Simple Thing Called Happiness


Kamu pernah punya keinginan sederhana yang terasa sulit untuk diwujudkan?

Aku punya. Banyak. Salah satunya adalah keinginan naik kereta api.

Sebut saja aku norak. Seumur-umur belum pernah naik kereta api. Penyebab utamanya adalah karena aku dan keluargaku nggak pernah punya tempat tujuan yang mengharuskan kami naik kereta api. Jadi, setiap kali berada di lampu merah perlintasan kereta api, aku selalu bertanya-tanya di dalam hati, gimana sih, rasanya naik kereta api?

Keinginan itu cuma jadi keinginan di dalam hati. Aku pernah mengajak teman-temanku naik kereta api. Beberapa kali. Tetapi sayangnya mereka punya kesibukan sendiri-sendiri dan aku pun harus menghargai kehidupan pribadi mereka. Dan aku pun harus menyadari bahwa keinginanku itu terlalu absurd dan kedengaran konyol buat mereka dan buat siapa saja. Aku cuma ingin naik kereta api, ke mana pun, tanpa tujuan pasti. Cuma ingin naik kereta api. Cuma ingin merasakan sensasi berada di dalam kereta api yang sedang berjalan. Konyol, kan?

Ya, buat orang lain itu konyol. Tapi enggak buat diriku sendiri. Keinginan untuk naik kereta api sama pentingnya dengan keinginan untuk… naik kereta api. Ya, nggak bisa dibandingkan dengan apa pun. Pokoknya, itu penting.

Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi sendirian. Hei, bukankah nggak ada larangan untuk naik kereta api sendirian?

Ternyata ada. Dan larangan itu berasal dari mulut kedua orangtuaku.

Kedengarannya memang lucu. Mereka bahkan lupa kapan terakhir kali mereka naik kereta api. Dan aku curiga, jangan-jangan mereka nggak pernah naik kereta api. Tapi, mereka bilang begini, “Jangan naik kereta api sendirian. Bahaya. Banyak copet berkeliaran di kereta.”

Duh. Apa-apaan, coba?

Tapi sebagai anak yang berbakti pada kedua orangtua, aku pun menurut saja. Aku belum tahu gimana rasanya jadi mereka. Mungkin suatu saat nanti, ketika aku berada di posisi mereka, aku bakal tahu dan ngerti kenapa mereka begitu, kenapa mereka begini. Jadi, aku menuruti mereka dengan harapan semoga itu menjadi tabungan karma baik buat kehidupanku kelak. Oke, mulai ngelantur. Kembali ke soal naik kereta api.

Yah, keinginan naik kereta api pun kedengarannya jadi benar-benar sulit untuk diwujudkan. Awal tahun 2013 ini aku sudah merencanakan hal itu, namun sampai Agustus ternyata belum bisa terealisasikan. Hei, jangan semena-mena menilaiku kalau kamu nggak tahu gimana rasanya ada di posisiku. Tapi terserah, sih. Yang jelas, kamu bakalan nggak betah jika sehari aja jadi aku. Tapi syukurnya aku betah-betah aja, tuh. Hmmm… mulai ngelantur lagi.

Nah, akhirnya… penantian panjang itu terjawab. Pada hari Minggu terakhir di bulan September kemarin, aku bisa mewujudkan keinginan itu. Enggak sendirian, enggak juga rame-rame. Cuma berduaan. Tapi bukan sama pacar. Dia seorang temen baik, yang ternyata juga sama-sama belum pernah naik kereta api.

Image

Jadi, hari Minggu itu aku bangun lebih awal dan lebih semangat daripada biasanya. Mandi tanpa perasaan malas. Sarapan seperti biasa. Lalu pergi menuju stasiun kota.

Image

Jam 8 lewat sekian, aku tiba di sana. Langsung berjalan menuju loket, menanyakan jadwal keberangkatan ke… oke, aku baru saja menemukan tujuan perjalananku, yaitu ke Cicalengka! Jadwal keberangkatan kereta patas adalah pukul 9. Jadi, aku bisa berlega hati menunggu temanku yang masih berada di kosannya.

Image

Tak berapa lama kemudian, temanku datang. Dan sebagaimana orang yang baru berkunjung ke stasiun dan sudah memiliki dua tiket di tangan, naluri norakku kembali muncul. Oh, enggak. Mari kita sebut ini sebagai naluri fotografer. Sambil menunggu kereta datang, kami berfoto ria.

Image

Detik-detik menuju kedatangan kereta terasa begitu mendebarkan. Rasanya kayak pertama kali mau ciuman. Seneng, takut, degdegan, pokoknya campur aduk nggak keruan. Ya, sebutlah aku berlebihan. Tapi sensasi itu memang beneran ada dan cuma orang yang ada di poisis itu yang bisa tahu dan ngerti gimana rasanya.

Image

Setiba di kereta, ternyata rasanya lebih menyenangkan dari yang pernah aku bayangkan. Dan suasananya pun enggak seseram yang diilustrasikan kedua orangtuaku atau siapa pun yang mencoba menakut-nakutiku. Enggak sama sekali. Keretanya bagus dan bersih—hmm… nggak bisa ngebandingin dengan kereta mana pun, karena ini kereta pertama yang kutumpangi. Jadi, aku beneran nggak tau apakah kondisi itu bisa disebut bener-bener bagus dan bersih di mata orang yang sudah berkali-kali naik kereta yang berbeda. Buatku, kondisi seperti itu sudah bisa dibilang cukup.

Image

Image

Saat di perjalanan, seperti kebanyakan anak muda remaja belia pada umumnya, aku mengapdet status di facebook (masih musim? iya dong) dan di BBM, kalau aku sedang naik kereta. Lalu, beberapa orang nge-chat, rata-rata bertanya, mau pergi ke mana. Ada juga yang bertanya, sama siapa. Dan ada juga yang bilang, wah akhirnya bisa terealisasi juga, selamat ya. Hahaha. Waktu aku jawab, cuma mau naik kereta api ke Cicalengka dan kemudian pulang lagi ke Bandung, mereka tertawa, dan malah ada yang bilang, geblek, ngapain kayak nggak ada kerjaan. Tapi itu nggak masalah sih, buatku. Aku juga bisa tertawa balik dan mengatakan bahwa, menertawakan kebahagiaan sederhana orang lain nggak bikin kamu keliatan lebih keren dan penting, kok. Tapi ya aku nggak bener-bener bilang, cuma disimpen di dalam hati, dan ditulis di blog ini.

Image

Perjalanan Bandung – Cicalengka menghabiskan waktu 1 jam. Entahlah, itu bisa dibilang cepat atau lambat. Yang jelas, aku benar-benar menikmati setiap detiknya.

Image

Pukul 10 kurang sekian menit, kami tiba di stasiun Cicalengka. Aku dan temanku saling berpandangan dan bertanya mau ke mana lagi kita. Dan kami sama-sama tak punya ide. Setelah duduk-duduk sebentar merasakan ketidaknyamanan berada di stasiun Cicalengka, kami berjalan menuju loket dan membeli tiket pulang dengan jadwal keberangkatan pukul 10:10. Ya, kami cuma duduk beberapa menit sebelum akhirnya pulang. Dengan kereta api yang sama.

Image

Setiba kembali di Bandung, rasanya lebih dari sekadar menghabiskan waktu dua jam menikmati perjalanan yang kata mereka nggak penting itu. Terserah orang mau bilang apa, yang penting aku bahagia.

Ah, ternyata, di dunia ini masih ada banyak orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan itu selalu tentang hal-hal yang besar.

Iklan

8 thoughts on “Simple Thing Called Happiness

  1. Nginget-nginget, aku ngetawain kamu gak ya, waktu nanya di bbm soal naik kereta ini? Hihihi.
    Kesampean juga ya, Daduun. Horeee ^_^
    Btw, aku juga sukaaaa bangeeet naik kereta. Dan paling suka perjalanan malam ke Jogja. Suatu hari nanti cobain ya 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s