Pelaut Bulan


Kepada: Pelaut Bulan

Saat membaca ini, kuharap kamu sedang baik-baik saja, sedang memasang wajah tidak murung atau marah, sedang berdebar-debar senang karena aku menuliskan sesuatu tentang kamu lagi sekarang.

Tak banyak yang ingin kuketahui tentangmu saat ini, kecuali cerita tentang bagaimana kemajuan usaha-usaha yang kamu bangun atau ada bisnis baru apa yang kamu rintis. Dan selalu ada banyak kekaguman yang patut kusanjungkan kepadamu. Tentang kerja kerasmu, semangatmu, wibawamu, dan rasa percaya dirimu.

Kamu adalah sosok ideal yang pernah kutemui dari diri seseorang. Aku bersyukur bisa bertemu dengan sosok seperti kamu. Keberadaanmu menambahkan warna baru di hidupku. Kupikir, sepanjang hidupku akan selalu identik dengan warna sendu dan kelabu, sampai aku bertemu dengan kamu, Pelaut Bulan-ku.

Oleh karenanya, aku ingin berterima kasih atas segala yang pernah kamu lakukan dan berikan untukku. Untuk malam-malam panjang yang kita habiskan di dalam kamar dengan headset yang nyaris menyatu dengan lubang telinga. Untuk selalu bersedia menyimak dan menanggapi segala curhatanku. Untuk solusi-solusi atas segala permasalahan hidup yang kukeluhkan kepadamu. Untuk sekaan airmata. Untuk tak pernah bosan mengucapkan, “Dadun, lo pasti bisa!” Untuk selalu ada dan membuatku percaya bahwa aku tak pernah sendirian di dunia ini. Dan untuk kedatanganmu jauh-jauh dari luar kota.

Aku tahu, terima kasih saja tidak akan cukup impas membalas semuanya. Seandainya bisa, aku pasti akan memberikan apa yang kamu minta. Tapi, kamu tak pernah meminta apa pun dariku, kecuali satu: hatiku. Dan sayangnya aku tak pernah bisa memenuhinya.

Aku tidak tahu, hati ini terbuat dari apa, dan kenapa dia lebih peduli pada seseorang yang kita inginkan daripada seseorang yang kita butuhkan. Dan hingga sekarang, aku pun masih belum paham, apakah cinta lebih berpihak pada siapa yang kita inginkan atau siapa kita butuhkan.

Beberapa saat sebelum kamu kembali ke kotamu, kamu bilang bahwa tak ada yang perlu disesali dari pertemuan dan perkenalan kita ini. Tak ada yang perlu dibayar dan dilunasi karena kita tidak sedang bertransaksi. Dan tak ada yang harus dipaksakan jika itu menyangkut soal hati.

Kukatakan bahwa aku tak menyukai diriku yang tak bisa jatuh hati kepadamu. Tapi kemudian kamu membantah, mengatakan bahwa seharusnya aku menghargai kejujuranku sendiri. Bagaimana pun, berusaha menyenangkan orang lain dalam kebohongan tidak lebih baik dari mengungkapkan kejujuran yang menyakitkan.

Setengah jam setelah keretamu melaju, aku masih duduk di bangku stasiun. Menunggu perasaan sedih akibat kamu tinggalkan itu muncul. Menanti perasaan jatuh hati yang barangkali datang terlambat. Lama, mereka tak juga lewat. Aku merasa begitu jahat.

Delapan bulan telah berlalu sejak hari itu. Selama itu, aku sengaja membebaskan kita untuk tak saling berkomunikasi. Untuk menguji dan meyakinkan diri satu sama lain.

Dan hari ini aku menulis surat untukmu, hanya agar kamu tahu bahwa, meskipun aku masih tetap tak bisa memenuhi satu-satunya permintaanmu itu, kita masih bisa bersahabat, dan aku masih tetap mengagumimu sebagai sosok yang hebat.

Dan namamu masih tetap si Pelaut Bulan dalam daftar kontak di ponselku. Tak pernah berubah sejak pertama kali kita berkenalan tiga tahun lalu.

Bandung, 17 Januari 2013

D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s