Hai, Cicco


Hai, Cicco.

Sejujurnya, aku malu dan deg-degan banget menulis surat ini. Tapi udahlah, toh kita nggak saling tatap muka.

Dari sekian akun berindikasi “Selebtwit” yang kufollow, Cicco ada di urutan pertama akun yang pengin aku surati. Tapi kemudian aku ingat, Cicco pernah ngetwit kalau Cicco nggak mau disebut sebagai Selebtwit. Yah, definisi Selebtwit itu sendiri masih terlalu majemuk dan sangat personal bagi masing-masing orang, kayak definisi cinta dan sayang. Jadi, yah, apa boleh buat. Anggap aja ini surat untuk si pemilik akun twitter yang twit-twitnya aku kagumi, dan menginspirasi.

Jika Cicco seorang penulis, Cicco adalah penulis yang mampu membuat tulisan yang jujur, nggak mengada-ada, nggak berusaha keras untuk terlihat lucu dan bagus, tampil apa adanya; tapi hasilnya layak baca, penuh twist dan nggak pretensius. Serius!

Baca twit Cicco itu kayak baca buku jurnal harian yang seru, menyenangkan, dan penuh kejutan. Banyak yang bilang twit Cicco vulgar, frontal, telanjang, dsb.. Aku nggak bisa menyalahkan dan menyangkal pendapat mereka. Tapi menurutku, apa pun bentuknya, apa pun esensinya, twit-twit Cicco adalah bentuk kreativitas yang menghibur dan inspiratif. Perempuan Jalang Jelang Sahur, Perempuan Jalang Jelang Berbuka, #CicconeAward, #Ciccoscope dan twit-twit lainnya yang nggak bersegmen khusus pun merupakan bukti kalau Cicco ini terlahir sebagai seorang entertainer (sayangnya, aku belum pernah denger Cicco siaran).

Dan jika Cicco adalah sebuah restoran, maka semua menu yang dihidangkan adalah menu kesukaanku yang bakal kupesan satu per satu setiap kali aku datang. Nggak ada yang aku nggak suka. Walaupun Cicco pernah “mengejek” mantan idolaku, hal itu sama sekali nggak menodai zona suci pemujaan antara fans dengan idola yang pernah kuciptakan. Dan walaupun Cicco suka nyinyirin Gemini, sebagai seorang Geminian, aku nggak ngerasa tersinggung, alih-alih marah. Justru malah ketawa (kegeeran banget ya kalo aku sampai harus misuh-misuh. Hehe). Cicco selalu punya jurus: jangan terlalu serius. Dan itu cukup bekerja untuk menyikapi apa aja yang kita tulis dan kita baca di Twitter.

Sekali waktu, aku pernah mampir ke blog-nya Cicco. Baca-baca postingannya. Berasa lagi baca timeline-nya Cicco tapi versi panjang, dilengkapi rekaman-rekaman suara Cicco yang lembut. Dan aku pernah baca satu postingan Cicco yang menyentuh. Cicco menuliskan segala cerita dan kenangan menyenangkan dan nggak menyenangkan tentang rumah sebelum Cicco pindah. Aku nggak berhak menilai kehidupan pribadi Cicco. Waktu membaca itu, aku merasa bahwa setiap orang punya sisi lain, sisi yang berbeda dari yang dipikirkan orang lain tentang dirinya.

Sampai surat ini ditulis, berarti aku udah follow Cicco selama kurang lebih dua tahun, sejak follower Cicco masih 4000-an. Dan selama itu, aku nggak pernah berani mention Cicco. Eh, pernah deh, ng-ereply sekali dua kali. Biarpun nggak di-reply balik, aku udah cukup seneng dengan hanya jadi penikmat twit-twitnya Cicco. Disadari atau enggak, lewat twit-twitnya, Cicco udah nunjukin bahwa menjadi diri sendiri adalah cara terbaik menghargai ciptaan Tuhan yang bernama diri kita sendiri.

Dan pada akhirnya, meski masih deg-degan, aku juga ngerasa lega bisa ngungkapin sedikit kesan selama aku ngefollow Cicco, lewat ajang #30HariMenulisSuratCinta ini. Walaupun ini bukan surat cinta. Walaupun Cicco nggak akan pernah baca.

Bandung, 15 Januari 2013
D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s