Pertarungan Melawan Monster (semacam review “White Christmas”)


“Aku terus memikirkannya
Kapan semua ini bermula
Kau menodaiku, kau membuatku terlihat menyedihkan
Kau menjadikan aku monster di pojokan
Kau membungkamku
Kau mengolok-ngolok harapan palsuku
Kau mengambil satu-satunya milikku dan menggantungnya di lehermu
Aku mengulurkan tanganku, dan kau melepaskanku
Kau menghapusku dari pandanganmu
Akhirnya, kau mengalahkanku
Selamat Natal dan Tahun Baru
Setelah 8 hari, berjalanlah ke pohon Zelkova
Di bawah menara jam, kau akan melihat mayat seseorang
Di malam Yesus terlahir, aku mengutukmu.”

_White Christmas korean drama

Itu adalah bunyi surat misterius dengan kertas dan amplop berwarna hitam yang diterima oleh tujuh orang siswa SMA Susin—sekolah dengan standard tinggi yang letaknya terasing di tengah pegunungan Gangwon-do. Dan surat itu lah yang menahan mereka untuk tetap tinggal di sekolah, sementara siswa-siswa lain, para guru, dan semua stafnya pulang ke rumah masing-masing untuk merayakan Natal bersama keluarga dan menikmati liburan selama 8 hari yang dimulai dari tanggal 24 Desember itu.

Oh ternyata, mereka nggak cuma bertujuh. Ada seorang guru yang juga ikutan tinggal di situ. Dan oh ternyata lagi, ada satu siswa badung yang bersembunyi di kamar asramanya. Dan oh ternyata lagi dan lagi, ada tambahan penghuni baru. Ialah seorang dokter/psikiater yang mengalami kecelakaan mobil dan menemukan SMA Susin dalam keadaan lampu-lampu yang menyala, dan kemudian mengharapkan pertolongan. Jadi, total ada 10 orang yang tinggal di sana.

Setengah bagian dari total 8 episode di serial White Christmas ini menceritakan upaya mereka untuk mengungkap maksud dari surat misterius itu, dan tentu saja siapa yang menulis surat itu. Satu per satu kalimat dalam surat itu ternyata memiliki keterhubungan dengan masing-masing siswa yang tertahan di sana. Kalimat-alimat itu mewakili dosa yang—disadari atau enggak—pernah mereka lakukan pada tahun sebelumnya terhadap seseorang yang akhirnya bunuh diri. Dan di pertengahan episode keempat, terungkaplah siapa si penulis surat itu dan kenapa dia melakukannya.

Itu memang bukan sebuah fakta yang mengejutkan, tetapi bagaimana ia diungkap dan reaksi para tokohnya pada saat dan setelah fakta itu terkuak amatlah mengagumkan. Dan syukurnya, White Christmas nggak cuma bercerita tentang itu saja. Ada kisah di balik kisah, ada kejutan setelah kejutan, ada banyak kalimat indah sekaligus mengerikan. Kegelisahan, kegundahan, kecemasan, ketakutan, segalanya diceritakan dengan cara yang nggak terduga dan mengagumkan.

Dan setengah bagian berikutnya, serial White Christmas pun bergulir menjadi cerita tentang pembunuh berantai, yang menguliti semua lapisan cerita hingga ke dasar, dan menjawab semua pertanyaan yang muncul sejak awal.

Pada awalnya, aku berusaha memecahkan misteri-misteri itu sendiri, namun kemudian aku menyerah dan menikmati White Christmas seperti membiarkan diri tersesat di sebuah tempat yang baru kali pertama aku kunjungi. Aku pun kemudian nggak peduli kenapa ini begini dan itu begitu, kenapa mereka memilih tindakan A dan mengabaikan tindakan B, kenapa mereka harus bersusah-susah jika ada cara yang lebih mudah. Aku nggak peduli soal itu semua. Aku hanya menonton dan menikmatinya.

Ketakutan-ketakutan yang dirasakan para tokohnya terasa begitu familier bagiku. Entah mengapa, semua itu terlihat seperti ketakutan-ketakutan yang muncul saat aku mengikuti ospek di SMP, SMA, kuliah, juga saat pelantikan OSIS dan organisasi lainnya yang pernah kuikuti. Rasa takut yang berlebihan terhadap hukuman yang diberikan senior atas tindakan sekecil apa pun, nggak peduli salah atau pun benar (dan bahkan hukumannya pun sebenernya nggak mengerikan-mengerikan amat). Rupanya, White Christmas sudah berhasil mengingatkan seseorang mengenai rasa takutnya masing-masing, meski itu terdengar sepele bagi orang lain.

Dari sekian banyaknya kalimat indah nan mengerikan yang bertaburan di semua episode White Christmas, satu yang paling menggeletikku adalah: “Takdir itu tidak membedakan siapa yang baik dan siapa yang jahat.” Ya, mungkin itu bisa dijadiin jawaban ketika kita menganggap terkadang hidup ini enggak adil. Kenapa orang baik nasibnya menyedihkan sementara orang jahat malah punya banyak kemudahan. Karena, begitulah takdir, dan inilah kehidupan.

Dan sebuah pertanyaan besar yang merangkum serial White Christmas ini pun nggak kalah menarik untuk direnungkan: apakah monster itu dilahirkan, atau diciptakan?[]

* * *

WHITE CHRISTMAS (2011)
Director: Kim Yong-Soo
Writer: Park Yeon-Sun
Network: KBS2
Episodes: 8
Release Date: January 30, 2011 – March 20, 2011
Cast:
Kim Sang-kyung as Kim Yo-han
Baek Sung-hyun as Park Mu-yeol
Kim Young-kwang as Jo Young-jae
Lee Soo-hyuk as Yoon Soo
Kwak Jung-wook as Yang Kang-mo
Hong Jong-hyun as Lee Jae-kyu
Esom as Yoon Eun-sung
Kim Woo-bin as Kang Mi-reu
Sung Joon as Choi Chi-hoon
Jung Suk-won as Yoon Jong-il
Lee El as Oh Jung-hye

(Thanks to @reginafeby yg udah ngasih file serial ini plus subtitle indo-nya plus lain-lainnya)

One thought on “Pertarungan Melawan Monster (semacam review “White Christmas”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s