Potong Rambut


“Mau dipotong model apa?”

Perlu waktu lama bagiku untuk berpikir sebelum akhirnya menjawab, “Terserah Mas aja, bagusnya gimana….”

Dan si mas yang sedang memegang mesin cukur rambut pun ikutan berpikir lama sebelum akhinya berkata, “Kan Masnya yang punya rambut, jadi ya terserah Masnya aja.”

Lalu kami sama-sama terdiam dalam rentang waktu yang sangat panjang. Sampai barbershop itu tutup.

Nggak. Semua itu hanya ada dalam imajinasiku aja di setiap detik-detik pertama aku duduk di tempat itu. Selebihnya, aku memasrahkan segalanya–termasuk nasib penampilanku selama berbulan-bulan ke depan–kepada si tukang cukur. Kalau hasilnya bagus ya syukur, kalau ternyata jelek ya ancur.

Waktu kecil, aku paling males potong rambut. Mama perlu memaksaku dengan cara-cara yang nggak bisa kutolak supaya akhirnya aku (terpaksa) bersedia menjalaninya. Dan selama proses pencukuran itu berlangsung, Mama bakal duduk di sebelahku dengan sepasang mata yang lebih mengerikan daripada mata seekor ikan. Aku cuma bisa nangis saat merasa berada di puncak kejenuhan sementara prosesi potong rambut itu belum juga selesai. Dan aku pun bakal semakin histeris saat mendapati kepalaku plontos habis.

“Biar kamu nggak sering-sering potong rambut,” alasan Mama, selalu. Meskipun tetap saja, bulan berikutnya, saat rambutku sudah kembali panjang, Mama bakal kembali memaksaku memotong rambut.

Terkadang aku merasa, pertumbuhan rambutku memang lebih cepat dibanding anak-anak seusiaku pada umumnya. Jadi, aku sedikit lega ketika pada usia belasan, aku sudah mulai menemukan uban.

Dan seiring waktu berjalan, aku mulai menemukan kesadaran dan keikhlasan untuk memotong rambut. Saat SMP, jadwal memotong rambut itu masih ditentukan Mama. Namun ketika SMA, aku mulai berani mengatur sendiri. Gara-garanya, saat pelajaran Seni Rupa yang gurunya adalah wali kelasku sendiri, aku pernah kena razia rambut. Syukurnya, sanksi yang kuterima bukan berbentuk pencukuran rambut semena-mena. Wali kelasku hanya memasangkan jepit rambut di kepalaku selama pelajaran Seni Rupa belangsung. Dan itu jauh lebih memalukan.

Sejak itu, aku mulai sadar harus memotong rambut ketika ujung poniku sudah menyentuh alis dan sisi-sisi rambutku menutupi kuping. Sampai akhirnya aku menemukan tukang cukur rambut langganan.

Selama SMA sampai kuliah, aku selalu potong rambut di tempat itu. Ya, tentu saja karena murah dan hasilnya cukup rapi. Dan yang paling penting dari memiliki tempat cukur langganan adalah, aku nggak perlu repot ngejelasin mau potong rambut model apa. Cukup jawab, “Kayak yang biasa.” Apalagi kalau kebetulan tukang cukur yang menanganiku orangnya itu-itu juga. Dan aku sampai punya tukang cukur kesayangan, sampai-sampai pernah rela nunggu dia nyelesein tugasnya menangani konsumen lain, padahal ada tukang cukur yang nganggur. Tapi emang nggak sering kayak gitu. Yang terjadi adalah, aku harus mau ditangani tukang cukur yang mana aja, yang tersedia.

Kalau ada tukang cukur kesayangan, pasti ada tukang cukur menyebalkan. Bukan tanpa alasan. Bukan lantaran dia enggak ganteng. Bukan juga karena hasilnya buruk. Tapi karena cara dia mencukur cenderung kasar. Saat dia mengarahkan kepalaku untuk miring ke kiri atau ke kanan atau tengadah atau menunduk, dia melakukannya seperti seseorang yang daripada-nganggur-terpaksa-jadi-tukang-cukur. Kepalaku jadi terasa ditoyor-toyor seenaknya. Kan nggak sopan.

Sejak beberapa bulan yang lalu, aku udah mulai nggak pernah potong rambut lagi di sana. Nggak ada alasan yang penting sih, cuma mungkin bosen aja. Pengin cari suasana baru. Jadilah aku coba-coba potong rambut di berbagai tempat. Dari mulai yang aroma shampo dan hair tonic-nya wangi buah dan aromatherapi, sampai yang aromanya bikin pengin keramas ulang di rumah. Dari yang tukang cukurnya kekar sampai yang melambai.

Namun, di mana pun aku potong rambut, hasilnya selalu sama. Gini-gini aja.

Ya, mungkin karena tiap kali masuk tempat potong rambut dan ditanya mau dipotong model apa, jawabanku tetep sama, “Terserah….” atau “Kayak yang biasa.”[]

One thought on “Potong Rambut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s