Lebaran


Kemarin, aku punya mood yang cukup bagus untuk keluar kamar. Di dapur, aku bertemu Mama yang sedang sibuk memasak seorang diri mempersiapkan pernak-pernik hidangan Lebaran. Opor ayam, ketupat, rendang, kentang bumbu sambal, kue bolu, agar-agar, dan sop buah. Mama mengeluh soal betapa capeknya ia melakukan segala sesuatunya sendirian. Aku bilang, “Kayaknya nggak ada yang minta Mama ngelakuin itu semua, deh.”

Mama menjawab, “Ya kalau Mama nggak bikin masakan-masakan ini, nanti besok Lebaran kalian mau makan apa?”

Beberapa saat aku terdiam sebelum berkata, “Tiap hari Mama masak, apa pun, kami bakal makan tanpa protes. Mama udah tau apa yang kami suka dan enggak. Mama masak, kami makan apa yang ada di meja makan. Mama nggak masak, kami tetep makan dengan usaha lain. Jadi, apa masalahnya?”

“Besok Lebaran. Emangnya kamu nggak malu kalau kita nggak bikin opor, ketupat, sama rendang?”

“Malu kenapa? Malu sama siapa? Emangnya kalau lebaran nggak bikin ketupat sama opor ayam kenapa, Ma? Lebarannya batal? Mama inget nggak, tiap Lebaran yang udah-udah, masakan-masakan Mama itu sampe harus diangetin berhari-hari saking banyaknya, itu pun sebagian udah dibagiin ke sodara yang lain atau temen kantornya Bapak. Lagian, saya nggak pengen-pengen amat makan makanan yang bersantan dan berminyak. Lebih enak makan sayur.”

“Iya, itu kan kamu. Bapak sama adik kamu mungkin pengen. Kasian kan kalau mereka sampai harus minta ke sodara yang lain atau tetangga.”

“Mama sendiri emangnya pengen? Bukannya Mama kalau makan sedikit-sedikit?”

“Ya Mama masak kan bukan buat Mama sendirian, tapi buat kalian, buat kita makan sama-sama.”

“Berarti, Mama cukup masak buat porsi kita berempat aja. Masak kayak hari-hari biasa aja. Nggak usah berlebihan kayak gini. Ada cara lain yang lebih berkah buat ngerayain Lebaran selain masak segini banyaknya dan bikin Mama kerepotan setengah mati. Besok Lebaran juga kita nggak bakal makan seharian, kan? Ayolah, Ma, ini semua cuma tradisi. Dari jaman nenek moyang kita, tiap lebaran tuh mesti gini, mesti gitu. Mesti bikin ini, bikin itu. Mesti beli ini, beli itu. Padahal, Lebaran ya Lebaran aja. Salat Ied, salam-salaman, maaf-maafan, silaturahmi, ziarah kubur, makan-makan sekadarnya, ya udah kelar…”

“Kamu tuh ya… jarang ngomong, tapi sekalinya ngomong lebih cerewet dari Mama,” kata Mama, santai, sambil menambahkan bumbu pada masakan. “Udah, ah. Daripada ngomong terus, sini bantuin Mama!”

“Bantuin apa? Saya nggak bisa masak.”

“Tuangin agar-agar ke cetakan. Terus kalau udah, cuciin buah-buahan….”

Setelah itu, kami melakukan semuanya tanpa banyak bicara. Hanya sesekali Mama memberi instruksi mengenai apa yang harus kulakukan dan apa yang jangan.

Aku lantas berpikir, yah… mungkin sampai kapan pun, suasana sebelum Lebaran memang bakal selalu seperti ini. Dan keluhan Mama soal betapa lelahnya ia bukanlah sebenar-benarnya keluhan. Jauh di lubuk hatinya, aku yakin bahwa ia senang dan tulus melakukan semuanya.

Dan kupikir, di luar konteks peribadatan, Lebaran memang punya makna yang sangat personal bagi masing-masing orang. Masak-masak, makan-makan, jalan-jalan, belanja baju lebaran, pulang kampung, silaturahmi, membicarakan rencana pernikahan, atau bahkan momentum perenungan, apa pun… selama tidak mengurangi nilai-nilai kesucian dan kemuliaan Lebaran, rasanya sah-sah saja dan perlu dihargai sebagai kebebasan personal.

Selamat Lebaran. Selamat Hari Raya Idulfitri 1434 H. Mohon maaf lahir-batin atas segala kesalahan saya yang disengaja maupun yang tidak. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s