Adiksi


Aku sedang memandangi kucuran air dari dispenser ke gelasku ketika tiba-tiba saja kata-kata itu terngiang begitu jelas. “Kamu harus bisa melawan rasa sakit itu sendiri tanpa harus bergantung pada obat-obatan itu lagi.”

Selama beberapa saat aku terdiam sambil memegangi gelas yang sudah terisi air hangat. Sebutir obat pereda sakit kepala yang hendak kutelan hanya bisa kupandangi dengan napas berat. Kamu benar, aku harus bisa hidup tanpa obat.

“Sakit kepala itu bisa terjadi karena kamu dehidrasi,” kata-katamu waktu itu terdengar lagi. “Minum air hangat yang banyak aja.” Dan semenjak itu, aku pun jadi rajin minum air hangat, tak peduli sepanas apa pun cuaca di luar. Lagi pula, aku memang lebih sering berada di dalam ruangan yang sejuk dan terkadang dingin. Kebiasaan meminum air hangat, lama-lama memberiku kenyamanan tersendiri.

Ada beberapa hal baru yang kulakukan setelah mengenalmu, yang awalnya kulakukan hanya sekadar untuk membuatmu senang, namun kemudian kusadari ada manfaat yang begitu berarti untuk diriku sendiri. Namun, dari semua itu, hanya satu hal yang masih belum bisa kulakukan: meninggalkan kebiasaan meminum obat setiap kali ada rasa nyeri.

Aku selalu berkilah, bahwa aku hanya meminum obat dalam dosis kecil dan tepat, dan itu kulakukan sebagai pencegahan atas kemungkinan rasa sakit yang lebih parah. Kamu bilang itu salah. Obat-obatan itu bakal menjadi racun jika aku terus-terusan mengonsumsinya. Selain bakal menimbulkan efek adiksi, juga ada indikasi beberapa penyakit akan kebal terhadap zat tertentu. Aku tidak mengerti. Yang kupahami dan kulakukan selama ini, jika kepalaku pusing dan tubuhku mulai terasa tidak fit, aku harus meminum obat lalu istirahat agar keesokan harinya aku kembali sehat. Dan hal itu sudah terbukti. Kamu sendiri memang jarang meminum obat, bahkan hampir tidak pernah, dan baru akan mau ketika ada dokter ahli mengancammu dengan vonis mati jika kamu tidak meminumnya. Kamu memang membenci obat.

“Aku hanya ingin hidup lebih lama.”

“Itu hanya akan terjadi kalau pil panjang umur bener-bener ada dan bekerja.”

“Kalau suatu hari aku ngerasa kepalaku pusing, badanku nggak enak, demam, pegal-pegal, lalu perutku terasa mules dan mual, dan kemudian aku nggak minum obat, lalu besok harinya aku masuk rumah sakit, kamu bakal tanggung jawab?”

Kamu tertawa. “Kamu bakal terus-terusan sakit kalau mind-set kamu kayak gitu. Sehat itu diawali dari pikiran, lalu tindakan. Berpikiran positif. Menerapkan pola hidup sehat. Teratur makan dan cukup istirahat. Dan tentunya berolahraga.”

“Sok tau! Kondisi tiap orang kan beda-beda.”

“Dari yang beda-beda itu minimal kan ada satu kesamaan… kayak… aku sama kamu. Kita beda, tapi sama-sama saling sayang, kan?”

Aku tertawa. Dan seketika lupa bahwa kamu pernah bersikap menyebalkan.

Aku tahu, semua perintah, larangan, dan kecerewetanmu yang menyebalkan itu bagian dari paket rasa sayang yang kamu berikan. Dan aku harap kamu juga tahu, meskipun aku tidak melakukan apa yang kamu inginkan, itu bukan berarti aku tidak balas menyayangimu. Kamu benar, kita beda (dan nyaris selalu berbeda) tapi sama-sama saling sayang.

Namun, ketika perbedaan demi perbedaan itu datang dan kemudian menciptakan jarak yang begitu jauh dan jurang yang teramat dalam, apakah kita masih bisa berkata bahwa kita (masih) sama-sama saling sayang?

Kepalaku kembali berdenyut-denyut. Sakit. Membuatku refleks mengurut-urut kening hingga ke pelipis setelah kutenggak segelas air hangat yang sedari tadi kugenggam, dan kubuang sebutir obat pereda sakit kepala yang urung kutelan itu ke tong sampah.

Lihat, aku baru saja berhasil melakukan satu hal yang tak pernah bisa kupenuhi sebelumnya. Seandainya kamu ada di sini, atau setidaknya kamu tahu soal ini…. Ah, ya, selain harus mulai bisa melepaskan diri dari ketergantunganku terhadap obat, aku pun harus mulai bisa melepaskan diri dari ketergantunganku terhadap kamu. Keduanya akan terasa sulit bagiku.

Sangat sulit.

Dan kepalaku semakin sakit.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s