Sebelum Januari Datang


Hujan baru saja turun ketika dia tengah bermalas-malasan di tempat tidur sambil menonton DVD. Dia harus ke luar sebentar untuk memastikan bahwa tak ada lagi jemuran yang perlu diselamatkan. Hujan selalu mengganggu dan membuatnya kesal. Dia sering berharap di dunia ini tak pernah ada hujan. Supaya dia tak perlu mem-pause film yang sedang dia tonton hanya untuk mengangkat jemuran. Supaya dia tak perlu membatalkan janji dengan orang-orang yang mengajaknya bertemu di hari hujan.

Seorang temannya mengirim pesan berupa gambar. Gambar berisi tulisan yang pernah dia buat di awal tahun kemarin. Tulisan itu berisi surat cinta yang dia posting di blog untuk temannya yang mengirimkan pesan barusan. Sesaat dia terdiam, membacanya sambil memutar-mutar ingatan.

Beberapa saat kemudian, temannya yang lain mengiriminya pesan. Menanyakan apakah ada tulisan baru di blognya. Dia jawab, tidak ada. Dia sudah sangat jarang menulis di blog. Lalu temannya bilang, ia rindu membaca tulisan baru.

Dia tidak tahu harus menulis apa. Hidupnya masih begitu-begitu saja. Belakangan dia sedang merasa sangat gundah karena sesuatu yang entah apa.

Berita tentang kecelakaan pesawat yang terjadi pada hari Minggu kemarin masih terdengar dan terlihat di berbagai media. Menjadi sisi lain di tengah agenda-agenda keriaan tahun baru semua orang. Dia turut merasakan kesedihan yang dalam tanpa tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tidak akan menyalakan kembang api dan petasan. Tidak juga akan merayakan malam tahun baru dengan bersenang-senang sampai lupa daratan. Tapi itu bukan semata-mata karena dia turut berduka, melainkan karena itulah ritual yang dia jalani setiap tahunnya.

Hidupnya mungkin terlihat sangat membosankan di mata sebagian besar orang. Tetapi tidak bagi dirinya sendiri. Baginya, tak perlu susah-susah mencari kebahagiaan di luar sana jika dia sudah menemukannya di dalam rumah. Sesekali dia akan bepergian cukup jauh bahkan sangat jauh. Hanya untuk membuktikan bahwa perjalanan adalah cara terbaik untuk menghargai betapa berharganya setiap detik yang dia lalui di dalam rumah. Dan berada jauh dari rumah adalah cara terbaik untuk memahami bahwa pulang adalah bagian terbaik dari sebuah perjalanan, dan rumah adalah destinasi paling indah sejauh apapun kakinya melangkah.

Dia memang payah. Ketika semua orang sudah mengunjungi banyak tempat, negara, pantai, gunung, hutan, taman, dan bangunan-bangunan yang menakjubkan; dia masih merasa nyaman duduk bermalas-malasan dengan sebuah novel yang tidak dibaca banyak orang atau sebuah film yang tidak dianggap bagus oleh kebanyakan orang ditemani segelas susu cokelat panas tanpa perasaan cemas. Dia memang payah. Ketika semua orang sudah mengalami ini, itu, dan anu; di masih saja bertahan dengan hidupnya yang begitu-begitu saja tanpa perasaan bersalah.

Hal-hal seperti itu tak pernah membuatnya gundah. Justru sebaliknya. Ya, sekarang agaknya dia tahu kenapa belakangan ini dia merasa sangat gundah. Tanpa sadar, dia telah berjalan pada hidup orang lain dan meninggalkan hidupnya sendiri. Mungkin dia bosan. Atau sedikit khawatir. Tetapi pada akhirnya dia menyadari bahwa hidupnya sendiri jauh lebih menyenangkan dibandingkan hidup orang lain.

Hujan masih turun saat dia memutuskan untuk kembali menjalani hidupnya sendiri. Saat dia mengambil buku dan pulpen untuk menuliskan daftar resolusi, kemudian mencoretnya kembali. Tidak. Dia tidak perlu menulis apa-apa. Dia tidak suka perencanaan. Dia hanya cukup melakukan apa yang ingin dia lakukan.

Ada sesuatu yang harus diselesaikan sebelum Januari datang. Desember. Sebab Januari takkan pernah datang sebelum Desember selesai. Dan Desember sebaiknya diselesaikan dengan sebuah perasaan lega, supaya Januari bisa dimulai tanpa beban apa-apa. Dan perasaan lega hanya bisa dicapai dengan cara melepaskan segala yang tertahan dan terkekang. Harapan-harapan yang takkan tergapai. Cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dendam dan kebencian. Serta semua kepalsuan.

Tetapi, pada akhirnya, Januari akan tetap datang, dengan ataupun tanpa dia melakukan itu semua.

Iklan

One thought on “Sebelum Januari Datang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s