Catatan Akhir Pekan bersama Gramedia Writing Project


Menjadi satu dari sepuluh penulis terpilih Gramedia Writing Project batch 2 tentunya merupakan sebuah kebanggaan untukku. Bukan hanya kebanggaan, melainkan juga kebahagiaan ketika kami diberi kesempatan untuk mengikuti workshop menulis yang diadakan  selama dua hari, tanggal 21 dan 22 Maret kemarin.

Sesuai jadwal, kami harus berkumpul di gedung Kompas Gramedia pada hari Sabtu pukul tujuh pagi, atau di hotel Amaris pada pukul delapan pagi. Karenanya, kuputuskan pergi dari Bandung pada Jumat sore, dan berencana menginap di tempat seorang teman di Jakarta.

Perjalanan Bandung-Jakarta pada Jumat itu terasa lebih lama daripada seharusnya. Dari Bandung pukul 15:30, tiba di Jakarta pukul 22:30 dan disambut hujan badai. Ya, aku tau, itu masih bagian dari ujian kesabaran, setelah sepanjang perjalanan telingaku disiksa lagu-lagu dangdut dan pop Sunda. Bukannya aku nggak suka. Awal-awal kedengarannya lucu, tapi lama-lama malah eneg dan bikin sakit kepala. Berisik. Aku nggak bisa tidur dalam perjalanan yang melelahkan itu. Pak supir masih tetap menyalakan musik bahkan setelah aku menegurnya untuk menurunkan volume suara musiknya.

Dan syukurnya, ujian kesabaran itu nggak ada apa-apanya dibanding apa yang kudapatkan kemudian.

Pada hari pertama workshop, Kak Clara Ng ngasih baaanyak banget teori tentang menulis fiksi. Semua elemen dalam sebuah cerita dibedah satu demi satu. Beliau juga berbagi pengalaman menulis dan membacanya yang luar biasa itu. Keren banget deh, pokoknya. Dua sesi berjam-jam yang dijeda makan siang itu pun nggak berasa lama apalagi membosankan.

Kalau aku boleh ngasih sedikit simpulan, teori-teori itu bukanlah dewa yang harus dipuja, melainkan pedoman yang bakal memandu kita saat sedang menulis. Selain itu, mempelajari dan memahami teori-teori tersebut dapat membantu kita mengatasi perasaan-perasaan yang muncul akibat respons pembaca yang terkadang intimidatif atau bahkan destruktif. Ya, benar, semakin kita memahami teori, semakin kita akan merasa rendah hati.

Sesi berikutnya diisi oleh Ci Hetih Rusli. Dengan gayanya yang asyik, beliau menambahkan teori-teori menulis lainnya, sekaligus ngasih wawasan global. Memaparkan perbedaan pencuri yang baik dan yang buruk. Ngasih kutipan-kutipan yang tepat sasaran mengenai permasalahan umum dalam menulis fiksi. Ngasih tau canon (atau kanon?) atau buku-buku rekomendasi untuk berbagai genre fiksi. Ngasih tau formula buku laris. Dan masih banyak hal lainnya yang hanya bakalan kamu dapatkan dalam workshop Gramedia Writing Project ini.

Dan nggak kerasa, hari udah sore aja. Setelah materi dari Ci Hetih berakhir, aku dan kesembilan anak GWP batch 2 lainnya dipersilakan masuk kamar masing-masing. Beristirahat sebentar, mandi, lalu bersiap-siap pergi makan malam di restoran yang jaraknya lumayan jauh dari hotel.

Makan malam itu berlangsung amat sangat seru, lho. Kami semua (anak GWP batch 2, para editor, panitia, beberapa anak GWP 1, dan beberapa orang penting GPU) duduk bersama di sebuah meja makan panjang. Awalnya, kupikir itu bakalan canggung atau menegangkan sampai rasanya sempet deg-degan. Tapi ternyata enggak. Sama sekali enggak. Kami ngobrol selayak teman dekat, bahkan keluarga yang begitu hangat. Berhubung aku orangnya pendiam dan pemalu, jadi aku cuma senyum-senyum lugu dan nggak banyak omong. Sayangnya, dua anggota GWP batch 2 nggak bisa ikut makan malam. Teh Evi sakit, dan Mak Catz nemenin dia di kamar hotel. Oh, iya, demi workshop GWP 2 ini, Teh Evi sampai bela-belain datang dan nahan sakit akibat usus buntunya. Semangat ya, Teh Evi! Semoga kebersamaan kita membantu proses penyembuhanmu.

Balik lagi ke hotel, anak GWP batch 2 (plus Utha dan Kak Orin) kumpul di lobi buat acara tuker kado. Dalam hal ini, aku ngerasa paling rajin sejagat raya, karena… ternyata… cuma aku yang kadonya dibungkus pake kertas kado. Tapi akhirnya kubuka juga kertas kado (yang sebenernya dibungkusin Mama) itu. Kadoku yang isinya buku kumpulan cerpen “Tales from the Dark” itu dikantongi Kak Orin. Sementara aku dapet kado buku “Hikikomori-chan”-nya Ghyna Amanda, dan juga dapet T-shirt “Gerimis Bumi”-nya Mak Catz.

Jangan sedih. Acara nggak berakhir di situ. Abis tuker kado, rencananya kami mau makan empek-empek Udin Petot, eh empek-empek Pak Udin yang khusus dibawain Icha jauh-jauh dari Palembang. Tapi kenyataan emang nggak selalu berbanding lurus dengan harapan. Pihak hotel nggak nyediain sarana masak-memasak, sehingga kami harus melakukannya di tempat lain—tapi di mana? Perjuangan berat kami untuk memasak dan memakan empek-empek itu pun menelan banyak korban. Satu per satu anggota GWP batch 2 tumbang ke kamar masing-masing, mengingat waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam dan suasana semakin mencekam akibat isu soal pembantaian yang akan dilakukan oleh para editor esok hari.

Tersisalah tujuh orang kesatria gagah berani yang bertahan. Kami berkumpul di kamar Utha. Mengadakan konferensi membahas rencana pengolahan empek-empek itu. Kami sepakat untuk tidak menyia-nyiakan makanan secuil pun. Padahal ini mata sebenernya udah ngantuk berat. Tapi demi kebersamaan, aku ikutan aja deh biar nggak dimusuhin. Sambil mencari ide gimana caranya mengolah dan memakan empek-empek itu, kami bertujuh ngobrol ngalor-ngidul. Sharing soal pengalaman menulis, sampai membahas kejadian-kejadian seru di dunia kepenulisan. Dan sekali lagi, karena aku orangnya pendiam dan pemalu, jadi aku cuma diam membisu, mendengarkan sambil senyum-senyum lugu. Sampai akhirnya, Ayu Welirang menemukan cara jitu untuk memasak empek-empek itu. Mau tau? Lahaciya! Pokoknya, sekitar satu jam setelah Ayu nemuin cara itu, dia kembali ke kamar dengan satu dus empek-empek yang sudah siap kami makan. Setelah kenyang, Dion dan Mas DJ kembali ke kamarnya, begitu pun Ayu, Kak Salsa, dan Icha. Tinggallah aku dan Utha. Aku sih langsung tidur setelah mereka balik ke kamar masing-masing. Nggak tau deh, apa aja yang terjadi selama aku tidur.

Esok harinya, aku dibangunin Utha sekitar jam 06:30. Bangun-bangun langsung ngecek hape buat ngeliat berapa lama aku tidur. Ternyata kurang dari empat jam. Tau dari mana? Dari aplikasi Path, dong. Aku kan kalau update sleeping dan awake itu pasti ada tujuannya (ini penting banget dibahas). Abis itu aku langsung mandi dan siap-siap untuk sesi pembantaian oleh para editor GPU. Di situ saya semakin merasa deg-degan.

Sebelum dibantai, aku sempet foto-foto—maksudnya sih bukan narsis ya, tapi cuma buat nurunin tensi ketegangan bareng anak GWP batch 2 lainnya yang nunggu giliran berhadapan langsung dengan kak editor. Aku dan Mas DJ berkesempatan dibimbing oleh Kak Raya dan Kak Lana. Mas Dj dipanggil duluan, dan rasanya lamaaa banget. Dan rasanya deg-degaaan banget.

Tibalah giliranku….

Setiba di hadapan Kak Raya dan Kak Lana, aku langsung ditembak pertanyaan, “Dadan, kapan kamu akan menikah?” Err… bukan itu sih, tapi ini, “Dadan, apakah kamu pernah diperkosa?” Pertanyaan itu tentunya berhubungan dengan naskah novel yang kukirimkan. Pertanyaan-pertanyaan lain pun terlontar dan membuatku gelisah di tempat. Kak Raya berusaha membangkitkan sensitifitasku secara lebih liar mengenai kejadian yang dialami tokoh yang kuciptakan. Beliau juga berusaha menyadarkanku akan banyak hal yang seharusnya kutonjolkan dan semestinya kuhilangkan atau kumunculkan sekadarnya saja dalam cerita yang kutulis. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya dan meminta saran, pendapat, solusi, bantuan, dan segala cara untuk menjadikan naskahku lebih baik daripada sebelumnya. Kalau aja sesi pembantaian yang lebih tepatnya disebut sebagai sesi konsultasi naskah itu bisa berlangsung seharian penuh, dengan amat senang hati aku bakal menjalaninya sampai bener-bener puas. Tapi, kebersamaan kami harus segera berakhir karena jadwal terbatas. Hiks. Yah, seenggaknya, diskusi dan konsultasi naskah selama hampir satu jam itu cukup ngasih pencerahan bagiku sehingga aku punya bahan-bahan untuk merevisi naskahku.

Jangan sedih lagi. Sesi materi tentang menulis belum berakhir. Setelah sesi konsultasi, kami kembali berkumpul di ruang pertemuan. Kini giliran Kak Asty dan Kak Nina yang ngasih rangkuman materi dan tambahan itu-ini, plus ngasih PR yang bikin seneng sekaligus deg-degan. PR-nya berupa proyek menulis. Kayak apa dan gimana? Lahaciya.

Nah, sekarang udahan deh. Sebelum check out, kami dikasih goodie bag yang isinya benda-benda pusaka Gramedia Pustaka Utama. Ya sweter GPU, ya voucher belanja buku ratusan ribu, ya buku-buku.

Eh, tapi ternyata acaranya belum bener-bener udahan. Setelah check out dari hotel, kami masih punya satu tempat tujuan. Yaitu, peluncuran novel “Trilogi Soekram” karya Pak Sapardi Djoko Damono di Gramedia Central Park. Acaranya rame banget. Fans-nya Pak Sapardi banyak banget dan antusiasmenya bener-bener kece. Dan kebetulan, sehari atau dua hari sebelum acara itu, Pak Sapardi berulang tahun yang ke—kalau nggak salah yang ke-75 tahun, jadi ada acara surprise tiup lilinnya sekarang juga. Wah, keren banget, kan?! Di usianya, beliau masih bisa berkarya dengan gemilang. Dan kabarnya lagi, setelah “Trilogi Soekram” ini, beliau akan menerbitkan novel “Hujan Bulan Juni”. Kereeennn! *sungkem*

Sambil nunggu kesempatan minta tanda tangan di novel “Trilogi Soekram” plus foto bareng Pak Sapardi, kami keliling-keliling toko buku Gramedia buat belanja buku sekalian cuci mata. Abis itu, baru deh foto-foto bareng—oh, ya, ada Ibu Siska ‘Selera Nusantara’ juga—minta tanda tangan, lalu dadah-dadah-cakep dengan sesama anak GWP batch 2, panitia, dan editor; dan kami pun berpisah. Aku harus buru-buru nyari travel ke Bandung untuk keberangkatan sebelum jam 12 malam. Karena, Ibuk Peri bilang, sihirnya bakalan hilang setelah lewat tengah malam.

Oke. Kesimpulan dari curahan hati seorang anak GWP batch 2 yang pendiam dan pemalu ini adalah: WORKSHOP GWP INI KEREN BANGET DAN LO NGGAK BAKALAN NYESEL KARENA UDAH JADI BAGIAN DI DALAMNYA DAN LO BAKALAN MERASA TERINSPIRASI, TERMOTIVASI, BANGGA, DAN BAHAGIA. Jadi, bagi siapa aja yang punya passion di bidang menulis, siap-siap aja buat ikutan ajang GWP batch 3 yang—kayaknya—seleksinya bakal diadain akhir tahun ini, dan mungkin workshop-nya bakal diadakan tahun depan. Pokoknya, kalian harus ikutan!

Sebelum menyudahi postingan ini, aku mau ngucapin banyak terima kasih. Terima kasih, Gramedia Pustaka Utama. Terima kasih, Panitia Gramedia Writing Project dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Terima kasih, Mbak Anas, Kak Clara Ng, Ci Hetih, Kak Raya, Kak Lana, Kak Asty, dan Kak Nina yang sudah membagi banyak ilmu kepada kami. Terima kasih, Utha yang udah mau jadi teman sekamar. Terima kasih, Kak Wisnu yang mau nganter-nganter kami. Terima kasih, teman-teman seperjuangan yang kece-kece-badai: Ayu, Mak Catz, Dian, Dion, Mas DJ, Teh Evi, Kak Nima, Kak Salsa, Icha, juga Kak Ria, Kak Pia, Ghyna, juga Kak Orin. Dan terima kasih banyak-banyak buat Iyan juga Rafel yang selalu direpotin abis-abisan tiap aku ke Jakarta.

Terima kasih untuk akhir pekan yang sangat menyenangkan dan nggak akan terlupakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s