu seperti ini reaksi kimianya. Segalanya butuh proses, dan setiap proses mesti punya progres. Semakin sering melihatnya, semakin saya menyadari keberadaannya. Menyadari keindahannya.

Ternyata benar, sesuatu yang sedikit itu lama-lama bisa menjadi bukit. Dalam sehari, dia hanya beberapa kali muncul di sana. Dia berdiri di depan tempat kosnya, di seberang jendela di mana saya berada. Menunggu temannya. Mengobrol dengan entah siapa. Membeli jajanan yang lewat. Atau hanya sekadar berdiri tanpa motivasi yang terprediksi.

Segmen-segmen kecil itu membentuk pola, yang kemudian diterjemahkan reaksi kimia di dalam diri saya sebagai rasa suka.

Ya, suka.

Dia menjadi sesuatu yang saya nantikan setiap harinya. Menjadi kebahagiaan di antara keluh-kesah dan kesedihan. Menjadi inspirasi di tengah pantulan-pantulan cahaya dari luar yang menyilaukan.

Sampai pada suatu hari, pandangan kami bertemu di satu titik di antara kedua mata kami. Titik tak nampak yang berarti kami saling menatap. Saat itu, ungkapan spontan yang mampu saya lakukan adalah berteriak “Anjrit, dia ngeliat gue!” di dalam hati. Selanjutnya, setiap kali dia berdiri di sana, sihir-sihir matanya mulai bekerja, berbisik, dan membukakan dimensi yang tak kenal batas toleransi.

Syukurlah, curi-curi pandang tidak termasuk ke dalam tindakan kriminal.

Dia melihat saya; saya pura-pura tidak melihatnya. Mungkin, begitu pun sebaliknya. Ada kalanya kami gagal menghindar, dan akhirnya saling menatap juga. Saya cuma bisa tersenyum di belakang rasa malu dan canggung, lantas melarikan diri ke kamar mandi dan senyum-senyum sendiri.

Sesederhana inikah rasanya jatuh hati?[]

Desember 17, 2011

Kita Mau Pulang Jam Berapa?

“Kita mau pulang jam berapa?” Untuk yang kedua kalinya, kutanyakan hal yang sama kepada Nina, dan ia mengulang jawaban, “Tunggu setengah jam lagi, ya.” Aku tahu itu artinya kami akan berada di tempat yang menyebalkan ini lebih lama lagi. Ah, aku benci diriku sendiri yang tak bisa mempengaruhi dan memaksa siapa pun. Tiba-tiba saja aku mengharapkan alam mendengar suara hatiku, dan bersedia menurunkan hujan sederas yang ia mampu.

Siapa sih, pencetus ide konyol ini? Mengamen di tengah kemacetan. Bergerombol di trotoar, di sela-sela kendaraan di tengah jalan. Nongkrong dan membuat kegaduhan di depan swalayan. Mengisi malam Minggu dengan hal-hal yang tak masuk akal. Apa hebatnya? Di mana sisi kerennya? Aku tak habis pikir, mengapa Nina tampak nyaman dan menikmati suasana seperti ini. Gaul? Bagiku ini terlihat sangat Alay.

Aku masuk ke dalam mobil, dan menyalakan mesin pendingin. Kugantikan CD kompilasi K-Pop favorit Nina dengan CD Enya volume terakhirku yang selalu diprotes dan diejek habis-habisan oleh Nina. Jika telingaku bisa berbicara, aku yakin ia akan berterima kasih kepadaku atas hadiah ini, setelah entah berapa lama tadi disuguhi lagu-lagu aneh dengan suara terparah yang pernah kudengar sepanjang sejarah. Suara anak-anak itu, teman-teman gaul Nina. Para pengamen dadakan itu.

Aku sedang memejamkan mata menikmati lagu yang kuputar dengan volume maksimal, ketika kurasakan getaran dari ketukan di kaca jendela tepat di sebelahku. Wajah seseorang di sana mengagetkanku. Ia tersenyum sebelum memamerkan sebotol plastik minuman dan sebuah hotdog yang menggiurkan. “Dari Nina,” ucapnya, setelah kuturunkan kaca jendela dan kupelankan volume lagu.

“M-makasih…,”dengan ragu, kuraih salah satu makanan favoritku itu, sambil kuingat-ingat siapa cowok yang diutus Nina ini. Alih-alih nama, mengingat dia yang mana pun rasanya sulit, sebab tadi Nina memperkenalkan aku kepada banyak orang.

Cowok itu masih berdiri di sampingku, memperhatikan aku yang sedang makan dan minum. “Ada apa?” aku bertanya tanpa menoleh kepadanya.
read more »

November 26, 2011

Hari Tersalah

Semua ini berawal dari sebuah SMS pada Kamis sore. SMS dari Paman di Tasik, memberi kabar bahwa Nenek sedang sakit. Lalu, kami sekeluarga menyusun rencana untuk menjenguk Nenek. Dan tiba-tiba Ibu mencetuskan ide bahwa kami akan pergi pada Sabtu pagi.

Kami semua tahu bahwa hari Sabtu Bapak libur, sementara adik saya harus tetap sekolah, dan saya pun harus tetap bekerja. Tapi kemudian, Ibu bilang kalau Sabtu sekarang tanggal merah.

Saya yang jarang mengecek kalender pun memastikan kebenarannya. Ya, di situ tertera tanggal 26 Nopember dengan warna merah, di bawahnya tertulis keterangan bahwa tanggal itu merah karena peringatan 1 Muharam. Mantaplah rencana kami untuk pergi pada Sabtu pagi.

***

Hari Jumat ini, ya Tuhan… di luar banyaknya deadline, ada beberapa hal yang membikin goyah kesabaran. Dua orang konsumen meminta barang diproduksi lebih cepat; yang satu pake embel-embel “Nggak Mau Tau, Pokoknya Harus Jadi Jumat Ini!” (selanjutnya: NMTPHJJI), dan syukurnya yang satu lagi masih bisa dinegosiasi.

Lalu, Ibu Negara tiba-tiba menanyakan barang untuk konsumen lain, yang Nota Bene Masih Kerabatnya (selanjutnya: YNBMK). Dia agak kaget waktu saya bilang, saya lebih memprioritaskan konsumen NMTPHJJI karena akan datang sebentar lagi. Lantas, dia memajukan deadline untuk konsumen YNBMK itu, maksimal hari Senin sudah siap.

Puncak ketegangannya terjadi saat Konsumen yang dalam Waktu Dekat Akan Melangsungkan Pernikahan (selanjutnya: KYDWDAMP) datang. Si KYDWDAMP ini datang untuk melakukan final check. Dari awal bermitra, dia dan ibunya memang sudah kelihatan super-rempong bin riweuh. Dari mulai merinci harga paket, pembuatan kebaya, hingga penyewaan atribut dan kelengkapan pernikahan lainnya. Dan tak terkecuali pada hari ini. Saya yang tidak menangani secara langsung saja merasa sangat terganggu dengan tingkah mereka. Oke, saya bisa memahami sepanik dan se-nervous apa saat hari pernikahan itu semakin dekat. Tapi, plis, mereka tidak perlu sampai berteriak-teriak dan membikin kehebohan sendiri.

read more »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 235 pengikut lainnya.