Setelah Hujan Berhenti


Pagi tadi, ia terbangun dengan kondisi tubuh yang tidak terlalu fit namun agaknya sudah cukup lebih baik. Semalam hujan mengguyurnya, lagi, seperti malam-malam sebelumnya. Ia membenci hujan, begitu juga sebaliknya. Dan ketika dua hal yang saling membenci akhirnya dipertemukan, sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia merasakan sakit di kepala dan persendian tubuhnya. Sedikit demam. Flu. Batuk. Ibunya membuatkan segelas susu cokelat panas setelah makan malam, kemudian memberinya obat flu dan batuk. Menyarankannya untuk cepat-cepat tidur meskipun belum mengantuk. Bukan hal sulit baginya untuk berpura-pura tidur padahal diam-diam menonton DVD, menulis, membaca buku; sambil sesekali mengecek ponselnya untuk berkorespondensi kasual dengan teman-temannya.

Pagi tadi, saat sedang sarapan, ia mendengar kabar buruk tentang seseorang. Kabar buruk tetaplah kabar buruk meskipun ia tidak mengenal orang itu. Ibunya bilang, ada seorang guru SD meninggal dunia setelah mendengar geluduk atau petir atau halilintar yang memekakkan telinga kemarin siang.  Ia tahu ibunya tidak benar-benar tahu tentang sesuatu dan suka menambahkan drama dengan bumbunya sendiri, ketika Ibunya menceritakan kronologis kematian guru SD itu. Katanya, ketika hujan turun deras kemarin, guru SD itu menyuruh anaknya mengecek atap yang sering bocor, tapi anaknya diam saja antara tidak mendengar dan malas melakukan perintah ibunya. Lalu, guru SD tersebut akhirnya mengecek sendiri atap rumahnya. Ketika dia naik tangga, geluduk atau petir atau halilintar itu bergerumuh di langit yang jauh namun terdengar begitu dekat sehingga guru SD itu terkejut setengah mati—secara hafariah, hingga akihrnya benar-benar mengembuskan napas terakhirnya. Konon kabarnya, dia terkena serangan jantung. Ia mendesah. Betapa cara kerja kematian seseorang terdengar begitu mudah.

Dan pagi tadi, beberapa saat setelah memakai sepatu, ia mendapati ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk. Dari seseorang yang sudah cukup lama tidak menghubunginya atau sekadar mengiriminya pesan singkat, karena satu dan lain sebab. Dari seseorang yang sudah sangat lama tidak dihibunginya, alih-alih dikiriminya pesan singkat, karena satu dan banyak alasan. Hanya membaca sekilas, kemudian ia pergi menuju kantor tanpa keinginan untuk membalas. Tetapi, ia tak pernah menghapusnya. Ia suka menyimpan segala hal manis dan tak manis di dalam hidupnya. Ia tak tahu untuk apa ia melakukannya. Namun, ia percaya, suatu hari nanti semua itu akan berguna untuknya.

Saat ini, ia sedang duduk sambil menatap jendela, menikmati langit yang cukup cerah namun tanpa warna. Ia tak berharap apa-apa. Tak berharap hujan tidak turun lagi. Ada hal-hal yang tak lagi sama setelah hujan berhenti semalam, setelah ia memutuskan untuk mengakhiri apa yang selama beberapa bulan terakhir ini ia lalui bersama seseorang yang ia percaya mampu membuat hari-harinya menjadi beberapa kali lipat lebih berarti. Ia mendesah. Betapa sebuah perpisahan tak pernah terdengar mudah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s