Tanggal


Dia selalu ingat kapan kami memulai hubungan. Tahun, bulan, hari, tanggal, hingga jam. Mungkin dia pun nggak bakal lupa kapan kami mengakhirinya.

Jadi, nggak heran kalau tiba-tiba saja dia bertanya, adakah hal istimewa yang terjadi atau kulakukan pada tanggal cantik nan fenomenal 12-12-12 kemarin? Aku jawab, nggak ada.

Dia hanya bergumam pendek. Salah satu kebiasaannya yang nggak kusukai. Tapi kali ini aku nggak bisa lagi memprotes. Bukan hak-ku lagi. Jadi, aku hanya membuang pandangan kepada sepasang kekasih yang baru datang dan bejalan menuju konter sambil berpegangan tangan, lalu menatap teh botol dalam kotak dan menghirupnya.

“Kamu udah senyum?”

Eh? Pertanyaan aneh. Tak perlu kujawab.

“Kamu tuh kurus bukan karena kurang makan, tapi karena kurang senyum. Kamu senyum kalau lagi di depan kamera. Itu pun nggak tulus.”

“Sok tau.”

Tersenyum, lalu dia membalas, “Sok lupa. Aku kan orang nomor satu yang tau banyak tentang kamu. Kamu sendiri yang bilang gitu.”

“Kalau kamu orang yang paling tau tentang aku, mana mungkin aku punya alasan buat mutusin kamu?”

“Jahat banget.” Tapi dia malah tertawa. “Aku bahkan tau alasan yang selalu kamu bilang tentang kenapa kamu jarang senyum. Harus berapa kali aku bilang sih, kalau tersenyum itu cara paling mudah dan murah buat bahagia?”

“Apa aku harus selalu senyum di hadapan orang lain?”

“Memangnya kamu suka senyum sendirian? Mengerikan.”

“Seenggaknya aku bisa bahagia dengan caraku sendiri.”

“Dan kamu udah cukup bahagia?”

“Aku tau apa itu bahagia. Dan kurasa, iya.”

“Kalau kamu bahagia, tersenyumlah. Bagikan kebahagiaan itu buat orang lain juga. Buat aku, misalnya.”

“Supaya apa?”

“Supaya aku bisa bahagia karena ngeliat kamu bahagia.”

“Kamu udah cukup bahagia, kan? Tadi aja kamu udah senyum dan ketawa. Jadi, buat apa?”

“Memangnya kamu nggak mau bikin orang lain bahagia?”

Sial. Dia memang selalu punya kata-kata yang nggak bisa kujawab dan kuinterupsi. Terkadang aku nggak menyukainya, hanya karena hal itu membuatku terlihat kalah. Tetapi, aku selalu ingat untuk apa kami melakukan konversasi. Bukan untuk mencari siapa yang menang atau kalah, melainkan menyelesaikan sebuah masalah. Meskipun nggak semuanya bisa terselesaikan, dan malah bikin masalah baru.

“Khusus buat kamu: enggak!” jawabku, pada akhirnya.

Dia tertawa. “Baiklah, kalau itu bisa bikin kamu bahagia.”

“Masih penting, apakah aku bahagia atau enggak?”

Dia mengangguk cepat, tanpa keraguan di dalamnya. “Tentu saja. Karena salah satu misi besarku di dunia ini adalah membuat kamu bahagia.”

“Gembel!” Ada ledakan tawa sesaat yang tak dapat kutolak.

Lagi, dia tersenyum. “Nah, gitu dong, ketawa, biarpun dikit. Kamu cakep kalo senyum, apalagi kalau ketawa.”

“Usaha yang bagus. Tapi itu nggak bakal mengubah apa-apa. Keputusanku udah bulat.”

“Ge-er! Emangnya aku keliatan kayak yang mau ngajak balikan?”

“Emangnya kamu nggak mau ngajak balikan?”

Dia terdiam selama beberapa saat sebelum bilang, “Enggak,” lalu kembali terdiam.

Hening menggantung di tengah-tengah kami. Dan tiba-tiba aku teringat pada pertanyaannya di awal tadi. “Hal istimewa apa yang terjadi atau kamu lakukan pada tanggal 12-12-12 kemarin?” Aku baru akan menanyakan hal itu kepadanya ketika tiba-tiba saja aku memikirkan hal lain… tentang dia dan orang lain. Tentang….

Ah, itu bukan urusanku lagi. Dan aku nggak peduli.

Aku kembali membuang pandangan ke arah sepasang kekasih yang tadi datang dengan berpegangan tangan dan kini sedang duduk berhadapan menikmati makan malam sambil berbincang penuh kemesraan. Mereka terlihat sangat manis dan serasi. Apakah aku dan dia terlhat seperti itu di mata orang lain saat kami masih bersama?

Ah, apa-apaan sih aku ini?

Saat akhirnya aku menarik kembali pandanganku ke meja kami, ke seseorang yang duduk di hadapanku, aku melihat matanya sedang lurus menatapku. Dan dia lagi-lagi tersenyum. Aku nggak suka cara dia menatap dan tersenyum seperti itu. Mengingatkanku pada tanggal di mana kami memulai hubungan itu.

Aku nggak mau jatuh cinta lagi.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s