Mengubah Masa Lalu untuk Memperbaiki Masa Depan


Coba bayangkan. Suatu hari, kamu bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai dirimu sendiri yang datang dari masa depan, masa 25 tahun dari sekarang. Kamu-Masa-Depan itu kemudian memberi banyak informasi tentang apa yang akan terjadi, apa yang harus kamu lakukan, dan apa yang harus kamu hindari, supaya kamu bisa mengubah masa depan menjadi sesuatu yang jauh lebih baik.

Apakah kamu bakal percaya begitu saja kepada orang itu? Apakah kamu bakal mendengar dan menuruti petuah dan larangannya? Ataukah kamu bakal mengabaikannya?

Itulah yang terjadi pada Na Mirae. Kehidupan gadis polos berusia 32 tahun itu mendadak kacau setelah kehadiran Na Mirae berusia 57 tahun yang datang dari tahun 2038. Na Mirae dari masa depan mengatakan bahwa Na Mirae masa kini tidak boleh menikah dengan seorang penyiar berita bernama Gim Shin karena kehidupan mereka bakal sengsara seperti yang dialami Na Mirae di masa depan. Untuk itu, Na Mirae harus melakukan banyak hal dan menghindari lebih banyak hal lagi untuk mencegah pernikahan dan kesengsaraannya itu. Satu hal yang paling penting, Na Mirae harus menikah dengan Park See Jo, seorang calon direktur YBS TV yang berpura-pura menjadi VJ di stasiun TV milik neneknya itu, yang sekaligus merupakan tempat di mana Na Mirae dan Gim Shin bekerja.

Bagaimanakah reaksi Na Mirae? Apakah ia memercayai dan menuruti kata-kata Na Mirae Masa Depan? Dan siapakah yang akan dipilih Na Mirae masa kini sebagai suami?

***

Aku yakin nggak banyak orang yang nonton K-drama yang berjudul “Marry Him if You Dare” (MHIYD) ini. Kenapa? Feeling aja *krik*. Di Asianwiki.com, ratingnya sama sekali nggak bagus. Juga, rasa-rasanya nggak banyak orang yang ngomongin K-drama ini.

Aku sendiri awalnya coba-coba nonton satu episode hanya karena tertarik dengan salah satu cast-nya (coba tebak, siapa). Setelah hanyut dalam ceritanya, aku pun mulai menyukai K-drama ini dan terus menonton sampai akhir.

Ceritanya memang kedengaran mustahil. Tapi siapa yang tahu, di tahun 2038 nanti memang bakal ada mesin waktu yang bisa membawa orang-orang berpetualang lintaswaktu dengan tujuan tertentu. Yah, sekali lagi, siapa tahu.

Oke, sekarang, anggaplah penemuan mesin waktu itu bener-bener mustahil. Bagaimanapun, MHIYD adalah sebuah karya fiksi. Aku sudah meletakkan kesadaran itu setinggi-tingginya saat menontonnya. Alih-alih menyesali karena telah dibodohi sebuah karya fiksi, aku justru selalu membuka hati untuk memahami dan menerima pesan yang ingin disampaikan karya fiksi tersebut.

Aku sangat menyukai jalinan chemistry antara Na Mirae & Gim Shin, juga Na Mirae & Park See Jo. Keliatan dan kerasa banget betapa Na Mirae dan Gim Shin saling menyukai, tapi juga saling mengkhawatirkan masa depan satu sama lain. Dan betapa hambarnya perasaan Na Mirae terhadap Park See Jo, sekeras dan sebesar apa pun usaha Park See Jo untuk meluluhkan hatinya.

Ya, cinta memang nggak bisa dipaksain. Urusan hati dan perasaan nggak bisa diatur semau diri kita sendiri apalagi orang lain. Bukan soal siapa yang lebih baik, melainkan saat bersama siapa kamu merasa lebih baik, nyaman, dan bahagia. Na Mirae tetap menyukai Gim Shin dan menganggap Park See Jo sebagai sahabat, meskipun Na Mirae Masa Depan terus-menerus mengintimidasinya dengan fakta-fakta buruk di masa depan jika Na Mirae tetap memilih Gim Shin.

Selain faktor chemistry yang kuceritakan tadi, aku pun sangat menyukai endingnya. Dan tentu saja, aku sangat menyukai pesan-pesan yang tersirat dalam K-Drama ini. Yang kutemukan dan kurasakan mungkin bakal beda dengan apa yang orang lain temukan dan rasakan saat dan setelah menonton MHIYD. Aku bahkan sempat berpikir, bagaimana kalau aku pun melakukan perjalanan waktu ke masa lalu, tepatnya ke sepuluh tahun yang lalu? Ya, tiba-tiba saja kenangan itu muncul dan sangat mengganggu. Mungkin jika aku bisa melakukan perjalanan waktu ke masa itu dan memberi tahu diriku yang berusia sepuluh tahun lebih muda itu, aku bisa memperbaiki sesuatu yang saat ini sangat kusesali. Tetapi… ah, sudahlah.

Menonton MHIYD membuatku memikirkan, menyadari, dan merenungkan banyak hal. Salah satunya adalah, bahwa bagian terbaik dari waktu yang kita miliki dan kita lalui bukanlah masa lalu atau masa depan, melainkan masa kini. Sekarang. Seperti kata Na Mirae di salah satu episode, “Kita tidak bisa mengubah masa lalu untuk memperbaiki masa depan. Tapi kita selalu punya masa kini untuk mengubah apa pun. Benar, kan?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s