Repetitif

Dear Dadan Erlangga,

Hai, bagaimana malam minggumu semalam? Semoga menyenangkan. Semoga kamu tidak mudah percaya pada langit yang cerah dan tenang, yang seolah-olah tidak akan memuntahkan hujan sehingga kamu tidak punya persiapan–seperti yang kualami semalam. Semoga saat hujan deras itu kamu sedang berada di tempat yang aman, dengan atau pun tanpa seseorang.

Sudah bulan kedua di tahun 2015. Namun rupanya masih saja ada orang-orang yang terjebak dalam masalah lama mereka, masalah yang sama yang terus berulang dan entah sampai kapan.

Pagi tadi aku bertemu dengan ayahmu. Dia selalu terlihat penuh semangat dan minat dalam segala hal. Kami sempat berbincang-bincang sebentar, dan tibalah dia pada sesi curhat tentang masalah yang sedang dialaminya. Lagi-lagi tentang istrinya. Entahlah, ini sudah kali keberapa dia mengeluhkan hal yang sama. Bukannya bosan, aku hanya tidak suka mendengar masalah yang sama dan berulang-ulang. Seakan apa yang terjadi sebelumnya tidak memberinya pelajaran.

Lalu, aku teringat pada orang lain yang selalu terjebak dalam masalah yang sama yang terus berulang. Ia adalah sahabatmu, yang pernah kamu ceritakan kepadaku. Sahabatmu yang jatuh cinta kepada seseorang yang… entahlah, gambaran yang selalu terlihat di benakku tentang lelaki itu adalah, bahwa dia semacam… psikopat. Katakan banyak maaf untuk sahabatmu, tetapi maksudku, lelaki yang akhirnya menjadi pacarnya itu terlalu drama untuk ukuran lelaki perkasa yang beranjak dewasa (?). Maksudku, ya, entahlah, seharusnya hubungan yang sehat dan dewasa itu tidak membawanya pada masalah-masalah sederhana yang dibesar-besarkan hanya karena cemburu, salah paham, keras kepala, dan possesivitas. Aku tidak tahu sebahagia apa hubungan mereka, sebab yang sering ia ceritakan kepadamu hanyalah masalah-masalah yang tengah dihadapinya. Masalah-masalah yang sama yang terus berulang. Dan entah sampai kapan.

Aku sendiri bukan orang yang tak punya masalah. Aku pernah terjebak dalam masalah yang sama yang terus berulang. Aku juga tidak tahu bagaimana caranya keluar dari masalah sepelik itu. Tapi aku selalu berusaha untuk maju selangkah demi selangkah, sekecil apa pun itu, setiap kali terjebak dalam masalah yang sama yang terus berulang itu. Memang bukan hal yang mudah. Mungkin, hidup memang selalu tentang permasalahan yang sama yang terus berulang dan entah sampai kapan. Dan mungkin, itulah salah satu cara hidup memberi kita pelajaran. Seperti seorang guru memberikan soal yang sama terus-menerus kepada muridnya, sampai muridnya itu bisa menyelesaikannya dengan sempurna, atau setidaknya sebaik yang dia harapkan.

Salam,

Yang Paling Memahamimu

Iklan

Bulan Baik

Dear Dadan Erlangga,

Apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja.

Kudengar, ada beberapa kabar baik tentangmu di bulan Januari ini. Salah satunya adalah kabar tentang lolosnya kamu dalam sebuah kompetisi menulis yang diadakan oleh sebuah penerbit ternama. Selamat, ya. Semoga itu menjadi awal dari keberhasilan-keberhasilan kamu selanjutnya.

Aku tahu sekeras apa kamu berusaha. Kuharap kamu percaya bahwa kamu memang layak mendapatkannya, dan kamu sanggup melakukan yang terbaik.

Seseorang pernah berkata bahwa apa yang kita lakukan di awal tahun adalah gambaran dari apa yang akan kita lakukan di sepanjang tahun yang sedang berjalan. Entahlah, aku tidak sepenuhnya percaya. Tidak juga mengabaikannya. Aku hanya melihat sisi baiknya. Untuk itu, di bulan Januari ini, aku berusaha melakukan hal-hal baik dan menghindari hal-hal tak baik.

Bagaimana denganmu?

Oh, ya, kurasa kamu pun melakukan hal yang sama. Kalau aku boleh menebak, sepertinya kamu sedang mempersiapkan dan merealisasikan proyek-proyek menulis. Benar begitu?

Kuharap begitu. Karena menulis adalah bagian dari hal-hal yang baik untuk dilakukan. Menulis membuatmu mencari dan menemukan. Menulis membuatmu membaca dan memahami. Menulis membuatmu berpikir dengan otak dan hati. Menulis membuatmu menjadi siapa saja dan mampu melakukan apa saja yang kamu inginkan. Dan menulis membuatmu menjadi seseorang yang lebih baik dalam banyak hal.

Bulan Januari akan segera berakhir. Kuharap kamu akan tetap melakukan hal-hal baik, apa pun itu. Untuk siapa pun itu. Terutama untuk dirimu sendiri. Kamu harus tahu apa yang baik dan tak baik untuk dirimu. Dengan begitu, kamu akan tahu hal baik apa yang bisa kamu berikan dan lakukan untuk orang lain.

Dan semoga ini tidak sekadar menjadi bulan baik, melainkan juga akan menjadi tahun yang baik untukmu.

Salam,
Yang Paling Memahamimu

Surat untuk Mhog

Hai, Mhog. Sudah beberapa bulan berlalu sejak kali terakhir kita bertemu di acara festival musik Big Mountain. Meski begitu, diam-diam aku masih berusaha untuk melihatmu di waktu-waktu tertentu. Hanya karena rindu, atau sekadar ingin tahu bagaimana kabarmu.

Kali pertama bertemu denganmu, aku seperti bertemu dengan diriku sendiri beberapa tahun lalu–aku yang masih berseragam putih-abu–dalam versi yang baru. Anggaplah aku sedang melakukan ekspedisi waktu ke masa lalu seperti Henry DeTamble di Time Traveler’s Wife. Dan pertemuan kita tentunya membuatku ingin mengatakan banyak hal kepadamu. Sayangnya, aku tak punya kemampuan berbahasa yang cukup baik. Jadi, aku hanya bisa memandangimu dalam diam. Itulah sebabnya aku menulis surat ini

Mhog, sejujurnya aku iri kepadamu. Di usiamu yang masih kelas sebelas ini, kamu sudah tahu apa mimpi dan cita-citamu. Kamu pun punya keberanian untuk berargumen dengan ayahmu dan mempertahankan semua itu. Dalam hal ini, kita tampak sangat berbeda. Saat seusiamu, aku sama sekali tidak tahu ingin menjadi apa dan harus bagaimana. Aku baru tahu apa yang kuinginkan dan kuimpikan itu sekarang, setelah tahun demi tahun berlalu dalam sesuatu yang menyerupai kesia-siaan. Dan ternyata, apa yang kuinginkan dan kucita-citakan sama dengan apa yang kamu inginkan dan cita-citakan juga.

Mengetahui semua itu akan membuatmu semakin fokus pada tujuan. Tetaplah fokus pada apa yang kamu inginkan, pada apa yang membuat duniamu terasa begitu menakjubkan. Tak perlu risau soal orang-orang di sekitarmu yang cenderung tak mampu memahami apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu lakukan.

Aku sangat paham bagaimana pemandangan seorang wanita tua–bartender pinggir jalan di depan sekolahmu bisa terlihat lebih menarik dibandingkan seorang gadis cantik yang menunggumu untuk bertemu di suatu tempat. Bagaimana kemudian kamu malah asyik memotret aksi wanita itu dibanding buru-buru menemui pacarmu yang mulai marah-marah karena keterlambatanmu.

Sama halnya dengan yang terjadi di aquarium raksasa. Di mana, kamu tampak amat sangat terpesona pada makhluk-makhluk laut itu sampai lupa waktu dan janji kencan dengan pacarmu.

Juga, saat akhirnya kamu pergi berkencan dan menonton film di bioskop bersama pacarmu. Alih-alih merespon apa yang dilakukan pacarmu terhadapmu (memegang tanganmu dan menyandarkan kepala di bahumu), kamu malah fokus pada film yang tengah kalian saksikan.

Ya, aku paham soal semua itu, sebab aku pun pernah berada di posisi sepertimu.

Mhog, jika ada seseorang yang memintamu berubah, kuharap kamu tidak serta-merta menyetujuinya. Kamu tak perlu menjadi seseorang yang mereka inginkan. Jadilah seseorang yang kamu sendiri merasa nyaman dengan menjadi seperti itu.

Aku percaya, kamu tak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarmu, kamu selalu menjadi penengah, dan kamu bukanlah orang yang suka menghakimi perliaku buruk orang lain. Itu cukup menjelaskan kenapa mereka merasa nyaman di dekatmu, dan lalu menceritakan hal-hal yang belum tentu bisa mereka ceritakan kepada orang lain. Dan meskipun kamu tak melakukan apa-apa, mereka akan tetap di dekatmu karena rasa nyaman itu.

Yang kukhawatirkan tentangmu adalah di saat kamu jatuh dalam situasi dan suasana hati yang tidak stabil. Saat kamu sedih, dan tak seorang pun mampu memahami dan meredakan semua itu.

Pada saat seperti itu, mungkin kamu akan pergi ke suatu tempat dan memotet objek-objek menarik, atau pergi ke bioskop dan menonton film seorang diri, atau mengurung diri di dalam kamar sambil membaca novel atau mendengarkan lagu. Dan jika semua itu masih belum bisa meredakan kesedihanmu, jangan khawtir, ingatlah masih ada aku. Kamu bisa menemuiku atau menghubungiku atau mengirimiku pesan. Ungkapkanlah segala yang ingin kamu ungkapkan, sampai segala beban pikiran dan perasaanmu teredakan.

Sebenarnya, masih ada banyak hal yang ingin kukatakan. Tetapi, harus kucukupkan sampai di sini, dan mungkin akan kutakan pada pertemuan kita berikutnya. Atau paling tidak, pada surat yang akan kutuliskan kemudian.

Semoga kita bisa bertemu lagi tahun ini.

D

Surat untuk Pacarmu

Semoga kamu sedang dalam kondisi baik-baik saja saat membaca surat yang sebenarnya kutujukan untuk pacarmu ini.

Aku sengaja mengirimkannya melalui kamu. Bukan lantaran aku tak berani berhadapan langsung dengannya. Kurasa, pacarmu yang keras kepala itu bakal lebih bisa menerima pesan dariku setelah keluar melalui mulutmu. Sebab, aku tahu caramu menyampaikan sesuatu selalu lebih baik daripada siapa pun, dan level kesabaranmu lebih tinggi dari manusia mana pun.

Tolong katakan kepada pacarmu untuk tidak selalu mencemburuimu, dan supaya dia memberimu kebebasan bergaul dan berteman dengan siapa saja tanpa menaruh curiga. Ingatkan dia bahwa cemburu buta cukup dimiliki anak-anak SMA atau yang baru berstatus Mahasiswa. Dan jika memang dia sudah terlanjur cemburu dan sulit mengingkarinya, setidaknya ungkapkanlah kecemburuannya itu dalam bahasa lugas yang bisa dipahami manusia biasa yang tak perlu memiliki kemampuan setara seorang pembaca pikiran.

Tolong beri tahu pacarmu bahwa cinta yang tahan lama itu biasanya tumbuh secara perlahan, bukan cinta yang tiba-tiba turun sederas hujan beberapa jam. Mungkin itu akan membantumu menjelaskan banyak hal. Salah satunya, ketika pacarmu mendadak marah-marah setelah mengetahui kamu punya teman baru dan lalu dia cemburu. Ingatkan dia juga tentang bagaimana cara kalian (kamu dan pacarmu) bertemu, berkenalan, berteman, penjajakan, hingga menjalin sebuah hubungan, dan berapa lama waktu yang kalian lalui dan habiskan sejak detik pertama sampai sekarang.

Dan tolong yakinkan pacarmu bahwa kamu sudah menutup semua pintu masa lalumu.

Lalu, tolong tegur pacarmu untuk tidak terlalu egois. Ah, kamu pun harusnya tidak selalu menuruti keinginan dia dan bersikap baik-baik saja terhadap keegoisannya. Selama ini kamu sudah cukup bersabar dan berkorban untuknya. Janganlah menganggap semua itu sebagai kewajibanmu sendiri sebagai seorang pacar. Kalian berdua punya hak dan kewajiban yang sama untuk memberi dan menerima, juga untuk sama-sama bahagia. Jadi, sekali lagi, tolong tegur dia, demi kebaikan kalian berdua.

Oh, ya, ini yang terpenting. Tolong bilang sama pacarmu untuk tidak terlalu sering menonton drama Korea, apalagi sampai harus begadang segala. Dan peringatkan dia untuk tidak tertipu dan terpengaruh oleh kisah cinta manis menye-menye yang cuma terjadi di dunia paralel sana dan mustahil terjadi di dunia nyata sini.

Dan yang terakhir, bilang sama pacarmu, jangan menulis surat untuk dirinya sendiri dengan cara seperti ini.

Yang sangat mengenal pacarmu luar dalam,

D

Surat untuk Besok

Kepada Besok,

Hai, Besok. Kemarin malam, aku menonton film berjudul 11:00 AM. Ia bercerita tentang sekelompok peneliti yang sedang melakukan uji coba mesin waktu di sebuah markas penelitian di dasar laut. Dua orang dari mereka menjadi kelinci percobaan, masuk ke dalam mesin waktu yang membawa mereka pada satu malam yang akan datang.

Mereka berdua pun tiba di markas penelitian itu pada malam 26 Desember (CMIIW) sekita pukul 11 AM, dua puluh empat jam dari saat mereka melakukan perjalanan yang hanya berlangsung beberapa detik itu. Di sana, mereka berdua menemukan markas itu dalam keadaan porak poranda. Di antara puing-puing yang tersisa, salah satu dari mereka menemukan foto Natal bersama yang diambil para anggota tim lainnya saat kedua orang itu melakukan perjalanan lintas waktu, juga potongan kertas berisi catatan sebuah peristiwa. Tak hanya itu, mereka berdua pun bertemu–bahkan berinteraksi dengan sosok yang tak pernah mereka duga sebelumnya.

Mereka lalu kembali pada masa kini. Salah satu dari mereka awalnya diduga tertinggal di masa depan, namun kemudian ditemukan di bagian tersembunyi mesin waktu itu. Dan mereka berdua kembali ke masa kini dengan membawa hard disk berisi rekaman CCTV dari masa depan. Melalui rekaman CCTV itulah, mereka mengetahui apa yang akan terjadi dan yang akan mereka alami sampai tanggal 26 Desember pukul 11 AM itu.

Mengetahui masa depan itu ternyata menyenangkan sekaligus mengerikan. Lebih-lebih, jika apa yang kita lihat dari masa depan yang buruk itu sama sekali tak bisa diubah, sekeras apa pun kita berusaha mengubahnya. Bahkan, ketika kita mencoba lari sejauh mungkin dari tempat yang tergambar di sana, takdir akan tetap menyeret kita ke sana dengan segala cara.

Terkadang, memang ada hal-hal tentangmu–wahai Besok, yang ingin cepat kuketahui dari sejak hari ini. Seperti, apakah naskah yang kukirimkan untuk lomba bakal menang atau tidak, atau apakah surat pernyataan cinta yang kukirimkan untuk teman sekelasku akan berakhir bahagia atau lara. Tetapi, ada juga hal-hal tentangmu yang tak ingin buru-buru kutahu, seperti, apakah besok aku masih hidup atau tidak (meski mungkin untuk sebagian orang, mengetahui kapan mereka mati adalah sebuah keinginan terpendam).

Aku menulis surat ini untuk mengatakan kepadamu supaya kamu tetap berada di tempatmu, wahai Besok. Jangan datang terlalu cepat. Hari ini biarlah tetap menjadi milik Hari Ini. Jangan meniru Kemarin yang terus-terusan membayangi Hari Ini dengan kenangan-kenangan menyenangkan namun menyakitkan. Jadilah Besok yang misterius dan mengejutkan.

Sekian.

Sampai bertemu besok, Besok.

D

Surat untuk Jatuh Cinta

Kepada Jatuh Cinta,

Hai, apa kabar? Kali terakhir kita berjumpa, segalanya tampak indah dan sempurna. Kamu menempatkan dia pada hierarki paling tinggi kekagumanku terhadap seseorang. Dan kamu menutup mata juga telingaku dari apa yang sebenarnya terlihat dan terdengar. Sampai kemudian, pelan-pelan kamu menghilang.

Setelah kamu pergi, dia tidak indah dan sempurna lagi. Ada banyak hal yang kemudian terlihat dan terdengar tentang dia, yang membuat pikiran dan perasaanku goyah. Ada banyak alasan kecil yang dibesar-besarkan dan akhirnya menjadi masalah. Ada banyak masalah yang berujung pada pertengkaran. Dan pertengkaran-pertengkaran itu pun lantas membangun jembatan perpisahan.

Tapi, tenang, kami tidak benar-benar berpisah. Tanpa kamu, kami masih punya alasan dan harapan untuk tetap mempertahankan apa yang telah kami perjuangkan. Pada dasarnya, sebuah hubungan adalah hasil perjuangan dari dua orang yang berada di dalamnya. Perjuangan untuk tetap satu kata di dalam dua pemikiran, tetap satu langkah dan tujuan di dalam sekian banyak keinginan. Dan kami berdua sama-sama paham.

Hanya saja, ya, tak bisa kumungkiri, tanpa kamu, segalanya tak sama lagi. Apalah artinya sekadar ucapan selamat pagi, sapaan-sapaan manis yang sebelumnya mampu menghangatkan hati, dan basa-basi terpuji yang pernah mencerahkan hari-hari. Tanpa kamu, kami hanyalah sepasang manusia yang sedang mengerjakan tugas kelompok untuk pelajaran ‘Hidup Bersama’.

Jadi, di manakah kamu berada kini, wahai Jatuh Cinta? Tidakkah kamu merindukan kami? Tak bisakah kamu datang sekali lagi, dan tetap tinggal bersama kami di sini?

Yang menunggu jatuh cinta sekali lagi,

D

Surat untuk Windy Ariestanty

Salam kenal, Kak Windy

Pertama-tama, izinkan aku menulis surat untukmu dalam gelaran #30HariMenulisSuratCinta hari keempat ini. Dan kedua-dua, mohon maaf jika ada kesalahan dalam tata bahasa dan EyD dalam surat ini (serius, aku gugup banget waktu nulis ini).

Sejujurnya, sudah sejak lama aku ingin menyapa Kak Windy, hanya saja–entah kenapa–aku selalu merasa saatnya belum tepat saja, sampai hari ini. Ketika aku menelusuri daftar following-ku di Twitter untuk mencari akun milik selebtwit mana yang akan kukirimi surat, namamu muncul seperti bisikan jawaban di detik-detik menjelang penghabisan waktu ujian. Maklumlah, aku bukan anak gaul Twitter. Dan, di luar perbedabatan soal apa itu ‘selebtwit’, bolehlah aku punya pandangan sendiri untuk memaknainya. Dan bolehlah aku menempatkan Kak Windy ke dalam predikat itu sebagai jalan bagiku untuk menulis surat ini, meski sebenarnya aku lebih suka menyebut Kak Windy sebagai Editor dan/atau Penulis.

Kita memang tak pernah bertemu atau berinteraksi sebelumnya, baik di dunia nyata maupun maya. Jadi, Kak Windy tak perlu mengerutkan dahi untuk mencari tahu atau sekadar mengingat siapa si penulis surat ini. Yang akan kutunjukkan kepada Kak Windy ini adalah alasan kenapa kemudian aku mem-follow Twitter Kak Windy lalu diam-diam mengagumi.  Kak Windy pasti ingat pernah menulis ini sekitar satu setengah tahun yang lalu –> https://www.facebook.com/notes/gagasmedia/saya-picik/10150886618286968

Ya, gara-gara tulisan itu, aku jatuh hati kepada Kak Windy. Bagaimana tidak? “Saya Picik”. Judulnya saja sudah cukup jujur dan reflektif. Maksudku, ketika–mungkin–penulis lain berusaha mempermanis citra diri mereka di hadapan pembaca, Kak Windy justru berani tampil apa adanya. Itu membuatku merinding lantas bersimpati. Membaca kisah Kak Windy saat pertama bergabung dengan Gagasmedia, bagiku seperti menonton sebuah film drama yang membuatku jatuh hati pada cerita dan karekter si pemeran utamanya.

Orang yang mengalami penolakan berkali-kali cenderung menjadi dingin karena itulah cara yang dia tahu untuk melindungi perasaannya agar tidak sakit lagi. Hanya itu cara bertahan yang ia tahu. – Windy Ariestanty

Namun, lambat laun, saya belajar bahwa penolakanlah yang membuat saya menjadi lebih kuat dan kian tangguh. ‘Tidak’ kemudian menjadi kata penanda buat saya bahwa ada sesuatu yang perlu lebih saya gali sebelum berubah menjadi ‘Iya’. – Windy Ariestanty

Bagaimana aku tidak jatuh hati pada kalimat-kalimat itu? Aku percaya, itu bukan sekadar permainan kata untuk mencuri perhatian pembaca. Itu adalah sekelumit hikmah yang ingin dibagi Kak Windy kepada siapa saja yang memercayainya. Mungkin kedengarannya agak lucu, tetapi perjalanan hidup yang Kak Windy tuliskan dalam kisahan itu sebagian tampak seperti refleksi dari apa yang pernah kualami dalam hidupku sendiri, dan sebagiannya lagi menjadi pelajaran yang cukup berarti.

Aku memang tidak mengenal Kak Windy secara personal. Tetapi, melalui tulisan-tulisanmu yang kubaca secara online maupun yang tertulis di buku, aku melihat sosok Kak Windy seperti–lagi-lagi kukatakan–si pemeran utama dalam sebuah film drama dengan karakter yang membuatku jatuh hati kepadanya. Dengan begitu, aku bisa mengatakan bahwa karakter fiktif dalam sebuah karya fiksi tak mustahil ada di dunia nyata.

Sebelum mengakhiri surat ini, izinkan aku meminta maaf atas kelancanganku menulis semua ini. Dan setelah mengakhiri surat ini, aku akan kembali menjadi pengagum dan pembaca sunyi karya-karyamu, sampai kutemukan saat yang tepat dan kesempatan menulis surat untukmu lagi.

Salam,

D

Surat untuk Senin

Kepada Senin,

Hai, ketemu lagi. Aku ingin memberi tahu kamu (meskipun aku tahu kamu sudah tahu ini sejak dulu) bahwa ada banyak orang di dunia ini yang tidak menyukaimu.

Mungkin kamu selalu bertanya-tanya salahmu apa atau di mana. Sudahlah, tak perlu kamu pikirkan. Masalahnya bukan ada pada dirimu, melainkan dalam diri orang-orang itu. Mereka tidak menyukaimu sebab mereka tidak menyukai diri mereka sendiri yang tak bisa menerima kenyataan bahwa mereka harus kembali bekerja. Satu-satunya hal yang bisa kamu jadikan kambing hitam hanyalah kenyataan bahwa kamu datang setelah Minggu.

Hidup ini memang selalu soal perbandingan kalau bukan pertandingan. Berdiri di sebelah seseorang yang disukai banyak orang akan menjadikanmu seseorang yang tidak kelihatan. Dan, datang untuk menggantikan seseorang yang disukai banyak orang itu akan membuatmu jadi seseorang yang tidak disukai. Jadi, kurasa, kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri, tak perlu peduli seberapa banyak orang yang menyukai dan tidak menyukaimu.

Aku tidak sepenuhnya yakin, tetapi kuharap kamu cukup yakin bahwa hidup ini terkadang bersikap adil dengan caranya sendiri. Bahwa tidak ada sesuatu atau seseorang yang mutlak selalu disukai dan selalu tidak disukai. Dan bahwa mungkin saja masih ada orang yang menyukaimu, seperti mereka yang libur di hari Senin, atau mereka yang punya rencana penting pada hari itu, atau mereka yang punya kenangan manis tentang hari Senin.

Aku sendiri bukan termasuk orang yang tidak menyukaimu, bukan juga orang yang menyukaimu. Hanya saja, terkadang aku merasa bahwa aku adalah orang yang sama seperti kamu.

D

Surat untuk Mimpi

Kepada Mimpi,

Aku selalu punya dua pertanyaan. Pertama, kenapa kamu selalu mendatangiku setiap malam–ah, tidak, tapi setiap kali aku tertidur? Kedua, apakah kamu selalu membawa pesan dalam setiap kedatangan?

Orang-orang menyebutmu Bunga Tidur. Bagiku, kamu lebih dari itu. Kamu adalah bagian utama dari tidur, seperti bagian berwarna oranye pada telur. Orang-orang tidur untuk beristirahat, sedangkan aku tidak. Orang-orang sering tidur lelap, sedangkan aku tak pernah. Bagiku, tidur adalah pintu ke mana saja yang aku tak pernah tahu tempat dan kejadian apa yang ada di baliknya, dan aku dipaksa untuk selalu membukanya. Satu hal yang pasti, di sana, aku akan bertemu kamu, Mimpi.

Kepadaku, kamu datang dalam berbagai wujud. Sesekali menyenangkan, sisanya mengerikan, dan selebihnya membingungkan. Sayangnya,n aku tak bisa memilih dan menentukan wujud apa yang akan kamu tunjukkan. Aku juga tak kuasa menghindar ketika kamu datang dalam wujud paling mengerikan.

Kamu sering mendatangiku lewat sosok-sosok hantu yang sekadar menakut-nakuti hingga nyaris membunuhku. Itulah alasan kenapa aku selalu tidur dalam penerangan yang benderang. Hanya supaya ketika bermimpi buruk, aku bisa menemukan setitik cahaya untuk lekas terjaga.

Namun, cahaya-cahaya itu kerap kuabaikan saat kamu datang dalam wujud yang menyenangkan. Mendapatkan sesuatu yang kuinginkan dan sulit kudapatkan, bertemu seseorang yang kurindukan dan sulit kutemukan, mengulang kenangan menyenangkan dan tak mungkin terulang. Aku berharap tak pernah terbangun dan selamanya hidup dalam mimpi itu, sampai aku sadar bahwa tak ada cara yang lebih menyedihkan untuk menghadapi hidup dari mengikat jiwa dalam mimpi yang lebih sempura daripada kenyataan.

Dan setiap kamu datang dalam wujud yang membingungkan, setelah terjaga aku akan bertanya-tanya, menerjemahkan pertanda, waspada, dan menjadi lebih peka. Seandainya mereka tahu aku membatalkan rencana-rencana tertentu karena kamu, bisa saja mereka menganggapku tidak rasional bahkan cenderung gila. Dan seandainya mereka tahu bahwa kamu yang lebih dulu memberi tahuku soal kecelakaan yang pernah menimpa Bapak, mereka hanya akan menggarisbawahi itu sebagai kebetulan belaka dan bukan acuan yang patut dipercaya.

Semalam, kamu datang kepadaku dalam wujud yang berbeda dari biasanya. Bukan cuma mimpi menyenangkan yang membuat dadaku hangat, melainkan juga membuatku terbahak. Seperti halnya mimpi basah yang katanya terjadi karena ada masa di mana sperma harus dikeluarkan, mungkinkah mimpi semalam berarti bahwa aku sudah mulai jarang tertawa sampai-sampai harus tertawa melalui mimpi?

Melalui surat ini, aku ingin mengatakan kepadamu bahwa aku tak lagi menolak dan mempermasalahkan kehadiranmu di setiap tidurku. Dan untuk itu, kamu tak perlu menjawab kedua pertanyaan yang selalu ingin kuajukan kepadamu, seperti yang tertulis di awal surat. Aku percaya, kamu ada untuk alasan-alasan yang bijaksana.

Yang mulai menerimamu apa adanya,
D

Surat Cinta untuk @beradadisini

Dear Hanny,

Hai, apa kabar? Semoga Hanny selalu baik-baik saja.

Mungkin Hanny sudah tidak terkejut lagi dengan kemunculan tulisan atau gambar yang kualamatkan atas nama Hanny. Dimulai ketika Hanny berulangtahun beberapa tahun yang lalu dan aku menulis sebuah cerpen sebagai kado kecil, kemudian pada tahun berikutnya aku menulis puisi dan membuat kartu ucapan selamat ulangtahun, dan demikian seterusnya. Hingga saat ini, aku menulis surat ini, untuk Hanny.

Mungkin Hanny pernah bertanya, kenapa aku melakukan semua itu. Mungkin juga Hanny tidak acuh. Kalaupun sekarang tiba-tiba muncul pertanyaan itu, maka aku hanya punya satu jawaban: karena aku merasa senang melakukannya.

Berkenalan dengan Hanny di situs Kemudian.com pada awal 2007 adalah satu dari sekian kenangan yang sangat menyenangkan. Saat itu aku baru belajar menulis, dan merasa sangat beruntung bisa berkenalan dengan Hanny yang sangat menginspirasi. Dari ratusan member Kemudian.com saat itu, Hanny adalah member nomor satu yang tulisannya selalu kukagumi, kutunggu-tunggu, bahkan sampai aku baca berulang kali.

Membaca tulisan Hanny seperti mengunjungi sebuah ruangan bergaya minimalis, elegan, dan manis. Perasaanku dibuat nyaman sejak pertama kali datang. Akan ada hal-hal yang sulit kumengerti, pada awalnya, tapi masih tetap bisa kunikmati keindahannya. Sekilas, segalanya tampak sesederhana kelihatannya, sampai aku benar-benar memperhatikannya. Selalu ada teka-teki sederhana dan labirin tentang pencarian sebuah makna. Maka, ketika aku berhasil menemukan sebuah petunjuk, aku bakal tertantang untuk menemukan petunjuk-petunjuk lainnya. Dan ajaibnya, semakin aku menemukan sesuatu di dalamnya, semakin aku tak ingin berhenti mencarinya.

Mungkin Hanny tidak pernah menyadari bahwa selama ini Hanny adalah guru menulisku. Dan, bentuk hubungan di antara guru dan murid ini bisa diilustrasikan lewat hujan yang turun malam hari. Hujan yang tidak pernah menyadari keberadaannya yang dingin dan basah bisa memberikan kehangatan tersendiri bagi seseorang yang sedang meringkuk di balik selimut di dalam kamar.

Aku pernah bepikir, jika memang kita adalah sepasang guru dan murid, maka tak heran jika sampai detik ini aku belum berhasil menulis satu novel pun. Mungkin tanpa aku sadari, aku sedang menunggu novel guruku terbit terlebih dahulu. Bukan, itu bukan alasan, apalagi pengambinghitaman. Itu hanya sebuah pemikiran yang mungkin terdengar sedikit menggelikan tapi diam-diam ku-iyakan. Kemudian aku berharap, diam-diam Hanny sedang mempersiapkan amunisi. Oke, aku mengerti, hidup memang tidak melulu soal menulis. Tapi, sebagai seorang murid sekaligus penggemar Hanny, tak ada salahnya kalau aku berharap dan terus berharap suatu hari nanti aku bakal keluar dari toko buku dengan perasaan bahagia karena mengantongi sebuah buku yang ditulis oleh Hanny sendiri. Dan aku bakal jadi orang paling bahagia saat membancanya. Serius.

Oh, sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutuliskan dalam surat ini. Banyak sekali. Tetapi, saat ini aku sedang percaya bahwa sesuatu yang sedikit dan cukup itu jauh lebih baik daripada yang banyak dan berlebih. Yang terpenting, Hanny sudah tahu maksud dari surat ini. Dan yang lebih penting lagi, Hanny masih tetap rajin menulis.

Selamat sore, Hanny. Titip salam buat Splinters dan Jeruknipis ^^

Bandung, 11 Februari 2013

D