Kaleidoskop 2012: Semacam Kilas Balik


Selama tahun 2012 ini, aku dipertemukan dengan orang-orang yang sedikit banyak mengubah hidupku. Ya, aku harus bilang begitu biar kesannya lebih menggigit dan dramatis. Dan, oh… ya, 2012 ini kayaknya tahun yang paling dramatis yang pernah kulalui seumur hidupku.

Dalam sebuah konsultasi di ruang praktik seorang Dokter sekitar dua atau tiga bulan yang lalu, aku ngerasa kayak seorang anak kecil yang sedang dikonfrontasi seorang dewasa, bahwa apa yang dilihat si anak kecil sebagai mahkluk yang nggak biasa itu cuma halusinasi saja. Sayangnya, si anak kecil itu nggak punya bukti dokumentasi apa-apa, selain kejujuran. Dan sekadar kejujuran selalu dan selalu nggak pernah cukup. Jadi, aku pun nggak tau harus bilang apa waktu si Dokter bilang, rasa sakit di tenggorokanku itu sebenarnya semu. Sebab, nggak ditemukan penyakit apa pun di situ. Semakin aku berkeras mengatakan “Demi Tuhan aku bener-bener kesakitan, Dok,” si Dokter seakan makin yakin kalau aku ini mengalami semacam gangguan psikosomatis, sampai akhirnya dia menyarankan agar aku berkonsultasi dengan seorang Psikolog. Heck.

Nggak. Aku nggak mengikuti sarannya yang itu. Aku turuti sarannya yang lain. Standar sih. Dia bilang, aku harus menjaga pola makan, beristirahat dan berolah raga yang cukup, jangan kecapekan, jangan stres, jangan mikirin masalah berlarut-larut, jangan berpikiran negatif sama orang lain, harus banyak ber-dzikir dan ber-istigfar, dan harus lebih rajin beribadah. Nasihat yang sangat mulia, bukan?

Mungkin benar, aku ini tipe orang yang suka melarutkan diri dalam sebuah persoalan terlalu dalam. Ya tapi mau gimana lagi, kalau hal itu udah jadi bagian dari sesuatu yang bekerja di bawah kesadaran, kayak berkedip dan bernapas? Pikiran dan perasaanku punya dominasi tersendiri atas diriku. Mereka nggak bisa dikendalikan kayak kuda jinak. Mereka lebih suka berlari-lari sesuka mereka sendiri. Dan aku nggak bisa menghentikannya. Mungkin itu salah satu alasan kenapa setiap kali tidur, aku selalu bermimpi dan nggak pernah nyenyak.

Sejauh ini, aku belum menemukan satu orang pun yang bisa ngertiin aku soal hal itu. Mungkin perjalanannya masih cukup panjang sampai akhirnya aku bisa ketemu dengan orang itu. Atau mungkin juga, orang itu nggak bakal pernah datang, karena memang nggak pernah Tuhan ciptakan. Oke, itu kedengarannya terlalu muluk, memang, Aku cukup bersyukur dengan keberadaan teman-teman dan sahabat yang meskipun nggak selalu ada di setiap aku butuhkan, tapi setidaknya mereka mampu memberiku rasa percaya betapa bahagianya aku memiliki teman dan sahabat seperti mereka.

Tahun ini aku mendapat kejutan ulangtahun yang sangat manis dari sahabat-sahabatku. Aku cuma bisa bengong dan berusaha untuk nggak terlihat terharu waktu di tengah-tengah haha-hihi sebelum makan di Balakecrakan siang itu, tiba-tiba mereka pergi entah ke mana, dan kembali membawa satu dus berisi setengah lusin cupcake Angry Birds yang terlihat sangat manis dan menggemaskan. Rasanya, aku pengin memeluk mereka satu-satu dan menangis tersedu. Tapi enggak. Syukurnya, aku cuma lebay dan drama di dunia paralel aja.

Kalau soal nggak tega makan cupcake lucu itu sampai sempet majang di kulkas selama dua hari dan kemudian akhirnya dimakan juga karena Mama bilang kuenya hampir basi, itu bukan lebay, kan? Kalau soal ternyata ada satu cupcake kesayangan yang disimpan di dalam kulkas selama enam bulan cuma buat diliat dan diendus aromanya aja, itu juga bukan lebay, kan? Itu namanya menghargai hadiah dari sahabat-sahabat tersayang. Tapi, kabar burukunya, sekitar dua minggu yang lalu, saat Mama bersih-bersih kulkas secara berkala, cupcake itu bentuknya udah nggak jelas. Penyok. Belepotan. Dan dengan sangat berat hati akhirnya harus dibuang. Sedih, sih. Tapi ya mau gimana lagi.

Buat aku, kenangan adalah sesuatu yang harus disimpan dan dijaga baik-baik, seperti apa pun wujudnya. Apalagi kenang-kenangan, yang jelas-jelas ada wujudnya. Nggak bakalan mudah aku buang begitu aja. Jangankan benda tiga dimensi, file foto sampai chat BBM dan SMS pun biasanya aku simpen baik-baik. Entah buat apa, aku cuma suka aja melakukannya. Soal hal ini, Mama udah mulai ngerti, dan bahkan suka nanya apakah kerdus, kertas kado, amplop-amplop dan pembungkus barang lainnya yang masih kusimpan di dalam rak itu udah bisa dibuang atau belum.

Selain sahabat-sahabat di dunia nyata, aku pun punya sahabat dari dunia maya. Sahabat yang nggak pernah ketemu (atau beberapa baru ketemu), tapi udah cukup banyak berbagi cerita di BBM, SMS, Whatsapp, Twitter, Facebook, dan fasilitas online lainnya. Dan tahun ini, kayaknya lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kenal si A, si B, si C; yang ternyata kenal sama si D, temennya si E, sodaranya si F, pacarnya si G, mantannya si H, selingkuhannya si I… pokoknya banyak deh.

Pertemuan dan perkenalan itu mendatangkan berkah tersendiri. Proyek buku keroyokan, salah satunya. Tahun ini aku punya satu proyek buku keroyokan bersama penulis-penulis senior GPU juga penerbit lain, dan temen-temen yang statusnya masih berlabel “penulis indipenden” kayak aku, dan syukur alhamdulillah, setelah mengalami proses yang nggak pendek dan instan, tanggal 17 Desember kemarin, buku berjudul “Before The Las Day” yang berisi kumpulan 16 cerpen dari 16 penulis yang berisi cerita-cerita sebelum hari “kiamat” itu resmi diterbitkan dan dilepaskan ke toko buku di seluruh Indonesia oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Wow, mimpi apa aku bisa satu buku dengan penulis-penulis keren itu?! Ngebayangin atau sekadar ngelamuninnya aja aku nggak berani. Tapi ini beneran terjadi, dan bukan cuma mimpi. Dan lebih dari itu, aku bener-bener ngerasa beruntung bisa ngobrol dan mengunduh ilmu menulis dari mereka. Sumpah, ini bener-bener pengalaman yang luar biasa. Dari mereka juga aku percaya bahwa menjadi penulis itu bener-bener butuh effort yang luar biasa, bukan sesuatu yang terbentuk dan tercipta secara tiba-tiba. Butuh usaha dan kerja keras untuk bisa di posisi seperti mereka saat ini.

Sebenernya ada satu proyek buku keroyokan lagi yang udah jadi, hanya tinggal nunggu pihak penerbit indie yang bersedia membantu membidani perwujudannya aja. Sementara, judul bukunya adalah “Kebetulan-Kebetulan itu Bernama Takdir”. Buku ini berisi 13 cerita dari 10 penulis yang berisi cerita-cerita tentang takdir dan serendipitas dalam kehidupan dan drama sehari-sehari. Proyek ini merupakan “proyek wajib tahunan” yang kubuat bersama temen-temen penulis indie lainnya yang baru dua tahun berajalan. Tahun lalu, ada proyek buku berjudul “Kisah-Kisah yang Tak Boleh Dikisahkan” yang sebagian kontributornya kembali berkarya di buku yang sedang diproses ini. Semoga tahun depan bisa terealisasi dalam wujudnya yang terbaik. Dan semoga tahun depan, “proyek wajib tahunan” kami masih terus berlangsung.

Di tahun ini pula, aku dipertemukan dengan beberapa pihak dari dunia penerbitan buku. Soal ini aku belum bisa cerita banyak. Cukup kuceritakan demikian. Dan bagaimana pun, aku harus mensyukurinya. Menyikapinya dengan tindakan nyata, menulis dengan lebih baik, terus belajar dan bekerja keras sampai “saat itu” benar-benar tiba. Dan, oh, iya, beberapa bulan lalu, aku menguji nasib dengan mengikuti sayembara menulis proyek 14: Dongeng Patah Hati yang dibikin Gagasmedia, dan rupanya Dewi Fortuna lagi baik hati. Aku masuk ke dalam daftar 10 orang terpilih. Senengnya nggak main-main. Banget. Salah satu motivasi utamaku ikut sayembara itu sebenernya cuma satu: pengin punya karya cetak yang kaver bukunya didesainin sama Jefri Fernando. Oh, sumpah, dia itu inspirasi buat aku. Serius. Ya mudah-mudahan aja kaver bukunya nanti didesainin sama Jefri Fernando. Please, Gagasmedia, please. Hehe… Ya walaupun ternyata bukan, aku udah seneng banget bisa jadi bagian dari Gagasmedia, walaupun kadarnya masih kecil banget.

Dari sisi kerjaan, aku kayaknya masih gini-gini aja. Kerja di tempat yang makin hari makin banyak drama dan bikin mumet kepala. Udah mau tiga tahun loh, aku kerja di sini. Betah sih, tapi ya gitu… banyak banget kerikilnya. Tapi tahun ini aku punya sampingan jadi desainer kaver. Alhamdulillah ada yang memercayakan amanah itu kepadaku. Makasih ya, temen-temen tersayang, terutama pihak Elf Books yang setiap ada proyek buku baru selalu ngontak aku. Makasih banget banget. Juga ada beberapa kerjaan desain bikin logo produk. Dapet komentar positif dan liat ekspresi bahagia kalian dan denger atau baca kalimat “Makasih, Dadun, aku suka banget desainnya” dari kalian itu bener-bener kebahagiaan tambahan setelah kebahagiaan finansial yang kudapatkan. Haha… Dan ngerjain kerjaan sampingan itu cukup jadi hiburan dan rekreasi di tengah suntuknya kerjaan utamaku. Sekali lagi, makasih ya, teman-teman.

Dan terakhir, soal percintaan… aku perlu menarik dan mengembuskan napas dalam-dalam sebelum menuliskannya….

Tapi kayaknya aku perlu satu postingan khusus untuk menuliskannya. Tentang pertemuanku dengan kamu, juga dia. Dan tentang pertemuanku dengan kebahagiaan, kesedihan, juga perpisahan.

Jadi, rasanya nggak salah kalau aku bilang tahun 2012 ini merupakan Tahun Pertemuan.

Selamat tinggal 2012 yang penuh pertemuan dan kenangan menyenangkan, yang tentu saja bakal selalu kusimpan. Selamat datang 2013 yang penuh harapan. Semoga ada lebih banyak pertemuan dengan kebahagiaan.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s