Surat untuk Mhog


Hai, Mhog. Sudah beberapa bulan berlalu sejak kali terakhir kita bertemu di acara festival musik Big Mountain. Meski begitu, diam-diam aku masih berusaha untuk melihatmu di waktu-waktu tertentu. Hanya karena rindu, atau sekadar ingin tahu bagaimana kabarmu.

Kali pertama bertemu denganmu, aku seperti bertemu dengan diriku sendiri beberapa tahun lalu–aku yang masih berseragam putih-abu–dalam versi yang baru. Anggaplah aku sedang melakukan ekspedisi waktu ke masa lalu seperti Henry DeTamble di Time Traveler’s Wife. Dan pertemuan kita tentunya membuatku ingin mengatakan banyak hal kepadamu. Sayangnya, aku tak punya kemampuan berbahasa yang cukup baik. Jadi, aku hanya bisa memandangimu dalam diam. Itulah sebabnya aku menulis surat ini

Mhog, sejujurnya aku iri kepadamu. Di usiamu yang masih kelas sebelas ini, kamu sudah tahu apa mimpi dan cita-citamu. Kamu pun punya keberanian untuk berargumen dengan ayahmu dan mempertahankan semua itu. Dalam hal ini, kita tampak sangat berbeda. Saat seusiamu, aku sama sekali tidak tahu ingin menjadi apa dan harus bagaimana. Aku baru tahu apa yang kuinginkan dan kuimpikan itu sekarang, setelah tahun demi tahun berlalu dalam sesuatu yang menyerupai kesia-siaan. Dan ternyata, apa yang kuinginkan dan kucita-citakan sama dengan apa yang kamu inginkan dan cita-citakan juga.

Mengetahui semua itu akan membuatmu semakin fokus pada tujuan. Tetaplah fokus pada apa yang kamu inginkan, pada apa yang membuat duniamu terasa begitu menakjubkan. Tak perlu risau soal orang-orang di sekitarmu yang cenderung tak mampu memahami apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu lakukan.

Aku sangat paham bagaimana pemandangan seorang wanita tua–bartender pinggir jalan di depan sekolahmu bisa terlihat lebih menarik dibandingkan seorang gadis cantik yang menunggumu untuk bertemu di suatu tempat. Bagaimana kemudian kamu malah asyik memotret aksi wanita itu dibanding buru-buru menemui pacarmu yang mulai marah-marah karena keterlambatanmu.

Sama halnya dengan yang terjadi di aquarium raksasa. Di mana, kamu tampak amat sangat terpesona pada makhluk-makhluk laut itu sampai lupa waktu dan janji kencan dengan pacarmu.

Juga, saat akhirnya kamu pergi berkencan dan menonton film di bioskop bersama pacarmu. Alih-alih merespon apa yang dilakukan pacarmu terhadapmu (memegang tanganmu dan menyandarkan kepala di bahumu), kamu malah fokus pada film yang tengah kalian saksikan.

Ya, aku paham soal semua itu, sebab aku pun pernah berada di posisi sepertimu.

Mhog, jika ada seseorang yang memintamu berubah, kuharap kamu tidak serta-merta menyetujuinya. Kamu tak perlu menjadi seseorang yang mereka inginkan. Jadilah seseorang yang kamu sendiri merasa nyaman dengan menjadi seperti itu.

Aku percaya, kamu tak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarmu, kamu selalu menjadi penengah, dan kamu bukanlah orang yang suka menghakimi perliaku buruk orang lain. Itu cukup menjelaskan kenapa mereka merasa nyaman di dekatmu, dan lalu menceritakan hal-hal yang belum tentu bisa mereka ceritakan kepada orang lain. Dan meskipun kamu tak melakukan apa-apa, mereka akan tetap di dekatmu karena rasa nyaman itu.

Yang kukhawatirkan tentangmu adalah di saat kamu jatuh dalam situasi dan suasana hati yang tidak stabil. Saat kamu sedih, dan tak seorang pun mampu memahami dan meredakan semua itu.

Pada saat seperti itu, mungkin kamu akan pergi ke suatu tempat dan memotet objek-objek menarik, atau pergi ke bioskop dan menonton film seorang diri, atau mengurung diri di dalam kamar sambil membaca novel atau mendengarkan lagu. Dan jika semua itu masih belum bisa meredakan kesedihanmu, jangan khawtir, ingatlah masih ada aku. Kamu bisa menemuiku atau menghubungiku atau mengirimiku pesan. Ungkapkanlah segala yang ingin kamu ungkapkan, sampai segala beban pikiran dan perasaanmu teredakan.

Sebenarnya, masih ada banyak hal yang ingin kukatakan. Tetapi, harus kucukupkan sampai di sini, dan mungkin akan kutakan pada pertemuan kita berikutnya. Atau paling tidak, pada surat yang akan kutuliskan kemudian.

Semoga kita bisa bertemu lagi tahun ini.

D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s