Dear Raha


Dear Raha,

Apa kabar? Kayaknya udah lama banget kita nggak saling curhat sejak tas kamu yang isinya barang-barang penting itu dijambret keparat yang aku harap bakal menanggung separuh karma buruk kamu di dunia dan akhirat.

Oke, aku nggak mau ngingetin kamu kembali pada kejadian mengerikan itu. Aku menulis surat ini sebagai pengganti media berkomunikasi kita untuk saling curhat soal apa yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari.

Ah, aku kangen cerita-cerita kamu soal kelakuan bosmu yang ajaib itu. Soal brondong-brondong kampus sebelah yang sering nongkrong di depan kantormu. Soal kekonyolan beberapa teman kamu yang nggak pernah habis untuk diceritakan itu. Soal suasana kosmu. Soal pacar kamu. Soal semuanya. Aku kangen pada banyak hal yang sering kita lakukan lewat ponsel.

Di memori ponselku sekarang, ada beberapa gambar yang kalau kukirimkan pada kamu bakal jadi sebuah topik pembicaraan yang menyenangkan. Dan di dalam hatiku sekarang, ada beberapa kejadian yang ingin kuceritakan pada kamu, yang seharusnya kuceritakan pada saat kejadian itu berlangsung. Tapi nggak apa-apa. Lewat surat ini, aku bakal ngasih rangkumannya.

Pertama, soal anak baru di tempat kerjaku. Anak baru yang awalnya kuanggap sebagai makhluk menjengkelkan itu kemudian jadi temanku (lebih benernya sih, dia ngedeketin aku) karena dia dijutekin anak yang lain. Aku nggak ngerti apa yang ada di pikiran cewek-cewek sehingga mereka harus saling ngejutekin satu sama lain. Dan untuk yang kesekian kali, aku jadi penengah di antara mereka. Nggak mudah. Aku harus kuat pada pendirianku untuk nggak jadi penjilat atau si muka dua. Jadi, aku cukup jadi pendengar yang baik waktu kedua pihak yang berlawanan itu curhat padaku.

Kedua, soal tes dan interview yang datang berturut-turut. Ada dua perusahaan yang memanggilku, dan syukurnya jadwal panggilan itu nggak bentrok. Cuma, ya aku harus pandai-pandai cari alasan buat ngejawab pertanyaan bosku soal kenapa aku datang terlambat.

Oh, ya, di perusahaan pertama, aku dites soal pemrograman di Macromedia Flash. Seingatku, aku ngelamar di bagian desain yang nggak ada urusan begituannya, deh. Kayaknya aku dijebak!

Ada 3 soal membuat interactive game. DEG! Aku nggak ngerti mau ngerjain apa. Rasanya pengin kabur ke bioskop atau toko buku aja. Bahkan, waktu si penguji ngasih kesempatan untuk browsing nyari kode-kode program di internet pun, aku bener-bener nge-blank! Ya kamu ngerti dong, yang namanya pemrograman itu nggak sekadar copy paste kode program, tapi juga harus ngerti struktur logikanya.

Jadi, aku udah coba memahami itu, dan kayaknya mau nyerah aja. Udah hampir sejam, aku cuma nggambar-nggambar di komputer. Si penguji udah nanya, gimana? Bisa? Aku cuma senyum-senyum ala anak perawan yang baru selesai mandi di sungai.

Tapi kemudian, keajaiban terjadi pada setengah jam menjelang waktu habis. Entah dapet bisikan dari mana, tiba-tiba aku ngerti struktur logikanya. Tiba-tiba aku bisa ngeliat di mana letak kesalahan yang kuperbuat pada kode program yang gagal itu. Dan… Jeng… Jeng… Jeng… aku pun berhasil nyelesein soal-soal itu! \(´▽`)/

Kepuasan batin yang aku dapet adalah, aku baru aja berhasil menyelamatkan harga diri dan martabatku sebagai mahasiswa manajemen informatika di hadapan diriku sendiri dan bapak penguji.

Tepat sehari setelahnya, aku memenuhi panggilan tes di perusahaan kedua. Ternyata, ada 10 orang yang duduk menunggu di ruangan itu. Dan aku ngerasa kayak alien di antara 9 orang manusia berpakaian formal: kemeja, celana dan sepatu—bahkan template wajah dan ekspresi kaku dan formal. Sementara aku menerjemahkan “Memakai pakaian rapi dan sopan” yang diinformasikan si Mbak yang nelpon sehari sebelumnya itu dengan cara memakai setelan sehari-hariku yang aku sendiri nggak bisa bedain antara mau pergi kerja atau mau karaokean di happy puppy. Err… Dan dengan memakai sepatu yang kamu bilang sepatu anak sekolahan itu. Beda tipis ya antara jadi diri sendiri, cuek, dan fakir baju-baju bagus.

Tapi, aku sih pede-pede aja. Yang penting hasil psikotesnya nanti bagus dan mempermulus jalanku untuk lulus. Dan, waktu ada pertanyaan soal cita-cita dan passionku apa, kayaknya aku curhat panjang banget, sampai-sampai satu kertas mau penuh. Bodo, ah.

Nah, kayaknya cukup ya soal panggilan-panggilan interview itu. Tinggal tunggu hasil. (ˇʃƪˇ)

Sekarang kita memasuki hal ketiga yang pengin aku ceritain. Tapi aku agak-agak malu ceritanya, soalnya ini ada hubungannya dengan percintaan. Hahahaha. Beberapa hari ini, kayaknya hatiku yang dingin dan beku ini kembali berbunga-bunga lagi. Ada seseorang yang berhasil mencairkan gunung es itu. Dan aku udah bilang langsung sama orangnya. (ʃ⌣ƪ)

Ya, aku nggak mau memendam-mendam perasaan lagi. Walaupun aku tau dia nggak bakalan suka sama aku. Walaupun aku tau setelah dia tau perasaanku dia bakalan ngejauh dan nggak mau lagi temenan sama aku. Aku udah sangat siap dengan konseksuensi paling buruk sekalipun.

Tapi ya udah lah, aku baik-baik aja. Beneran. Aku kan masih punya kamu, dan kalian yang selalu ada sewaktu aku butuhkan. (҂’̀⌣’́)9

Raha, aku berdoa semoga BB, handphone, dan semua barang berharga kamu yang dijambret keparat itu bisa kembali pada kamu dalam wujud yang berkali-kali jauh lebih baik. Biar aku nggak perlu nulis surat macam gini dan diposting di blog. Aamiiin.

Oh iya, selamat bermalam Minggu. Dan kalau jadi, besok kita kumpul. Kalau jadi, sih.

Udah dulu ya, aku mau pacaran. Sama Mama. Dah.

Bandung, 26 Januari 2013

D

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s