Nomor


Pada sebuah hari libur, tanggal 25 kemarin; dalam sebuah perbincangan dengan banyak topik; tiba-tiba saja aku ingin mengeluhkan sesuatu pada seseorang yang sedang memboncengku.

“Bete nggak sih, kalo hari libur gini masih aja diteleponin orang kantor, ditanya-tanya soal kerjaan?!”

“Nanyain apa, emang? Terus kamu jawab apa?”

“Nggak sempet aku angkat sih, tadi lagi mandi.”

Oh, ya, di kantorku itu nggak cuma waktu liburnya aja yang beda-beda, tapi waktu gajiannya pun beda-beda, sesuai dengan tanggal masuk kerja. Yang mengenaskan itu, ada beberapa anak yang nggak dapet libur di tanggal merah, jadi liburnya memang sudah baku satu kali dalam satu minggu. Dan mereka terima begitu aja. Kalau aku sih, bakalan males kalau harus kayak gitu. Diteleponin atau sekadar di-BBM soal kerjaan di hari libur aja rasanya kayak disuruh masuk penjara. Dan kebiasaan sibos kalau hari libur pasti hobinya ngerecokin karyawan.

Jadi, selama menikmati liburan, aku bakal lebih sering menonaktifkan ponsel demi alasan mulia itu. Hanya sekali-dua kali aku mengaktifkannya, mengecek kalau-kalau ada hal penting.

Sampai sore harinya, panggilan telepon itu nggak datang lagi. Syukurlah. Aku pun bisa santai menikmati hari libur dengan ponsel aktif.

Ketika kami sedang makan di kawasan Braga, aku nge-BBM teman kantorku yang hari itu masuk kerja, yang tadi pagi nelpon itu. Ya udah sore juga sih, nggak mungkin ada pemaksaan harus datang ke kantor. Aku tanya, ada apa tadi pagi nelpon. Dia bilang, dia nggak nelpon, dan nggak ada alasan yang mengharuskan dia menelpon.

“Hah, jadi ini bukan nomor kamu?”

“Bukan. Nomor aku ini…,” dia ngasih nomor barunya yang pernah dia kasih dua minggu lalu, dan nggak aku save itu. Ya aku ingetnya cuma 4 digit awalnya aja, yang sama dengan nomor yang tadi pagi nelpon bahkan nge-SMS: udah bangun?

Aku buru-buru ngecek SMS itu lagi. Ya aku pikir itu SMS dari teman kantorku. Biasalah, mereka itu kalau SMS atau BBM suka nggak to the point. Nanya lagi apa lah, udah bangun atau belum lah, udah punya pacar atau belum lah… dan lain-lain.

Jadi, aku bales SMS itu: maaf, ini siapa ya?

Dan, nggak lama kemudian, seseorang yang lagi makan di hadapanku, yang jadi tukang ojek-(hehe) -ku hari itu tiba-tiba ngomong, “Dadun sialan ya. Itu nomor gue!”

Jadi, ternyata itu nomor dia. Oke, aku emang kadang males nge-save nomor hp orang, apalagi kalau udah terhubung lewat BBM atau Whatsapp atau twitter.

Jadi, ya aku langsung save aja nomor dia, lengkap dengan namanya.

Krik.

Tapi beneran, kejadian hari itu terus-terusan berputar-putar dikepalaku. Kayaknya emang pengin dieksiskan di blog.[]

One thought on “Nomor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s