Surat Cinta Terakhir untuk Cinta Pertama


Hai, apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja.

Oh, aku tak mengira akan tetap secanggung dan segugup ini saat setiap menulis surat cinta untuk kamu lagi, setelah lebih dari sepuluh tahun berlalu sejak pertama kali aku memberanikan diri melakukannya.

Ternyata, segala tentangmu masih tetap sama. Selalu sama. Mungkin ini yang namanya keajaiban cinta pertama. Ada satu partisi di dalam diriku yang teralokasi khusus untuk kamu. Sebuah ruang kedap waktu, yang tetap menempatkan kita pada usia di mana kita bertemu dan menjalin cerita, sebanyak apa pun tahun telah berlalu, sebanyak apa pun orang-orang yang datang dan pergi di dalam kehidupanku.

Mengingatmu adalah jalan yang selalu kulalui setiap kali aku lupa seindah apa rasanya jatuh cinta. Dan jatuh cinta padamu adalah tempat yang selalu ingin kudatangi seumur hidupku. Di sana lah, pertama kalinya aku menemukan banyak nilai. Di sana juga, pertama kalinya aku melihat hidup yang penuh warna, mendengarkan hidup yang penuh irama, mengecap hidup yang penuh rasa.

Saat membaca ini, mungkin kamu akan kembali ingat pada seorang anak laki-laki bertubuh lebih kecil dari anak laki-laki lainnya di kelasmu. Anak laki-laki yang lebih pendiam dan pemalu—yang mungkin satu-satunya anak laki-laki yang tidak pernah menyapa, alih-alih menggodamu. Yang baru berani bertegur sapa denganmu setelah menjadi teman satu kelompokmu dalam pelajaran Biologi. Yang setahun kemudian tiba-tiba menyatakan cinta tepat pada tengah malam pelantikan OSIS. Yang kemudian mengirimimu surat lewat sahabatmu, berkali-kali, dan kamu baru membalasnya satu tahun berikutnya.

Ya, aku lah dia. Dia lah aku. Mungkin kamu sudah melupakan semua cerita konyol itu. Mungkin juga kamu tidak melupakannya karena sama sekali tak pernah menjadikan itu sebagai ingatan. Sebab, melupakan hanya akan dialami mereka yang pernah menjadikannya sebagai ingatan, bukan?

Oh, ya, aku bahkan tak pernah tahu bagaimana perasaan kamu yang sebenarnya terhadapku. Aku juga tak pernah tahu seperti apa pandanganmu tentang aku. Surat balasanmu hanya berisi kalimat-kalimat semu, kalimat ragu-ragu yang kamu tulis hanya untuk sekadar menghiburku sesaat sebelum akhirnya menguburku dalam perasaan biru.

Kamu tidak membalas cintaku. Kamu hanya membalas surat cintaku.

Bertahun-tahun setelah hari itu, aku merasa tak ada hari yang berbeda, meski segalanya sudah tak lagi sama, meski jarak cukup jauh memisahkan kita. Aku masih mengingatmu sebagai gadis yang sama, yang telah mencuri hatiku dan tak pernah mengembalikannya. Aku masih mengikat diriku sendiri dengan perasaan jatuh cinta yang sama seperti pertama kali kita berjumpa.

Bahkan, aku masih menulis surat cinta untukmu. Surat-surat yang kualamatkan atas namamu, yang kemudian kuendapkan di bawah tumpukan buku-buku; yang sebagiannya telah berubah wujud menjadi cerita pendek yang kuposting di http://kemudian.com/users/dadun, di blog, dan di dalam buku yang pernah kutulis.

Entah sampai kapan aku akan terus menulis surat cinta untuk kamu. Tak ada yang bisa menghentikanku. Saat ada seseorang yang menggenggam tangan kananku, aku masih punya tangan kiri yang menulis surat untukmu. Saat ada seseorang yang memeluk tubuhku, aku masih punya jiwa yang masih bisa menulis surat untukmu. Saat ada seseorang yang mengisi ruang di hatiku, aku masih punya satu tempat rahasia di sudut sana yang tetap mampu menulis surat untukmu.

Hingga pada hari-hari terakhir di tahun 2012 kemarin, aku kerap dihampiri mimpi-mimpi tentang kamu, mimpi-mimpi tentang kita berdua dulu. Mimpi yang terus berulang, selalu sama, seakan tak ada apa pun yang bisa mengehentikannya, atau mengubahnya. Membuatku terbangun dengan banyak pemikiran dan pertanyaan. Kenapa? Untuk apa? Sampai kapan?

Ketika orang-orang mulai ramai membicarakan resolusi 2013, aku masih saja sibuk dengan hal-hal yang belum selesai di masa lalu. Aku bahkan tak pernah sempat membuat daftar resolusi. Bukan, ini bukan karena kamu. Bukan juga karena surat cinta-surat cinta itu. Ini karena diriku sendiri. Yang tak pernah berhenti menulis surat cinta untuk kamu.

Jadi, kuharap, ini adalah surat cinta terakhirku untuk kamu.

Ini bukan keputusan yang tiba-tiba. Bukan juga keputusan yang terencana. Apa pun namanya, aku ingin menjadikan ini sebagai keputusan yang bijaksana.

Dan seperti yang dikatakan Celine di film Before Sunshine, “You can never replace anyone, because everyone is made up of such beautiful specific details,” kamu tetap memiliki satu ruang yang tak tergantikan.

Setelah berhenti menulis surat cinta untuk kamu, mungkin aku akan berhenti menulis surat cinta untuk siapa pun. Saat aku jatuh cinta kepada seseorang, aku tidak akan menulis surat untuk memberitahukan perasaanku terhadapnya, melainkan langsung mengucapkannya, dan menunjukkannya dengan cara terbaik yang kubisa.

Semoga aku bisa.

Oh, ya. Sebelum aku menutup surat cinta terakhirku, aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu satu atau dua tahun yang lalu, dan selamat atas kelahiran puteri pertamamu beberapa bulan lalu. Semoga kelak ia tumbuh menjadi sosok secantik dan seistimewa kamu. Dan semoga kebahagiaan senantiasa menyertai kalian sekeluarga. Selamanya.

Bandung, 14 Januari 2013

D

Iklan

3 thoughts on “Surat Cinta Terakhir untuk Cinta Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s