[Resensi] Setelah Gelap Datang


Saat pertama kali melihat teaser berupa foto buku di akun instagramnya si penulis, mata saya langsung terbelalak. “Setelah gelap Datang”? Judulnya sekilas membikin nyali bergetar. Kavernya berwarna hitam dengan siluet abu-abu berwujud makhluk-makhluk menyeramkan seperti gerombolan kelelawar di bagian depan dan semacam makhluk entah ikan atau tikus atau entah apa bergerigi tajam di bagian belakang. Saya bakalan nggak peduli kalau buku itu nggak ditulis oleh Muhamad Rivai.

Perkenalan dan pertemanan saya dengan Vai sudah terhitung sejak pertengahan tahun 2007, saat giat-giatnya menulis di http://kemudian.com dan sejak rajin kopdar di kebun binatang, tempat favoritnya Vai dan kawan-kawan. Hehe. Dan sejak membaca tulisan-tulisan Vai di akun Kemudian-nya “someonefromthesky”, saya sudah menyatakan diri sebagai penggemar postingan Vai. Saya pribadi agak malas membaca postingan online dengan jumlah kata di atas 2000, tapi nggak demikian setiap kali baca tulisannya Vai. Untuk mengetahui seperti apa corak dan motif tulisannya, mari kita bahas cerpen-cerpen yang ada di buku kumpulan cerpen berjudul “Setelah Gelap Datang” ini.

setelah gelap datang

1. Mata Ayam

Bercerita tentang Gufran, yang beberapa kali dihampiri mimpi buruk tentang sepasang mata ayam yang mengerikan, sampai kemudian didatangi sebuah spirit ayam jantan yang hanya bisa dilihatnya sendiri.

Sebagai pembuka, cerpen ini lumayan seram. Paragraf-paragraf awalnya langsung memberikan aura misteri. Inilah kelebihan Vai. Dia mampu memikat pembaca sejak pandangan pertama. Sayangnya, cerpen ini melemah di bagian tengah hingga akhir. Setelah menyelesaikan cerpen ini, saya ngerasa biasa aja.

★★☆☆☆

2. Warung Kopi Mpok Indah

Saya pernah membaca cerpen ini dalam ajang “Pulang Kampung” di Kemudian.com. Ajang di mana member lama yang pernah aktif dan lalu jarang posting, kembali posting di hari yang sama. Kalau nggak salah tanggal 11 Januari 2011 lalu. CMIIW. Dan cerpennya Vai bener-bener Wow!

Bercerita tentang sebuah fenomena ganjil di suatu kampung. Cerita berawal dari perbincangan kasual para pelanggan warung kopi milik Mpok Indah. Salah seorang dari mereka melihat pocong, namun kemudian menjadi bahan olok-olokan karena yang mengalami kejadian buruk itu mirip Bokir di film Suzzana.

Bagi si tokoh utama yang kebetulan sedang berada di warung kopi yang sam, ini jelas bukan cerita lucu. Dia yang seorang introver menangkap gelagat lain dari cerita warga tersebut. Sampai kemudian, dalam perjalanan pulang, dia mengalami kejadian yang sangat, sangat mengerikan.

Cerpen ini bener-bener dingin dan kelam. Setingnya mengingatkan saya pada film-film Suzzana. Asli. Dan kengerian yang diciptakan Vai bener-bener terasa real dan bikin merinding. Apalagi di bagian ending.

★★★★☆

3. Dia yang Pulang

Ternyata, ini adalah lanjutan dari cerpen sebelumnya. Mengambil sudut pandang Nurma, anak Mpok Indah di cerita nomor 2. Nurma yang mencium bau bangkai di sekitar rumahnya. Bau bangkai yang tak juga enyah. Sampai pada suatu malam, ia terbangun dari tidur, dan mendapati kedatangan seseorang. Seseorang yang sudah ia kenal seumur hidupnya dan baru meninggal 3 hari sebelumnya. Seseorang yang kembali pulang, dalam kondisi yang benar-benar mengerikan.

Cerpen ini nggak seberhasil cerpen prekuelnya. Selain lebih ringkas, juga nggak menghadirkan ketegangan yang wah. Tapi… Cerpen ini berhasil menyentuh kepekaan saya tentang hubungan manis ibu dan anak. Di tengah-tengah pekerjaannya menakut-nakuti dan membikin pembaca merinding, Vai pun ternyata punya sampingan memasukkan unsur drama yang menyentuh perasaan.

★★★☆☆

4. Akan Kuberi Makan

Ini adalah puisi horor pertama yang saya baca. Indah dan membikin merinding.

★★☆☆☆

5. Setelah Gelap Datang

Cerpen yang dijadikan judul buku ini punya banyak filosofi. Salah satu bagian yang saya suka:

“Kenapa manusia takut pada kuburan? Bukankah kuburan itu berisi orang mati yang dulunya juga hidup seperti kita? Mengapa manusia modern takut pada kemenyan, pada tembang kuno, pada boneka jelangkung, pada rumah tua, pohon keramat? Kita takut pada hal yang telah kita lupakan. Semakin lama kita melupakannya, semakin kita takut kepadanya. Itulah kenapa rasa takut terbesar kita datang dari kegelapan, dari asal kita sendiri.”

Bercerita tentang “Aku” yang bersahabat dengan seorang anak laki-laki bernama Nur–yang ironisnya memercayai kegelapan sebagai awal dari segala sesuatu.

Paragraf-paragraf awalnya benar-benar memikat. Penuh pemikiran dan filosofi tentang cahaya, gelap-terang, manusia, kehidupan, ketakutan. Hanya saja, saat mencapai ending, kok saya ngerasa kurang puas? Mungkin waktu menuliskannya, Vai terlalu terburu-buru. Mungkin juga waktu membacanya, saya lah yang terlalu terburu-buru.

★★★☆☆

6. Cerita Hantu di Ruang Sekretariat

Bercerita tentang 3 orang mahasiswa yang sedang begadang di sebuah ruang sekretariat di kampusnya tengah malam. Sambil mengerjakan tugas, sambil bercerita tentang kejadian-kejadian seram.

Di cerita ini, Vai enggak menebar kalimat-kalimat berbobot nan memikat, namun justru menghadirkan kepolosan yang memesona. Kesan yang saya rasakan pun amat sangat natural, sehingga saya serasa sedang duduk di antara mereka bertiga, mendengarkan cerita-cerita seram yang dialami teman mereka di kampus dan sekitarnya. Bayangin, tengah malem cerita begituan! Buat saya yang penakut, itu bener-bener mengerikan. Mengerikan. Mengerikan. (Sampai diulang)

Meskipun endingnya agak mengecewakan buat saya pribadi, cerpen ini adalah cerpen favorit saya yang pertama di kumcer ini. Ketegangannya dapet!

★★★★☆

7. Napas Kandra

Bercerita tentang “Aku” yang sering naik bus, dan punya kebiasaan unik: merasakan napas orang di sebelah. Sampai suatu hari, si Aku bertemu gadis bernama Kandra. Selama pertemuannya yang berlangsung berkali-kali itu, si Aku nggak pernah meraasakan napas Kandra. Ada yang tidak beres, tentu saja.

Terlepas dari beberapa plothole yang saya rasakan, cerita ini mengalir lancar dan tetap saya baca sampai tuntas. Kelebihan Vai yang harus saya akui di cerpen ini adalah, Vai mampu membuat ceritanya believeable walaupun terasa ada yang janggal. Hehe.

★★☆☆☆

8. Satu Lukisan Terakhir

Cerpen ini pernah saya baca di Kemudian.com. Tapi karena udah lupa, saya pun baca ulang.

Bercerita tentang seorang pelukis yang mulai merasakan keganjilan-keganjilan di studionya. Dari mulai tube-tube cat yang berpindah-pindah, hingga kanvas-kanvas yang dicorat-coret oleh entah siapa. Si pelukis menceritakan kisah itu melalui surat-surat untuk kekasihnya, Erika, sumber inspirasinya.

Buat saya, nggak ada kejutan di cerpen ini. Dari awal sudah bisa ditebak. Bukan karena saya pernah baca sebelumnya, melainkan memang sepertinya Vai sengaja meletakkan petunjuk-petunjuk di segala sudut. Atau barangkali Vai nggak memaksudkan ini sebagai cerita teka-teki dengan ending kejutan. Yang jelas sih, saya suka bagaimana cara Vai bercerita dan membawa saya ke endingnya.

★★★☆☆

9. Sebuah Wawancara

Bercerita tentang Arga, pengangguran yang pada akhirnya mendapat panggilan wawancara kerja. Dia nggak menyangka akan diwawancarai langsung oleh direktur perusahaan. Dan dia lebih nggak mengira kalau orang yang mau mewawancarainya itu adalah “kawan lama”-nya.

Buat saya, di cerita ini Vai menuliskan dan menyuguhkan bacaan yang lengkap. Saya beneran ngerasain perubahan mood yang nano-nano rasanya. Dari rasa biasa waktu awal cerita, rasa penasaran waktu si Direktur memperkenalkan diri sebagai kawan lamanya Arga, rasa deg-degan dan penasaran saat menebak-nebak siapa dia, rasa tersentuh dan agak mellow waktu membaca kilas balik kedua tokoh itu, rasa tegang saat setelah tahu siapa dan apa hubungan mereka berdua dulu dan apa yang akan mereka lakukan sekarang. Dan saya merasa puas dengan endingnya.

Vai berhasil memuaskan saya. Ya, ini cerpen favorit saya yang kedua, tapi nilainya lebih tinggi dari yang pertama tadi. Ayo Vai bikin novel! :p

★★★★★

10. Nenek Sari

Saat membaca judul, saya langsung berasumsi Nenek Sari ini adalah sumber horor, seperti Nenek Lampir dsb.. Ternyata saya salah.

Bercerita tentang seorang jagal–siapa namanya lupa, dipanggil Rip oleh Pak John, yang hendak memberinya “pekerjaan”. Awalnya dia enggan, sebab pekerjaan itu nggak hanya dosa, melainkan juga butuh kekejian yang luar biasa. Tapi, demi Ratih anak semata wayangnya dan Tria istri tercintanya, dia pun bersedia melakukannya: menghabisi Nenek Sari, dan menanam kepalanya sebagai tumbal sebuah proyek mall.

Seperti cerpen-cerpen sebelumnya, Vai selalu berhasil unsur-unsur kemanusiaan yang menyentuh. Nggak cuma horor nyeremin, tapi juga drama yang menyentuh. Perang batin si tokoh utama saat melakukan tugasnya dapet banget.

Endingnya bukan sesuatu yang saya harapkan sih sebenernya. Saya ngarep yang wooooow. Tapi, ya, mari kita menginjak lantai, menjejak bumi. Ending yang diberikan Vai cukup realistis.

Dan ini cerpen favorit saya lagi.

★★★★☆

11. Dari Atas Kursi Merah

Judulnya familier banget. Dulu pernah baca, tapi lupa. Hahaha.

Bercerita tentang Nabi palsu dan keluarganya. Mengambil sudut pandang Aku dari mata si anak laki-laki bernama Sahid, yang punya keunikan: susah menelan makanan. Keunikan itulah yang nyelamatin dia dari upaya bunuh diri berjamaah yang dilakukan si Nabi palsu dan isterinya lewat semangkuk bubur kacang.

Keunikan ini agak personal, buat saya pribadi. Hehe. Saya pun lamaaaa banget kalau ngunyah makanan, tapi nggak selama Sahid sih yang harus sampai 10 menit untuk bisa menelan satu suapan makanan. Gila.

Balik ke cerita. Sahid ini sekarang berusia 20+ dan berprofesi sebagai penjaga dan tukang bersih-bersih di kuburan. Serem ih ngebayagin–katanya Sahid suka liat ibu dan bapaknya nongkrong cantik di atas pohon sambil gerak-gerakin daunnya biar Sahid punya kerjaan. Stop it, dadun! Stop it!

Well, saya kenal Vai. Topik tentang Nabi Palsu ini salah satu obsesi bahan tulisannya. Dan cerpen ini lumayan berhasil, menurut saya. Meskipun masih kurang memuaskan dan masih bisa dikembangkan.. Err… Dieksplorasi lebih dalam lagi.

★★★☆☆

12. Dea

Ini saya kategorikan sebagai cerpen horor provokatif. Sekian.

★★★☆☆

13, Petunjuk Sebelum Kembali Membaca Buku Komedi Hantu

Cerpen ini, polanya hampir sama dengan cerpen sebelumnya. Tapi lebih ringkas. Sesuai judulnya: petunjuk blah blah blah. Memang terasa kayak petunjuk. Petunjuk sesat :p

Well, cerpen ke-12 dan ke-13 ini sialan banget! Pas baca bikin lirik-lirik kamar. *jambak Vai*

★★☆☆☆

###

Kesimpulannya, buku kumpulan cerpen Muhamad Rivai yang berjudul “Setelah Gelap Datang” ini berhasil bikin saya agak paranoid. Bikin kaget waktu tiba-tiba ada yang manggil. Bikin males ke kamar mandi malem-malem. Dan yang paling nyebelin, bikin ngiri karena nggak bisa nulis cerita horor kayak gini.

Akhirnya, bukan karena Vai teman saya, buku ini saya bilang bagus, melainkan karena memang bukunya bener-bener bagus. Worth to read. Nggak bakalan nyesel deh, abis baca (walaupun efeknya jadi parno buat yang penakut kayak saya).

Dan karena buku ini nggak didistribusikan di toko buku konvensional, buat kamu yang tertarik dan pengin beli, bisa hubungi langsung penulisnya di Twitter: @rivaimuhamad.

One thought on “[Resensi] Setelah Gelap Datang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s