Tentang Kesempatan dan Kesiapan


Aku selalu ingat, kamu pernah bilang, cuma ada satu kali kesempatan untuk setiap hal. Kesempatan yang datang kedua kali itu namanya keajaiban.

Beberapa waktu lalu, seorang teman yang sudah cukup lama absen dari lingkaran komunikasi kami, kembali menghubungiku. Menanyakan kabar. Mengungkapkan penggalan cerita tentang hidupnya belakangan. Agak mengejutkan, dia bilang dia sedang menjadi pengangguran.

Dia bercerita bahwa pengunduran dirinya bukan semata-mata karena keinginannya sendiri. Betapapun, pekerjaan itu sangat dia damba-dambakan sejak lama, sejak dia masih bekerja di bidang pekerjaan yang sama sekali berbeda. Dia sangat bahagia dan antusias ketika pada akhirnya dia berhasil mendapatkan pekerjaan itu, pekerjaan menulis berita di sebuah kantor surat kabar terkemuka di Jakarta. Bulan demi bulan berlalu, sampai kemudian atasannya bilang bahwa dia tidak “cocok” menulis berita. Entahlah, dia bilang, dia sendiri tidak mendapat penjelasan yang memuaskan soal itu.

Lalu, pembicaraan kami berlanjut ke soal dia mengikuti beberapa tes dan interview di media lain. Bahkan soal tawaran dan kesempatan bekerja dari perusahaan asing, sekitar satu minggu setelah dia berhenti bekerja. Namun, dia bilang, saat mengikuti tes dan interview, pikirannya masih kacau, belum fokus, bahkan sebagian jiwanya masih tertinggal di kantor lamanya. Akibatnya, hasil tes dan interviewnya kurang maksimal. Penyesalan pun datang kemudian.

“Yah, emang sih, bener kata mbak Agmon. Sukses itu intersection point antara kesempatan dan kesiapan.”

Kata-katanya langsung kuiyakan. Ya, ini tentang kesempatan dan kesiapan.

Lantas, aku pun bercermin pada hidupku sendiri. Ada beberapa kesempatan yang datang padaku, namun kusambut tanpa kesiapan. Akhinya, kesempatan itu tak lebih dari sekadar hiburan yang lewat dalam waktu yang begitu singkat.

Seharusnya aku tidak hanya bersyukur dengan sekadar ucapan terima kasih kepada Tuhan atas kesempatan demi kesempatan yang diberikan untukku sejak awal tahun 2013 hingga sekarang, melainkan juga memperlakukan kesempatan itu sebagaimana seharusnya. Tetapi…

Aku malah menolak beberapa tawaran freelance yang sebenarnya lumayan untuk menambah uang jajan. Dengan segala kemampuan berbahasa verbalku yang pas-pasan, aku berusaha menolaknya sebaik dan seelegan mungkin. Alasan sebenarnya kedengaran sangat konyol. Aku sudah cukup lelah bekerja selama 8 jam di kantor, dan sisanya ingin kuhabiskan dengan melakukan hal-hal yang kusukai saja, seperti menonton DVD, membaca buku, atau menulis. Ya, menulis.

Namun ironisnya, aku pun ternyata malah menyia-nyiakan beberapa tawaran menulis, dari mulai proyek menulis secara indipenden, bahkan sampai tawaran menulis dari beberpa penerbit ternama.

Ternyata aku belum siap dengan kesempatan-kesempatan berharga itu.

“Kamu cuma belum siap, bukan enggak siap. Dan kamu enggak bener-bener menyia-nyiakan semua itu, kan? Penolakan-penolakan dan kebelumsiapan kamu itu bukan sebuah kegagalan. Itu justru pilihan dan keputusan yang kamu ambil dengan penuh keyakinan. Seenggaknya kamu udah bisa menentukan sikap dan mengambil keputusan. Bukankah kamu selalu bilang kalau kamu adalah orang yang paling sulit mengambil keputusan dan penuh keragu-raguan?”

Omong kosong. Kamu hanya sedang berusaha membesarkan hatiku dengan segala cara. Seperti biasa. Bagaimana kalau ketika aku mulai punya kesiapan, kesempatan itu malah tak kunjung datang?

“Kesempatan itu bisa diusahakan. Ketika kamu sudah punya kesiapan, ya berusahalah mencari kesempatan. Takdir Tuhan saja bisa diubah dengan doa dan usaha yang sungguh-sungguh, apalagi kesempatan. Jadi, poin utamanya bukanlah tentang kesempatan, melainkan kesiapan.”

Ya, kamu benar. Aku tahu semua itu memang terdengar mudah saat dibicarakan, dan terasa sulit saat direalisasikan.

“Termasuk soal kita berdua?”

Maksud kamu?

“Jangan pura-pura lugu. Semalaman kita saling berpelukan. Kita saling memberikan kesempatan….”

Sudahlah.

“Kenapa? Kamu belum siap?”

Aku belum siap kehilangan. Dan rasanya tidak akan pernah siap.[]

Iklan

5 thoughts on “Tentang Kesempatan dan Kesiapan

  1. hihihi. saya juga sering begitu,
    saya juga slalu berpikir hidup seimbang, bekerja, belajar dan bermain. makanya abis kerja sekaligus kuliah saya lebih suka ngabisin waktu nonton film ketimbang ambil proyek2 freelance 😐

  2. Cieilleeee.. sekarang Dadun udah mulai ambil kesempatan untuk berdua-duaan yaa? seperti malam itu? ckckckck..
    Yaa, kesempatan memang hanya datang satu, kalau pun ada kesempatan ke2, 3 dst.. gregetnya pasti sudah tidak sama. Kalau pun sama.. mungkin bukan kesempatan itu yang kita inginkan. 🙂

  3. aduh aduh . . sling brpelukan sling memberikn ksempatan. . cie elh kta2.y gt amat :p
    hehe ya bnr jga sie. . q jga org seprti kk yg bingungan dlm mengambil kptsn. .alhasil gx mlih 2 2.y . . ujung2.y nyesel. .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s