Cinta Akhir Pekan dan Cerita di Baliknya

 

Sebulan sudah berlalu sejak novel Cinta Akhir Pekan beredar di toko buku. Seperti halnya perasaan orangtua melihat bayinya yang baru berusia satu bulan, perasaan itulah yang menyergapku saat berjalan-jalan ke toko buku dan melihat novelku dipajang.

 

cinta akhir pekan 01

Jauh sebelum hari ini, Cinta Akhir Pekan hanyalah sebuah angan, kepingan imajinasi, dan endapan kegelisahan yang kerap menghantui. Sebenarnya, ide untuk menulis novel yang bertema MBA (married by accident) ini sudah mulai kupikirkan sejak tahun 2010. Saat itu, isu tersebut benar-benar mengusikku hingga ke tulang, mengingat aku punya adik perempuan yang baru saja memasuki masa pubertas.

Baca lebih lanjut

Catatan Akhir Pekan bersama Gramedia Writing Project

Menjadi satu dari sepuluh penulis terpilih Gramedia Writing Project batch 2 tentunya merupakan sebuah kebanggaan untukku. Bukan hanya kebanggaan, melainkan juga kebahagiaan ketika kami diberi kesempatan untuk mengikuti workshop menulis yang diadakan  selama dua hari, tanggal 21 dan 22 Maret kemarin.

Sesuai jadwal, kami harus berkumpul di gedung Kompas Gramedia pada hari Sabtu pukul tujuh pagi, atau di hotel Amaris pada pukul delapan pagi. Karenanya, kuputuskan pergi dari Bandung pada Jumat sore, dan berencana menginap di tempat seorang teman di Jakarta.

Perjalanan Bandung-Jakarta pada Jumat itu terasa lebih lama daripada seharusnya. Dari Bandung pukul 15:30, tiba di Jakarta pukul 22:30 dan disambut hujan badai. Ya, aku tau, itu masih bagian dari ujian kesabaran, setelah sepanjang perjalanan telingaku disiksa lagu-lagu dangdut dan pop Sunda. Bukannya aku nggak suka. Awal-awal kedengarannya lucu, tapi lama-lama malah eneg dan bikin sakit kepala. Berisik. Aku nggak bisa tidur dalam perjalanan yang melelahkan itu. Pak supir masih tetap menyalakan musik bahkan setelah aku menegurnya untuk menurunkan volume suara musiknya.

Dan syukurnya, ujian kesabaran itu nggak ada apa-apanya dibanding apa yang kudapatkan kemudian.

Baca lebih lanjut

Sebelum Januari Datang

Hujan baru saja turun ketika dia tengah bermalas-malasan di tempat tidur sambil menonton DVD. Dia harus ke luar sebentar untuk memastikan bahwa tak ada lagi jemuran yang perlu diselamatkan. Hujan selalu mengganggu dan membuatnya kesal. Dia sering berharap di dunia ini tak pernah ada hujan. Supaya dia tak perlu mem-pause film yang sedang dia tonton hanya untuk mengangkat jemuran. Supaya dia tak perlu membatalkan janji dengan orang-orang yang mengajaknya bertemu di hari hujan.

Seorang temannya mengirim pesan berupa gambar. Gambar berisi tulisan yang pernah dia buat di awal tahun kemarin. Tulisan itu berisi surat cinta yang dia posting di blog untuk temannya yang mengirimkan pesan barusan. Sesaat dia terdiam, membacanya sambil memutar-mutar ingatan.

Beberapa saat kemudian, temannya yang lain mengiriminya pesan. Menanyakan apakah ada tulisan baru di blognya. Dia jawab, tidak ada. Dia sudah sangat jarang menulis di blog. Lalu temannya bilang, ia rindu membaca tulisan baru.

Dia tidak tahu harus menulis apa. Hidupnya masih begitu-begitu saja. Belakangan dia sedang merasa sangat gundah karena sesuatu yang entah apa.

Berita tentang kecelakaan pesawat yang terjadi pada hari Minggu kemarin masih terdengar dan terlihat di berbagai media. Menjadi sisi lain di tengah agenda-agenda keriaan tahun baru semua orang. Dia turut merasakan kesedihan yang dalam tanpa tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tidak akan menyalakan kembang api dan petasan. Tidak juga akan merayakan malam tahun baru dengan bersenang-senang sampai lupa daratan. Tapi itu bukan semata-mata karena dia turut berduka, melainkan karena itulah ritual yang dia jalani setiap tahunnya.

Hidupnya mungkin terlihat sangat membosankan di mata sebagian besar orang. Tetapi tidak bagi dirinya sendiri. Baginya, tak perlu susah-susah mencari kebahagiaan di luar sana jika dia sudah menemukannya di dalam rumah. Sesekali dia akan bepergian cukup jauh bahkan sangat jauh. Hanya untuk membuktikan bahwa perjalanan adalah cara terbaik untuk menghargai betapa berharganya setiap detik yang dia lalui di dalam rumah. Dan berada jauh dari rumah adalah cara terbaik untuk memahami bahwa pulang adalah bagian terbaik dari sebuah perjalanan, dan rumah adalah destinasi paling indah sejauh apapun kakinya melangkah.

Dia memang payah. Ketika semua orang sudah mengunjungi banyak tempat, negara, pantai, gunung, hutan, taman, dan bangunan-bangunan yang menakjubkan; dia masih merasa nyaman duduk bermalas-malasan dengan sebuah novel yang tidak dibaca banyak orang atau sebuah film yang tidak dianggap bagus oleh kebanyakan orang ditemani segelas susu cokelat panas tanpa perasaan cemas. Dia memang payah. Ketika semua orang sudah mengalami ini, itu, dan anu; di masih saja bertahan dengan hidupnya yang begitu-begitu saja tanpa perasaan bersalah.

Hal-hal seperti itu tak pernah membuatnya gundah. Justru sebaliknya. Ya, sekarang agaknya dia tahu kenapa belakangan ini dia merasa sangat gundah. Tanpa sadar, dia telah berjalan pada hidup orang lain dan meninggalkan hidupnya sendiri. Mungkin dia bosan. Atau sedikit khawatir. Tetapi pada akhirnya dia menyadari bahwa hidupnya sendiri jauh lebih menyenangkan dibandingkan hidup orang lain.

Hujan masih turun saat dia memutuskan untuk kembali menjalani hidupnya sendiri. Saat dia mengambil buku dan pulpen untuk menuliskan daftar resolusi, kemudian mencoretnya kembali. Tidak. Dia tidak perlu menulis apa-apa. Dia tidak suka perencanaan. Dia hanya cukup melakukan apa yang ingin dia lakukan.

Ada sesuatu yang harus diselesaikan sebelum Januari datang. Desember. Sebab Januari takkan pernah datang sebelum Desember selesai. Dan Desember sebaiknya diselesaikan dengan sebuah perasaan lega, supaya Januari bisa dimulai tanpa beban apa-apa. Dan perasaan lega hanya bisa dicapai dengan cara melepaskan segala yang tertahan dan terkekang. Harapan-harapan yang takkan tergapai. Cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dendam dan kebencian. Serta semua kepalsuan.

Tetapi, pada akhirnya, Januari akan tetap datang, dengan ataupun tanpa dia melakukan itu semua.

Tentang Hari Pertama

Hari ini hari pertama masuk sekolah, ya? Tadi liat anak-anak SD lucu-lucu lari sana-sini keliatan seneng banget. Jadi bikin keinget masa-masa hari pertama masuk sekolah dulu.

Cuma sedikit yang masih keinget waktu masuk SD dulu. Pastinya seneng, antusias, tapi juga agak serem. Kayaknya, waktu itu aku harus dianter dan ditungguin Mama selama seminggu. Maklum, aku kan gak masuk TK dulu, dan sejak orok mainnya di rumah melulu.

Waktu SMP udah gak dianter-anter lagi. Malu. Ya iyalah. Hari pertama masuk sekolah agak deg-degan, soalnya BFF-ku waktu SD (halah gaya BFF) beda kelas. Aku malah sekelas sama anak paling badung waktu SD. Bahkan sebangku. Kebayang kan, the perks of being anak baik nan lugu yang sebangku dengan anak bandel incaran guru-guru.

Ketika masuk SMA, aku bener-bener nggak kenal siapa-siapa. Aku siapa? Aku di mana? Tapi justru itu yang bikin seru. Kenalan sama orang baru. Dapet temen baru. Dan waktu itu, untuk pertama kalinya punya temen sebangku cewek. Jaman SD dan SMP kan malu ya kalau sebangku sama anak cewek. Beda dengan masa SMA. Tapi highlite nya bukan di situ sih. Lebih ke soal “selalu ada yang pertama dalam segala hal”. Dan kalau aku ini tokoh utama dalam sebuah cerita, kisahku ini bakal di mulai dari masa SMA.

View on Path

Tentang Memilih

Biasanya, saya kerap menjadi seorang peragu ketika hendak memilih salah satu dari dua hal atau lebih. Untuk beberapa hal, memilih lebih daripada satu bukanlah tindakan keliru. Namun untuk hal-hal tertentu, ‘memilih’ adalah tentang menunjuk yang itu dan mengeliminasi yang ini.

 
Kalian tentu tahu apa yang sedang saya bicarakan sekarang. Seapatis-apatisnya seseorang–ya, saya–saya adalah bagian dari Orang Indonesia, yang punya hak suara yang sama.
 
Selama ini saya lebih memilih untuk menjadi penonton pasif yang menyuarakan apa pun dalam bentuk kesunyian (sudah pasif, nggak mau ngomong, lagi). Bukan hanya menyadari bahwa saya tidak berkapasitas dalam hal ini, saya juga tidak pernah tertarik terhadap segala hal yang berbau politik. Sampai pada sebulan belakangan ini.
 
Setiap kali membuka laman Facebook, Twitter, sampai Path, saya kerap menemukan postingan-postingan berupa dukungan terhadap Capres 1 dan 2 dengan segala bentuk dan cara mereka. Awalnya, saya pikir, semua itu sama saja dengan kampanye-kampanye yang sudah-sudah. Tapi ternyata jelas berbeda. Pada pemilu tahun 2014 ini hanya menyisihkan dua calon. Dan ternyata, memilih satu dari dua pilihan itu jauh lebih seru dan menegangkan daripada memilih satu dari banyak pilihan.
 
Yang menggelitik saya untuk membuat postingan ini adalah dukungan-dukungan dari para simpatisan masing-masing Capres tersebut. Semakin menarik lagi, dukungan-dukungan itu tidak hanya disuarakan oleh orang-orang yang tidak saya kenal, melainkan juga oleh orang-orang yang cukup saya kenal. Teman saya, bahkan sahabat saya sendiri di antaranya.
 
Saya sangat tertarik untuk mencari tahu kenapa teman saya yang ini mendukung Capres yang itu, dan kenapa teman saya yang itu mendukung Capres yang ini. Saya akui, saya sempat memendam praduga terhadap mereka. Mungkin mereka dibayar. Mungkin mereka melakukan itu demi sebuah kepentingan yang sifatnya personal. Dan sebagainya.
 
Sampai kemudian, saya menelusuri tautan demi tautan yang diposting dari pendukung kedua kubu Capres itu, menonton berita, mencari informasi dari sumber-sumber lainnya, membandingkan, menganalisa, menonton debat Capres, brainstorming dengan Bapak, dan sebagainya. Praduga itu memang tidak bisa hilang sepenuhnya begitu saja. Namun, ada kabar gembira yang lebih signifikan dari kabar tentang kulit manggis yang kini sudah ada ekstraknya. Adalah semangat untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik dengan memilih pemimpin terbaik. Dan saya sangat yakin, semangat itulah yang mendasari dan mendorong teman-teman saya untuk menyuarakan dukungan-dukungannya. Kalaupun ada hal-hal yang terkesan negatif di dalamnya, yah… itulah konseksuensi dari segala hal. Selalu ada sisi baik dan sisi buruk. Dan di dalam sisi buruk pun, ternyata masih ada hal-hal lucu yang masih bisa saya anggap sebagai hiburan seru.
 
Pada Pemilu beberapa bulan lalu, saya sempat bingung ketika berada di bilik TPS. Ketiga surat suara itu dipenuhi wajah dan nama yang sangat asing, juga logo-logo partai yang tak satu pun mampu meyakinkan saya untuk memilih. Selama beberapa detik, saya sempat tertegun dan berpikir, “Ngapain bingung-bingung, sih? Pilih yang mana aja, cap cip cup, atau nggak usah milih sama sekali. Emang, suara kamu bakal ngaruh?”
 
Namun saya rasa, pada Pemilu Pilpres tanggal 9 Juli besok, saya sudah tidak akan ragu lagi untuk memilih. Ngaruh atau pun nggak ngaruh, bagi saya, ‘memilih’ adalah satu langkah yang lebih baik dari sekadar menjadi penonton pasif yang menyembunyikan suaranya dalam sunyi. Dan siapa pun Presiden yang terpilih nanti, semoga harapan-harapan terbaik kita bisa mulai teralisasi.
 
Dan semoga setelah 9 Juli terlewati, semua yang sempat terpecah karena masalah satu jari dan dua jari bisa bersatu kembali, membentuk jari-jari yang menggerakkan dan mengokohkan roda negeri ini untuk melaju ke arah yang lebih baik lagi.

Hormones Season 2

Finally! Full poster of #hormonesseason2 \o/

Anak-anak #hormonesthenextgen yg masuk ternyata cuma 5. Dan ada favoritku di situ. Hore!

Btw, about the poster, ini konsepnya emang mirip sama konsep posternya gossip girl juga queer as folk, dan si phi Yong mengakui itu.

Tapi uniknya, kemarin-kemarin itu mereka ngerilis posternya sebagian, di mana yg 5 orang new comer ini nggak dimunculin. Karena, acara #hormonesthenextgen-nya masih berlangsung, dan proses eliminasi masih berjalan. Jadi ga boleh ketauan dulu siapa aja the new five itu.

Dari posternya, udah kebayang ceritanya bakal kayak gimana, nggak sih? Sebatas menerka-nerka aja. Bener atau pun nggak, yg pasti I can’t wait to watch this serial yang katanya bakal mulai tayang tanggal 12 Juli 2014 nanti.

View on Path

Menghadiahi Diri Sendiri

Ulang tahun sekarang ini aku dapet banyak kado spesial. Dari mulai doa, kehadiran orang2 tercinta, sampai kado barang2 spesial. Terimakasih banyak buat kalian yg menyemarakkan sweet seventeen-ku tahun ini (btw, aku ngerayain sweet seventeen tiap tahun, ya. Harap dicatat!)

Dulu, aku sering mikir kalau ulang tahun itu tentang ucapan, doa, dan kado dari orang lain. Sekarang enggak. Sekarang aku mikir: kenapa harus nunggu ucapan dan doa dari orang lain? Yg paling tau apa yg kita mau dan kita butuh itu ya diri kita sendiri dan Tuhan. Jadi, aku pun memulai hari di tanggal 3 Juni kemarin dengan berdoa. (subhanallah, ya) #menujudadunsyariah2014

Dan ternyata ketika kita justru nggak nunggu atau ngarepin kado dari orang lain, kado-kado itu malah berdatangan, lebih banyak dari apa yg pernah aku pikirin dan harepin. Sama kayak gebetan, kan. Ketika kita mulai pasrah dan nothing to lose, mereka muncul satu per satu.

Dan aku pun nggak mau kalah dengan orang-orang yang udah bikin aku bahagia di tanggal 3 kemarin. Kalau mereka bisa, kenapa aku enggak?!

Oleh sebab itu, aku ngebut nyelesein draf novel “Akhir Pekan” sampai kelar. Sayangnya, nggak pas tanggal 3. Baru bener-bener selesai dua minggu kemudian. Tapi nggak apa-apa ya. Kado yang datang terlambat ini anggap aja sebagai puncak dari perhelatan sweet seventeen-ku tahun ini. Hore!

Kamu pernah, nggak, ngasih kado buat diri kamu sendiri di hari ulang tahun kamu sendiri? Belum? Coba deh! Rasanya bener-bener bahagia.

View on Path

Flipped

image

Mungkin ini kali keempat aku menonton Flipped. Film arahan sutradara Rob Reiner, yang ditulis oleh Andrew Scheinman dan juga Rob Reiner yang di-realese sekitar tahun 2010 ini merupakan film adaptasi novel berjudul “Flipped” karya Wendelin Van Draanen. Bercerita tentang hubungan yang terjalin secara unik di antara sepasang anak perempuan dan lelaki bernama Juliana Baker (Madeline Carroll) dan Bryce Loski (Callan McAuliffe), juga antara keluarga Baker dan Loski, dengan seting tahun 50-60-an.

Semuanya berawal pada musim panas tahun 1957, ketika keluarga Loski pindah ke rumah baru mereka. Saat Bryce dan ayahnya sedang mengangkut-angkut barang dari mobil, tiba-tiba seorang bocah perempuan bernama Juli datang. Sebagai tetangga yang baik, ia merasa perlu membantu mereka. Namun, alih-alih merasa senang dan berterima kasih, Bryce dan ayahnya merasa sangat terganggu dengan keberadaan Juli. Terutama Bryce. Pada perjumpaan pertama itu, Juli sudah bersikap posesif terhadapnya. Dan selanjutnya, Juli selalu menempel ke mana pun Bryce pergi. Sampai-sampai, semua anak di sekolah mengolok-olok mereka berpacaran. Tentu saja hal itu membuat Bryce merasa muak dan tak tahan.
image

Namun, tidak halnya bagi Juli. Sejak kali pertama melihat Bryce, jantungnya sudah berdebar tak keruan. Baginya, mata yang dimiliki Bryce adalah sepasang mata paling indah di dunia. Sejak kali pertama melihat Bryce, Juli selalu ingin berada di sisinya. Dan sejak itu juga, Juli selalu mendamba ciuman pertamanya akan ia lalui bersama Bryce. Juli tak pernah peduli sedingin apa pun sikap Bryce terhadapnya. Tak pernah menyerah meski Bryce selalu menghindari dan menolaknya berkali-kali. Baginya, Bryce adalah energi yang membuat dunianya terus berputar.

Sampai pada suatu hari… sesuatu terjadi dan mengubah segalanya.

Juli berhenti mengagumi dan mendamba Bryce. Ia bahkan berbalik membencinya. Situasi itu pun rupanya mengubah pandangan Bryce terhadapnya. Bryce yang awalnya mati-matian membencinya, justru berbalik menyukainya.

***
image

Sejak kali pertama menonton Flipped, aku langsung jatuh cinta pada ceritanya, juga kepada karakter utamanya. Kisah cinta yang sederhana ini disajikan secara menarik dan unik. Fragmen-fragmennya diceritakan secara paralel dan tidak selalu runut, tetapi tidak membingungkan. Penceritaan melalui dua sudut pandang karakter utamanya justru sangat mengasyikan dan menambah efek geregetan.

Berbicara tentang film ini kapan pun dan di mana pun, aku bakal selalu teringat pada pohon Sycamore, ayam, dan telur.

Juli sangat mencintai pohon Sycamore yang tinggi, besar, dan memiliki banyak dahan untuk ia panjat dan kemudian ia duduki. Pohon Sycamore yang memberinya akses pemandangan alam yang indah nan memesona dari sebuah ketinggian, dan juga membantunya memastikan posisi bus sekolahnya yang datang mengantar jemput Juli dan teman-teman lainnya ke sekolah setiap harinya. Sampai ketika pohon itu hendak ditebang karena lahan di tempatnya tumbuh bakal dijadikan proyek pembangunan, Juli bersikeras untuk tidak turun dari dahan yang cukup tinggi, dan memohon setengah mengancam supaya pohon itu tidak ditebang.

Pada saat itu, Juli sempat meminta tolong kepada Bryce, supaya Bryce bersedia memanjat dan duduk di sana bersama Juli sebagai aksi protes. Namun, tentu saja Bryce tidak melakukannya. Bryce sebenarnya memiliki hati nurani yang selalu memanggilnya untuk berada di pihak Juli. Namun, dia terlalu pengecut untuk tindakan seheroik itu. Yang dia lakukan adalah hal-hal tak berperasaan. Salah satunya, membuang semua telur ayam yang diberikan Juli secara cuma-cuma untuk keluara Loski, dengan alasan mereka sekeluarga tidak ingin mengidap Salmonella, mengingat halaman depan dan belakang rumah Juli terlihat jorok dan berantakan.

Sebenarnya, Bryce punya alasan pribadi tentang kenapa dia enggan makan telur. Dia pernah melihat seekor ular menelan bulat-bulat sebutir telur, dan baginya itu sangat mengerikan dan menjijikan, sehingga membekaskan kenangan terburuk tentang telur. Lalu, alasan lainnya adalah, kenyataan bahwa telur-telur itu berasal dari ayam-ayam hasil eksperimen ilmiyah Juli di sekolah. Eksperimen yang berhasil mengantarkan Juli pada gelar juara pertama, yang memecundangi Bryce dengan proyek eksperimen letusan gunung berapinya.

Selain kisah percintaan menggemaskan di antara Juli dan Bryce, Flipped juga bercerita tentang kehidupan keluarga mereka. Tentang keluarga Baker yang hangat dan bersahaja namun menyimpan kerapuhan, dan keluarga Loski yang tampak normal dan jaga imej namun ternyata tidak begitu bahagia. Tentang betapa pentingnya menjalin hubungan baik antartetangga, tentang betapa berartinya undangan makan malam dari tetangga yang satu terhadap tetangga lainnya, dan tentang betapa tak seharusnya kita menilai tetangga kita secara sepihak dan penuh praduga.

Bagian favoritku di film ini adalah setiap momen yang terjadi di antara Juli dan ayahnya. Tentang bagaimana ayahnya membagi pandangan hidup yang bijaksana kepada Juli tanpa kesan “Gue ini bokap lo”, melainkan dengan pendekatan sebagai sesama manusia. Dan tentu saja, bagian favoritku yang paling penting adalah setiap momen yang terjadi di antara Juli dan Bryce. Tentang bagaimana rasa cinta dan benci di antara mereka dibolak-balikkan sedemikian rupa.

Akhir kata, Flipped ditutup dengan cukup realistis, manis, dan membuatku ingin menontonnya lagi, lagi, lagi, dan lagi….

Ngobrolin Hormones The Series Lagi

Hari Minggu kemarin, aku dapat kabar burung dari si burung alias Twitter kalau Hormones The Series bakal ditayangin KompasTV. Jam tayangnya setiap hari Senin sampai Jumat, pukul 9 pagi. Itu beneran kabar baik sekaligus kabar buruk. Nggak buruk-buruk banget, sih. Cuma, agak menyayangkan aja kenapa harus ditayangin jam segitu.

hormones the series

Sebenernya, serial ini nggak spesial-spesial banget, sih. Ceritanya cukup sederhana, tentang kehidupan beberapa anak SMA yang masing-masing punya masalah yang berbeda. Ada Win (Pachara Chirathivat), si cowok bengal, cassanova, dan playboy, yang jatuh hati pada Kwan (Ungsumalynn Sirapatsakmetha), cewek paling pinter dan idealis di sekolah. Semua cewek bisa dia dapetin dengan mudah, kecuali Kwan. Nggak ada yang menduga bahwa di balik semua kesempurnaannya, Kwan ternyata punya sisi kehidupan yang nggak begitu menyenangkan. Hubungan Win dengan Kwan mengalami perubahan yang signifikan setelah Win mengetahui hal itu. Perubahan yang mendekatkan hubungan mereka, sekaligus menempatkan mereka pada jarak terjauh.

hormones the series kwan win

Lalu, ada Tar (Gun Chunhawat), gitaris baru See Scape, band yang cukup terkenal di sekolah mereka. Tar jatuh hati kepada Toei (Suthatta Udomsilp), cewek paling cantik yang dimusuhi teman-teman ceweknya karena dianggap kecentilan dan suka mempermainkan cowok. Toei menjadi teman sebangku Tar pada tahun ajaran baru di kelas 11 itu. Hubungan Tar dengan Toei yang awalnya manis dan baik berubah menjadi dingin dan saling menghindar satu sama lain setelah Tar mengungkapkan perasaannya terhadap Toei, namun Toei menolaknya.

hormones the series tar toei

Setelah itu, ada Phu (Juthawut Pattarakhumphol), anak jurusan seni musik yang sedang bingung dengan orientasi seksualnya. Apakah dia menyukai Thee (Sedthawut Anusit), cowok cakep peniup flute; atau Toei, mantan pacarnya yang tak pernah bisa dia lupakan itu. Hubungan mereka berkembang menjadi kisah cinta segi tiga yang cukup rumit meski nggak serumit kisah cinta Farrel dan Fitri yang ber-season-season itu.

hormones the series phu thee

Kemudian ada Phai (Thanapob Leeratanakajorn), anak gank yang diam-diam jatuh cinta pada Sprite (Supassara Thanachart), pacar si ketua gank itu. Ujian cinta mereka nggak sampai di situ. Phai mulai kehilangan kepercayaannya terhadap Sprite, karena Sprite ini dikenal sebagai cewek gampangan dalam pengertian yang sebenarnya.

hormones the series phai sprite

Selain kisah percintaan, serial ini pun menghadirkan cerita persahabatan dan keluarga. Adalah Mhog (Sirachuch Chienthaworn), sahabat Win dan Tar, yang mampu menjadi penengah, penasihat, sekaligus tempat bersandar bagi sahabat-sahabatnya. Mhog yang tampak paling kalem dan bijak ini pun tak luput dari masalah. Selain masalah percintaannya dengan Mint, gadis dari sekolah lain yang sebenernya hanya menuntut Mhog bersikap “wajar” seperti cowok-cowok lainnya; Mhog juga memiliki masalah dengan ayahnya yang memaksa dia mengambil studi sesuai kehendak ayahnya yang bertolak belakang dengan keinginan Mhog sendiri.

hormones the series mhog mint

Dan yang tak kalah menarik lagi adalah kisah tentang Dow / Dao (Sananthachat Thanapatpisal), cewek pemimpi yang suka tersesat di antara dunia nyata dengan dunia imajinasinya sendiri. Dia suka menulis cerita di blog pribadinya yang terinspirasi dari kejadian-kejadian yang dia alami sehari-sehari. Seperti kisah cinta antara si cowok peniup saxophone dan flute (Phu dan Thee), atau kisah cinta Dow dan Din yang merupakan kisah cintanya sendiri yang terjalin setelah pertemuannya dengan cowok manis bernama Din di sebuah tempat les bahasa Inggris. Masalah yang dihadapi Dow adalah soal ibunya yang konservatif dan overprotective. Namun, lewat sebuah kejadian, Dow akhirnya paham kenapa ibunya bersikap demikian.

hormones the series dow din

***

Setiap episode dalam serial yang disutradarai oleh Songyos Sugmakanan ini menggunakan judul yang diambil dari nama-nama hormon yang mewakili kepribadian karakter yang akan dibahas pada episode tersebut. Seperti, episode 1 diberi judul “Testosteron” yang dianggap mewakili kepribadian Win. Atau “Adrenalin” di episode yang nyeritain kehidupan si Phai, dan “Serotonin” di episode tentang kehidupan Mhog.  Ada satu pokok permasalahan yang dibahas di setiap episodenya dan langsung diberi penyelesaian pada akhir episode itu. Ada juga konflik yang sengaja dibiarkan mengalir dan mengambang, yang pada akhirnya membentuk jalinan benang merah dari ketiga belas episode Hormones The Series ini.

Secara keseluruhan, Hormones The Series memang bukan tayangan yang sangat istimewa, tetapi cukup memuaskan mata dan jiwa. Halah. Pesan moral? Tentu ada. Namun, siapalah aku yang ngomongin pesan moral sebuah cerita. Pokoknya, yang aku rasain setelah nonton ini adalah… jadi kangen masa-masa SMA, jadi kepengin jalan-jalan ke Thailand juga, dan jadi kepengin nulis cerita tentang anak SMA.

Kalau kamu udah nonton serial ini dan suka, jangan sedih. Karena, konon kabarnya, tahun ini bakal tayang Hormones The Series season 2, atau yang mereka sebut sebagai Hormones The Next Gen. Menurut hosip yang beredar, di Thailand sendiri, Hormones The Next Gen ini baru dirilis tanggal 28 Juni 2014.  Semoga ada yang baik hati ngunggah di Youtube plus subtitle english-nya ya, kayak Hormones The Series taun lalu. Dan semoga ceritanya tambah seru. Aamiin.

BTW, ini trailer Hormones The Series yang tayang di KompasTV. Agak kurang gimana gitu. Jadinya enggak mewakili cerita si Hormones The Series itu sendiri.

Coba bandingkan dengan trailer versi internasionalnya.

Mengubah Masa Lalu untuk Memperbaiki Masa Depan

Coba bayangkan. Suatu hari, kamu bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai dirimu sendiri yang datang dari masa depan, masa 25 tahun dari sekarang. Kamu-Masa-Depan itu kemudian memberi banyak informasi tentang apa yang akan terjadi, apa yang harus kamu lakukan, dan apa yang harus kamu hindari, supaya kamu bisa mengubah masa depan menjadi sesuatu yang jauh lebih baik.

Apakah kamu bakal percaya begitu saja kepada orang itu? Apakah kamu bakal mendengar dan menuruti petuah dan larangannya? Ataukah kamu bakal mengabaikannya?

Itulah yang terjadi pada Na Mirae. Kehidupan gadis polos berusia 32 tahun itu mendadak kacau setelah kehadiran Na Mirae berusia 57 tahun yang datang dari tahun 2038. Na Mirae dari masa depan mengatakan bahwa Na Mirae masa kini tidak boleh menikah dengan seorang penyiar berita bernama Gim Shin karena kehidupan mereka bakal sengsara seperti yang dialami Na Mirae di masa depan. Untuk itu, Na Mirae harus melakukan banyak hal dan menghindari lebih banyak hal lagi untuk mencegah pernikahan dan kesengsaraannya itu. Satu hal yang paling penting, Na Mirae harus menikah dengan Park See Jo, seorang calon direktur YBS TV yang berpura-pura menjadi VJ di stasiun TV milik neneknya itu, yang sekaligus merupakan tempat di mana Na Mirae dan Gim Shin bekerja.

Bagaimanakah reaksi Na Mirae? Apakah ia memercayai dan menuruti kata-kata Na Mirae Masa Depan? Dan siapakah yang akan dipilih Na Mirae masa kini sebagai suami?

***

Baca lebih lanjut