Hari Puisi


Aku baru tahu tanggal 26 Juli kemarin adalah Hari Puisi Nasional. Hari yang juga merupakan hari kelahiran Chairil Anwar. Terimakasih kepada siapa pun yang memberi tahu soal itu. Percayalah, aku terlalu sibuk sampai-sampai ketinggalan banyak informasi penting.

Dulu, aku suka menulis puisi, karena euforia film “Ada Apa dengan Cinta?” bekerja begitu kuat mempengaruhiku dan berlangsung sangat lama di dalam diriku. Bagiku, seseorang yang jago menulis puisi seperti Rangga di film itu adalah definisi keren yang sebenarnya, dan aku merasa patut menirunya. Jadi, aku pun rajin menulis puisi di halaman belakang buku pelajaran sekolah.

Hobi menulis puisi itu semakin menggebu setelah aku bertemu dengan seseorang. Dia. Kepiawaiannya merangkai kata dan kekayaan diksi juga makna yang dia miliki membuatku begitu mengaguminya sekaligus iri. Dan jika ada sesuatu yang harus kuanggap berjasa dalam menyatukan kami, itu adalah puisi.

Tiga tahun mengenalnya dan melewati hari-hari bersamanya membuatku merasa bahwa dia adalah definisi dari puisi itu sendiri. Indah, magis, dan misterius. Kami bersahabat, dekat, namun tak bisa dimungkiri, selalu ada sekat yang tak kasat. Kami saling berbagi kisah, namun tak bisa dihindari, selalu ada jarak yang membuat kami terpisah.

Aku pernah diam-diam menulis puisi untuknya. Dia tak pernah tahu, dan kurasa memang lebih baik begitu. Tak adil rasanya jika dia harus tahu lebih banyak tentang aku, sementara aku masih tak tahu apa-apa tentang dia. Tak adil rasanya jika dia sampai tahu tentang apa yang kurasakan terhadapnya, sementara aku tak sedikit pun tahu tentang apa yang dia rasakan terhadapku.

Menulis puisi tak lagi semudah sebelumnya. Bersahabat dengannya pun demikian adanya. Rasa tamak di dalam dirikulah penyebabnya. Seharusnya aku tetap membiarkan segalanya berjalan apa adanya; menulis puisi karena aku menyukainya; bersahabat dengannya tanpa memikirkan sesuatu yang lebih daripada seharusnya.

Aku mulai jarang menulis puisi setelah kami berpisah. Yang kutulis seperti raga tanpa jiwa. Hampa. Yang kutulis menjadi tak lebih berarti dari hari-hari yang kulalui seorang diri. Sunyi. Sampai pada akhirnya aku tiba di satu titik balik mengenai definisi puisi dalam versi yang lebih pribadi: memahami dan menjalani hidupku sendiri.

Ah, seandainya dulu ada selebrasi hari puisi seperti kemarin, kami pasti bakal senang sekali. Setidaknya, aku bisa menjadikannya sebagai dalih dari perayaan hubungan abu-abu di antara kami.

Semoga dia tidak pernah membaca postingan ini. Sekalipun terlanjur membacanya, kuharap dia tak pernah tahu kalau “dia” yang kumaksudkan adalah dirinya.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s