Yang Belum Kuceritakan Tentang Aku dan @nulisbuku


Pada suatu hari dengan tanggal, bulan, dan tahun yang terlupakan, seorang teman memberitahuku tentang sebuah penerbit indipenden bernama Nulisbuku . Yang kuingat, saat itu Nulisbuku memulai debutnya dengan menerbitkan karya-karya penulis indipenden yang jumlahnya tidak sedikit–sekitar seratusan–dan temanku merupakan satu di antaranya. Aku merasa lumayan tertarik, tetapi saat itu belum ada karya yang bisa kuterbitkan.

Lalu, pada suatu hari yang lain, sekitar bulan Mei 2011, aku membaca pengumuman kompetisi yang diadakan oleh penerbit indipenden lainnya–ya, saat itu boleh dibilang tahun kebangkitan penerbit indipenden. Ketertarikanku didukung sejumlah cerpen yang kurasa cukup memadai untuk kuterbitkan secara indipenden.

Mulailah aku mengumpulkan cerpen-cerpen itu, mengedit, mengedit, dan mengeditnya sedemikian rupa. Setelah cukup yakin untuk mengirimkannya, sesuatu yang tak bisa kujelaskan mengubah rencanaku secara total.

Alih-alih mengirimkan naskahku ke kompetisi itu melalui email, aku malah membuka halaman web Nulisbuku, dan mempelajari bagaimana cara mengunggah naskah ke sana. Sebutlah aku impulsif, karena memang demikian adanya. Hari itu juga aku sudah paham tentang apa yang akan kulakukan setelah membaca petunjuk dari halaman web Nulisbuku.

Keputusanku itu tidaklah gambling. Sebelumnya, aku sudah membeli satu eksemplar buku yang diproduksi Nulisbuku dan hasilnya sangat memuaskan. Tampilan dan kemasannya setara dengan buku-buku konvensional yang diterbitkan penerbit mayor (ah sayang, bukunya sedang dipinjam, jadi aku tak bisa memotretnya). Soal tampilan, kurasa itu memang tergantung kreativitas si penulis dan tim perancangnya. Yang kunilai adalah bahan kertas yang digunakan untuk sampul dan isi, juga kualitas tinta. Dan menurut penilaianku, Nulisbuku memiliki kualitas yang bagus untuk itu.

Aku pun bekerja cukup keras selama dua malam untuk menyalin-tempel naskah kumpulan cerpenku ke dalam template standard Nulisbuku dan merancangnya sedemikian rupa. Itu adalah pengalaman pertamaku merancang tata letak sebuah buku. Pengalaman pertama yang sangat menyenangkan. Sebagai pembaca, aku menyukai tata letak buku yang sederhana dengan pemilihan jenis huruf dan ukuran yang sesuai dan penambahan ornamen atau objek yang terlihat proporsional dan meneduhkan. Maka, aku pun memberlakukan prinsip-prinsip itu dalam pengerjaan tata letak calon buku-ku.

Layout Kupukupu-Kupukupu di Dalam Perutku (1)

Layout Kupukupu-Kupukupu di Dalam Perutku (1)

Layout Kupukupu-Kupukupu di Dalam Perutku (2)

Layout Kupukupu-Kupukupu di Dalam Perutku (2)

Selanjutnya, aku mulai merancang sampul. Itu bukan pengalaman pertamaku. Sebelumnya, aku pernah mendesain sampul untuk beberapa buku karya teman sesama penulis indipenden. Kupikir, itu akan jauh lebih mudah, tapi ternyata aku salah. Sesusah-susahnya memuaskan orang lain, ternyata jauh lebih susah memuaskan diriku sendiri. Perlu waktu yang sedikit lebih lama bagiku untuk meluluhkan hatiku sendiri.

Kupukupu-Kupukupu di Dalam Perutku (Kumpulan Cerita di Kala Jatuh dan Patah Hati)

Kupukupu-Kupukupu di Dalam Perutku (Kumpulan Cerita di Kala Jatuh dan Patah Hati)

Dengan perasaan senang bercampur degdegan, aku mengunggah naskahku setelah melewati malam-malam panjang penuh kelelahan yang menyenangkan. Dan ada kebahagiaan tak terbayar bernama kepuasan dan kebanggaan, saat akhirnya buku itu tiba di rumahku sekitar dua minggu kemudian. Rasanya aku baru saja menjadi seorang Ayah sekaligus Ibu yang sedang menimang bayi mungilku. Bayi itu kuberi nama “Kupukupu-Kupukupu di Dalam Perutku”.

Itu memang bukan pengalaman pertamaku memiliki sebuah buku yang mencantumkan namaku di bagian sampulnya. Tahun 2009, sebuah penerbit major menerbitkan buku kumpulan cerpenku yang berjudul “Lovaskeptika”. Jujur saja, aku kurang puas dengan penampilannya–tapi ya sudahlah, aku cukup bersyukur dengan pencapaian itu. Namun, saat melihat si “Kupukupu”, aku merasa cukup puas. Aku bisa bilang ke orang-orang: hei, selain menjadi penulis, aku juga menjadi perancang sampul, penyunting naskah, dan penata letak buku itu! Jadi, itu benar-benar proyek indipendenku. Jadi, itu benar-benar bayi hasil reproduksiku… dengan diriku sendiri… (?) Err… Lupakan.

Dan tentu saja, tak boleh kumungkiri, hasil kerja kerasku itu didukung dan disempurnakan kualitas cetak, dan kualitas kertas yang dimiliki Nulisbuku. Terima kasih ya, Nulisbuku.

Setelah merasa cukup puas (karena aku tidak boleh langsung merasa puas dan sangat puas) dengan proyek “Kupukupu-Kupukupu di Dalam Perutku”, tahun berikutnya aku dan beberapa temanku membuat proyek keroyokan yang akhirnya berjudul “Kisah-Kisah yang Tak Boleh Dikisahkan” dan tentu saja kuterbitkan di Nulisbuku. Proses penyuntingan naskahnya dibantu dua orang temanku, namun untuk desain sampul dan tata letak buku, lagi-lagi menjadi bagianku. Teman-temanku bilang mereka cukup puas, sementara aku merasa lemas. Err… Ya, sama-sama cukup puas.

kisah-kisah yang tak boleh dikisahkan

Keberadaan Nulisbuku benar-benar sangat membantu para penulis indipenden sepertiku. Boleh dibilang, itu adalah jawaban atas doa yang pernah kupanjatkan secara diam-diam, dulu. Saat aku mulai suka dan rajin menulis. Saat aku mulai menghitung jumlah cerpenku dan menemukan kesenangan atas hal itu. Saat aku kemudian mendapatkan ide untuk membukukan cerpen-cerpenku, dengan caraku sendiri.

Oh, ternyata, aku baru ingat bahwa pengalaman menata letak buku sudah kulakukan sejak saat itu. Saat kuliah, aku rajin menulis cerpen, lalu aku print dan kufotokopi, kusebar ke beberapa teman kampusku dan kuminta komentar dari mereka. Setelah mencapai jumlah tertentu, aku pun mulai membukukannya. Dan, ya, aku melakukan segalanya secara mandiri. Kecuali bagian mencetaknya. Saat itu, belum ada penerbit indipenden sama sekali. Jadi, satu-satunya tempat yang memungkinkan adalah tempat fotokopi.

Ada dua buku yang kubuat (hanya untuk kesenangan pribadi, dan beberapa pernah kuberikan sebagai hadiah untuk teman). Yang pertama berjudul “Cerita Pendek untuk yang Anunya Tidak Pendek”, dan yang kedua berjudul “Saya Bukan Cerpenis, Hanya Manusia Berpenis”. Ukurannya setengah A4, dan kubuat dengan format buku pada umumnya.

cerita pendek untuk yang anunya tidak pendek

Dengan adanya Nulisbuku, aku tak perlu repot-repot pergi ke tempat fotokopi dan menjelaskan detail keinginanku kepada Mas-Mas atau Mbak-Mbak yang melayaniku hingga membuat mereka tampak begitu kerepotan karena kemauanku lumayan banyak. Aku hanya perlu koneksi internet.

Aku pernah menyarankan beberapa temanku untuk mengunggah naskah ke Nulisbuku. Tanpa ragu-ragu aku akan memberikan informasi selengkap-lengkapnya kepada mereka. Bahkan menjawab hal-hal yang tidak ada dalam daftar pertanyaan mereka. Saking terlalu bersemangatnya, ada beberapa di antara mereka yang mengira aku bekerja di Nulisbuku, sebagai staf promosi atau bagian pracetak. Mendengarnya, aku hanya tertawa. Kukatakan, tentu saja tidak. Aku hanya senang berbagi pengalaman dan sesuatu yang kutahu dan benar-benar berkesan untukku. Termasuk ketika mereka mengungkapkan kebingungan tentang bagaimana cara membeli buku di Nulisbuku, aku akan dengan senang hati menjelaskannya, bahkan membantu melakukan transaksi.

kkddp & kkytbd

Ya, sejauh ini, aku belum dan tidak menemukan hal yang tidak menyenangkan selama berinterasi dengan pihak Nulisbuku. Hanya memang, aku agak kurang sabaran saja ketika proses pertama unggah naskah dan harus menunggu sekian waktu sampai naskahku dinyatakan “tayang” di situs Nulisbuku. Selebihnya, selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan. (Oiya, sekadar saran, untuk proses proofreading, sebaiknya pihak Nulisbuku tidak perlu memberikan batasan jumlah pemesanan. Karena biasanya aku suka pengin pesan lebih dari satu eksemplar. Hehehe)

Oh, ya, setelah berkenalan dengan Nulisbuku dan memperkenalkannya kepada teman-temanku yang lain, aku pun mulai rajin membuatkan desain sampul untuk mereka. Dari mulai taraf indie sampai konvensional.

Ah, jadi kangen nulis dan nerbitin naskah di Nulisbuku lagi…. []

11 thoughts on “Yang Belum Kuceritakan Tentang Aku dan @nulisbuku

  1. Terima kasih atas ceritanya. Saya sendiri sedang mengerjakan naskah saya, dan saya juga berniat untuk menerbitkan di nulisbuku.com. Semoga saya juga bisa menerbitkan karya saya🙂

  2. Tulisan ini setidaknya memberikan pencerahan kepada kita semua bahwa menerbitkan buku itu tidak sesulit yang dibayangkan, nggak perlu modal besar. Semoga keberadaan nulisbuku membuat kita makin semangat menulis…

  3. 2 buku yang lama, gak sekalian di-nulisbuku-kan, bang?
    oiya saya penasaran, di luar teman-teman atau yang udah kenal bang dadun (seperti saya). apakah ada pengunjung nulisbuku yang iseng beli bukumu di nulisbuku?
    saya sih ingin nerbitin di nulisbuku hanya ingin melihat bentuk fisik dari kumpulan tulisan saya, tapi kadang penasaran hal di atas. hhehe.😀

    • Buku yg lama biarlah menjadi bagian dari masa lalu dan sejarah hidupku…

      Kalo soal siapa yg beli buku.. aku pun ngga tau. Semacam misteri illahi dan rahasia alam yg tersembunyi dan ngga terpecahkan. Tapi di nulisbuku kita bisa tau berapa jumlah buku kita yg terjual.

  4. Hai, salam kenal…

    Beruntung ak bisa menemukan tulisan ini. Karena jujur, skrg lg OnFire bgt pingin bikin buku di NulisBuku

    Bisakah sy minta no kontak utk menghubungi lebih lanjut? Terimakasih sebelumnya.

    Semoga sukses selalu yaa🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s