Drama Setelah Drama


Apa yang sering kamu rasakan setelah menonton film atau membaca novel?

Terkadang aku merasa sebagian dari diriku masih tertinggal di dunia paralel sana, di dalam cerita yang baru saja kutonton atau kubaca. Atau sebaliknya, sebagian dari diri tokoh-tokoh di dalam cerita itulah yang tinggal bersamaku di sini.

Gambar

Beberapa waktu lalu, aku menonton film indie Korea berjudul “Bleak Night”. Bercerita tentang persahabatan tiga orang anak laki-laki yang masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Ada karakter paling dominan, karakter pertengahan, dan karakter paling rapuh. Awalnya persahabatan mereka seperti halnya persahabatan anak-anak lain pada umumnya. Sampai pada suatu ketika, timbul sebuah konflik di antara si karakter paling dominan dan paling rapuh. Kemudian timbul lagi konflik di antara si karakter pertengahan dengan yang paling dominan. Sampai akhirnya persahabatan di antara mereka tinggal kenangan. Salah satu tokohnya memutuskan untuk pindah sekolah. Satunya lagi memilih bunuh diri. Dan yang terakhir memilih untuk tidak menghadiri pemakaman sahabatnya dan kemudian menghilang.

Gambar
Dari pertengahan film sampai ke akhir, dadaku terasa sesak bukan main. Segala pelik manis pahit persahabatan selalu menjadi sesuatu yang membuatku geregetan. Juga membuatku merenung cukup dalam. Bagaimana bisa sebuah persahabatan yang solid kemudian menjadi lerai dan berantakan karena ego masing-masing, lebih-lebih karena masalah-masalah kecil? Kenapa kita masih perlu pengakuan tentang siapa yang lebih hebat dan paling benar di antara diri kita satu sama lain? Dan pada akhirnya, kamu harus memilih, apa yang akan kamu pertahankan dan apa yang akan kamu korbankan?

 

Gambar

Di salah satu bagian klimaks cerita, digambarkan tentang bagaimana si karakter yang satu meminta maaf kepada karakter lain. Alih-alih dimaafkan, dia malah dicecar dengan kata-kata yang teramat sangat menusuk harga dirinya. Bayangkan, sahabat baikmu mengatakan bahwa satu-satunya orang yang patut dipersalahkan atas segala kekacauan ini adalah kamu sendiri.

Gambar

Beberapa saat setelah film selesai, perasaanku sempet nggak keruan. Oh ini benar-benar menyebalkan. Kalau soal menangis atau enggak, well, itu nggak perlu lagi dipertanyakan. Dan biasanya setelah melewati fase itu, semuanya kembali normal. Tapi kali ini enggak. Ada hal-hal yang terus menerus kepikiran. Ada banyak bagaimana dan kenapa yang semakin dicari tahu jawabannya semakin terasa menyesakkan, lalu menyakitkan.

Mendiskusikan film ini dengan KaFeb, perasaanku malah makin nggak keruan setelah KaFeb memberikan komentar, “If you’re hurting coz of your friend, think for a while, they must be hurting too. You’re not the only ones who’s hurting.”

Untuk itu, aku perlu menetralisir diri dengan menonton film-film yang lebih ringan dan menyenangkan. []

3 thoughts on “Drama Setelah Drama

  1. Daduun, aku sering banget ngalamin itu kalau abis nonton film bagus. Jetlag. Drama seri Korea yang bikin jetlag lama itu “Beethoven Virus” sama “Ghost 2012”. Sampai sebulananlah jetlagnya. Jadinya berusaha keras buat ngalihin pikiran dengan nonton banyak film dan baca banyak buku.
    Keren ya karya-karya yang bikin jetlag itu.

    • iya, keren kalau bisa bikin karya yg bikin orang-orang jetlag >.<
      wah, Beethoven Virus sama Ghost 2012 wajib dicari nih. film kayak gini tuh guilty pleasure banget ya. bikin perasaan ga keruan, tapi tetep dinikmati diam-diam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s