Nama


“Aku lagi naksir seseorang.” Dia berbisik beberapa saat setelah mereka tiba dan duduk di kursi yang sudah ditentukan.

Harus ya, ngomongin itunya sekarang? Rutuk ia, seseorang yang baru saja dibisikinya itu. Bukan karena ia cemburu pada seseorang yang bakal disebutkan dia sebagai seseorang yang dia taksir, melainkan karena film sudah dimulai. Tetapi, ia tidak lantas menunjukkan kekesalannya. Dengan nada ramah, ia membalas bisikan dia dengan suara yang hanya bisa dijangkau mereka berdua. “Siapa?”

“Ada deh….”

Nyebelin. Buat apa ngomong kayak tadi kalau ditanya balik, jawabnya ‘ada deh’? Tapi, lagi-lagi ia menahan kalimatnya di kerongkongan. Hanya seklias memandang ke arah dia untuk memberikan isyarat bahwa sebaiknya mereka tak lagi bicara, kecuali mereka sudah siap pulang tinggal nama gara-gara dihabisi penonton satu studio karena berisik.

Saat sedang menonton, tiba-tiba kepalanya tak bisa menolak ingatan tentang dia, seseorang yang tadi membisikinya itu, yang terkahir kali naksir seseorang di dunia maya. Di Twitter. Seseorang yang dia sukai itu hanya memberikan identitas sekadarnya di akun Twitter-nya. Dia pun menyelidikinya sendiri. Mengetikkan nama seseorang yang dia sukai di mesin pencari. Dan betapa dia baru menyadari bahwa nama seseorang yang dia sukai terlalu pasaran sehinggal sulit untuk diidentifikasi. Sama halnya ketika dia mencari nama itu di akun facebook.

Cerita naksirnya kala itu hanya berlangsung sementara. Sepertinya dia keburu menyerah, dan karena satu dan lain sebab, akhirnya dia memutuskan untuk melupakannya. Ada-ada saja kelakuan dia. Dan ia sudah cukup memaklumi dia dan segala keajaibannya.

Dua jam hampir berlalu. Sepertinya, lima atau sepuluh menit lagi film bakal usai. Dan saat itu lah dia kembali berbisik. “Kamu mau tau siapa yang lagi aku sukai?”

Ia mendengus, tapi akhirnya mengangguk cepat.

“Namanya Cinta.”

“Cinta?” refleks, ia mengulangi bisikan dia.

“Iya. Kami udah lumayan lama kenal. Tapi baru beberapa minggu belakangan mulai deket, dan aku baru tau nama panjangnya.”

“Siapa?”

Selama beberapa saat dia tidak menjawab, membuat ia menunggu, penasaran, dan tak sabar. “Siapa?” desisnya lebih dalam.

“Nama panjangnya… Aku Cinta Sama Kamu.”

Ia buru-buru membekap mulutnya sendiri sebelum suara tawa itu meloloskan diri dari sana. Tubuhnya berguncang-guncang. Beruntung mereka duduk di barisan kursi paling belakang.

“Aku serius.” Bisik dia lagi, membuat ia menyudahi tawa sunyinya.[]

* * *

Bandung, dua minggu sebelum hari ulang tahun ia yang kedua puluh lima, di sebuah studio bioskop yang memutarkan film drama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s