Kepada: Dinda #6

kepada dinda

 

 

Dinda,

 

 

Apakah kamu tahu bagaimana cara membedakan rasa iri hati dengan termotivasi? Ada yang bilang, iri hati adalah bagian dari motivasi. Entahlah….

 

Sudah tiga kali berturut-turut, nilai ulangan Matematika dan Fisikaku lebih rendah satu angka daripada nilai yang didapatkan Dewa. Aku sudah mati-matian belajar dan berusaha, namun hasilnya kurang maksimal. Dewa selalu lebih unggul satu langkah dariku, dalam banyak hal. Dia juga selalu berhasil memecahkan soal-soal sulit dan menjelaskan penyelesaiannya di papan tulis dengan sangat baik. Semua orang memujinya. Semua orang ingin menjadi temannya.

 

Dan sepertinya, semua cewek ingin menjadi pacarnya.

 

Aku pernah beberapa kali melihat Dewa bersama cewek-cewek cantik di sekolah ini. Baik yang seangkatan, maupun senior kami. Dewa seperti gula, dan orang-orang itu adalah semut yang bersedia berbaris rapi dan bekerja keras untuk mendapatkannya atau sekadar mengambil keuntungan darinya.

 

“Gimana ya, rasanya jadi Dewa?”

 

Diandra tertawa mengejek saat mendengar gumamanku yang terlalu jelas itu. “Kamu mau jadi dewa apa? Dewa matahari? Dewa api? Dewa mabuk? Atau dewa judi?”

 

“Apa pendapatmu soal Dewa?”

 

“Pendapatku dalam versi yang ingin kamu dengar, atau pendapatku dalam versi orisinil?”

 

“Dua-duanya.”

 

Kami berdua lantas memperhatikan gerak-gerik cowok yang sedang mengobrol dengan seorang cewek cantik dari kelas sebelah di koridor depan kelas kami itu. Lalu, Diandra menjawab, “Dewa itu menyebalkan. Tapi mengagumkan.”

 

Sudah kuduga. Seharusnya aku tidak perlu bertanya. Di sekolah ini, mungkin hanya aku yang merasa tidak suka dengan keberadaannya. Maksudku, yah, mungkin jika kami tidak sekelas, aku akan merasa baik-baik saja.

 

“Kenapa kamu berandai-andai membayangkan rasanya menjadi dia?” tanya Diandra.

 

“Aku hanya penasaran. Apakah aku akan selalu merasa puas dan bahagia jika aku menjadi dia.”

 

“Memangnya, kamu nggak pernah merasa puas dan bahagia menjadi diri kamu sendiri?”

 

Aku bergeming. Hatiku menjawab, ya. Terutama setelah Dewa hadir dalam kehidupanku.

 

“Kuberi tahu,” ujar Diandra, “nggak ada jaminan kamu akan selalu merasa puas dan bahagia jika kamu menjadi dia. Lagian, apa bagusnya menjadi orang lain kalau kamu bisa jauh lebih baik dengan menjadi diri kamu sendiri?”

 

“Apa hebatnya menjadi diri sendiri kalau nilai ulanganku nggak lebih baik daripada dia?”

 

Sekali lagi Diandra tertawa. “Nilai, nilai, nilaaai saja yang kamu pikirkan,” ejeknya. “Hidupmu bukan cuma soal nilai. Buka matamu lebar-lebar. Ada terlalu banyak hal dalam hidup ini yang harus kamu raih dan kamu kejar. Tapi jangan khawatir, sebab ada banyak cara untuk mendapatkannya. Dan yang paling penting, bukan soal apakah kamu bisa meraihnya, melainkan bagaimana kamu memperjuangkannya.”

 

Sejujurnya, aku tidak begitu paham apa maksudnya. Tapi aku diam saja, dan mencoba merenungkannya.

 

“Dan satu lagi,” lanjut Diandra, “Menjadi orang lain tidak akan membawamu pada pencapaian-pencapaian itu.”

 

“Sudahlah. Lupakan saja. Tadi aku cuma bercanda.”

 

Diandra tersenyum. “Pulang sekolah nanti, Darko mau mentraktir kita makan.”

 

“Dalam rangka apa?”

 

“Merayakan nilai ulanganmu yang lebih rendah dari Dewa tapi lebih tinggi dariku,” jawab Diandra sebelum melarikan diri ke bangkunya sambil meleletkan lidah.

 

Dan seperti kata-katanya, sepulang sekolah, Darko mentraktir kami makan di sebuah kafe yang sangat nyaman. Selama itu, aku terus memikirkan dan merenungkan kata-kata Diandra.

 

Dinda, menurutmu, jika aku terus berusaha walau hasilnya tidak sesuai harapan, apakah kedua orangtuaku masih tetap menganggapku sebagai kebanggaan mereka? Aku takut jawabannya tidak.

 

 

Salam,

D

 

Kepada: Dinda #5

kepada dinda

 

 

Hai, Dinda,

 

 

Berbohong memang bukan hal yang baik, meskipun semua orang dan seluruh dunia melakukannya. Beberapa hari setelah kebohongan yang kubuat itu, aku jatuh sakit. Demam, untungnya tidak berdarah. Selama dua hari, aku tidak masuk sekolah. Dan selama itu aku merenungi kesalahanku.

 

Saat kembali ke sekolah, satu-satunya orang yang peduli terhadapku adalah Diandra. Serta-merta dia menghampiriku setibanya di kelas. Dia bertanya bagaimana keadaanku, apa penyakitku, dan apakah aku sudah makan atau belum. Setelah kujawab semua pertanyaannya, dia tersenyum lega.

 

Soal kejadian di kolam renang itu, belakangan Diandra mengaku bahwa saat itu dia juga berbohong. Kamu ingat kan, Dinda, dalam suratku sebelumnya, kusebutkan bahwa Diandra tidak ikut berenang karena sedang datang bulan. Kenyataannya, dia bahkan belum pernah datang bulan.

 

Secara fisik, Diandra terlihat normal. Maksudku, tubuhnya tinggi, bahkan nyaris sama tinggi denganku. Proporsional. Dan dadanya… um… maksudku, begini, aku tidak tahu apakah ada hubungan antara pertumbuhan buah dada dengan menstruasi, tapi… berdasarkan yang kulihat dari luar, dadanya… um… maksudku, Diandra tampak seperti gadis-gadis lain pada umumnya. Jadi, kesimpulannya, Diandra hanya tinggal menunggu waktu kapan menstruasi pertamanya datang.

 

Di rumahnya, Diandra tinggal bersama kakak laki-laki dan ayahnya. Ibunya meninggal dunia saat Diandra berusia dua tahun. Jadi, bisa kamu bayangkan bagaimana rasanya hidup sebagai Diandra di masa-masa pubertasnya. Untungnya, Diandra punya Google.

 

Aku sempat berpikir, kalau saja waktu itu aku tidak berbohong kepada Pak Doyok, apakah aku dan Diandra akan bisa sedekat sekarang? Kebohongan itu juga tidak hanya memberiku karma buruk seperti yang kuceritakan di awal surat ini, melainkan juga hal-hal baik. Seperti, pertemuanku dengan Diandra, dan kakaknya yang menyelamatkan tugas Jurnalistikku.

 

Omong-omong soal kakak Diandra, kamu ingat, tidak? Saat kita sedang mengerjakan tugas di perpustakaan SMP dulu, kamu sempat membaca novel berjudul “Kematian-Kematian yang Indah”. Nah, penulis novel itu adalah kakak Diandra, yang menggunakan nama pena ‘Darko’. Kamu mau tahu siapa nama aslinya? Um… maaf ya, Dinda, sesuai kesepakatan kami sebelum proses wawancara, aku tidak akan memberi tahu identitas yang sebenarnya kepada siapa pun.

 

Di sekolah, Darko hanyalah siswa biasa. Tidak mencolok. Tidak populer. Prestasinya biasa-biasa saja. Dan tak seorang pun mengenal Darko sebagai penulis novel thriller yang cukup terkenal di kalangan para pembaca novel. Untuk itu, aku sempat khawatir, bagaimana jika hasil wawancara kami malah merusak citra misteriusnya? Darko bilang, tidak mungkin. Orang-orang tidak akan pernah menyangka kalau Darko si penulis novel thriller itu adalah teman sekolah mereka. Bahkan, dia menjamin, teman sebangkunya saja tidak akan pernah berpikiran sampai sana.

 

Dan ternyata, kata-katanya memang benar. Setelah hasil wawancaraku disetujui Pemimpin Redaksi untuk diterbitkan di majalah sekolah, citra misterius Darko tidak berkurang sedikit pun. Hanya segelintir orang saja yang peduli akan berita itu. Ialah para pembaca dan penggemar novel-novel Darko. Dan mereka pun tidak berusaha mencari tahu Darko berada di kelas berapa atau seperti apa wujudnya.

 

“Penulis itu bukan selebritis,” kata Darko, saat kami bertiga makan mi instan di rumahnya. “Coba kamu bikin isu kalau adiknya Aliando sekolah di SMA kita.”

 

“Aku sih, bakalan nggak peduli,” sahut Diandra dingin, sambil menyeruput mi instannya yang masih panas. “Kecuali kalau Harry Styles tiba-tiba muncul dari kolong mejaku….”

 

“Terus dia ngebunuh cewek-cewek alay yang masang fotonya jadi wallpaper handphone…,” sambung Darko, sambil melirik ponsel Diandra.

 

“Aku nggak alay!” bentak Diandra, lalu menyembunyikan ponselnya. “Kamu tuh yang psiko!”

 

“Emang nggak ada alay yang mau ngaku alay.”

 

Diandra ngambek. Bangkit dari kursinya, dia pergi ke toilet. Meninggalkan aku dan Darko di meja makan. Darko kembali menanyakan urusan Jurnalistikku, dan aku menjawab sekadarnya. Dan tiba-tiba saja, Diandra muncul membawa sesuatu, lalu menunjukkannya kepada Darko. Benda itu berhasil membuat Darko histeris dan kabur dari meja makan. Ternyata Darko takut pada kecoak.

 

“Diandra Alay!”

 

“Darko—si DARah KOtor!”

 

Begitulah. Sepasang kakak beradik itu tampak lucu. Mungkin karena usia mereka hanya terpaut dua tahun, jadi mereka sering ribut. Berbeda dengan aku dan adikku yang selisih umurnya lima tahun. Kami memang jarang ribut, tapi juga jarang berkomunikasi.

 

Dinda, sampai di sini dulu ya, suratku kali ini. Lain waktu, kusambung lagi. Semoga harimu menyenangkan.

 

 

Salam,

D

 

Kepada: Dinda #4

kepada dinda

Hai, Dinda,

 
Belakangan ini aku mulai menyadari bahwa, semakin kita bertambah tua, semakin banyak alasan bagi kita untuk berbohong. Waktu kita kanak-kanak dulu, bisa dibilang kita hampir tak pernah berbohong. Pak Ustad di madrasah tempat kita sekolah agama selalu bilang, berbohong itu dosa, dan pembohong tak boleh masuk surga. Kita pun kerap saling mengingatkan untuk tidak berbohong.

 

Lain dulu, lain sekarang. Aku mulai sering berbohong. Di sini tidak ada Pak Ustad, sehingga aku bisa berpura-pura lupa pada petuahnya. Dan di sini juga tidak ada kamu, Dinda, yang selalu mengingatkanku untuk tidak berbohong.

 

Tapi percayalah, kebohongan yang kulakukan ini hanya kebohongan kecil, dan demi kebaikan. Semoga pengakuanku ini bisa mengurangi dosaku. Ya, anggap saja begitu.

 

Dinda, aku berbohong pada Pak Doyok saat praktik berenang. Kubilang, aku tidak enak badan. Lebih spesifiknya, kubilang bahwa aku punya alergi terhadap karporit. Yah, tentu kamu tahu alasanku yang sesungguhnya bukanlah itu. Kupikir, Pak Doyok tidak akan percaya. Ternyata dia memercayaiku begitu saja, dan memperbolehkanku untuk tidak ikut berenang, asalkan aku membayar tiket dan hadir di kolam renang, juga mengerjakan tugas teori.

 

Lihat, sejauh ini, kebohonganku tidak berdampak buruk pada peradaban dunia ini, kan?! Tapi tetap saja, aku berdoa semoga Tuhan mengampuni kebohonganku.

 

Dan kupikir, satu-satunya orang yang tidak ikut berenang hanyalah aku. Tapi ternyata, ada beberapa orang yang mengerjakan tugas teori sepertiku. Dengan alasan yang beraneka ragam. Salah satu dari mereka adalah Diandra. Dia adalah teman sekelasku yang selalu ceria. Alasannya tidak ikut berenang adalah karena dia sedang datang bulan.

 

Sambil mengerjakan tugas, kami banyak berbincang. Rasanya sangat menyenangkan. Ini baru pertama kali kami berbincang sepanjang dan selama itu. Di kelas, kami hanya sekali dua kali menyapa dan berbincang ala kadarnya.

 

Dan dari perbincangan itulah, aku mendapatkan akses untuk mewawancarai penulis novel itu. Dia adalah kakak Diandra, senior kami yang duduk di kelas XII.

 

Oh, ya, Dinda. Maaf, saat aku menulis ini, aku sedang sibuk mengerjakan tugas. Lain kali kusambung lagi, ya.

 

Salam,

D

Kepada: Dinda #3

Hai, Dinda,

Di antara sekian banyaknya ekstrakurikuler yang ada di sekolah ini, aku hanya punya dua pilihan. Klub teater dan jurnalistik. Tebak, aku berakhir di klub yang mana? Yah, sangat jelas. Seperti katamu, aku memang terlalu gampang ditebak.

Klub jurnalistik yang kuikuti ini ternyata cukup diminati banyak siswa. Ada sekitar dua puluh peminat dari angkatanku. Aku menuliskan, “Tertarik dengan dunia jurnalistik dan hobi menulis” di kolom motivasi dalam formulir pendaftaran. Sejujurnya, aku tidak terlalu tertarik dengan dunia jurnalistik dan hanya sedikit suka menulis. Sejujurnya, aku hanya tak punya pilihan lain.

Dan sejujur-jujurnya, aku tak suka bersosialisasi apalagi berorganisasi.

Kupikir, aku hanya tinggal duduk dengan sebuah buku dan pulpen atau laptop dan berkumpul di sebuah ruangan atau taman bersama para siswa yang menyebut diri mereka jurnalis sekolah. Ternyata aku salah. Kegiatan kami tidak hanya sebatas menulis, membaca, dan menganalisis data. Kami juga harus bertemu dan mewawancarai narasumber, memberi laporan secara lisan, mempresentasikan sesuatu, hingga adu argumentasi. Ternyata semua ini tentang bagaimana cara kita berkomunikasi.

Aku nyaris mengundurkan diri. Tapi kemudian kupikir-pikir lagi. Klub-klub lain pasti lebih mengerikan daripada klub jurnalistik ini. Jadi, aku pun berusaha mempertahankan diri.

Tugas pertamaku adalah mewawancarai seseorang di sekolah ini yang kuanggap cukup potensial untuk diberitakan. Siapa? Di kepalaku, muncul beberapa kandidat: Pak Kepala Sekolah, Pak Doyok, Ibu Wali Kelas, Ibu Kantin, Pak Penjaga Sekolah…. Tapi bagaimana cara mewawancarai mereka? Apakah aku bisa?

Aku sudah mempersiapkan banyak pertanyaan yang berhubungan dengan profesi dan keunikan mereka. Aku hanya belum mempersiapkan mental untuk berhadapan dengan mereka. Sampai akhirnya kupikir, bagaimana jika aku mengirimkan daftar pertanyaan itu lewat e-mail atau surat saja? Tapi, sang Pemimpin Redaksi meminta kami menyertakan bukti rekaman wawancara.

Lalu, ide itu melintas begitu saja saat aku melihat seseorang di kelasku. Dewa. Mungkin, aku bisa mewawancarainya. Kurasa, dia juga cukup potensial untuk menjadi bahan berita yang menarik. Dan karena kami adalah teman sekelas, aku punya sedikit keberanian untuk melakukannya.

“Hai….” Dengan canggung, aku berusaha menyapanya.

Namun dia diam saja. Duduk di bangkunya sambil memainkan ponsel.

“Saya… boleh minta waktu… sebentar….” Kalau kupikir-pikir, kejadian itu seperti adegan pertemuan pertama Cinta dan Rangga di film AADC. Saat Cinta hendak mewawancarai Rangga untuk keperluan rubrik profil di madingnya.

Dewa masih bergeming. Tak mengacuhkanku sedikit pun.

Aku pun mundur sambil mengutuk dalam hati. Sombong sekali, dia! Memangnya, dia pikir dia siapa?! Dan dia baru memanggilku setelah beberapa langkah aku meninggalkannya.

“Hei, maaf, tadi gue lagi dengerin lagu,” jelasnya sambil menunjukkan kabel earphone yang terhubung dengan ponselnya. Bukannya tak melihatnya, aku hanya ingin tahu apakah dia akan melepas kabel-kabel itu dari telinganya saat melihat aku berdiri di hadapannya atau tidak. “Ada apa? Ada yang bisa gue bantu?”

Aku menggeleng, lalu kembali ke bangkuku. Kutepis jauh-jauh niat untuk mewawancarainya. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin memberinya alasan untuk semakin besar kepala. Lagi pula, astaga, bagaimana bisa aku menilai dia potensial hanya karena dia jago dalam semua mata pelajaran termasuk Olahraga?! Dia sama sekali tidak potensial apalagi spesial.

Akhirnya, aku punya narasumber baru yang jauh jauh lebih potensial. Dia adalah seorang penulis novel yang cukup terkenal!

Dinda, kamu pasti penasaran, siapa dia, bagaimana aku bisa menemukannya dan kemudian mewawancarainya. Sabar. Semuanya akan kuceritakan dalam suratku yang berikutnya.

Salam,
D

Kepada: Dinda #2

kepada dinda

 

 

Hai, Dinda,

 

 

Sebagaimana yang kamu tahu sejak dulu, pelajaran olahraga adalah momok bagiku, dan guru Olahraga adalah musuh utamaku di sekolah. Mungkin di kehidupan masa lalu, aku adalah seorang atlet yang sering menyalahgunakan keatletisanku untuk berbuat dosa, hingga karma buruknya harus kutelan di kehidupan sekarang. Rasanya hanya seperti mengulang kesalahan dan aib yang sama, sekalipun aku berusaha lebih keras saat pelajaran Olahraga.

 

Dinda, kurasa kamu akan setuju jika kubilang bahwa Olahraga adalah pelajaran paling nggak penting di sekolah. Apa bagusnya siswa yang jago lari tapi tidak pandai soal kali-bagi? Buat apa jago basket kalau otaknya cetek? Lebih penting mana, mencetak 10 goal atau mendapat nilai 10 dalam ulangan Matematika dan Fisika?

 

Ada yang bilang, Olahraga adalah pelajaran hiburan. Semacam rekreasi dan relaksasi dari segala kemumetan pikiran akibat Matematika dan lain-lainnya. Lihat, siapa yang bilang kalau bukan orang-orang yang malas berpikir dan menganggap ruang kelas sebagai neraka. Saat jam pelajaran Olahraga, mereka terlihat sangat bersemangat dan bahagia. Tapi begitu semuanya berakhir, muka mereka kembali murung dan lesu.

 

Coba bayangkan, Dinda, jika setiap hari harus ada pelajaran Olahraga! Aku bisa gila karena selalu menjadi yang terpayah, dan Pak Doyok terus-terusan mengolok-olok. Untungnya, dalam seminggu hanya ada satu kali pertemuan dengan Pak Doyok. Dan aku bisa menyelamatkan harga diriku di hadapan teman-teman sekelasku dalam setiap mata pelajaran eksak. Jadi, meskipun aku payah dalam pelajaran Olahraga, teman-teman sekelasku tak berani lagi mengejekku.

 

Kamu pasti mengerti kenapa aku mengimbuhkan kata ‘lagi’ di kalimat tadi. Ya, tentu saja mereka pernah mengejekku di pertemuan-pertemuan awal pelajaran Olahraga. Sebelum mereka tahu bahwa aku selalu mengerjakan tugas dan PR tepat waktu, serta mendapat nilai tinggi di hampir semua mata pelajaran kecuali Olahraga.

 

Rasa-rasanya memang agak mustahil ya, Dinda, kalau ada seorang siswa yang bisa memiliki nilai sempurna di semua mata pelajaran. Aku memang amat sangat percaya bahwa di dunia ini tidak ada orang yang sempurna.

 

Tapi… kamu tahu, Dinda? Ternyata, di sekolah ini ada seorang siswa yang mampu mematahkan pepatah itu. Namanya Dewa. Oh, sungguh, ini bukan hiperbola. Namanya memgang beneran Dewa. Dia jago di bidang pelajaran eksak, Olahraga, dan yang lainnya. Menurut teman SMP-nya, Dewa selalu menjadi juara kelas karena nilai rapornya nyaris paling sempurna.

 

Sialnya, kami berada di kelas yang sama.

 

Dinda, menurutmu, wajar kan, kalau aku merasa insecure?!

 

 

 

Salam,

D

Kepada: Dinda #1

 

kepada dinda

 

 

Hai, Dinda,

 

 

Maaf, aku baru bisa menulis surat untukmu. Sebulan ini, aku benar-benar sibuk. Dari mulai bersih-bersih rumah, hingga mengerjakan urusan sekolah. Ya, kamu tahu kan, segala hal umum yang harus dilakukan seseorang yang baru pindah.

 

Rumahku di sini tidak sebesar rumah nenekku di sana, namun tetap saja, perlu waktu lama untuk bersih-bersih dan berbenah. Di sini hanya ada dua kamar tidur, jadi aku harus berbagi kamar dengan adikku. Tapi, yah, setidaknya rumah ini cukup untuk menampung kami berempat. Dan yang paling penting, kami tidak perlu mengontrak.

 

Kami tinggal di sebuah pemukiman yang padat. Jadi, aku tak perlu takut lagi pada hantu. Aku ingat kamu pernah bilang, hantu itu menyukai tempat yang sepi dan membenci keramaian. Yang kutakutkan sekarang justru manusia-manusia berhati setan.

 

Kamu tahu? Seminggu setelah kepindahan kami kemari, ada dua rumah yang kemalingan dan sebuah sepeda motor hilang. Ibuku mulai paranoid; semua perhiasannya ia simpan di dalam brankas rahasia. Sedangkan Bapak tak pernah memarkir sepeda motornya di luar pagar rumah.

 

Aku sendiri sebenarnya tak mengkhawatirkan barang-barangku. Satu-satunya benda milikku yang kuanggap cukup bernilai hanyalah ponsel tua ini. Ponsel tua yang hanya berfungsi untuk berkirim SMS dan menelepon saja. Tak bisa buka Facebook, Twitter, Instagram, Path, WhatsApp, Line, dan sebagainya. Siapa yang mau mencuri benda kuno ini?! Tapi aku selalu takut setiap kali mendengar kata-kata seperti penjahat, pencuri, perampok, pembunuh…. Terlebih, jika ternyata mereka benar-benar ada di sekitarku.

 

Untuk itu, aku selalu berdoa, semoga Tuhan senantiasa melindingi aku dan keluargaku dari segala kejahatan dan bencana.

 

Mungkin, pagi itu aku lupa berdoa atau bagaimana. Aku dicopet di dalam angkot yang membawaku ke sekolah. Pencopet itu menyamar sebagai penumpang.Seorang laki-laki yang duduk di sebelah kiriku tiba-tiba saja mengeluh pusing dan ingin muntah. Dia bertanya apakah aku punya kantong plastik atau minyak angin. Dan saat perhatianku terfokus kepadanya, seorang perempuan di sebelah kananku mulai beraksi. Aku baru menyadari ponselku telah dicuri beberapa saat setelah kedua pencopet itu pergi. Tasku bolong akibat sayatan benda tajam.

 

Tentu saja aku merasa sedih. Kehilangan selalu menjadi cara Tuhan menitipkan kesedihan. Dan aku pun menyesalkan kenapa aku bisa kecolongan. Selama ini aku selalu berpikir, ‘siapa sih yang mau mencuri ponsel butut itu?’ Dan rupanya pepatah itu benar adanya; kita tidak akan tahu seberapa berharganya sesuatu sampai kita benar-benar kehilangan benda itu.

 

“Ikhlaskan saja, mungkin itu bukan lagi rezekimu,” hibur teman sebangkuku. “Mungkin kamu berhak atas rezeki yang lebih besar. Mungkin ini adalah jalan supaya orangtuamu membelikan ponsel baru untukmu.”

 

Aku hanya bisa tertawa getir mendengar kalimat penghiburannya. Dia pikir, orangtuaku seperti orangtuanya yang sanggup membelikan ponsel seharga jutaan rupiah dalam hitungan hari bahkan jam dengan sangat mudah. Dia tidak tahu, untuk membeli ponsel tua itu saja, aku perlu menabung selama hampir setahun, ditambah sebagian jatah THR dari Bapak. Kehilangan ponsel bagiku berarti bahwa aku tidak akan memiliki ponsel selama setahun atau lebih.

 

Tidak memiliki ponsel di sekolah ini rasanya seperti menjadi makhluk yang tidak berkepala. Tidak punya kehidupan. Semua orang berbicara lewat aplikasi messenger dan berinteraksi lewat akun sosial media di ponselnya. Saat aku masih punya ponsel kuno itu, setidaknya aku masih bisa berpura-pura sibuk berkirim SMS dengan seseorang atau sekadar main game ular. Tapi sekarang, aku benar-benar mati gaya.

 

Dua hari yang lalu, setiba di rumah, aku dikejutkan sebuah kotak di meja makan. Kamu tahu? Itu adalah sebuah dus ponsel pintar yang selama ini kudambakan! Jantungku berdebar-debar kencang saat aku berjalan menghampirinya. Ternyata, kalimat penghiburan teman sebangkuku kala itu adalah doa yang kemudan terkabul. Dia benar, kehilangan itu menjadi jalan bagi orangtuaku untuk membelikan….

 

Tiba-tiba Ibu muncul dari luar, membawa segulung kertas kado. Lalu dia memintaku membungkuskan kado ulang tahun untuk teman adikku. Dan kamu tahu, Dinda? Dus ponsel pintar di meja makan itu ternyata hanya dus bekas yang berisi kotak pensil untuk dijadikan kado ulang tahun.

 

Menyedihkan, ya?

 

Tapi, ya sudahlah… aku berusaha menerima nasibku dengan ikhlas.

 

Dinda, kucukupkan sekian surat pertamaku ini. Sekarang sudah larut malam, dan aku mulai mengantuk. Oh, ya, kabar aku dan keluargaku di sini baik-baik saja dan sehat wal afiat. Kuharap, kabar kamu dan keluargamu di sana juga demikian.

 

 

 

Salam,

D

 

 

Gambar dipinjam dari sini.

Cinta Akhir Pekan dan Cerita di Baliknya

 

Sebulan sudah berlalu sejak novel Cinta Akhir Pekan beredar di toko buku. Seperti halnya perasaan orangtua melihat bayinya yang baru berusia satu bulan, perasaan itulah yang menyergapku saat berjalan-jalan ke toko buku dan melihat novelku dipajang.

 

cinta akhir pekan 01

Jauh sebelum hari ini, Cinta Akhir Pekan hanyalah sebuah angan, kepingan imajinasi, dan endapan kegelisahan yang kerap menghantui. Sebenarnya, ide untuk menulis novel yang bertema MBA (married by accident) ini sudah mulai kupikirkan sejak tahun 2010. Saat itu, isu tersebut benar-benar mengusikku hingga ke tulang, mengingat aku punya adik perempuan yang baru saja memasuki masa pubertas.

Baca lebih lanjut

[cerpen] Ingkaran

Sad Man Looking Through Window

“Ayolah! Semua orang melakukannya, kenapa kita enggak?” Penolakanku mungkin belum sepadan dengan usahanya yang begitu gigih. “Oke. Begini saja,” bujuknya, “Kamu pilih lagu atau potongan dialog atau suara apa pun yang kamu suka untuk dijadikan proyek-dubsmash-spektakuler-kita…,” Aku buru-buru memotong kalimatnya, “…yang hanya akan kita lakukan di dalam mimpimu saja. Oke?” Dan dia pun menyerah. “Baiklah, baiklah…,” katanya, lalu menyalakan televisi dan mengumpat dalam bahasa Inggris.

Proyek-novel-spektakuler-ku tentu saja seratus lima puluh kali lipat jauh lebih keren dibanding proyek-dubsmash-superkonyol-nya. Kalau harus kukatakan seperti itu. Dan kalau aku punya keberanian untuk mengatakannya. Kami selalu punya pandangan yang berbeda dalam hal apa saja, kecuali sebuah pendapat bahwa makan nasi goreng tanpa acar adalah tindakan paling sia-sia sepanjang peradaban umat manusia. Oh ternyata, hanya dibutuhkan satu kesamaan untuk menyatukan dua orang yang berbeda dalam sebuah ikatan persahabatan.

Ah, tidak. Tidak. Bagaimana bisa aku menyebut persahabatan sebagai sebuah ikatan? Bagaimanapun, kau tak memiliki tanggung jawab penuh atas apa yang terjadi pada hidup sahabatmu. Saat mereka bahagia atau nelangsa, kau hanya perlu ada, itu pun hanya jika mereka menginginkan dirimu berada di sana. Begitu pun sebaliknya, kau boleh lupa kapan tanggal ulang tahun mereka dan bersikap egois seperti lebih memprioritaskan anggota keluargamu dibanding mereka. Kau pun tak perlu marah atau cemburu jika sahabatmu berpaling pada sahabat barunya karena itu tak berarti bahwa mereka tak setia. Itulah kenapa kukatakan bahwa persahabatan bukanlah sebuah ikatan. Sebab ikatan pada dasarnya penuh aturan dan sangat memuakkan.

Baca lebih lanjut

[cerpen] Insomnia

insomnia

Suara-suara itu terdengar tak lebih baik dari dialog dan suara-suara di film porno lokal. Amatir dan menggelikan. Yang membuatku tegang dan sedikit terangsang adalah kenyataan bahwa suara-suara itu berjarak lima belas meter dari apartemenku, dan perempuan yang tinggal di sana berwajah cantik plus bertubuh seksi.

Sekitar dua minggu yang lalu, aku memastikan keberadaan penghuni baru di apartemen bernomor pintu dua angka lebih kecil dari nomor pintu apartemenku itu. Seorang perempuan cantik berusia sekitar akhir dua puluhan yang tampak matang dan menggairahkan. Kebetulan, saat aku keluar untuk membuang sekantong sampah, perempuan itu juga baru keluar dari apartemennya.

Perempuan cantik itu bernama Lisa. Tidak, kami belum sempat berkenalan. Nama itu kudengar dari mulut lelaki yang kerap datang ke apartemennya hampir setiap malam. Kamu cantik sekali, Lisa. Buka bajumu, Lisa! Bokongmu sangat indah, Lisa. Percepat goyanganmu, Lisa! Aku akan keluar, Lisa. Lisa! Lisa! Lis…AAA…!

Dan lelaki yang kerap dipanggil ‘Bapak’ atau ‘Pak’ oleh Lisa ini selalu memprotes dan meminta Lisa untuk memanggil dirinya dengan sebutan ‘Mas’. Awalnya aku tak peduli siapa dan seperti apa lelaki itu, sampai aku bertemu Lisa yang begitu sempurna. Tebakanku tak meleset. Dia memang seorang bandot berduit, dan belakangan kutahu bahwa dia juga seorang pejabat negara.

Baca lebih lanjut

Catatan Akhir Pekan bersama Gramedia Writing Project

Menjadi satu dari sepuluh penulis terpilih Gramedia Writing Project batch 2 tentunya merupakan sebuah kebanggaan untukku. Bukan hanya kebanggaan, melainkan juga kebahagiaan ketika kami diberi kesempatan untuk mengikuti workshop menulis yang diadakan  selama dua hari, tanggal 21 dan 22 Maret kemarin.

Sesuai jadwal, kami harus berkumpul di gedung Kompas Gramedia pada hari Sabtu pukul tujuh pagi, atau di hotel Amaris pada pukul delapan pagi. Karenanya, kuputuskan pergi dari Bandung pada Jumat sore, dan berencana menginap di tempat seorang teman di Jakarta.

Perjalanan Bandung-Jakarta pada Jumat itu terasa lebih lama daripada seharusnya. Dari Bandung pukul 15:30, tiba di Jakarta pukul 22:30 dan disambut hujan badai. Ya, aku tau, itu masih bagian dari ujian kesabaran, setelah sepanjang perjalanan telingaku disiksa lagu-lagu dangdut dan pop Sunda. Bukannya aku nggak suka. Awal-awal kedengarannya lucu, tapi lama-lama malah eneg dan bikin sakit kepala. Berisik. Aku nggak bisa tidur dalam perjalanan yang melelahkan itu. Pak supir masih tetap menyalakan musik bahkan setelah aku menegurnya untuk menurunkan volume suara musiknya.

Dan syukurnya, ujian kesabaran itu nggak ada apa-apanya dibanding apa yang kudapatkan kemudian.

Baca lebih lanjut