[cerpen] Ingkaran


Sad Man Looking Through Window

“Ayolah! Semua orang melakukannya, kenapa kita enggak?” Penolakanku mungkin belum sepadan dengan usahanya yang begitu gigih. “Oke. Begini saja,” bujuknya, “Kamu pilih lagu atau potongan dialog atau suara apa pun yang kamu suka untuk dijadikan proyek-dubsmash-spektakuler-kita…,” Aku buru-buru memotong kalimatnya, “…yang hanya akan kita lakukan di dalam mimpimu saja. Oke?” Dan dia pun menyerah. “Baiklah, baiklah…,” katanya, lalu menyalakan televisi dan mengumpat dalam bahasa Inggris.

Proyek-novel-spektakuler-ku tentu saja seratus lima puluh kali lipat jauh lebih keren dibanding proyek-dubsmash-superkonyol-nya. Kalau harus kukatakan seperti itu. Dan kalau aku punya keberanian untuk mengatakannya. Kami selalu punya pandangan yang berbeda dalam hal apa saja, kecuali sebuah pendapat bahwa makan nasi goreng tanpa acar adalah tindakan paling sia-sia sepanjang peradaban umat manusia. Oh ternyata, hanya dibutuhkan satu kesamaan untuk menyatukan dua orang yang berbeda dalam sebuah ikatan persahabatan.

Ah, tidak. Tidak. Bagaimana bisa aku menyebut persahabatan sebagai sebuah ikatan? Bagaimanapun, kau tak memiliki tanggung jawab penuh atas apa yang terjadi pada hidup sahabatmu. Saat mereka bahagia atau nelangsa, kau hanya perlu ada, itu pun hanya jika mereka menginginkan dirimu berada di sana. Begitu pun sebaliknya, kau boleh lupa kapan tanggal ulang tahun mereka dan bersikap egois seperti lebih memprioritaskan anggota keluargamu dibanding mereka. Kau pun tak perlu marah atau cemburu jika sahabatmu berpaling pada sahabat barunya karena itu tak berarti bahwa mereka tak setia. Itulah kenapa kukatakan bahwa persahabatan bukanlah sebuah ikatan. Sebab ikatan pada dasarnya penuh aturan dan sangat memuakkan.

Jadi, aku tak perlu merasa bersalah karena hampir seratus kali menolak proyek-dubsmahs-superkonyol-nya itu dan membuatnya berakhir cemberut dan kecewa—dan dalam kasus sore ini, dia menonton TV seorang diri sampai jatuh tertidur di ranjangku. Aku baru menyadarinya saat kumandang azan Magrib menghentikan jari-jemariku mengetik di laptop dan aku hendak mengajaknya buka puasa bersama.

“Hei, bangun!” Kugoyang bahunya pelan-pelan hingga lumayan kencang. “Ilermu kena bantalku, tuh!” Dia pun terbangun sambil menguap dan menggeliat lalu mengucak mata dan menggumam tidak jelas. “Cuci mukamu! Jangan sampai ibu dan adikku kehilangan selera makan karena belek dan ilermu yang menjijikan!”

“Aku lagi nggak puasa,” katanya, sambil kembali berbaring. “Dan aku nggak laper.” Kupikir, mungkin jika aku mengajaknya melakukan proyek-dubsmash-superkonyol-nya itu, dia akan jauh lebih bersemangat. Lupakan saja. Aku keluar kamar setelah Ibu memanggil namaku dan namanya dari ruang makan, dan membiarkannya bermimpi kami berdua melakukan proyek-dubsmash-superkonyol-nya itu.

*

Sepanjang perjalanan pulang ke kosannya, dia tak bicara sepatah kata pun. Dia pasti marah atau kesal atau jengkel atau apa pun. Bukan salahku jika dia lantas membenciku hanya karena aku tak mau berkontribusi dalam proyek-yah-aku-mulai-muak-menyebutnya. Dan jika persahabatan kami benar-benar berakhir hanya karena masalah sekonyol ini, kuharap kau cukup bijaksana untuk menilai siapa yang benar dan yang tidak.

Perjalanan ke kosannya terasa lebih lama daripada yang biasanya. Aku mulai bosan. Dan jengah. Aku sengaja mengerem motorku secara mendadak, sampai bagian depan tubuhnya menumbuk bagian belakang tubuhku. Aku sudah bersiap-siap menerima tamparannya di punggungku, namun tak juga dilakukannya. Dia bergeming. Membuatku berpikir ada yang tak beres dengan dirinya.

“Kalau kamu masih marah gara-gara aku—” Kalimatku menggantung di udara. Dia memelukku secara tiba-tiba. Bukan jenis memegang pinggang saat kau sedang dibonceng seseorang. Tapi semacam kau memeluk seseorang dari belakang. Sesaat, sepeda motorku sedikit oleng, sebelum akhirnya aku berhasil memulihkan keseimbangan. Jantungku berdebar sangat kencang. Dan kemudian kusadari bahwa dia sedang menangis.

Menangis! Astaga. Dia kenapa, sih?

Sepanjang sejarah persahabatan kami, seingatku, hanya ada dua sebab yang bisa membuatnya menangis. Pertama, masalah cowok. Dan kedua, masalah cowok. Tapi aku akan selalu berpura-pura tidak tahu soal itu. Hanya supaya dia mengerti bahwa ada banyak hal yang jauh lebih penting untuk ditangisi ketimbang masalah cowok. Sayangnya, dia tak pernah mengerti, dan pada akhirnya aku akan menjadi sangat peduli terhadapnya.

“Ada yang mau kamu ceritakan?” tanyaku, sambil memperlambat laju kendaraan. “Soal cowok barumu itu, mungkin?”

Tangisannya semakin meledak. Untungnya dia memakai helm. “Dia mutusin aku…,” katanya. Wah, kejutan yang payah. Dia memang terlalu mudah dibaca.

“Kenapa?”

Dia memberi penjelasan yang saaangat panjang. Bagi seseorang yang tak memiliki kata ikatan di dalam kamus hidupnya seperti diriku, semua penjelasannya terdengar tak masuk akal dan sangat membingungkan. Kenapa pacaran harus seribet itu? Kenapa semua orang ingin punya pacar? Kenapa setelah punya pacar, mereka malah ingin putus? Kenapa setelah putus, salah satu dari mereka ingin balikan dan yang lainnya mati-matian menghindar dan drama itu menjadi episode curhat yang terus berulang selama beberapa hari atau mungkin minggu atau bulan atau tahun kemudian? Kenapa mereka tidak memilih jalan yang lebih sederhana saja. Seperti, ketika kau ingin pacaran dengan seseorang, ya pacaranlah. Dan ketika kau atau dia ingin mengakhirinya, ya sudahlah. Toh cewek atau cowok bukan cuma dia satu-satunya.

Kalau harus kukatakan seperti itu. Dan kalau aku punya keberanian mengatakannya. Yang terjadi setelahnya adalah: aku mentraktirnya makan eskrim sambil mendengar curhatannya yang sangat panjang dan berputar-putar, lalu mengantarnya ke kosan, lalu melakukan hal paling nista sedunia untuk saat sekarang. Dia memekik senang saat akhirnya proyek-dubshmas-spektakuler-kita dalam versinya benar-benar terealisasi. Aku hampir muntah melihat wajahku sendiri dan berjanji takkan melakukannya dua kali.

“Maksih banyak, ya! Akhirnyaaa!” Dia masih larut dalam euforia bahagia. Anehnya, aku merasa lega. Senyum dan tawanya menjadi bayaran yang sepadan atas harga diriku yang telah hilang setelah video itu diunggah di semua akun sosial medianya. Mungkin selama seminggu ke depan, aku akan menonaktifkan akunku.

Sebelum dia memintaku melakukan hal-hal yang lebih memuakkan, aku bergegas pulang. Limit persahabatan kami sudah habis untuk malam ini. Dia berhutang banyak kepadaku. Tunggu saja pembalasanku.

*

Sesaat setelah tiba di rumah, aku baru menyadari bahwa ponselku tak berada di kantong celana atau jaketku. Kucari di dalam kamar, namun nihil. Kutelepon dengan ponsel adikku, panggilanku terhubung, dan setelah beberapa kali nada tunggu, kudengar seseorang menjawab panggilanku.

“Hei, handphone-mu ketinggalan di kamar kosku,” dia memberi tahu. Syukurlah.

“Oke. Aku akan ke sana. Jangan tidur du—”

“Siapa?” Ada suara seorang cowok di sana, bertanya kepada dia.

“Temenku,” dia menjawab, tentu saja kepada cowok itu, “handphone-nya ketinggalan.”

“Oh,” sahut cowok itu.

“Halo?” Kali ini dia bertanya kepadaku.

“Ya.”

“Jangan khawatir, aku nggak bakal langsung tidur.” Suaranya terdengar setengah berbisik. Seperti tak ingin didengar cowok itu. “Kalau kamu datang, tunggu di depan saja, ya. Nanti aku ke sana. Oke?”

Dadaku mendadak sesak. Membayangkan dia bersama cowok itu di sana. “Hm. Aku ambil besok saja. Di kampus.”

“Memangnya, nggak bakal ada yang nelpon atau ingin kamu telpon atau chat atau apa?”

“Nggak.”

“Oke.”

Dan suara cowok itu kembali terdengar. Memanggilnya dengan mesra. Apakah dia mantan cowoknya yang memutuskan untuk kembali memulai hubungan mereka dari awal lagi? Ataukah itu cowok baru yang sedang mendekatinya?

“Oke.” Kutekan tombol pemutus panggilan.

Adikku masuk kamar tanpa mengetuk pintu, lalu meminta ponselnya kembali. “Kenapa? Ponsel Kakak hilang?”

Bukan ponselku, tapi kebahagiaanku. Kalau harus kukatakan seperti itu. Dan kalau aku punya keberanian mengatakannya.

Ah, tidak. Tidak. Bagaimana bisa aku merasa kehilangan kebahagiaan di saat sahabatku sedang merasakan kebahagiaan? Ya, aku sangat bahagia sekarang. Sangat. Bahagia. Tidakkah kau bisa melihatnya?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s