Surat untuk Windy Ariestanty


Salam kenal, Kak Windy

Pertama-tama, izinkan aku menulis surat untukmu dalam gelaran #30HariMenulisSuratCinta hari keempat ini. Dan kedua-dua, mohon maaf jika ada kesalahan dalam tata bahasa dan EyD dalam surat ini (serius, aku gugup banget waktu nulis ini).

Sejujurnya, sudah sejak lama aku ingin menyapa Kak Windy, hanya saja–entah kenapa–aku selalu merasa saatnya belum tepat saja, sampai hari ini. Ketika aku menelusuri daftar following-ku di Twitter untuk mencari akun milik selebtwit mana yang akan kukirimi surat, namamu muncul seperti bisikan jawaban di detik-detik menjelang penghabisan waktu ujian. Maklumlah, aku bukan anak gaul Twitter. Dan, di luar perbedabatan soal apa itu ‘selebtwit’, bolehlah aku punya pandangan sendiri untuk memaknainya. Dan bolehlah aku menempatkan Kak Windy ke dalam predikat itu sebagai jalan bagiku untuk menulis surat ini, meski sebenarnya aku lebih suka menyebut Kak Windy sebagai Editor dan/atau Penulis.

Kita memang tak pernah bertemu atau berinteraksi sebelumnya, baik di dunia nyata maupun maya. Jadi, Kak Windy tak perlu mengerutkan dahi untuk mencari tahu atau sekadar mengingat siapa si penulis surat ini. Yang akan kutunjukkan kepada Kak Windy ini adalah alasan kenapa kemudian aku mem-follow Twitter Kak Windy lalu diam-diam mengagumi.  Kak Windy pasti ingat pernah menulis ini sekitar satu setengah tahun yang lalu –> https://www.facebook.com/notes/gagasmedia/saya-picik/10150886618286968

Ya, gara-gara tulisan itu, aku jatuh hati kepada Kak Windy. Bagaimana tidak? “Saya Picik”. Judulnya saja sudah cukup jujur dan reflektif. Maksudku, ketika–mungkin–penulis lain berusaha mempermanis citra diri mereka di hadapan pembaca, Kak Windy justru berani tampil apa adanya. Itu membuatku merinding lantas bersimpati. Membaca kisah Kak Windy saat pertama bergabung dengan Gagasmedia, bagiku seperti menonton sebuah film drama yang membuatku jatuh hati pada cerita dan karekter si pemeran utamanya.

Orang yang mengalami penolakan berkali-kali cenderung menjadi dingin karena itulah cara yang dia tahu untuk melindungi perasaannya agar tidak sakit lagi. Hanya itu cara bertahan yang ia tahu. – Windy Ariestanty

Namun, lambat laun, saya belajar bahwa penolakanlah yang membuat saya menjadi lebih kuat dan kian tangguh. ‘Tidak’ kemudian menjadi kata penanda buat saya bahwa ada sesuatu yang perlu lebih saya gali sebelum berubah menjadi ‘Iya’. – Windy Ariestanty

Bagaimana aku tidak jatuh hati pada kalimat-kalimat itu? Aku percaya, itu bukan sekadar permainan kata untuk mencuri perhatian pembaca. Itu adalah sekelumit hikmah yang ingin dibagi Kak Windy kepada siapa saja yang memercayainya. Mungkin kedengarannya agak lucu, tetapi perjalanan hidup yang Kak Windy tuliskan dalam kisahan itu sebagian tampak seperti refleksi dari apa yang pernah kualami dalam hidupku sendiri, dan sebagiannya lagi menjadi pelajaran yang cukup berarti.

Aku memang tidak mengenal Kak Windy secara personal. Tetapi, melalui tulisan-tulisanmu yang kubaca secara online maupun yang tertulis di buku, aku melihat sosok Kak Windy seperti–lagi-lagi kukatakan–si pemeran utama dalam sebuah film drama dengan karakter yang membuatku jatuh hati kepadanya. Dengan begitu, aku bisa mengatakan bahwa karakter fiktif dalam sebuah karya fiksi tak mustahil ada di dunia nyata.

Sebelum mengakhiri surat ini, izinkan aku meminta maaf atas kelancanganku menulis semua ini. Dan setelah mengakhiri surat ini, aku akan kembali menjadi pengagum dan pembaca sunyi karya-karyamu, sampai kutemukan saat yang tepat dan kesempatan menulis surat untukmu lagi.

Salam,

D

One thought on “Surat untuk Windy Ariestanty

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s