Selubung


Aku selalu suka bermain-main dengan pertanda dan kebetulan.

Malam itu, ia hadir di dalam mimpiku. Ini adalah kali kedua aku memimpikannya sejak kami bertemu satu tahun yang lalu. Pertemuan tak sengaja yang terjadi pada saat aku melewati malam tahun baru di Bandung, tepatnya di kawasan jalan Braga. Dalam mimpiku yang pertama, ia datang sewujud kelebat bayangan yang tak bisa kutangkap, hanya dapat kulihat. Namun, senyum manisnya selalu kuingat. Malam-malam selanjutnya, aku selalu berharap bisa memimpikannya lebih dari itu, atau setidaknya sama. Kupikir, harapan hanya akan berbanding terbalik dengan kenyataan. Namun ternyata, harapan juga bisa berbanding terbalik dengan mimpi. Semakin aku berharap, semakin hampa mimpi-mimpi yang kudapat. Berbulan-bulan kemudian, akhirnya mimpi yang kuharapkan itu datang. Dalam mimpiku yang kedua, kami duduk bersisian sambil memandangi langit yang dipenuhi cahaya jingga gemerlapan. Ia menatapku, lantas tersenyum setelah aku balas menatapnya. Kami berpegangan tangan, sampai aku terjaga keesokan harinya.

Dan kemarin pagi, saat aku sedang sarapan bersama Ibu dan Bapak sambil membahas rencana perayaan malam tahun baru di Puncak, telepon rumah berdering. Uakku interlokal dari Bandung untuk berbagi kabar baik. Ia resmi menjadi Nenek. Cucu pertamanya lahir satu minggu lebih cepat. Dan syukurnya, bayi berjenis kelamin laki-laki itu terlahir selamat dan sehat. Kabar baik itu pun mengubah total rencana kami bertiga yang sebelumnya sudah bulat. Sore harinya, kami bertolak ke Bandung untuk merayakan tahun baru bersama keluarga Uak dan satu anggota keluarga baru.

Ini benar-benar sebuah pertanda dan kebetulan yang menyenangkan, bukan? Pertanda dan kebetulan yang akan menuntunku kepadanya.

Jadi, hari ini, aku sudah menyiapkan rencana supaya bisa bertemu dengan ia. Gadis cantik yang kulihat satu tahun yang lalu dan kemudian dua kali mengunjungi mimpiku itu. Namun, aku harus sabar menunggu sampai malam tiba, sebab sepertinya ia baru akan muncul pada saat-saat itu.  Bukan, ia bukan hantu. Ia masih manusia biasa sepertiku. Dulu, kami bertemu sekitar pukul dua puluh dua lewat sekian, ketika ia sedang sibuk menjual terompet dan kembang api di pinggir jalan.

Sejak pagi, hujan turun, namun tak mempengaruhi rencanaku sedikit pun. Dan seharian ini, aku mempelajari peta kota Bandung secara online. Meski sudah beberapa kali berlibur di Bandung dan berkeliling, rasa-rasanya aku masih perlu tambahan amunisi untuk menaklukkan jalanannya jika aku ingin mengendarai mobil sendiri. Kemungkinan terburuknya, Bandung bakal macet, dan aku perlu tahu jalur alternatif, minimal sepanjang rute perjalanan dari Antapani ke Braga, dan sebaliknya. Ternyata, tidak terlalu sulit untuk mempelajari jalur utamanya. Jalanan di Bandung tidaklah serumit di Jakarta.

Kukatakan kepada Ibu dan Bapak bahwa aku perlu mengunjungi seorang teman. Kebetulan, tahun ini, beberapa teman SMA-ku resmi kuliah di Bandung, dan kedua orangtuaku tahu soal itu. Jadi, ketika aku menyebutkan kata ‘teman’, mereka langsung berasumsi bahwa teman yang kumaksudkan adalah teman-teman SMA-ku itu.

“Memangnya temanmu nggak pulang ke Jakarta? Kalau gitu, ajak ke sini saja.”

Aku mengangguk. “Oke, Bu. Mudah-mudahan dia mau.” Dan sejauh ini, rencanaku berjalan cukup lancar.

Namun, orangtua tetaplah orangtua. Dan orangtuaku memang terkenal lebih protektif dibanding orangtua teman-temanku yang lain. Saat aku hendak pergi, mereka mengirimiku pengawal pribadi. Namanya Chintia, dan hari ini, ia tampak cantik sekali.

* * *

“Temen kamu ngekos di daerah Braga?” tanya Chintia saat kami dalam perjalanan.

Aku hanya mengangguk, kemudian bertanya apakah aku harus berbelok ke kiri atau ke kanan di pertigaan depan. Ia selalu menjawab dengan penuh rasa percaya diri, seakan-akan semua jalanan di Bandung ini sudah pernah ia lewati.

“Kamu nggak ada rencana taun baruan pergi ke mana dan sama siapa?” Kini giliran aku yang bertanya kepadanya setelah hening menengahi kami cukup lama.

“Ada,” jawab Chintia. Kemudian ia menatapku dan melanjutkan dengan nada ceria. “Taun baruan di kebun belakang rumah, sama kamu, Om, Tante, Mama, Papa, dan Adek. Dan rencananya, nanti kita juga bakal skype-an sama Kakak dan bayi mungilnya—kalau emang dibolehin sama suster.”

Aku menelan ludah. Merasa sedikit bersalah. Seharusnya aku tidak melibatkan Chintia dalam misi pencarianku ini. Bagaimana kalau ternyata gadis itu tidak muncul juga sampai pukul dua puluh dua, atau sampai keesokan harinya? Sementara, Ibu hanya mengizinkanku berada di luar sampai pukul dua puluh satu lewat sedikit. Ini tak akan menjadi sesuatu yang sulit jika aku pergi seorang diri. Tak mengapa jika hanya aku yang terlambat tiba di rumah Uak.

“Um… maksudku, kamu nggak ada acara sama temen-temen, atau pacar?”

Chintia tersenyum. “Temen-temen deketku udah punya acara masing-masing. Dan aku belum punya pacar.”

“Serius?”

“Kalau kamu nggak percaya, nih liat update Path temen-temenku lagi ada di mana dan ngapain.” Chintia menunjukkan ponselnya kepadaku.

“Bukan. Maksudku… serius, kamu belum punya pacar?”

Menarik kembali ponselnya, kemudian Chinta bertanya, “Memangnya aku nggak keliatan serius?”

“Sulit dipercaya aja cewek secantik kamu belum punya pacar.”

Chintia tertawa. Membuatku bertanya-tanya sendiri di mana letak kelucuan kata-kataku tadi. “Kamu bilang aku cantik? Gombal banget! Sejak kecil, kamu selalu bilang kalau aku ini cewek paling jelek yang pernah kamu liat di kolong langit.”

Ia benar. Kenangan masa kecil kami bersama-sama memang sedikit. Dan dari yang sedikit itu, aku memang tak pernah sekali pun mengakui kalau ia cantik. Saat ia bertanya, “Apa aku cantik?” sambil memamerkan pita baru di rambutnya atau pakaian putri-putriannya, aku selalu menggeleng atau berkata, “Enggak. Kamu bahkan cewek paling jelek yang pernah aku liat di kolong langit.” Kemudian ia bakal menangis, dan Ibu selalu menegurku supaya aku bersikap lebih manis kepada anak perempuan. Kurasa, cuma Bapak yang tahu kalau anak laki-laki paling gengsi berbuat seperti itu, meskipun dia tidak pernah membelaku di depan Ibu.

“Anggap aja kamu berevolusi. Dan ini beneran pujian.”

Sekali lagi Chintia tertawa. “Kamu juga berevolusi. Dulu kamu jahat dan jutek banget sama aku, sekarang jauh lebih baik. Dan ini juga beneran pujian,” ungkapnya, setelah tawanya reda.

Semasa kanak-kanak, kami saling memaki. Setelah tumbuh remaja, kami saling memuji. Lalu, apa yang akan terjadi saat kami tumbuh dewasa nanti?

“Al…,” sapa Chintia saat kami berada di kawasan pengalihan jalan yang seharusnya menuju Alun-Alun Bandung. Arus lalulintas semakin padat merayap. Dan para penjual terompet dan kembang api di pinggir jalan sudah tak terhitung lagi berapa banyak.

“Ya?”

“Kamu udah punya cewek?”

Aku menggeleng.

“Serius?”

Menatapnya, kemudian aku bertanya menggunakan kalimat yang sama dengan yang diucapkan Chintia, “Memangnya aku nggak keliatan serius?”

Chintia tertawa untuk yang kesekian kalinya, menyadari permainan bertukar dialog itu. “Sulit dipercaya aja cowok secakep kamu belum punya cewek.”

Namun, permainan itu berakhir di sana. Tiba-tiba saja, aku ingin memberi tahu Chintia sesuatu. “Kalau aku udah punya cewek, ngapain aku bela-belain dateng ke Braga?”

“Maksud kamu…?”

Aku pun menceritakan tujuanku yang sebenarnya. Mungkin kedengarannya terlalu obsesif, tetapi itulah kenyataannya. Kurasa, Chintia sudah cukup bisa memahami dan menerima situasi semacam ini. Dan karena itulah aku berani bercerita kepadanya, meskipun tidak sepenuhnya.

“Cewek itu mesti seseorang yang spesial banget.”

“Ya, tentu saja. Dia cantik dan sederhana. Manis dan bersahaja. Dan kurasa, dia juga punya hati yang baik.”

“Jatuh cinta pada pandangan pertama?”

Aku mengangguk. “Mungkin.  Tapi yang jelas, aku baru pertama kali ketemu cewek kayak dia, dan ngerasain getaran-getaran istimewa. Walaupun aku cuma ngeliat dia dari balik jendela, dan bahkan aku nggak tau siapa namanya.”

“Ha? Itu bener-bener… gila.” Setelah memberikan komentar jujur itu, Chintia kembali menunjukkan arah yang seharusnya kutempuh. Aku pun mengikuti instruksinya.

“Ya, kayaknya aku memang tergila-gila sama dia. Setelah kembali ke Jakarta, aku terus kepikiran dia. Tapi nggak ada yang bisa kulakukan selain hanya membayangkannya. Aku bahkan cuma bisa dua kali memimpikannya. Di mimpiku yang terakhir itu, aku seakan dapet pertanda, kalau aku harus ketemu sama dia, dan aku bakal ketemu sama dia. Dan kamu tau, Chintia? Pertanda itu diperkuat dengan kebetulan: kakak kamu melahirkan, dan akhirnya kami sekeluarga mengubah rencana liburan ke Puncak jadi liburan ke Bandung. Kami bahkan nggak peduli kalau tahun lalu kami melewati malam pergantian tahun di Bandung juga.”

“Dan kamu percaya pada pertanda dan kebetulan itu?”

“Entahlah. Yang jelas, aku nggak bisa mengabaikannya.”

“Oh… Al, ternyata kamu nggak cuma berevolusi dari cowok jahat jadi cowok baik, tapi juga jadi cowok gila.”

Seharusnya aku tersinggung mendengarnya, alih-alih tertawa.

* * *

Pada malam tahun baru itu, hujan turun mengguyur Bandung. Seharusnya kami datang lebih awal supaya tidak terjebak kemacetan di tengah hujan yang merusak mood. Tetapi saat itu ada beberapa hal yang harus diurus Ibu sebelum akhirnya kami bisa pergi ke Bandung, menuju hotel di mana perayaan tahun baru itu akan dilangsungkan. Pada awalnya, kami tidak berencana datang, namun Bapak merupakan salah satu tamu undangan yang sangat diharapkan kedatangannya oleh pihak penyelenggara yang tak lain adalah sahabat lamanya yang sudah lama tidak berjumpa. Dan ketika kami melewati jalan Braga karena pengalihan di beberapa bagian jalan lain itulah, aku melihat ia. Gadis cantik bersenyum manis dan berpenampilan sederhana nan bersahaja itu sedang menjajakan terompet dan kembang api pada kendaraan-kendaraan yang lewat.

Awalnya, aku tak mengacuhkannya ketika ia mendekati mobil kami dan mulai menawarkan terompet dan kembang api yang agak basah. Syukurnya, ada seorang anak laki-laki yang memayunginya. Mungkin itu adiknya—entahlah. Ia tak ada bedanya dengan penjual terompet dan kembang api yang lainnya. Hanya sedikit lebih cantik, dan semangat yang tetap membara di bawah guyuran hujan yang menjadi nilai plusnya. Sampai kemudian, ia mengetuk-ngetuk kaca jendela tepat di tempat aku duduk. Dan saat itu lah aku melihatnya. Gadis itu memiliki enam jari di bagian tangan kanannya. Tidak. Aku tidak salah lihat. Aku bahkan memastikannya dengan menurunkan kaca jendela kemudian membeli salah satu terompetnya. Pada saat itu lah aku sungguh-sungguh meyakininya. Jari tangan kanannya benar-benar berjumlah enam buah.

“Terima kasih,” ucapnya setelah kami bertransaksi, dengan senyum termanis yang pernah kulihat dari semua wajah perempuan di kolong langit ini. Segala pandangan dan penilaianku terhadapnya berubah pada detik itu. Ia yang biasa-biasa saja mulai terlihat luar biasa di mataku. Sampai mobil yang kutumpangi melaju dan meninggalkannya, aku terus berusaha untuk menatapinya.

Rupanya hatiku benar-benar tertinggal di sana. Dan karena itu lah, malam ini aku melakukan perjalanan untuk kembali menemukannya.

Chintia memintaku memutar kemudi ke arah kanan setelah mobil yang kukendarai melewati Gedung Merdeka. Melewati pinggiran sungai Cikapundung, kemudian Chintia menyaranku untuk berhenti di sebuah area parkir. Tampaknya cukup penuh. Untungnya masih ada tempat yang tersisa. Dan hujan masih turun saat kami hendak keluar dari mobil.

“Kamu mau tunggu di sini, atau…?”

Chintia menatapku dengan mata yang agak membelalak. “Menurut kamu, aku bersedia nunggu di sini?”

“Oh, baiklah. Semoga ini nggak bakal lama.”

“Semoga.”

Kami pun turun dengan berbagi payung. Menyeberang jalan, kemudian kami tiba di kawasan Braga. Ini bukan kali pertama aku berada di sini, namun rasanya seperti baru kali ini.

“Cewek itu… ciri-ciri spesifiknya kayak gimana?” tanya Chintia. “Siapa tau aku yang lebih dulu menemukannya.”

“Dia…,” aku menahan kata-kataku. Rasanya, Chintia tak perlu tahu kalau gadis itu memiliki sebelas jari tangan. “Malam itu dia pake jas hujan warna merah, dan anak kecil yang memayunginya pake jas hujan warna hitam.”

“Dan menurut kamu, malam ini mereka bakal masih pake dresscode yang sama?”

Aku menatap Chintia secara putus asa. “Entahlah.”

“Semoga itu memang warna favorit mereka.”

“Mungkin kita bisa cari dia di tempat waktu itu kami bertemu.”

“Ah, kamu mulai bisa membaca pikiranku, Al!”

Kami berjalan menyusuri trotoar. Meski hari berhujan, orang-orang masih terlihat berlalu lalang di sekitar. Toko-toko, restoran, hingga pinggir-pinggir jalan tampak dipenuhi makhluk-makhluk pemburu kesenangan. Aku sendiri tidak menahbiskan diri ke dalam kelompok itu, kecuali untuk malam ini. Meskipun kesenangan yang kumaksudkan berbeda dengan yang mereka maksudkan. Meskipun kesenangan yang kucari tak pernah sama dengan yang mereka ingin temukan.

Saat melewati sebuah restoran berdinding batu bata, aku seakan menangkap sekelebat bayangan yang begitu familier. Itu, itu pasti ia, gadis itu! Aku meminta Chintia berjalan lebih cepat supaya kami tidak kehilangan jejaknya. Namun rupanya sosok itu sudah menghilang di antara kendaraan-kendaraan dan orang-orang.

“Al, kamu yakin itu dia?” tanya Chintia, saat kami sepakat untuk berhenti di depan sebuah rolling door bergambarkan huruf-huruf gravity warna-warni.

Menatapnya, kemudian aku mengangguk, berusaha menghargai keyakinanku sendiri. Lalu kulihat arah pandangan Chintia turun menuju tangannya yang kugenggam. Serta-merta aku melepaskannya. Sejak kapan aku menggenggam tangannya? “Sorry.”

“Jadi, setahun yang lalu, kalian bertemu di sini?”

Aku menggeleng. “Kami bertemu di dekat Braga City Walk di ujung sana.”

“Lalu, kenapa kita berhenti di sini?”

“Tadi aku beneran ngeliat….”

“Kenapa? Kamu mulai nggak yakin?”

“Chintia, aku tau ini agak gila. Tapi kita udah di sini, dan rasanya hanya tinggal beberapa saat lagi kita bakal nemuin dia.”

“Oke. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu bertemu dengan dia? Dan apa yang akan kamu lakukan jika ternyata kita nggak menemukan dia?”

Aku menarik napas dalam lalu mengempaskannya. “Ini bukan soal apa yang akan aku lakukan atau apa yang nggak akan aku lakukan kemudian. Aku sendiri nggak tau. Aku hanya ingin bertemu dengan dia sekali lagi. Aku nggak mau seumur hidupku harus dibebani perasaan dan keinginan yang nggak bisa terpenuhi hanya karena aku nggak berusaha untuk memenuhinya sendiri. Kamu bisa kembali ke mobil kalau kamu….”

“Enggak, Al. Aku bakal terus nemenin kamu sampai kamu ngerasa udah cukup dengan semua ini.”

“Kamu yakin?”

Chintia mengangguk.

“Thanks.”

Setelah cukup lama berdiri menantikan sosok itu kembali namun nihil, akhirnya kami meneruskan perjalanan menuju Braga City Walk. Chintia sempat berhenti untuk membeli dua botol minuman ringan di sebuah minimarket. Kemudian kami duduk begitu menemukan bangku kosong di depan minimarket itu.

“Kenapa?” Aku bertanya kepada Chintia yang terus menerus menatapiku sejak kami duduk, sampai aku menyadarinya dan merasa sedikit terganggu.

“Enggak.” Ia tersenyum. “Aku selalu suka ngeliatin wajah seseorang yang sedang jatuh cinta. Ada banyak cerita di dalam setiap ekspresinya. Sedih, bahagia, rindu, berbunga-bunga, gundah… apa pun itu selalu keliatan indah.”

Kata-katanya membuatku sedikit terhibur. “Apa aku keliatan kayak gitu?”

Ia mengangguk, kemudian meneguk minumannya.

“Bukannya aku malah keliatan menyedihkan?”

“Sama sekali enggak. Justru aku ngeliat seorang Alnade yang sangat bersemangat.”

“Thanks.” Aku tersenyum, lalu meneguk minumanku. Ada kelegaan yang kurasakan di antara segala kekhawatiran. “Aku jadi ngerasa bersalah. Selama kita ketemu dari sejak kita masih kecil dulu sampai kemudian kita beranjak gede, aku selalu bikin kamu kesel dan nggak nyaman dengan sikapku. Aku bahkan sering berkata dan bersikap kasar sama kamu.”

“Namanya juga anak kecil, Al.” Ada tawa kecil di wajah Chintia. “Dulu aku emang sempet kesel dan benci banget sama kamu. Tapi nggak tau kenapa, lama-lama, aku jadi terbiasa. Dan setiap kali kita berpisah—ketika kamu pulang ke Jakarta atau aku yang kembali ke Bandung, aku selalu ngerasa kehilangan dan kangen sama semua momen pertengkaran kita. Aku selalu kangen dikatain jelek dan cengeng. Aku juga kangen sama sikap cuek dan jutek kamu ke aku.”

“Wow, mengejutkan.”

Chintia tertawa, kemudian lengannya menyikutku. “Kamu sama sekali nggak keliatan kayak orang yang lagi terkejut.”

Kata-katanya sekali lagi membuatku tersenyum. “Sejak dulu, aku emang nggak pernah bisa nunjukin ekspresiku yang sebenarnya lewat bahasa tubuh. Kayak ada sesuatu yang menahanku buat ngeluapin apa pun itu.”

“Iya, kamu bener. Aku pun akhirnya bisa memaklumi kenapa dulu kamu bertingkah nyebelin kayak itu. Tapi sejak dulu, aku tau, di balik semua hal menyebalkan itu, sebenernya kamu adalah seseorang yang sangat baik. Dan cewek itu udah berhasil ngelepasin selubung yang selama ini menahan ekspresi-ekspresi kamu yang paling jujur. Aku nggak pernah menduga kalau akhirnya aku bisa ngeliat wajah kamu yang lagi jatuh cinta. Itu bener-bener sebuah… evolusi yang luar biasa!”

Aku tertawa. Dalam hati, aku bertanya-tanya, bagaimana bisa gadis centil, genit, manja, dan cengeng seperi Chintia kemudian tumbuh menjadi gadis yang jauh lebih dewasa daripada aku yang berusia satu tahun lebih tua darinya? Apakah semua anak perempuan selalu lebih cepat tumbuh dewasa daripada anak laki-laki?

* * *

Hampir pukul dua puluh dua. Hujan mulai reda. Namun kami belum juga menemukan apa yang kucari. Gadis itu seakan hilang ditelan bumi. Mungkin sesuatu terjadi padanya. Sesuatu yang membuatnya tidak lagi berada di tempat ini seperti setahun sebelumnya. Atau mungkin, sebenarnya ia tidak pernah ada. Tidak. Aku yakin, gadis itu sungguh-sungguh nyata. Bahkan sangat nyata.

Sudah dua kali Ibu meneleponku, menanyakan aku sedang berada di mana dan kapan aku tiba di rumah. Aku berkata jujur pada panggilan telepon yang pertama, namun tidak pada yang kedua. Kukatakan, kami sedang dalam perjalanan pulang, padahal kami masih berkelirian di sekitar Braga City Walk.

Berkali-kali aku meminta maaf kepada Chintia, namun ia tampak berusaha meyakinkanku bahwa ia baik-baik saja. Bahwa ia selalu mendukung keputusanku. Dan bahwa ia akan terus menunggu dan menemaniku sampai aku merasa lelah dan memutuskan untuk menyerah.

Tiga puluh menit berlalu dari pukul dua puluh dua. Kakiku mulai terasa pegal, dan tampaknya Chintia pun merasakan hal yang sama. Sementara, gadis itu tak sedikit pun menampakkan tanda-tanda kehadirannya.

Ibu meneleponku lagi. Dan aku berbohong lagi.

Haruskah aku mengakhiri semua ini?

Sesaat setelah kuputuskan untuk menyerah, sekilas kulihat seseorang mengenakan jaket berwarna merah. Aku tidak mau gegabah. Aku berusaha menahan diri dari euforia kebahagiaan karena pada akhirnya aku menemukannya, supaya ia tidak menghilang lagi seperti sebelumnya. Dan kali ini, aku sangat yakin, sosok itu adalah gadis yang kucari.

“Chintia, kamu tunggu di sini. Jangan ke pergi ke mana-mana sebelum aku kembali.”

Dengan langkah pasti dan hati yang diliputi harapan dan kecemasan, aku pun pergi menuju gadis yang kucari dan selama ini ingin kutemui itu. Segalanya berjalan dalam kecepatan yang melambat saat jarak di antara kami semakin dekat. Dan dunia seakan berhenti ketika jarak yang kami miliki hanya tersisa beberapa inchi.

* * *

“Al….”

“Ya?”

“Kamu udah mau cerita apa yang terjadi di antara kalian tadi?”

Bunyi-bunyi terompet mulai mengganggu telinga. Pemandangan di hadapanku yang semula mengabur serupa bulatan warna-warni pun mulai terlihat membentuk objek-objek nyata. Apa lagi kalau bukan kendaraan-kendaraan yang memadati jalanan?

Aku benci kemacetan. Aku benci diriku sendiri yang berada di dalam situasi yang aku benci. Aku benci kenapa aku melakukan semua ini. Aku pun benci kenapa aku duduk di kursi sebelah kiri sementara seorang perempuan duduk di kursi sebelah kanan dan menyetir kendaraan.

Ternyata, harga yang harus kubayar untuk menebus segala rasa penasaran dan obsesiku adalah rasa benci ini.

Gadis itu… ternyata tidak seistimewa yang kupikirkan sebelumnya. Ternyata ia bukan seseorang dengan senyum termanis di kolong langit. Ternyata ia hanya seorang gadis biasa, yang merasa dirinya tak sempurna. Ternyata ia hanya seseorang yang membenci dirinya sendiri dan menganggap dirinya cacat karena memiliki sebelas jari tangan. Ternyata aku terlalu tinggi menilai dirinya.

Gadis itu bekerja siang malam, mengumpulkan uang untuk biaya operasi menghilangkan jari tangan kesebelasnya. Ia bilang, pada pertengahan tahun lalu, ia mendapat bantuan dari seseorang untuk meringankan biaya operasi itu. Dan operasinya berjalan lancar. Kini, gadis itu memiliki sepuluh jari tangan dan merasa dirinya normal. Ia mengaku sangat senang, dan seakan telah terbebas dari selubung yang selama bertahun-tahun menghalanginya dari kehidupan dunia manusia normal.

Dan gadis itu… tidak mengingatku sama sekali.

“Al! Ayo dong, ceritain apa yang kalian omongin tadi! Terus, kalian jadian?”

Aku menggeleng. “Dia bilang….”

“Dia bilang apa, dia bilang apa?” tanya Chintia dengan raut antusias. “Ayo cerita!”

“Dia bilang, dia bukan seseorang yang aku cari. Dan dia juga bilang, aku harus menghentikan semua kekonyolan ini.”

“Setelah apa yang kamu lakukan sampai di titik ini, dia bilang kayak gitu?”

Aku mengangguk. “Ya. Dan menurutku dia benar. Aku emang konyol dan menyedihkan.”

“Al….”

“Tapi jangan khawatir.” Aku menatap Chintia dan tersenyum kepadanya. “Aku nggak bakal patah hati karena gadis kayak dia.”

“Syukurlah.” Chintia balas tersenyum, lalu matanya kembali tertuju ke arah jalan. “Lalu, soal pertanda dan kebetulan itu… apa kamu masih percaya?”

“Tentu saja. Dan aku nggak akan pernah mengabaikannya.”

“Meskipun pertanda dan kebetulan itu nggak menuntun kamu menuju takdir yang kamu inginkan?”

“Ya. Meskipun pertanda dan kebetulan itu akhirnya justru menuntunku pada takdir lain, takdir yang nggak pernah aku pikirkan sebelumnya.” Aku kembali menatap Chintia yang tengah serius menyetir. “Chintia….”

“Ya?” ia balas menatapku, dengan sepasang matanya yang tampak indah dan bercahaya.

“Terima kasih untuk malam ini.”

“Kembali kasih.”

Perlahan namun pasti, tangan kananku bergerak mendekati tangan kirinya yang tengah berada di atas setir. Kuberanikan diri untuk menggenggamnya selama beberapa detik, sampai aku menyadari keganjilan yang tampak jelas. Keganjilan yang selama ini menjadi selubung antara diriku dengan dunia luar yang kuanggap hanya milik manusia normal—manusia-manusia berjari tangan sepuluh dan bukannya sembilan.

Kurasa, hanya Chintia yang tak pernah menganggapku berbeda. Dan mulai saat ini, aku pun tak perlu lagi menganggap diriku tak sama.

“Selamat tahun baru!” seruku, sambil meniup terompet yang kubeli dari gadis yang tak pernah menyebutkan namanya itu.

“Belum, Al! Masih dua puluh menit lagi.”

Dan, oh, kami masih terjebak di tengah kemacetan.[]

* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s