[cerpen] Insomnia


insomnia

Suara-suara itu terdengar tak lebih baik dari dialog dan suara-suara di film porno lokal. Amatir dan menggelikan. Yang membuatku tegang dan sedikit terangsang adalah kenyataan bahwa suara-suara itu berjarak lima belas meter dari apartemenku, dan perempuan yang tinggal di sana berwajah cantik plus bertubuh seksi.

Sekitar dua minggu yang lalu, aku memastikan keberadaan penghuni baru di apartemen bernomor pintu dua angka lebih kecil dari nomor pintu apartemenku itu. Seorang perempuan cantik berusia sekitar akhir dua puluhan yang tampak matang dan menggairahkan. Kebetulan, saat aku keluar untuk membuang sekantong sampah, perempuan itu juga baru keluar dari apartemennya.

Perempuan cantik itu bernama Lisa. Tidak, kami belum sempat berkenalan. Nama itu kudengar dari mulut lelaki yang kerap datang ke apartemennya hampir setiap malam. Kamu cantik sekali, Lisa. Buka bajumu, Lisa! Bokongmu sangat indah, Lisa. Percepat goyanganmu, Lisa! Aku akan keluar, Lisa. Lisa! Lisa! Lis…AAA…!

Dan lelaki yang kerap dipanggil ‘Bapak’ atau ‘Pak’ oleh Lisa ini selalu memprotes dan meminta Lisa untuk memanggil dirinya dengan sebutan ‘Mas’. Awalnya aku tak peduli siapa dan seperti apa lelaki itu, sampai aku bertemu Lisa yang begitu sempurna. Tebakanku tak meleset. Dia memang seorang bandot berduit, dan belakangan kutahu bahwa dia juga seorang pejabat negara.

Rutinitas yang mereka lakukan hampir di setiap malam jelas menggangguku. Membuat insomnia yang kuderita selama lebih dari sepuluh tahun ini mencapai titik terparah. Tak semenit pun dari dua belas jam jatah malam yang diberikan alam semesta untukku bisa kugunakan untuk tidur. Pekerjaanku di kantor jadi berantakan gara-gara aku mengantuk. Masalah besar terjadi saat aku harus meeting atau presentasi di depan klien. Berkali-kali. Konsentrasiku buyar, dan semuanya benar-benar kacau.

“Apa masalahmu?” tanya bosku dengan nada marah.

“Maaf. Saya tidak enak badan.”

“Kalau saja kamu bukan orang yang membuatku berhasil mendapatkan proyek iklan milyaran rupiah dengan ide brilianmu itu, aku tidak akan berpikir dua kali untuk memecatmu.”

Pembicaraan kami berakhir dengan perintah supaya aku lekas pergi ke dokter dan beristirahat di kamar. Ah, aku tak perlu dokter, hanya perlu pergi ke apotek untuk membeli pil tidur dan anti depresan yang biasa kukonsumsi.

Siang itu, aku berhasil tidur selama beberapa jam. Ya, dua setengah jam yang lebih dari lumayan. Aku turun ke bagian pusat kebugaran usai mengisi perut dengan sereal dan jus buah-buahan. Saat sedang berlari di treadmill, aku melihat Lisa di kolam renang. Aku nyaris kehilangan keseimbangan saat Lisa membalas tatapanku secara tiba-tiba.

“Hai, Tetangga,” sapanya, saat aku rebahan di kursi panjang pinggir kolam renang sambil mendengarkan musik. “Nggak renang?” Ia lantas merebahkan dirinya di kursi panjang kosong di sebelahku. Dari jarak sedekat ini, dapat kulihat jelas lekuk tubuh dan tekstur kulitnya yang mulus berbalut bikini two pieces itu. Basah. Semua yang dimilikinya memang benar-benar indah. Serta-merta aku menelan ludah.

“Seperti yang kamu lihat,” jawabku, pura-pura tak acuh.

“Jangan bilang kalau kamu nggak bisa berenang.”

“Menurutmu?”

Ia tertawa. “Aku bisa ngajarin kamu. Kalau kamu mau.”

“Terima kasih. Tapi saya lebih suka berada di sini.”

“Kamu bukan Stalker, kan?”

“Kalau iya, kenapa?”

Sekali lagi ia tertawa. “Kamu lucu, ya?!”

“Kamu lebih lucu. Bisa-bisanya menganggap saya lucu.”

“Baiklah, kalau kamu nggak mau aku ajari berenang, mungkin kita bisa ngopi bareng.”

“Kedengarannya menyenangkan.”

“Jadi, kapan?”

Aku terenyak. Belum pernah berhadapan dengan perempuan seagresif ini sebelumnya. “Er… nanti saya kasih tau.”

“Oke.” Dan Lisa tertawa lagi.

Malamnya, aku tak mendengar suara-suara porno amatir dan menggelikan itu. Sudah lewat tengah malam, dan hanya ada suara televisi. Sesekali kudengar suara Lisa berbincang dengan seseorang di telepon. Dan bagian terbaik dari semua itu adalah saat kudengar Lisa menyanyi di kamar mandi. Suaranya benar-benar merdu. Kubayangkan ia sedang berendam di bath tub dengan busa melimpah. Kubayangkan aku berada di sana, di dalam bath tub yang sama, menggosok punggungnya, mencumbunya…. Malam yang damai itu tetap saja membuat insomniaku berulah. Pil-pil tidur itu tak berhasil menanganinya.

Penyakit ini sudah kuderita sejak usiaku lima belas tahun. Bermula saat aku sembuh dari ketulian mendadak akibat tenggelam di kolam renang sedalam tiga meter. Aku mendapatkan kembali pendengaranku sebulan setelah kejadian itu, namun dengan tambahan kemampuan menangkap frekuensi pada jarak yang lebih jauh. Suara yang dekat terdengar memekakkan telinga, apalagi jika frekuensinya di atas rata-rata. Suara yang jauh terdengar cukup jelas, seakan sumber suara itu berada di dekatku. Bagian terburuknya adalah saat hujan turun dengan suara petir yang menggelegar. Aku harus menyumbat telingaku sedemikian rupa atau bersembunyi di tempat yang cukup kedap suara.

Selama bertahun-tahun, kepalaku sering sakit akibat tak cukup mampu menyesuaikan diri dengan suara-suara itu. Namun, waktu mengajariku beradaptasi dan menerima keadaan ini. Aku juga mulai menghitung interval frekuensi terjauh yang mampu kujangkau. Kira-kira sampai dua puluh meter, termasuk menembus benda-benda padat seperti dinding beton, kecuali dinding kedap suara dengan kualitas yang benar-benar baik.

Memang, tak ada penjelasan yang masuk akal atas kondisiku ini. Dokter yang menanganiku tak menemukan kelainan apa pun pada gendang telinga atau rumah siput atau bagian apa pun di dalam telingaku. Dan hanya dia yang mengetahui rahasia ini. Sisi baiknya, aku bisa mendengar suara-suara yang tak bisa didengar orang-orang kebanyakan. Aku bisa mendengar apa yang dibisikkan musuh-musuhku, sekaligus mengetahui apa yang dikatakan temanku di belakangku. Aku juga bisa mendapatkan informasi yang kubutuhkan untuk tujuan tertentu dengan cukup mudah. Sedangkan sisi buruknya, suara itu selalu menggangguku. Aku sulit menemukan keheningan dan kedamaian. Satu dampak yang paling mengusik hidupku adalah gangguan insomnia ini.

Berbagai cara kulakukan untuk mengatur suara-suara yang masuk ke telingaku. Cara paling praktis adalah menyumbat telingaku dengan head-phone. Mendengarkan lagu-lagu Coldplay dari album terlama hingga terbaru. Atau menyumbat telingaku dengan sumbat telinga yang belakangan kupesan dari online shop. Namun, cara-cara itu tak selalu berjalan mulus. Satu-satunya hal yang membuat semua ini sedikit lebih mudah hanyalah dengan bersikap menerima.

Setahun setelah bekerja di tempat yang menurutku amat sangat tepat, aku memutuskan untuk membeli satu unit apartemen di kawasan yang tak begitu jauh dari kantorku. Tempat ini benar-benar sempurna untukku. Letaknya di kawasan yang cukup sepi dan masih memiliki sedikit penghuni. Sengaja kupilih satu unit di lantai paling atas, dengan pilihan tempat di bagian paling sudut. Aku tak peduli dengan pemandangannya yang buruk di luar sana. Aku hanya perlu keheningan dan kedamaian.

Keinginan itu berhasil kudapatkan. Enam bulan pertamaku tinggal di sini berjalan sesuai harapan. Sampai perempuan itu datang. Sampai lelaki itu membuat kegaduhan. Sudah hampir sebulan mereka tinggal. Sudah lebih dari lima belas malam aku didera insomnia sialan. Aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikan semua ini. Untuk mendapatkan kembali kedamaian hidupku. Dan untuk menyelamatkan pekerjaanku.

Semalaman aku mencari informasi mengenai detail identitas lelaki itu. Sayangnya, dia tak memiliki akun sosial media. Informasinya pun sangat minim dalam berbagai artikel atau berita lainnya di internet. Aku harus mencari tahu siapa nama istri atau anaknya. Akan kuberi tahu mereka semua bahwa ayahnya memiliki simpanan di apartemen ini. Akan kubuat mereka mendatangi Lisa dan mengusirnya.

Sesaat aku terdiam dan berpikir. Tidakkah itu terdengar jahat bagi Lisa? Jika Lisa sampai diusir dari apartemennya, apakah ia masih punya tempat tinggal? Bagaimana jika istri dan anak dari lelaki itu bukan hanya mengusir Lisa, melainkan juga menyengsarakan hidupnya? Dan jika Lisa pergi, aku takkan pernah lagi melihatnya.

Tapi, jika Lisa masih tinggal di sini dan lelaki itu masih mendatangi apartemennya, hidupku akan semakin kacau dan pekerjaanku akan semakin berantakan. Lantas, apa yang harus kulakukan?

Kemudian kusadari bahwa tanpa kedatangan lelaki itu, suara-suara dari apartemen Lisa terdengar baik-baik saja, bahkan menyenangkan. Jadi, masalahnya adalah lelaki itu. Ya, yang harus kulakukan adalah membuat lelaki itu tidak lagi datang ke tempat ini!

*

Sudah hampir seminggu, lelaki itu tidak mengunjungi Lisa. Hidupku sedikit lebih tenang, dan insomniaku memberi sedikit waktu bagiku untuk tidur menjelang subuh. Dari pembicaraan antara Lisa dengan temannya di telepon, kudengar lelaki itu sedang melakukan kunjungan ke beberapa daerah di pelosok Indonesia dan ke negara tetangga. Selain untuk menghabiskan uang negara, juga untuk kepentingan parpol dan pribadinya. Di telingaku, tak ada hal baik yang kudengar tentang lelaki itu. Satu-satunya hal terbaik tentangnya hanyalah kenyataan bahwa dia telah mempertemukanku dengan Lisa.

Seusai mandi, kurebahkan diri di sofa sambil menonton televisi. Berharap ada berita kecelakaan pesawat pribadi yang ditumpangi lelaki itu. Tak ada suara apa-apa dari kamar Lisa. Mungkin ia belum pulang. Kemarin, kami sempat bertemu, dan Lisa menagih janji tentang kapan kami akan ngopi bersama. Dengan sikap pura-pura tak acuh, kukatakan bahwa Jumat sore lusa—yang jika diukur dari hari ini berarti besok—jadwalku luang. Lisa mengiyakan. Dalam hati, aku memekik senang.

Bel berbunyi seusai aku makan malam. Lisa datang.

“Hai. Sori. Aku baru dapat kabar, besok dia datang,” ucapnya terburu-buru, sesaat setelah aku membukakan pintu. “Jadi, ngopi barengnya bisa sekarang?”

“Er… ya, saya rasa, bisa. Tapi, kita mau ngopi di mana?”

“Di sini.”

“Di sini?”

Lisa mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. “Kamu punya kopi, kan?”

“Ya… ada. Tapi cuma kopi dari swalayan.”

“Nggak masalah. Aku boleh masuk?”

“Er… ya, s-silakan.”

Ini adalah kali pertama baginya mengunjungi apartemenku setelah sebulan kami bertetangga. Dan bisa dibilang, Lisa adalah tamu pertama yang kuterima sejak aku tinggal di sini.

“Wow. Rapi dan bersih. Jarang, lho, ada apartemen cowok yang kayak gini,” komentarnya, sambil mengamati setiap senti sudut apartemenku.

“Udah berapa apartemen cowok yang kamu datangi?” tanyaku sambil menyiapkan kopi.

Lisa tertawa. “Nggak penting udah berapa banyak apartemen cowok yang kudatangi. Yang terpenting, dari semuanya, tempatmu ini adalah yang terbaik.”

“Terima kasih kalau itu memang sebuah pujian.” Aku berjalan ke arahnya dengan dua cangkir kopi di tangan. Kuserahkan cangkir kopi di tangan kanan. “Cuma kopi instan yang diseduh dengan air dispenser.”

“Selama itu bukan air dari keran kamar mandi,” Lisa menerimanya, “Thanks.”

Kami duduk di sofa ruang TV, menikmati secangkir kopi sambil berbincang santai dan sesekali mengomentari tayangan televisi yang kami tonton. Langit sudah sangat gelap, dan hujan turun sejak sebelum Lisa datang.

Film “The Other Woman” menahan Lisa pulang. Ia bilang, ini adalah film favoritnya yang masih akan ditontonnya sampai benar-benar bosan. Yah, mungkin Lisa merasa memiliki kemiripan dengan karakter di film itu. Dan aku sungguh takkan keberatan jika Lisa tidak pulang sekalipun.

“Aku boleh tidur di sini?” Pertanyaannya membuatku terkesiap. Apakah ia mampu membaca pikiranku?

“Er… entahlah. Menurutmu, apakah tidak apa-apa kalau kamu… tidur di sini? Maksudku… er….”

Lisa tertawa. Lama-lama aku merasa konyol setiap kali bersamanya. “Kamu tuh makin lama makin ngegemesin, tau nggak?!”

“Eh?”

Serta-merta, Lisa mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Matanya menatapku tajam sekaligus lembut. Hangat sekaligus panas. Jantungku berdebar-debar kencang. Deru napasnya terdengar bagai sapuan angin di tepi pantai, dan debar jantungnya bagai gendang ditabuh-tabuh. Tahu-tahu saja, bibir kami bertemu dan saling berpagut. Dorongan itu terlalu alami untuk kucegah. Hasrat itu bergulir secara naluriah. Semakin kubiarkan, semakin menggenapkan gairah.

Tubuhku kini sudah berada di atas tubuh Lisa. Menindihnya. Bibir kami masih saling berpagut, semakin rakus melahap satu sama lain. Dadaku menekan payudaranya. Perutku bergesekan dengan perutnya. Pahanya terbuka, seolah memberi pertanda bagiku untuk mengisinya. Kami hanya tinggal menanggalkan pakaian saja.

“Kamu ingin melakukannya?” Pertanyaannya membuatku semakin bergairah. Aku mengangguk. Hasratku semakin membuncah. Jantungku rasanya mau merobek dada. Betapapun, ini adalah pengalaman pertamaku melakukannya. Ingatan-ingatan tentang adegan bercinta dalam berbagai film membanjiri kepalaku. Memintaku merealisasikannya dalam sebuah pengalaman nyata yang lebih menakjubkan.

Aku bangun sejenak untuk melepas pakaianku, kemudian membantu Lisa menanggalkan pakaiannya. Lisa memintaku mengenakan pengaman yang sudah ia persiapkan. Semuanya berjalan sempurna. Darahku semakin panas dan sebentar lagi aku berhak menyandang predikat lelaki sejati. Sampai ketika aku nyaris benar-benar melakukannya, sesuatu terjadi dan menghancurkan segalanya. Aku mengantuk. Tidak! Ini tak boleh terjadi! Aku tak boleh tertidur dalam keadaan sesempurna ini! Hei, Insomnia, kenapa kau pergi di saat seperti ini?! Sialan kau, Insomnia! Pengkhianat kau, Insomnia!

“Lis…zzz….” Dan aku pun jatuh tetidur sebelum benar-benar melakukannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s