Menghadiahi Diri Sendiri

Ulang tahun sekarang ini aku dapet banyak kado spesial. Dari mulai doa, kehadiran orang2 tercinta, sampai kado barang2 spesial. Terimakasih banyak buat kalian yg menyemarakkan sweet seventeen-ku tahun ini (btw, aku ngerayain sweet seventeen tiap tahun, ya. Harap dicatat!)

Dulu, aku sering mikir kalau ulang tahun itu tentang ucapan, doa, dan kado dari orang lain. Sekarang enggak. Sekarang aku mikir: kenapa harus nunggu ucapan dan doa dari orang lain? Yg paling tau apa yg kita mau dan kita butuh itu ya diri kita sendiri dan Tuhan. Jadi, aku pun memulai hari di tanggal 3 Juni kemarin dengan berdoa. (subhanallah, ya) #menujudadunsyariah2014

Dan ternyata ketika kita justru nggak nunggu atau ngarepin kado dari orang lain, kado-kado itu malah berdatangan, lebih banyak dari apa yg pernah aku pikirin dan harepin. Sama kayak gebetan, kan. Ketika kita mulai pasrah dan nothing to lose, mereka muncul satu per satu.

Dan aku pun nggak mau kalah dengan orang-orang yang udah bikin aku bahagia di tanggal 3 kemarin. Kalau mereka bisa, kenapa aku enggak?!

Oleh sebab itu, aku ngebut nyelesein draf novel “Akhir Pekan” sampai kelar. Sayangnya, nggak pas tanggal 3. Baru bener-bener selesai dua minggu kemudian. Tapi nggak apa-apa ya. Kado yang datang terlambat ini anggap aja sebagai puncak dari perhelatan sweet seventeen-ku tahun ini. Hore!

Kamu pernah, nggak, ngasih kado buat diri kamu sendiri di hari ulang tahun kamu sendiri? Belum? Coba deh! Rasanya bener-bener bahagia.

View on Path

Flipped

image

Mungkin ini kali keempat aku menonton Flipped. Film arahan sutradara Rob Reiner, yang ditulis oleh Andrew Scheinman dan juga Rob Reiner yang di-realese sekitar tahun 2010 ini merupakan film adaptasi novel berjudul “Flipped” karya Wendelin Van Draanen. Bercerita tentang hubungan yang terjalin secara unik di antara sepasang anak perempuan dan lelaki bernama Juliana Baker (Madeline Carroll) dan Bryce Loski (Callan McAuliffe), juga antara keluarga Baker dan Loski, dengan seting tahun 50-60-an.

Semuanya berawal pada musim panas tahun 1957, ketika keluarga Loski pindah ke rumah baru mereka. Saat Bryce dan ayahnya sedang mengangkut-angkut barang dari mobil, tiba-tiba seorang bocah perempuan bernama Juli datang. Sebagai tetangga yang baik, ia merasa perlu membantu mereka. Namun, alih-alih merasa senang dan berterima kasih, Bryce dan ayahnya merasa sangat terganggu dengan keberadaan Juli. Terutama Bryce. Pada perjumpaan pertama itu, Juli sudah bersikap posesif terhadapnya. Dan selanjutnya, Juli selalu menempel ke mana pun Bryce pergi. Sampai-sampai, semua anak di sekolah mengolok-olok mereka berpacaran. Tentu saja hal itu membuat Bryce merasa muak dan tak tahan.
image

Namun, tidak halnya bagi Juli. Sejak kali pertama melihat Bryce, jantungnya sudah berdebar tak keruan. Baginya, mata yang dimiliki Bryce adalah sepasang mata paling indah di dunia. Sejak kali pertama melihat Bryce, Juli selalu ingin berada di sisinya. Dan sejak itu juga, Juli selalu mendamba ciuman pertamanya akan ia lalui bersama Bryce. Juli tak pernah peduli sedingin apa pun sikap Bryce terhadapnya. Tak pernah menyerah meski Bryce selalu menghindari dan menolaknya berkali-kali. Baginya, Bryce adalah energi yang membuat dunianya terus berputar.

Sampai pada suatu hari… sesuatu terjadi dan mengubah segalanya.

Juli berhenti mengagumi dan mendamba Bryce. Ia bahkan berbalik membencinya. Situasi itu pun rupanya mengubah pandangan Bryce terhadapnya. Bryce yang awalnya mati-matian membencinya, justru berbalik menyukainya.

***
image

Sejak kali pertama menonton Flipped, aku langsung jatuh cinta pada ceritanya, juga kepada karakter utamanya. Kisah cinta yang sederhana ini disajikan secara menarik dan unik. Fragmen-fragmennya diceritakan secara paralel dan tidak selalu runut, tetapi tidak membingungkan. Penceritaan melalui dua sudut pandang karakter utamanya justru sangat mengasyikan dan menambah efek geregetan.

Berbicara tentang film ini kapan pun dan di mana pun, aku bakal selalu teringat pada pohon Sycamore, ayam, dan telur.

Juli sangat mencintai pohon Sycamore yang tinggi, besar, dan memiliki banyak dahan untuk ia panjat dan kemudian ia duduki. Pohon Sycamore yang memberinya akses pemandangan alam yang indah nan memesona dari sebuah ketinggian, dan juga membantunya memastikan posisi bus sekolahnya yang datang mengantar jemput Juli dan teman-teman lainnya ke sekolah setiap harinya. Sampai ketika pohon itu hendak ditebang karena lahan di tempatnya tumbuh bakal dijadikan proyek pembangunan, Juli bersikeras untuk tidak turun dari dahan yang cukup tinggi, dan memohon setengah mengancam supaya pohon itu tidak ditebang.

Pada saat itu, Juli sempat meminta tolong kepada Bryce, supaya Bryce bersedia memanjat dan duduk di sana bersama Juli sebagai aksi protes. Namun, tentu saja Bryce tidak melakukannya. Bryce sebenarnya memiliki hati nurani yang selalu memanggilnya untuk berada di pihak Juli. Namun, dia terlalu pengecut untuk tindakan seheroik itu. Yang dia lakukan adalah hal-hal tak berperasaan. Salah satunya, membuang semua telur ayam yang diberikan Juli secara cuma-cuma untuk keluara Loski, dengan alasan mereka sekeluarga tidak ingin mengidap Salmonella, mengingat halaman depan dan belakang rumah Juli terlihat jorok dan berantakan.

Sebenarnya, Bryce punya alasan pribadi tentang kenapa dia enggan makan telur. Dia pernah melihat seekor ular menelan bulat-bulat sebutir telur, dan baginya itu sangat mengerikan dan menjijikan, sehingga membekaskan kenangan terburuk tentang telur. Lalu, alasan lainnya adalah, kenyataan bahwa telur-telur itu berasal dari ayam-ayam hasil eksperimen ilmiyah Juli di sekolah. Eksperimen yang berhasil mengantarkan Juli pada gelar juara pertama, yang memecundangi Bryce dengan proyek eksperimen letusan gunung berapinya.

Selain kisah percintaan menggemaskan di antara Juli dan Bryce, Flipped juga bercerita tentang kehidupan keluarga mereka. Tentang keluarga Baker yang hangat dan bersahaja namun menyimpan kerapuhan, dan keluarga Loski yang tampak normal dan jaga imej namun ternyata tidak begitu bahagia. Tentang betapa pentingnya menjalin hubungan baik antartetangga, tentang betapa berartinya undangan makan malam dari tetangga yang satu terhadap tetangga lainnya, dan tentang betapa tak seharusnya kita menilai tetangga kita secara sepihak dan penuh praduga.

Bagian favoritku di film ini adalah setiap momen yang terjadi di antara Juli dan ayahnya. Tentang bagaimana ayahnya membagi pandangan hidup yang bijaksana kepada Juli tanpa kesan “Gue ini bokap lo”, melainkan dengan pendekatan sebagai sesama manusia. Dan tentu saja, bagian favoritku yang paling penting adalah setiap momen yang terjadi di antara Juli dan Bryce. Tentang bagaimana rasa cinta dan benci di antara mereka dibolak-balikkan sedemikian rupa.

Akhir kata, Flipped ditutup dengan cukup realistis, manis, dan membuatku ingin menontonnya lagi, lagi, lagi, dan lagi….

Ngobrolin Hormones The Series Lagi

Hari Minggu kemarin, aku dapat kabar burung dari si burung alias Twitter kalau Hormones The Series bakal ditayangin KompasTV. Jam tayangnya setiap hari Senin sampai Jumat, pukul 9 pagi. Itu beneran kabar baik sekaligus kabar buruk. Nggak buruk-buruk banget, sih. Cuma, agak menyayangkan aja kenapa harus ditayangin jam segitu.

hormones the series

Sebenernya, serial ini nggak spesial-spesial banget, sih. Ceritanya cukup sederhana, tentang kehidupan beberapa anak SMA yang masing-masing punya masalah yang berbeda. Ada Win (Pachara Chirathivat), si cowok bengal, cassanova, dan playboy, yang jatuh hati pada Kwan (Ungsumalynn Sirapatsakmetha), cewek paling pinter dan idealis di sekolah. Semua cewek bisa dia dapetin dengan mudah, kecuali Kwan. Nggak ada yang menduga bahwa di balik semua kesempurnaannya, Kwan ternyata punya sisi kehidupan yang nggak begitu menyenangkan. Hubungan Win dengan Kwan mengalami perubahan yang signifikan setelah Win mengetahui hal itu. Perubahan yang mendekatkan hubungan mereka, sekaligus menempatkan mereka pada jarak terjauh.

hormones the series kwan win

Lalu, ada Tar (Gun Chunhawat), gitaris baru See Scape, band yang cukup terkenal di sekolah mereka. Tar jatuh hati kepada Toei (Suthatta Udomsilp), cewek paling cantik yang dimusuhi teman-teman ceweknya karena dianggap kecentilan dan suka mempermainkan cowok. Toei menjadi teman sebangku Tar pada tahun ajaran baru di kelas 11 itu. Hubungan Tar dengan Toei yang awalnya manis dan baik berubah menjadi dingin dan saling menghindar satu sama lain setelah Tar mengungkapkan perasaannya terhadap Toei, namun Toei menolaknya.

hormones the series tar toei

Setelah itu, ada Phu (Juthawut Pattarakhumphol), anak jurusan seni musik yang sedang bingung dengan orientasi seksualnya. Apakah dia menyukai Thee (Sedthawut Anusit), cowok cakep peniup flute; atau Toei, mantan pacarnya yang tak pernah bisa dia lupakan itu. Hubungan mereka berkembang menjadi kisah cinta segi tiga yang cukup rumit meski nggak serumit kisah cinta Farrel dan Fitri yang ber-season-season itu.

hormones the series phu thee

Kemudian ada Phai (Thanapob Leeratanakajorn), anak gank yang diam-diam jatuh cinta pada Sprite (Supassara Thanachart), pacar si ketua gank itu. Ujian cinta mereka nggak sampai di situ. Phai mulai kehilangan kepercayaannya terhadap Sprite, karena Sprite ini dikenal sebagai cewek gampangan dalam pengertian yang sebenarnya.

hormones the series phai sprite

Selain kisah percintaan, serial ini pun menghadirkan cerita persahabatan dan keluarga. Adalah Mhog (Sirachuch Chienthaworn), sahabat Win dan Tar, yang mampu menjadi penengah, penasihat, sekaligus tempat bersandar bagi sahabat-sahabatnya. Mhog yang tampak paling kalem dan bijak ini pun tak luput dari masalah. Selain masalah percintaannya dengan Mint, gadis dari sekolah lain yang sebenernya hanya menuntut Mhog bersikap “wajar” seperti cowok-cowok lainnya; Mhog juga memiliki masalah dengan ayahnya yang memaksa dia mengambil studi sesuai kehendak ayahnya yang bertolak belakang dengan keinginan Mhog sendiri.

hormones the series mhog mint

Dan yang tak kalah menarik lagi adalah kisah tentang Dow / Dao (Sananthachat Thanapatpisal), cewek pemimpi yang suka tersesat di antara dunia nyata dengan dunia imajinasinya sendiri. Dia suka menulis cerita di blog pribadinya yang terinspirasi dari kejadian-kejadian yang dia alami sehari-sehari. Seperti kisah cinta antara si cowok peniup saxophone dan flute (Phu dan Thee), atau kisah cinta Dow dan Din yang merupakan kisah cintanya sendiri yang terjalin setelah pertemuannya dengan cowok manis bernama Din di sebuah tempat les bahasa Inggris. Masalah yang dihadapi Dow adalah soal ibunya yang konservatif dan overprotective. Namun, lewat sebuah kejadian, Dow akhirnya paham kenapa ibunya bersikap demikian.

hormones the series dow din

***

Setiap episode dalam serial yang disutradarai oleh Songyos Sugmakanan ini menggunakan judul yang diambil dari nama-nama hormon yang mewakili kepribadian karakter yang akan dibahas pada episode tersebut. Seperti, episode 1 diberi judul “Testosteron” yang dianggap mewakili kepribadian Win. Atau “Adrenalin” di episode yang nyeritain kehidupan si Phai, dan “Serotonin” di episode tentang kehidupan Mhog.  Ada satu pokok permasalahan yang dibahas di setiap episodenya dan langsung diberi penyelesaian pada akhir episode itu. Ada juga konflik yang sengaja dibiarkan mengalir dan mengambang, yang pada akhirnya membentuk jalinan benang merah dari ketiga belas episode Hormones The Series ini.

Secara keseluruhan, Hormones The Series memang bukan tayangan yang sangat istimewa, tetapi cukup memuaskan mata dan jiwa. Halah. Pesan moral? Tentu ada. Namun, siapalah aku yang ngomongin pesan moral sebuah cerita. Pokoknya, yang aku rasain setelah nonton ini adalah… jadi kangen masa-masa SMA, jadi kepengin jalan-jalan ke Thailand juga, dan jadi kepengin nulis cerita tentang anak SMA.

Kalau kamu udah nonton serial ini dan suka, jangan sedih. Karena, konon kabarnya, tahun ini bakal tayang Hormones The Series season 2, atau yang mereka sebut sebagai Hormones The Next Gen. Menurut hosip yang beredar, di Thailand sendiri, Hormones The Next Gen ini baru dirilis tanggal 28 Juni 2014.  Semoga ada yang baik hati ngunggah di Youtube plus subtitle english-nya ya, kayak Hormones The Series taun lalu. Dan semoga ceritanya tambah seru. Aamiin.

BTW, ini trailer Hormones The Series yang tayang di KompasTV. Agak kurang gimana gitu. Jadinya enggak mewakili cerita si Hormones The Series itu sendiri.

Coba bandingkan dengan trailer versi internasionalnya.

Mengubah Masa Lalu untuk Memperbaiki Masa Depan

Coba bayangkan. Suatu hari, kamu bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai dirimu sendiri yang datang dari masa depan, masa 25 tahun dari sekarang. Kamu-Masa-Depan itu kemudian memberi banyak informasi tentang apa yang akan terjadi, apa yang harus kamu lakukan, dan apa yang harus kamu hindari, supaya kamu bisa mengubah masa depan menjadi sesuatu yang jauh lebih baik.

Apakah kamu bakal percaya begitu saja kepada orang itu? Apakah kamu bakal mendengar dan menuruti petuah dan larangannya? Ataukah kamu bakal mengabaikannya?

Itulah yang terjadi pada Na Mirae. Kehidupan gadis polos berusia 32 tahun itu mendadak kacau setelah kehadiran Na Mirae berusia 57 tahun yang datang dari tahun 2038. Na Mirae dari masa depan mengatakan bahwa Na Mirae masa kini tidak boleh menikah dengan seorang penyiar berita bernama Gim Shin karena kehidupan mereka bakal sengsara seperti yang dialami Na Mirae di masa depan. Untuk itu, Na Mirae harus melakukan banyak hal dan menghindari lebih banyak hal lagi untuk mencegah pernikahan dan kesengsaraannya itu. Satu hal yang paling penting, Na Mirae harus menikah dengan Park See Jo, seorang calon direktur YBS TV yang berpura-pura menjadi VJ di stasiun TV milik neneknya itu, yang sekaligus merupakan tempat di mana Na Mirae dan Gim Shin bekerja.

Bagaimanakah reaksi Na Mirae? Apakah ia memercayai dan menuruti kata-kata Na Mirae Masa Depan? Dan siapakah yang akan dipilih Na Mirae masa kini sebagai suami?

***

Baca lebih lanjut

Surat untuk Mhog

Hai, Mhog. Sudah beberapa bulan berlalu sejak kali terakhir kita bertemu di acara festival musik Big Mountain. Meski begitu, diam-diam aku masih berusaha untuk melihatmu di waktu-waktu tertentu. Hanya karena rindu, atau sekadar ingin tahu bagaimana kabarmu.

Kali pertama bertemu denganmu, aku seperti bertemu dengan diriku sendiri beberapa tahun lalu–aku yang masih berseragam putih-abu–dalam versi yang baru. Anggaplah aku sedang melakukan ekspedisi waktu ke masa lalu seperti Henry DeTamble di Time Traveler’s Wife. Dan pertemuan kita tentunya membuatku ingin mengatakan banyak hal kepadamu. Sayangnya, aku tak punya kemampuan berbahasa yang cukup baik. Jadi, aku hanya bisa memandangimu dalam diam. Itulah sebabnya aku menulis surat ini

Mhog, sejujurnya aku iri kepadamu. Di usiamu yang masih kelas sebelas ini, kamu sudah tahu apa mimpi dan cita-citamu. Kamu pun punya keberanian untuk berargumen dengan ayahmu dan mempertahankan semua itu. Dalam hal ini, kita tampak sangat berbeda. Saat seusiamu, aku sama sekali tidak tahu ingin menjadi apa dan harus bagaimana. Aku baru tahu apa yang kuinginkan dan kuimpikan itu sekarang, setelah tahun demi tahun berlalu dalam sesuatu yang menyerupai kesia-siaan. Dan ternyata, apa yang kuinginkan dan kucita-citakan sama dengan apa yang kamu inginkan dan cita-citakan juga.

Mengetahui semua itu akan membuatmu semakin fokus pada tujuan. Tetaplah fokus pada apa yang kamu inginkan, pada apa yang membuat duniamu terasa begitu menakjubkan. Tak perlu risau soal orang-orang di sekitarmu yang cenderung tak mampu memahami apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu lakukan.

Aku sangat paham bagaimana pemandangan seorang wanita tua–bartender pinggir jalan di depan sekolahmu bisa terlihat lebih menarik dibandingkan seorang gadis cantik yang menunggumu untuk bertemu di suatu tempat. Bagaimana kemudian kamu malah asyik memotret aksi wanita itu dibanding buru-buru menemui pacarmu yang mulai marah-marah karena keterlambatanmu.

Sama halnya dengan yang terjadi di aquarium raksasa. Di mana, kamu tampak amat sangat terpesona pada makhluk-makhluk laut itu sampai lupa waktu dan janji kencan dengan pacarmu.

Juga, saat akhirnya kamu pergi berkencan dan menonton film di bioskop bersama pacarmu. Alih-alih merespon apa yang dilakukan pacarmu terhadapmu (memegang tanganmu dan menyandarkan kepala di bahumu), kamu malah fokus pada film yang tengah kalian saksikan.

Ya, aku paham soal semua itu, sebab aku pun pernah berada di posisi sepertimu.

Mhog, jika ada seseorang yang memintamu berubah, kuharap kamu tidak serta-merta menyetujuinya. Kamu tak perlu menjadi seseorang yang mereka inginkan. Jadilah seseorang yang kamu sendiri merasa nyaman dengan menjadi seperti itu.

Aku percaya, kamu tak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarmu, kamu selalu menjadi penengah, dan kamu bukanlah orang yang suka menghakimi perliaku buruk orang lain. Itu cukup menjelaskan kenapa mereka merasa nyaman di dekatmu, dan lalu menceritakan hal-hal yang belum tentu bisa mereka ceritakan kepada orang lain. Dan meskipun kamu tak melakukan apa-apa, mereka akan tetap di dekatmu karena rasa nyaman itu.

Yang kukhawatirkan tentangmu adalah di saat kamu jatuh dalam situasi dan suasana hati yang tidak stabil. Saat kamu sedih, dan tak seorang pun mampu memahami dan meredakan semua itu.

Pada saat seperti itu, mungkin kamu akan pergi ke suatu tempat dan memotet objek-objek menarik, atau pergi ke bioskop dan menonton film seorang diri, atau mengurung diri di dalam kamar sambil membaca novel atau mendengarkan lagu. Dan jika semua itu masih belum bisa meredakan kesedihanmu, jangan khawtir, ingatlah masih ada aku. Kamu bisa menemuiku atau menghubungiku atau mengirimiku pesan. Ungkapkanlah segala yang ingin kamu ungkapkan, sampai segala beban pikiran dan perasaanmu teredakan.

Sebenarnya, masih ada banyak hal yang ingin kukatakan. Tetapi, harus kucukupkan sampai di sini, dan mungkin akan kutakan pada pertemuan kita berikutnya. Atau paling tidak, pada surat yang akan kutuliskan kemudian.

Semoga kita bisa bertemu lagi tahun ini.

D

Surat untuk Pacarmu

Semoga kamu sedang dalam kondisi baik-baik saja saat membaca surat yang sebenarnya kutujukan untuk pacarmu ini.

Aku sengaja mengirimkannya melalui kamu. Bukan lantaran aku tak berani berhadapan langsung dengannya. Kurasa, pacarmu yang keras kepala itu bakal lebih bisa menerima pesan dariku setelah keluar melalui mulutmu. Sebab, aku tahu caramu menyampaikan sesuatu selalu lebih baik daripada siapa pun, dan level kesabaranmu lebih tinggi dari manusia mana pun.

Tolong katakan kepada pacarmu untuk tidak selalu mencemburuimu, dan supaya dia memberimu kebebasan bergaul dan berteman dengan siapa saja tanpa menaruh curiga. Ingatkan dia bahwa cemburu buta cukup dimiliki anak-anak SMA atau yang baru berstatus Mahasiswa. Dan jika memang dia sudah terlanjur cemburu dan sulit mengingkarinya, setidaknya ungkapkanlah kecemburuannya itu dalam bahasa lugas yang bisa dipahami manusia biasa yang tak perlu memiliki kemampuan setara seorang pembaca pikiran.

Tolong beri tahu pacarmu bahwa cinta yang tahan lama itu biasanya tumbuh secara perlahan, bukan cinta yang tiba-tiba turun sederas hujan beberapa jam. Mungkin itu akan membantumu menjelaskan banyak hal. Salah satunya, ketika pacarmu mendadak marah-marah setelah mengetahui kamu punya teman baru dan lalu dia cemburu. Ingatkan dia juga tentang bagaimana cara kalian (kamu dan pacarmu) bertemu, berkenalan, berteman, penjajakan, hingga menjalin sebuah hubungan, dan berapa lama waktu yang kalian lalui dan habiskan sejak detik pertama sampai sekarang.

Dan tolong yakinkan pacarmu bahwa kamu sudah menutup semua pintu masa lalumu.

Lalu, tolong tegur pacarmu untuk tidak terlalu egois. Ah, kamu pun harusnya tidak selalu menuruti keinginan dia dan bersikap baik-baik saja terhadap keegoisannya. Selama ini kamu sudah cukup bersabar dan berkorban untuknya. Janganlah menganggap semua itu sebagai kewajibanmu sendiri sebagai seorang pacar. Kalian berdua punya hak dan kewajiban yang sama untuk memberi dan menerima, juga untuk sama-sama bahagia. Jadi, sekali lagi, tolong tegur dia, demi kebaikan kalian berdua.

Oh, ya, ini yang terpenting. Tolong bilang sama pacarmu untuk tidak terlalu sering menonton drama Korea, apalagi sampai harus begadang segala. Dan peringatkan dia untuk tidak tertipu dan terpengaruh oleh kisah cinta manis menye-menye yang cuma terjadi di dunia paralel sana dan mustahil terjadi di dunia nyata sini.

Dan yang terakhir, bilang sama pacarmu, jangan menulis surat untuk dirinya sendiri dengan cara seperti ini.

Yang sangat mengenal pacarmu luar dalam,

D

Surat untuk Besok

Kepada Besok,

Hai, Besok. Kemarin malam, aku menonton film berjudul 11:00 AM. Ia bercerita tentang sekelompok peneliti yang sedang melakukan uji coba mesin waktu di sebuah markas penelitian di dasar laut. Dua orang dari mereka menjadi kelinci percobaan, masuk ke dalam mesin waktu yang membawa mereka pada satu malam yang akan datang.

Mereka berdua pun tiba di markas penelitian itu pada malam 26 Desember (CMIIW) sekita pukul 11 AM, dua puluh empat jam dari saat mereka melakukan perjalanan yang hanya berlangsung beberapa detik itu. Di sana, mereka berdua menemukan markas itu dalam keadaan porak poranda. Di antara puing-puing yang tersisa, salah satu dari mereka menemukan foto Natal bersama yang diambil para anggota tim lainnya saat kedua orang itu melakukan perjalanan lintas waktu, juga potongan kertas berisi catatan sebuah peristiwa. Tak hanya itu, mereka berdua pun bertemu–bahkan berinteraksi dengan sosok yang tak pernah mereka duga sebelumnya.

Mereka lalu kembali pada masa kini. Salah satu dari mereka awalnya diduga tertinggal di masa depan, namun kemudian ditemukan di bagian tersembunyi mesin waktu itu. Dan mereka berdua kembali ke masa kini dengan membawa hard disk berisi rekaman CCTV dari masa depan. Melalui rekaman CCTV itulah, mereka mengetahui apa yang akan terjadi dan yang akan mereka alami sampai tanggal 26 Desember pukul 11 AM itu.

Mengetahui masa depan itu ternyata menyenangkan sekaligus mengerikan. Lebih-lebih, jika apa yang kita lihat dari masa depan yang buruk itu sama sekali tak bisa diubah, sekeras apa pun kita berusaha mengubahnya. Bahkan, ketika kita mencoba lari sejauh mungkin dari tempat yang tergambar di sana, takdir akan tetap menyeret kita ke sana dengan segala cara.

Terkadang, memang ada hal-hal tentangmu–wahai Besok, yang ingin cepat kuketahui dari sejak hari ini. Seperti, apakah naskah yang kukirimkan untuk lomba bakal menang atau tidak, atau apakah surat pernyataan cinta yang kukirimkan untuk teman sekelasku akan berakhir bahagia atau lara. Tetapi, ada juga hal-hal tentangmu yang tak ingin buru-buru kutahu, seperti, apakah besok aku masih hidup atau tidak (meski mungkin untuk sebagian orang, mengetahui kapan mereka mati adalah sebuah keinginan terpendam).

Aku menulis surat ini untuk mengatakan kepadamu supaya kamu tetap berada di tempatmu, wahai Besok. Jangan datang terlalu cepat. Hari ini biarlah tetap menjadi milik Hari Ini. Jangan meniru Kemarin yang terus-terusan membayangi Hari Ini dengan kenangan-kenangan menyenangkan namun menyakitkan. Jadilah Besok yang misterius dan mengejutkan.

Sekian.

Sampai bertemu besok, Besok.

D

Surat untuk Jatuh Cinta

Kepada Jatuh Cinta,

Hai, apa kabar? Kali terakhir kita berjumpa, segalanya tampak indah dan sempurna. Kamu menempatkan dia pada hierarki paling tinggi kekagumanku terhadap seseorang. Dan kamu menutup mata juga telingaku dari apa yang sebenarnya terlihat dan terdengar. Sampai kemudian, pelan-pelan kamu menghilang.

Setelah kamu pergi, dia tidak indah dan sempurna lagi. Ada banyak hal yang kemudian terlihat dan terdengar tentang dia, yang membuat pikiran dan perasaanku goyah. Ada banyak alasan kecil yang dibesar-besarkan dan akhirnya menjadi masalah. Ada banyak masalah yang berujung pada pertengkaran. Dan pertengkaran-pertengkaran itu pun lantas membangun jembatan perpisahan.

Tapi, tenang, kami tidak benar-benar berpisah. Tanpa kamu, kami masih punya alasan dan harapan untuk tetap mempertahankan apa yang telah kami perjuangkan. Pada dasarnya, sebuah hubungan adalah hasil perjuangan dari dua orang yang berada di dalamnya. Perjuangan untuk tetap satu kata di dalam dua pemikiran, tetap satu langkah dan tujuan di dalam sekian banyak keinginan. Dan kami berdua sama-sama paham.

Hanya saja, ya, tak bisa kumungkiri, tanpa kamu, segalanya tak sama lagi. Apalah artinya sekadar ucapan selamat pagi, sapaan-sapaan manis yang sebelumnya mampu menghangatkan hati, dan basa-basi terpuji yang pernah mencerahkan hari-hari. Tanpa kamu, kami hanyalah sepasang manusia yang sedang mengerjakan tugas kelompok untuk pelajaran ‘Hidup Bersama’.

Jadi, di manakah kamu berada kini, wahai Jatuh Cinta? Tidakkah kamu merindukan kami? Tak bisakah kamu datang sekali lagi, dan tetap tinggal bersama kami di sini?

Yang menunggu jatuh cinta sekali lagi,

D

Surat untuk Windy Ariestanty

Salam kenal, Kak Windy

Pertama-tama, izinkan aku menulis surat untukmu dalam gelaran #30HariMenulisSuratCinta hari keempat ini. Dan kedua-dua, mohon maaf jika ada kesalahan dalam tata bahasa dan EyD dalam surat ini (serius, aku gugup banget waktu nulis ini).

Sejujurnya, sudah sejak lama aku ingin menyapa Kak Windy, hanya saja–entah kenapa–aku selalu merasa saatnya belum tepat saja, sampai hari ini. Ketika aku menelusuri daftar following-ku di Twitter untuk mencari akun milik selebtwit mana yang akan kukirimi surat, namamu muncul seperti bisikan jawaban di detik-detik menjelang penghabisan waktu ujian. Maklumlah, aku bukan anak gaul Twitter. Dan, di luar perbedabatan soal apa itu ‘selebtwit’, bolehlah aku punya pandangan sendiri untuk memaknainya. Dan bolehlah aku menempatkan Kak Windy ke dalam predikat itu sebagai jalan bagiku untuk menulis surat ini, meski sebenarnya aku lebih suka menyebut Kak Windy sebagai Editor dan/atau Penulis.

Kita memang tak pernah bertemu atau berinteraksi sebelumnya, baik di dunia nyata maupun maya. Jadi, Kak Windy tak perlu mengerutkan dahi untuk mencari tahu atau sekadar mengingat siapa si penulis surat ini. Yang akan kutunjukkan kepada Kak Windy ini adalah alasan kenapa kemudian aku mem-follow Twitter Kak Windy lalu diam-diam mengagumi.  Kak Windy pasti ingat pernah menulis ini sekitar satu setengah tahun yang lalu –> https://www.facebook.com/notes/gagasmedia/saya-picik/10150886618286968

Ya, gara-gara tulisan itu, aku jatuh hati kepada Kak Windy. Bagaimana tidak? “Saya Picik”. Judulnya saja sudah cukup jujur dan reflektif. Maksudku, ketika–mungkin–penulis lain berusaha mempermanis citra diri mereka di hadapan pembaca, Kak Windy justru berani tampil apa adanya. Itu membuatku merinding lantas bersimpati. Membaca kisah Kak Windy saat pertama bergabung dengan Gagasmedia, bagiku seperti menonton sebuah film drama yang membuatku jatuh hati pada cerita dan karekter si pemeran utamanya.

Orang yang mengalami penolakan berkali-kali cenderung menjadi dingin karena itulah cara yang dia tahu untuk melindungi perasaannya agar tidak sakit lagi. Hanya itu cara bertahan yang ia tahu. – Windy Ariestanty

Namun, lambat laun, saya belajar bahwa penolakanlah yang membuat saya menjadi lebih kuat dan kian tangguh. ‘Tidak’ kemudian menjadi kata penanda buat saya bahwa ada sesuatu yang perlu lebih saya gali sebelum berubah menjadi ‘Iya’. – Windy Ariestanty

Bagaimana aku tidak jatuh hati pada kalimat-kalimat itu? Aku percaya, itu bukan sekadar permainan kata untuk mencuri perhatian pembaca. Itu adalah sekelumit hikmah yang ingin dibagi Kak Windy kepada siapa saja yang memercayainya. Mungkin kedengarannya agak lucu, tetapi perjalanan hidup yang Kak Windy tuliskan dalam kisahan itu sebagian tampak seperti refleksi dari apa yang pernah kualami dalam hidupku sendiri, dan sebagiannya lagi menjadi pelajaran yang cukup berarti.

Aku memang tidak mengenal Kak Windy secara personal. Tetapi, melalui tulisan-tulisanmu yang kubaca secara online maupun yang tertulis di buku, aku melihat sosok Kak Windy seperti–lagi-lagi kukatakan–si pemeran utama dalam sebuah film drama dengan karakter yang membuatku jatuh hati kepadanya. Dengan begitu, aku bisa mengatakan bahwa karakter fiktif dalam sebuah karya fiksi tak mustahil ada di dunia nyata.

Sebelum mengakhiri surat ini, izinkan aku meminta maaf atas kelancanganku menulis semua ini. Dan setelah mengakhiri surat ini, aku akan kembali menjadi pengagum dan pembaca sunyi karya-karyamu, sampai kutemukan saat yang tepat dan kesempatan menulis surat untukmu lagi.

Salam,

D

Surat untuk Senin

Kepada Senin,

Hai, ketemu lagi. Aku ingin memberi tahu kamu (meskipun aku tahu kamu sudah tahu ini sejak dulu) bahwa ada banyak orang di dunia ini yang tidak menyukaimu.

Mungkin kamu selalu bertanya-tanya salahmu apa atau di mana. Sudahlah, tak perlu kamu pikirkan. Masalahnya bukan ada pada dirimu, melainkan dalam diri orang-orang itu. Mereka tidak menyukaimu sebab mereka tidak menyukai diri mereka sendiri yang tak bisa menerima kenyataan bahwa mereka harus kembali bekerja. Satu-satunya hal yang bisa kamu jadikan kambing hitam hanyalah kenyataan bahwa kamu datang setelah Minggu.

Hidup ini memang selalu soal perbandingan kalau bukan pertandingan. Berdiri di sebelah seseorang yang disukai banyak orang akan menjadikanmu seseorang yang tidak kelihatan. Dan, datang untuk menggantikan seseorang yang disukai banyak orang itu akan membuatmu jadi seseorang yang tidak disukai. Jadi, kurasa, kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri, tak perlu peduli seberapa banyak orang yang menyukai dan tidak menyukaimu.

Aku tidak sepenuhnya yakin, tetapi kuharap kamu cukup yakin bahwa hidup ini terkadang bersikap adil dengan caranya sendiri. Bahwa tidak ada sesuatu atau seseorang yang mutlak selalu disukai dan selalu tidak disukai. Dan bahwa mungkin saja masih ada orang yang menyukaimu, seperti mereka yang libur di hari Senin, atau mereka yang punya rencana penting pada hari itu, atau mereka yang punya kenangan manis tentang hari Senin.

Aku sendiri bukan termasuk orang yang tidak menyukaimu, bukan juga orang yang menyukaimu. Hanya saja, terkadang aku merasa bahwa aku adalah orang yang sama seperti kamu.

D