Surat untuk Besok


Kepada Besok,

Hai, Besok. Kemarin malam, aku menonton film berjudul 11:00 AM. Ia bercerita tentang sekelompok peneliti yang sedang melakukan uji coba mesin waktu di sebuah markas penelitian di dasar laut. Dua orang dari mereka menjadi kelinci percobaan, masuk ke dalam mesin waktu yang membawa mereka pada satu malam yang akan datang.

Mereka berdua pun tiba di markas penelitian itu pada malam 26 Desember (CMIIW) sekita pukul 11 AM, dua puluh empat jam dari saat mereka melakukan perjalanan yang hanya berlangsung beberapa detik itu. Di sana, mereka berdua menemukan markas itu dalam keadaan porak poranda. Di antara puing-puing yang tersisa, salah satu dari mereka menemukan foto Natal bersama yang diambil para anggota tim lainnya saat kedua orang itu melakukan perjalanan lintas waktu, juga potongan kertas berisi catatan sebuah peristiwa. Tak hanya itu, mereka berdua pun bertemu–bahkan berinteraksi dengan sosok yang tak pernah mereka duga sebelumnya.

Mereka lalu kembali pada masa kini. Salah satu dari mereka awalnya diduga tertinggal di masa depan, namun kemudian ditemukan di bagian tersembunyi mesin waktu itu. Dan mereka berdua kembali ke masa kini dengan membawa hard disk berisi rekaman CCTV dari masa depan. Melalui rekaman CCTV itulah, mereka mengetahui apa yang akan terjadi dan yang akan mereka alami sampai tanggal 26 Desember pukul 11 AM itu.

Mengetahui masa depan itu ternyata menyenangkan sekaligus mengerikan. Lebih-lebih, jika apa yang kita lihat dari masa depan yang buruk itu sama sekali tak bisa diubah, sekeras apa pun kita berusaha mengubahnya. Bahkan, ketika kita mencoba lari sejauh mungkin dari tempat yang tergambar di sana, takdir akan tetap menyeret kita ke sana dengan segala cara.

Terkadang, memang ada hal-hal tentangmu–wahai Besok, yang ingin cepat kuketahui dari sejak hari ini. Seperti, apakah naskah yang kukirimkan untuk lomba bakal menang atau tidak, atau apakah surat pernyataan cinta yang kukirimkan untuk teman sekelasku akan berakhir bahagia atau lara. Tetapi, ada juga hal-hal tentangmu yang tak ingin buru-buru kutahu, seperti, apakah besok aku masih hidup atau tidak (meski mungkin untuk sebagian orang, mengetahui kapan mereka mati adalah sebuah keinginan terpendam).

Aku menulis surat ini untuk mengatakan kepadamu supaya kamu tetap berada di tempatmu, wahai Besok. Jangan datang terlalu cepat. Hari ini biarlah tetap menjadi milik Hari Ini. Jangan meniru Kemarin yang terus-terusan membayangi Hari Ini dengan kenangan-kenangan menyenangkan namun menyakitkan. Jadilah Besok yang misterius dan mengejutkan.

Sekian.

Sampai bertemu besok, Besok.

D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s