Valentine


“Heran, ya. Udah taun 2013 masih ada aja orang yang sok-sok anti Valentine dengan alasan luar biasa klise, dan parahnya mereka nggak bener-bener sadar dan ngerti dengan apa yang mereka ungkapin.”

Menatapku, kemudian Lexie tersenyum. “Kamu kenapa? Datang-datang kok malah misuh-misuh, bukannya ngasih aku bunga sama cokelat….”

“Oh iya, ya?!” Aku berusaha menghapus kesal di wajahku dengan menempelkan sedikit cengiran rasa bersalah. “Sori. Tadi aku pulangnya buru-buru. Mumpung nggak ada bos, jadi bisa pulang teng go. Dan kayak biasa, jalanan depan kantorku banjir tiap kali hujan.”

Lexie kembali pada komputer portabel yang berada di pangkuannya. Tampaknya aku datang di saat yang kurang tepat. Tetapi ternyata, ia baru saja menekan tombol shut down. “Jadi…,” ia mulai berbicara dan fokus kepadaku, “apa yang bikin kamu meradang, wahai Anak Muda?”

Merebahkan punggungku ke sofa dan menyelonjorkan kakiku dengan nyaman, kemudian aku menjawab, “Mereka, Kak. Orang-orang sok tau itu. Hari ini di kantorku tema-nya Valentine, dan aku pun bikin beberapa desain dan media promo bertema Valentine. Lalu, ya gitu deh… ada orang-orang yang berkomentar minor. Sampe ada yang bawa-bawa soal agama segala.”

Lexie tersenyum lagi. “Namanya juga Indonesia. Lady Gaga aja dibilang haram, apalagi tradisi Valentine.”

“Tapi, Kak…,” aku menegakkan punggungku, dan menatap lurus Lexie, “yang mereka permasalahkan dari Valentine’s Day itu apa sih, sampai harus segitunya? Sejarah sama latar belakangnya? Emangnya ada apa dengan hal itu? Ada misi khusus? Misi penyebaran agama dan faham-faham menyesatkan? Memangnya kalau seseorang dari agama tertetu ikut ber-Valentine-ria bakal merusak kadar keimanan dan kemurnian hubungan dirinya dengan Tuhan? Kenapa sampai ada gerakan ‘Say No To Valentine’s Day’ segala, coba?….”

Kali ini Lexie tergelak. Cukup lama. Sampai aku merasa sedikit kesal. Jangan-jangan Lexie pun berdiri di barisan orang-orang yang berparadigma demikian.

Aku mendengus. “Kakak nyebelin, ya.”

Masih dengan sisa-sisa tawanya, Lexie menjawab, “Loh, kok aku nyebelin? Aku cuma ngerasa… apa yang kamu bilang tadi itu lucu aja. Aku tau dan bisa ngebayangin apa yang kamu coba ilustrasiin. Ya mungkin, di mata sebagian orang, hari dan tradisi Valentine itu bisa jadi se-ekstrem itu. Tapi udahlah, mereka berpikir dan bertindak kayak gitu karena mungkin mereka emang punya dasar pemikiran, pengetahuan, dan keyakinan sedemikian rupa. Dan sebagai orang yang berpikiran dan berhati terbuka, kita nggak perlu ikut menghakimi, mengatur, dan memaksakan kehendak mereka menjadi sejalan dengan harapan kita. Toleransi paradigma lah.”

Selama beberapa saat aku terdiam. Mencerna apa yang baru saja kudengar. “Iya sih, Kak. Tapi tetep aja aku nggak habis pikir.”

Lexi mengubah posisi duduknya. Bersila dan menghadap ke arahku yang duduk malas-malasan di sebelah kanannya. “Dalam pandangan dan pemikiran kamu sendiri, hari Valentine itu seperti apa?”

“Err… kok jadi aku yang ditanya?”

“Jawab aja.”

Aku menghela napas. “Oke. Menurutku, terlepas dari segala simpang-siurnya, Hari Valentine itu cuma satu hari perayaan, selebrasi, peringatan tentang hari kasih sayang. Kayak Hari Ibu, Hari Bapak, Hari Anak, Hari Buruh, Hari Radio, dan hari-hari lainnya. Sampai sini, di mana masalahnya?”

“Hmmm… oke. Terus?”

“Banyak yang bilang, kalau hari kasih sayang ya bisa tiap hari, kan? Oh, please…. Apa kabar dengan hari Ibu dan Hari Bapak? Kita mencintai dan bersikap manis pada Ibu dan Bapak itu juga setiap hari kan? Hanya saja, ketika dicanangkan satu hari spesial perayaan dan peringatan Hari Ibu dan Hari Bapak, kita berasa lebih punya moment spesial buat ngucapin dan ngungkapin betapa cinta dan sayangnya kita sama mereka. Dan bukan berarti di hari lainnya enggak, kan.”

“Terus lagi,” aku melanjutkan, “ini kan judulnya Hari Kasih Sayang. Ya intinya tentang cinta dan kasih sayang. Apa yang salah dengan hal itu? Kenapa harus ngelarang orang lain untuk memperingati atau merayakan hari kasih sayang itu? Kenapa kemudian harus membenci dan menyalahkan orang lain yang dengan niat tulusnya berbagi kasih sayang dengan sesama? Kenapa kemudian harus menciptakan jarak dan bahkan kebencian di tengah-tengah Hari Kasih Sayang itu? Karena dianggap mengikuti budaya barat, tradisi umat tertentu yang enggak sesuai dengan jati diri golongan yang merasa berbeda? Oh, ayolah, apa sih yang mereka lihat, pikir, dan rasakan? Sekali lagi, ini cuma soal hari kasih sayang, soal cinta. Soal sesuatu yang indah dan menyenangkan.”

“Dan lagi,” aku masih melanjutkan, “ada yang bilang kalau tradisi Valentine itu merusak mental remaja. Duh, itu lebay dan enggak punya dasar pemikiran yang jelas banget. Terus juga soal perayaannya yang identik dengan warna pink, dengan cokelat, bunga, dan tetek-bengek romantisme lainnya, yang dianggap menggelikan dan menjijikan. Oh. Plis. Ya enggak harus sampe berlebihan juga. Apa pun yang dilakukan secara berlebihan emang gak bakalan baik. Nggak melulu soal Valentine. Soal lain pun kalau dilakukan secara berlebihan ya nggak bagus.”

“Ya, aku setuju soal itu,” sahut Lexie, setelah beberapa saat aku terdiam memberi jeda. “Ketika ada orang yang sedang menyebarkan kasih sayang, selalu aja ada orang yang menebar hal sebaliknya. Pilihannya, kita mau jadi pihak yang mana?”

“Ah… Kakak emang bijaksana sekali. Ya, seperti yang Kakak bilang, aku nggak bakal menyalahkan, dan memaksa mereka untuk sejalan dengan yang kupikirkan dan kurasakan. Lagi pula, sebenernya aku nggak ngebet-ngebet banget ngerayain Valentine. Biasa aja sih. Nggak sampai lebay banget harus ngerayain gimana-gimana. Nggak juga sampai lebay banget ngerasa perlu mempengaruhi orang lain buat enggak ngerayainnya juga. Yang aku garisbawahi di sini ya cuma soal kasih sayangnya itu. Kasih sayang ke sesama manusia. Kasih sayang ke sesama makhluk Tuhan. Kalau kamu mau memperingati dan merayakan, ya silakan. Kalau kamu anggap itu nggak sesuai dengan akal sehat kamu, ya itu bukan urusanku, dan kamu nggak perlu memberikan statmen atau tindakan yang menyinggung hak dan kehidupan pribadiku.”

“Nah, itu bener. Itu baru adikku yang unyu.” Lexi tertawa lagi. Kali ini adalah jenis tawa yang kusukai. “Jadi, sekarang kamu udah tau kan, gimana cara menghadapi orang-orang yang bikin darah tinggi kayak yang kamu alami tadi? Sadarilah bahwa segala hal selalu punya dua sisi. Ketika kita berada di sisi yang satu, kita pun harus mengakui ada sisi yang lain, yang berbeda, berseberangan, dan sama besarnya. Hargailah perbedaan, dan sikapilah secara dewasa dan bijaksana.”

“Kak….”

“Ya?”

“Aku boleh peluk… bantal?” Tanganku dengan sigap merebut bantal kursi yang terletak di sisi kiri Lexie, lalu memeluknya. Membuat Lexie tertawa lagi.

“Sini, aku peluk.” Lexie merangkulkan tangannya ke tubuhku. Sementara aku cuma terdiam dan malu-malu.

Tak berapa lama kemudian, terdengar bunyi bel di pintu apartemen. Seseorang datang. Lexie bergegas menyambutnya. Ternyata seorang perempuan. Wajahnya cantik, berkaca mata, kulitnya putih dan bersih, rambutnya tergerai sebahu, pakaiannya modis, sepatunya bagus dan tampak menyempurnakan sepasang kakinya yang jenjang.

“Wah, lagi ada tamu, ya?” tanya perempuan itu setelah menyerahkan satu kantong besar berisi dua dus pizza kepada Lexie sambil melihat ke arahku.

“Adekku,” jawab Lexie. “Lagi kangen, katanya.”

Aku memasang senyum standar pertemuan awal. Senyum ala kadarnya yang kulakukan saat pertama kali bertemu dengan orang baru. Harus kuakui, temannya Lexie memang cantik-cantik. Termasuk yang satu ini.

“Kamu kok diem aja sih? Grogi?” tanya Lexie kepadaku. “Nggak mau kenalan sama Regina Feby, ilustrator kaver novelku yang paling cantik ini?”

Oh, dengan senang hati. Tapi, aku masih tetap terlihat jual mahal saat bangkit dari tempat dudukku dan berjalan ke arahnya, untuk kemudian melakukan prosesi perkenalan dengannya. Dan aku pun cuma bisa mencuri-curi pandang ke arahnya saat kami menikmati pizza bersama-sama.

“Happy Valentine’s Day, Jomblo-Jomblo Keren dan Bahagia!” Lexie mengangkat gelas coke-nya, menunggu toast dari gelas Feby yang berisi coke juga dan gelasku yang berisi jus jeruk.

“Cheers!”

“Cheers!” []

2 thoughts on “Valentine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s