Payung Abu-Abu


Kepada: Kamu, yang selalu bilang, hujan selalu menyisakan kenangan dan kenang-kenangan.

Kamu tahu? Kemarin, hujan turun sejak pagi, berhenti sebentar di tengah hari, lalu sore hingga malam turun lagi. Hoodie yang kupakai tak cukup melindungi tubuhku dari gempurannya.

Semalam, aku minum bandrek, STMJ, dan bergelas-gelas air hangat; makan sup jagung buatan Mama; dan tak lupa menenggak obat. Tapi tetap saja, hari ini aku terbangun dengan hidung berat.

Saat subuh, Mama bertanya apakah aku sanggup pergi ke sekolah atau butuh istirahat. Kukatakan bahwa aku baik-baik saja dan cukup sehat. Mama pun tak jadi menulis surat.

Hidungku mulai meler setelah mandi air hangat. Sesekali napasku diiringi efek seperti terisak. Sebelum pergi ke sekolah, Mama membekaliku sebuah payung. Buat berjaga-jaga, meskipun langit sedang tidak mendung.

Dalam perjalanan ke sekolah, kita berpapasan di pertigaan jalan. Aku pura-pura tidak melihatmu, menunggumu menyapaku terlebih dahulu. Tapi, ternyata kamu tidak melakukannya. Jadi, aku berjalan lebih cepat. Dan kamu tak mau kalah. “Tungguin, dong! Buru-buru amat!”

Aku memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyum, dan baru berani menatapmu dengan template wajah jangan-tersenyum-kalau-nggak-ada-hal-yang-lucu-lucu-amat. “Eh, ternyata kamu. Kirain tadi siapa.”

“Kalau aku ular, kamu udah aku gigit!”

“Padanan kata yang pantes buat ular itu patuk, bukan gigit.”

“Aku kan ular spesial.”

“Ular yang nggak mau kalah!” Ya, itu lah kamu.

Tapi aku menyukai sifat defensif-mu. Karena dengan begitu, perbincangan di antara kita tak akan terhenti begitu saja. Aku suka berbincang denganmu, membahas apa saja. Menghabiskan waktu selama perjalanan pergi ke sekolah, selama jam pelajaran yang membosankan di kelas, selama jam istirahat, dan selama perjalanan pulang sekolah.

Hujan sudah mulai turun sejak kita keluar dari kelas. Dan setelah kita berada di dalam angkutan umum, hujan perlahan menderas. Kita lantas berlari mencari perlindungan di depan tempat fotokopian di pinggir jalan tempat kita turun dari kendaraan. Kita pun berdiri bersisian sambil memandangi hujan.

“Hujan-hujanan, yuk!”

Hidung melerku masih belum sembuh, dan aku tak mau mengambil risiko lebih buruk dengan menuruti ajakan konyolmu.

“Aku jamin, setelah hujan-hujanan, pilek-mu bakal sembuh!”

“Kamu bunuh aku aja.”

“Nggak ada untungnya.”

“Kamu nggak bakal tau sebelum bener-bener mencobanya.”

“Jangan paksa aku ngelakuin itu sebelum aku ngeliat kamu punya pacar!”

“Nggak usah sok ngeledek kalau kamu sendiri juga nggak punya pacar!”

“Siapa bilang?”

“Coba bilang, siapa!”

“Ada aja. Rahasia.”

Aku berharap kamu tidak benar-benar memaksudkannya. Aku berharap tidak ada seorang pun yang bersedia menjadi pacar kamu. Aku berharap kamu jomblo selamanya. Supaya kita bisa terus bersama-sama. Selamanya.

Setelah hampir lima belas menit berteduh di depan fotokopian dan memastikan hujan tak juga berhenti, aku baru ingat ada sebuah payung di dalam tasku. Aku lantas mengajakmu pulang sambil menunjukkan payung berwarna abu-abu itu. Kamu menggeleng dan meringis saat menatapnya.

Aku tak memaksa. Dan kita pun pulang dengan kondisi di mana aku memakai payung dan kamu hujan-hujanan.

Diam-diam, aku berharap kamu kedinginan dan berubah pikiran. Lalu kamu berdiri di sampingku, di bawah payung abu-abuku.

Nihil.

Hingga akhirnya kita tiba di pertigaan jalan yang akan memisahkan kita pada dua arah yang berlainan. Aku memperlambat langkah, masih berharap setidaknya kamu akan sebentar singgah dan berteduh di bawah payung abu-abuku.

Nihil.

“Sampai ketemu besok!”

Kita berpisah. Harapan-harapanku surut. Aku hanya mengangguk, lalu berjalan tergesa hingga tiba di rumah. Berusaha membakar kekecewaanku. Mandi air hangat, mengonsumsi makanan dan minuman hangat, menenggak obat, dan bergumul dengan selimut sampai terlelap. Tapi tetap saja, paginya aku terbangun dengan hidung berat. Bahkan kepalaku pun terasa penat.

Mama bertanya apakah aku sanggup pergi bekerja atau perlu istirahat. Aku tercenung selama beberap saat. Mengumpulkan kesadaran sambil berpura-pura menguap.

Aku sedang tak ingin pergi bekerja. Aku lebih ingin tidur, mengulang dan melanjutkan mimpiku semalam. Mimpi bertemu denganmu di pertigaan jalan.

Kamu tahu? Aku masih dan selalu ingin pergi ke sekolah, berpapasan denganmu di tengah perjalanan, berbincang denganmu sepanjang waktu sampai bosan, dan berharap bisa berdiri bersisian denganmu di bawah payung abu-abuku saat hujan—dengan tetap menyembunyikan perasaan itu dalam-dalam, supaya kita bisa terus bersama-sama. Selamanya.

Tapi, sekarang aku harus bangun dan pergi bekerja, supaya aku tetap bisa merasa baik-baik saja dengan berpura-pura melupakan kenyataan bahwa kita tak bisa terus bersama-sama. Aku bahkan tak tahu sekarang kamu ada di mana.

Bandung, 16 Januari 2013

D

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s