Surat untuk D


Hai, D

Hari ini aku sedang tidak ingin menulis surat untuk orang lain, melainkan untuk kamu, D. Rasanya, sudah cukup lama aku tidak melakukannya.

Mari kita mulai dengan menyebut hari ini sebagai hari yang lebih cepat berlalu dari hari-hari biasanya. Tipikal hari libur. Kamu sempat mencemaskan teror telpon atau BBM dari orang kantor yang pasti bakal selalu menggentayangi hari liburmu, tapi kemudian kulihat kamu berusaha melepaskan kecemasan itu, dan agaknya berhasil.

Selamat, D. Kamu sudah mulai bisa mengatasi segala kekhawatiran-kekhawatiran kecil dan besar itu. Kamu pun mulai belajar bagaimana cara menjadi seorang pemberani. Dan kurasa, kamu mulai memahami bahwa rasa takut adalah pengkhianat kebahagiaan yang paling mendasar, dan menjadi seorang pengecut adalah cara termudah untuk menjadi pecundang.

Dan mari kita langsung akhiri surat ini dengan mengumpulkan keberanian supaya kamu mulai bisa berterus terang tentang apa yang kamu rasakan terhadap seseorang. Memangnya kamu nggak capek terus-terusan menjadi pengagum rahasia dan terjebak cinta diam-diam?

Ungkapkanlah, D. Sekarang.

Bandung, 24 Januari 2013

D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s