Sambil Menunggu


Dia tidak suka menunggu, tetapi lebih tidak suka membuat orang lain menunggu. Hanya gerimis yang menjadi pemandangan paling jujur yang bisa dinikmatinya di luar jendela. Orang-orang itu, menurutnya terlalu palsu untuk dipercaya. Tidak ada lagi manusia yang apa adanya. Matanya baru saja menatap bayangan bias di jendela. Bayangan dirinya sendiri, yang sama palsunya dengan mereka.

Hampir pukul delapan belas. Hampir lima belas menit dia berada di kafe ini. Hampir pecah kepalanya memikirkan segala hal. Menunggu, membuatnya demikian. Dia tidak suka berbicara dengan dirinya sendiri, tetapi lebih tidak suka membiarkan dirinya tak diacuhkan siapa-siapa, terlebih oleh dirinya sendiri. Sekali lagi dia menatap jendela, dan hanya mendapati bayangannya sendiri di sana.

“Mungkin kami memang harus berpisah…,” suara perempuan itu tiba-tiba terdengar seperti voice over di dalam sebuah film. Tanpa rupa. Membuat dia mengalihkan perhatian secara serta merta. “Udah terlalu banyak orang yang ikut campur dan sok tahu soal rumah tangga kami.”

Dia tidak berusaha mencari tahu di mana perempuan itu berada. Menjadi pendengar membuatnya sudah merasa cukup. Oh, tapi rasanya, perempuan itu berada di belakang tempat duduknya.

“Kemarin, kakaknya menguliahiku sampai kupingku rasanya udah nempel sama handphone,” lanjut suara perempuan itu. “Di matanya, aku lah sumber dari segala salah dan masalah.”

“Lalu, kamu jawab apa?” tanya suara perempuan yang berbeda.

“Ya… aku membela diri, dong. Aku bilang, semua yang dia katakan itu lebih tepat ditujukan ke adiknya yang nggak berguna itu. Kamu tau sendiri kan, suamiku itu bisanya apa sih, selain ngerepotin dan bikin masalah?”

“Terus, reaksi kakaknya gimana?”

“Orang kayak gitu mana mau ngalah. Sejak awal-awal kami menikah dulu, kakaknya memang sering ikut campur, sok tahu, sok ngatur, dan nggak bisa diinterupsi. Dia pikir, dia layak ngelakun itu karena dia ngerasa udah cukup banyak berjasa dan menderma-kan hartanya buat kehidupan adiknya, buat rumah tangga kami.”

“Suami kamu juga mau-mau aja diperlakukan kayak balita gitu sama kakaknya….”

“Ya itu lah dia. Nggak punya pendirian dan sikap. Dia terlalu lembek sebagai laki-laki.”

Dia tidak suka mencampuri urusan orang lain, tetapi lebih tidak suka membiarkan orang lain mencampuri urusannya. Kali ini, dia hanya perlu alasan, kenapa perempuan yang sedang menjelek-jelekkan suaminya itu mau dinikahi. Jika semata cinta, seharusnya hal semacam ini tidak perlu terjadi–dan kalaupun sudah terjadi, bukankah lebih baik kalau hal ini cukup menjadi konsumsi pribadi? Kalaupun perempuan itu butuh teman curhat, setidaknya ia harus bisa memilih tempat.

Kemudian dia berpikir–menebak, lebih tepatnya–kalau perempuan dan laki-laki itu menikah karena perjodohan. Tapi dia berpikir ulang. Perempuan seperti itu seharusnya bisa menolak perjodohan yang tidak dikehendakinya. Ataukah mungkin, waktu dan pengalaman membuat perempuan itu tumbuh menjadi seseorang yang berbeda dari siapa dirinya yang sebelumnya? Mungkin, dulu, perempuan itu begitu pasrah, dan ketika ia sudah menemukan kekuatannya, segalanya sudah berubah.

Sebelum terlanjur menghanyutkan diri dalam urusan orang lain yang tidak begitu penting, dia menyumbat kupingnya dengan earphone dan menyalakan iPod. Meleburkan dirinya dalam auto-playlist. Dia harap, dengan mendengarkan lagu apa saja, dia bisa mengusir jenuh dan gundahnya. Dia harap, dia juga bisa menetralisir pengaruh buruk dari pembicaraan yang tak sengaja didengarnya di antara dua orang perempuan yang berada di belakang tempat duduknya.

Dia terus berusaha menekan tombol untuk meningkatkan volume suara lagu dari iPod-nya, sebab pembicaraan kedua perempuan itu bukan hanya masih bisa terdengar, melainkan juga telah mampu memberinya sewujud gambaran yang nyata tentang sebuah keadaan yang begitu familier. Sebuah drama rumah tangga yang pernah diceritakan seseorang kepadanya, dengan versi yang berbeda. Versi sebaliknya.

Sekilas bayangan menarik perhatiannya ketika dia melempar pandangan ke jendela yang memburam karena gerimis telah menjadi hujan. Sosok yang begitu dia kenal, dan kerap mengisi hari-harinya selama beberapa bulan belakangan. Sosok itu bahkan mengenakan kemeja berwarna marun yang seingatnya pernah dia pilihkan untuknya. Tetapi, bisa jadi bukan. Kemeja marun itu bukan satu-satunya di dunia, bukan? Dan sosok itu pun berlari menjauh, menerobos hujan.

Tak berapa lama kemudian, Blackberry-nya berderik-derik. Mengembalikan perhatiannya ke ruangan sejuk ini. Sebuah BBM muncul, menyatakan bahwa laki-laki yang dia tunggu sedari tadi tidak bisa datang, dengan alasan yang terlihat begitu masuk akal. Mobilnya terendam banjir sehingga mogok di tengah perjalanan.

Dia tidak suka menunggu, tetapi lebih tidak suka membiarkan orang lain menunggu. Maka, dengan cepat dia membalas BBM laki-laki itu. “Nggak apa-apa. Kita masih punya banyak waktu lain buat ketemu.”

Laki-laki itu tidak membalas lagi. Dan dia tidak peduli lagi.

Sebelum meninggalkan mejanya yang hanya ditempati secangkir Earl Grey yang sama sekali belum disentuhnya itu, dia menuliskan sesuatu pada kertas yang dia sobek dari buku agendanya, kemudian menitipkannya kepada seorang pelayan untuk diberikan kepada perempuan yang duduk di belakangnya dan menceritakan masalah rumah tangganya tadi.

Dengan heran, si pelayan menerimanya, tanpa sempat bertanya apa-apa karena dia sudah berlalu pergi. Dan dengan ragu, si pelayan memberikannya kepada perempuan yang dia maksudkan.

“Suamimu ada di parkiran. Temuilah untuk yang terakhir kalinya.”

Sesaat, perempuan itu tampak terkesiap, sebelum akhirnya raut wajahnya kembali ke level sebelumnya, sambil meremas kertas itu dan membuangnya ke sembarang arah.

“Kayaknya, aku nggak perlu ngajuin gugatan cerai,” ujarnya tenang kepada perempuan di hadapannya, seraya menyeringai.[]

* * *

Mc.D Simpang Dago, 27.12.2012
Tulisan ngasal sambil nunggu seseorang yang terlambat datang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s