Repetitif


Dear Dadan Erlangga,

Hai, bagaimana malam minggumu semalam? Semoga menyenangkan. Semoga kamu tidak mudah percaya pada langit yang cerah dan tenang, yang seolah-olah tidak akan memuntahkan hujan sehingga kamu tidak punya persiapan–seperti yang kualami semalam. Semoga saat hujan deras itu kamu sedang berada di tempat yang aman, dengan atau pun tanpa seseorang.

Sudah bulan kedua di tahun 2015. Namun rupanya masih saja ada orang-orang yang terjebak dalam masalah lama mereka, masalah yang sama yang terus berulang dan entah sampai kapan.

Pagi tadi aku bertemu dengan ayahmu. Dia selalu terlihat penuh semangat dan minat dalam segala hal. Kami sempat berbincang-bincang sebentar, dan tibalah dia pada sesi curhat tentang masalah yang sedang dialaminya. Lagi-lagi tentang istrinya. Entahlah, ini sudah kali keberapa dia mengeluhkan hal yang sama. Bukannya bosan, aku hanya tidak suka mendengar masalah yang sama dan berulang-ulang. Seakan apa yang terjadi sebelumnya tidak memberinya pelajaran.

Lalu, aku teringat pada orang lain yang selalu terjebak dalam masalah yang sama yang terus berulang. Ia adalah sahabatmu, yang pernah kamu ceritakan kepadaku. Sahabatmu yang jatuh cinta kepada seseorang yang… entahlah, gambaran yang selalu terlihat di benakku tentang lelaki itu adalah, bahwa dia semacam… psikopat. Katakan banyak maaf untuk sahabatmu, tetapi maksudku, lelaki yang akhirnya menjadi pacarnya itu terlalu drama untuk ukuran lelaki perkasa yang beranjak dewasa (?). Maksudku, ya, entahlah, seharusnya hubungan yang sehat dan dewasa itu tidak membawanya pada masalah-masalah sederhana yang dibesar-besarkan hanya karena cemburu, salah paham, keras kepala, dan possesivitas. Aku tidak tahu sebahagia apa hubungan mereka, sebab yang sering ia ceritakan kepadamu hanyalah masalah-masalah yang tengah dihadapinya. Masalah-masalah yang sama yang terus berulang. Dan entah sampai kapan.

Aku sendiri bukan orang yang tak punya masalah. Aku pernah terjebak dalam masalah yang sama yang terus berulang. Aku juga tidak tahu bagaimana caranya keluar dari masalah sepelik itu. Tapi aku selalu berusaha untuk maju selangkah demi selangkah, sekecil apa pun itu, setiap kali terjebak dalam masalah yang sama yang terus berulang itu. Memang bukan hal yang mudah. Mungkin, hidup memang selalu tentang permasalahan yang sama yang terus berulang dan entah sampai kapan. Dan mungkin, itulah salah satu cara hidup memberi kita pelajaran. Seperti seorang guru memberikan soal yang sama terus-menerus kepada muridnya, sampai muridnya itu bisa menyelesaikannya dengan sempurna, atau setidaknya sebaik yang dia harapkan.

Salam,

Yang Paling Memahamimu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s