Surat untuk Mimpi


Kepada Mimpi,

Aku selalu punya dua pertanyaan. Pertama, kenapa kamu selalu mendatangiku setiap malam–ah, tidak, tapi setiap kali aku tertidur? Kedua, apakah kamu selalu membawa pesan dalam setiap kedatangan?

Orang-orang menyebutmu Bunga Tidur. Bagiku, kamu lebih dari itu. Kamu adalah bagian utama dari tidur, seperti bagian berwarna oranye pada telur. Orang-orang tidur untuk beristirahat, sedangkan aku tidak. Orang-orang sering tidur lelap, sedangkan aku tak pernah. Bagiku, tidur adalah pintu ke mana saja yang aku tak pernah tahu tempat dan kejadian apa yang ada di baliknya, dan aku dipaksa untuk selalu membukanya. Satu hal yang pasti, di sana, aku akan bertemu kamu, Mimpi.

Kepadaku, kamu datang dalam berbagai wujud. Sesekali menyenangkan, sisanya mengerikan, dan selebihnya membingungkan. Sayangnya,n aku tak bisa memilih dan menentukan wujud apa yang akan kamu tunjukkan. Aku juga tak kuasa menghindar ketika kamu datang dalam wujud paling mengerikan.

Kamu sering mendatangiku lewat sosok-sosok hantu yang sekadar menakut-nakuti hingga nyaris membunuhku. Itulah alasan kenapa aku selalu tidur dalam penerangan yang benderang. Hanya supaya ketika bermimpi buruk, aku bisa menemukan setitik cahaya untuk lekas terjaga.

Namun, cahaya-cahaya itu kerap kuabaikan saat kamu datang dalam wujud yang menyenangkan. Mendapatkan sesuatu yang kuinginkan dan sulit kudapatkan, bertemu seseorang yang kurindukan dan sulit kutemukan, mengulang kenangan menyenangkan dan tak mungkin terulang. Aku berharap tak pernah terbangun dan selamanya hidup dalam mimpi itu, sampai aku sadar bahwa tak ada cara yang lebih menyedihkan untuk menghadapi hidup dari mengikat jiwa dalam mimpi yang lebih sempura daripada kenyataan.

Dan setiap kamu datang dalam wujud yang membingungkan, setelah terjaga aku akan bertanya-tanya, menerjemahkan pertanda, waspada, dan menjadi lebih peka. Seandainya mereka tahu aku membatalkan rencana-rencana tertentu karena kamu, bisa saja mereka menganggapku tidak rasional bahkan cenderung gila. Dan seandainya mereka tahu bahwa kamu yang lebih dulu memberi tahuku soal kecelakaan yang pernah menimpa Bapak, mereka hanya akan menggarisbawahi itu sebagai kebetulan belaka dan bukan acuan yang patut dipercaya.

Semalam, kamu datang kepadaku dalam wujud yang berbeda dari biasanya. Bukan cuma mimpi menyenangkan yang membuat dadaku hangat, melainkan juga membuatku terbahak. Seperti halnya mimpi basah yang katanya terjadi karena ada masa di mana sperma harus dikeluarkan, mungkinkah mimpi semalam berarti bahwa aku sudah mulai jarang tertawa sampai-sampai harus tertawa melalui mimpi?

Melalui surat ini, aku ingin mengatakan kepadamu bahwa aku tak lagi menolak dan mempermasalahkan kehadiranmu di setiap tidurku. Dan untuk itu, kamu tak perlu menjawab kedua pertanyaan yang selalu ingin kuajukan kepadamu, seperti yang tertulis di awal surat. Aku percaya, kamu ada untuk alasan-alasan yang bijaksana.

Yang mulai menerimamu apa adanya,
D

Iklan

4 thoughts on “Surat untuk Mimpi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s