Setiap Benda Punya Cerita


Pagi ini aku menemukan sesuatu di dalam lemariku saat hendak berpakaian. Sebuah jaket kelas jaman awal SMA dulu. Mengejutkannya, jaket itu masih muat di badanku. Oh, oke, aku cuma bercanda di bagian kata “mengejutkannya” untuk tidak menyebutnya memberi-efek-dramatis.

Aku lupa kapan kali terakhir aku mengenakannya. Belakangan, jaket itu memang sering dipakai adikku. Lucu, katanya–dan memang masih layak pakai dan kelihatan keren. Yah, desainer jaket itu memang seorang anak perempuan modis yang pada masa itu sedang semangat-semangatnya memulai bisnis clothing company (sekarang aku tidak tahu apakah ia masih menjalankan bisnis itu atau tidak).

Berbicara tentang benda-benda lama yang kumiliki dan masih kujaga sampai saat ini, selain jaket kelas itu, ada beberapa di ataranya yang kuanggap spesial.

Benda pertama adalah sebuah jam tangan. Terus terang, aku tidak begitu suka mengenakan jam tangan. Jadi, benda itu tidak pernah masuk ke dalam daftar kebutuhan. Lagi pula, aku lebih suka mengecek waktu melalui fasilitas jam digital di ponsel (dan masih sering melakukannya bahkan saat aku menganakan jam tangan).

Jam tangan yang kuceritakan ini pemberian bosku–maksudku mantan bosku dulu. Alasan dia memberikan benda itu tentu saja bukan karena aku sering terlambat datang (serius, aku selalu tepat waktu bahkan datang sebelum jam kantor).

Alasannya agak lebay. Saat itu, beberapa teman kerjaku mengundurkan diri secara tidak menyenangkan. Ada beberapa masalah yang terjadi, tapi aku tidak ambil peduli. Aku tetap fokus pada tugas-tugasku. Dan siang itu tiba-tiba saja mantan bosku memberikan sebuah kotak berisi jam tangan. Ibuku bilang, mungkin itu semacam ucapan terimakasih karena aku tidak ikut-ikutan mengundurkan diri. Entahlah. Yang jelas, kemudian aku menyukai benda itu. Dan menyayanginya sampai sekarang.

Benda kedua yang akan kuceritakan adalah radio compo pemberian ayahku. Dia bilang, itu kado ulangtahun untukku saat aku masuk SMP dan mulai menggemari lagu-lagu. Pada saat itu, radio compo adalah kemewahan tersendiri dan memilikinya adalah kebahagiaan tak terperi, mengingat belum ada ponsel sama sekali.

Radio compo itu bisa jadi merupakan saksi bisu masa-masa pubertasku. Setiap hari, aku menghidupkannya untuk mendengarkan siaran radio fm yang di beberapa acaranya aku pernah mengirimkan salam spesial untuk seseorang dan request lagu melalui kertas request yang kubeli seharga Rp. 500 per lembar. Ingat, pada masa itu belum ada ponsel, dan telepon rumah pun masih jarang. Stasiun-stasiun radio menjual kertas request yang disebar ke kampung-kampung.

Segala suasana hati kulalui bersama benda itu. Senang, sedih, apa pun. Dan kenangan paling menyenangkan dan tak terlupakan bersamanya adalah ketika aku mulai tahu bagaimana caranya merekam. Merekam suaraku. Merekam lagu-lagu dari siaran radio. Merekam lagu-lagu dari kaset lain. Me-mixing lagu. Satu-satunya yang tak bisa kulakukan hanya memperbaikinya ketika dia mengalami kerusakan.

Sampai sekarang, radio compo itu masih ada dan berfungsi dengan baik, kecuali di bagian pemutar kasetnya agak tersendat sehingga suara yang dihasilkan kurang jernih (dulu, setiap kali benda itu ngadat, aku sering mengganjal tombol “play”-nya dengan biji korek api atau kertas yang kulipat-lipat sampai padat). Sekarang, benda itu hanya dipakai untuk mendengarkan kuliah subuh, ceramah di pagi hari. Atau siaran lagu-lagu untuk menyemangati adikku menyapu dan mengepel lantai. Dan sekarang benda itu tak lagi berada di kamarku. Yah, bisa dibilang aku tak lagi posesif terhadapnya.

Setelah radio compo, benda spesial selanjutnya adalah koleksi kaset-kasetku. Aku masih ingat, saat SMP dulu, aku mulai sering menabung untuk membeli kaset. Dengan uang saku harian sebesar Rp.500 sampai Rp.1000, aku bisa menyisihkan uang sekitar Rp.17.000 dalam sebulan untuk membeli sebuah kaset. Tak mau rugi, aku membeli kaset kompilasi. Dan demi menghemat biaya akomodasi, aku kerap jalan kaki dari rumah ke pasar tradisional, tempat toko kaset itu berada.

Aku mulai menemukan musisi idola yang kaset-kasetnya bakal selalu kubeli, saat aku kelas tiga SMP. Saat itu, aku jatuh hati pada lagu-lagu Melly Goeslaw. Aku punya hampir semua albumnya, dalam bentuk kaset pita. Setiap kali mendapat pembaharuan informasi tentang lagu atau album barunya, aku bakal langsung pergi ke toko kaset.

Kepindahanku ke Bandung mempermudah aksesku ke toko kaset. Ketika Melly tidak memproduksi album baru, aku membeli album-albumnya terdahulu yang belum kumiliki. Terutama album-album Potret, grup band yang mengawali kariernya bersama Anto Hoed. Dan ketika aku mendengar lagu barunya di radio, aku akan langsung pergi ke toko kaset untuk memburunya.

Pengalaman berburu kaset itu rasanya seru-tapi-menyebalkan-tapi-menyenangkan. Biasanya lagu baru itu bakal lebih awal diperdengarkan di radio-radio sebagai media promo plus pancingan. Sebutlah itu single. Peredaran albumnya sendiri bisa sampai sebulan atau dua bulan kemudian. Aku tahu soal itu. Tapi tetap saja aku keras kepala. Aku bakal tetap pergi ke toko kaset dan CD. Ada kepuasan tersendiri setelah berminggu-minggu menunggu dan berkali-kali mendatangi toko kaset dan CD, kemudian mendapatkan apa yang kucari.

Aku mulai berhenti melakukannya setelah aku merasa lagu-lagu Melly tak lagi sebagus lagu-lagunya yang dulu. Yah, bisa dibilang sejak ia kebanjiran proyek soundtrack film. Kaset terakhirnya yang kubeli adalah soundtrack film Ketika Cinta Bertasbih. Dan itu pun agak mengecewakan, karena hanya dua lagu yang kusukai di album itu (oh ya, makin ke sini, albumnya Melly pelit lagu. Track-nya sedikit, digenapi scoring dan instrumen lagu yang sampai dua atau tiga track, dan repackage lagu lama. Hmft…). Entahlah, mungkin selera musikku mulai berubah.

Benda spesial selanjutnya adalah kado-kado ulangtahun dari teman-temanku. Postman bag, helmet, seprai, mug, CD, DVD, novel, kartu ucapan, boneka-boneka Angry Birds, sampai cupcake Angry Birds yang saking lucunya aku simpan di dalam kulkas selama enam bulan. Ya, dengan berat hati harus dibuang karena bentuknya sudah penyok dan baunya aneh. Khawatir berdampak buruk pada penghuni kulkas yang lain.

Benda spesial yang terakhir adalah koleksi buku-bukuku. Sejak dua tahun yang lalu, aku mulai hobi membeli buku (dan sejak menemukan toko buku diskon yang dekat dengan bekas kantorku).

Buku-buku yang kubeli karena random factor, dari mulai selera pribadi, terseret arus promosi di facebook dan twitter, penasaran karena dibilang bagus di Goodreads, tertarik karena covernya yang unyu, untuk bahan referensi, kebetulan-lewat-toko-buku-eh-iseng-beli, sampai sekadar untuik menghargai dan membuat penulisnya-yang-adalah-temanku bahagia. Oh, ya, sisanya buku-buku yang kubeli secara online, termasuk buku yang ada namaku di dalamnya.

Buku-buku yang meski tak semuanya selesai kubaca, namun cukup membuatku bahagia karena telah memilikinya. Tsah.

Well, sebenarnya masih banyak lagi benda-benda lainnya, hanya saja aku lupa. Dan karena jempolku mulai pegal akibat mengetik di ponsel.[]

One thought on “Setiap Benda Punya Cerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s