Kepada: Lam


Hai,

Apa kabar, Lam? Kuharap yang terbaik selalu menyertaimu. Eh, ini terkesan basa-basi, ya? Ternyata, menulis surat juga bisa secanggung ini. Apalagi kalau kita bertemu nanti—itu pun kalau kamu masih mau bertemu denganku.

Ada banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu, Lam. Beberapa di antaranya adalah tentang promosi jabatanku di kantor (aku bukan ingin menyombongkan diri, tapi ada cerita lumayan seru di balik itu, dan mungkin bisa jadi bahan inspirasi buat kamu), tentang kepindahan tempat kos-ku dan hal-hal yang terjadi di tempat kos-ku yang baru, tentang beberapa film kesukaanmu yang pernah kuabaikan namun baru-baru ini kutonton dan akan menjadi bagian dari daftar film favoritku sepanjang masa, dan masih banyak tentang-tentang lainnya yang ingin kuceritakan hanya kepada kamu saja, Lam.

Tapi, tentu saja, selalu ada lebih banyak hal yang ingin kuketahui tentang kamu. Apa pun itu. Semuanya. Untuk itu, aku masih suka membaca tulisan kamu di blog, men-stalking timeline twitter kamu, mengakses facebook hanya untuk melihat foto-fotomu dan berharap kamu online lalu kita bisa chatting berjam-jam seperti dulu. Aku juga masih sering lewat depan rumahmu setiap kali berangkat dan pulang kerja, berharap sesekali melihatmu membuka pintu atau berdiri di depan jendela. Namun, semua itu bukan harga yang cukup untuk menebus rindu yang semakin menyerupai rasa pilu.

Semalam, aku bermimpi tentang satu hari yang pernah kita lalui. Kenangan itu seakan benar-benar terjadi kembali. Ketika kita menghabiskan belasan jam bersama tanpa jeda. Ketika kita belanja banyak snack, cokelat, buah-buahan, dan minuman tanpa soda, seolah kita akan piknik dan hibernasi di bulan selama berbulan-bulan. Ketika kita tak merasa lelah untuk terus berbincang, berbagi cerita, menonton film drama, menghabiskan sisa malam dengan bebungkus-bungkus kuaci, dan dua botol jus jeruk kesukaanmu.

Pagi tadi, aku terbangun dengan perasaan hangat tapi sunyi sambil mengenang mimpi dan kenangan itu lagi. Saat itu aku mulai mengerti bagaimana seseorang bisa begitu terpengaruh dan menghiraukan mimpi.

Kamu pernah bilang, mimpi itu layanan TV kabel yang diberikan Tuhan secara eksklusif, dan kamu merasa beruntung bisa menikmatinya setiap kali tidur, meskipun tak jarang kamu dibuat resah setelah mengalami mimpi buruk. Kamu juga bilang, mimpi itu cara untuk menikmati kenangan yang tak sempat terdokumentasikan, juga cara bagaimana belajar menerjemahkan pertanda-pertanda yang diberikan.

Dan saat ini, aku sedang berpikir, apa mungkin mimpi itu jalan menuju hati kamu?

Aku cuma bercanda, Lam. Tenang saja. Ya, aku tahu, aku tak seberuntung seseorang yang selalu ada di hati kamu. Tapi yang pasti, aku merasa sangat beruntung karena pernah memiliki saat-saat terindah bersama kamu.

Oh ya, Lam, hampir dua tahun ya, kita tak saling bertemu dan menghubungi? Selama itu, aku bertaruh dengan diriku sendiri, bahwa aku sanggup melupakan kamu dan menghapuskan segala perasaanku terhadap kamu. Aku berusaha menggantikan keberadaan kamu di dalam hati dan pikiranku dengan menghadirkan orang lain. Aku belajar membenci kamu supaya aku tak punya waktu untuk merindukan kamu. Namun, apa pun yang kulakukan tak membuahkan hasil, kecuali kesimpulan, bahwa sampai kapan pun aku akan tetap jatuh cinta pada kamu. Bahwa kamu adalah gravitasi yang selalu membawaku jatuh pada rasa cinta, sayang, dan rindu yang tak pernah berkurang.

Tapi… akhirnya, rasa lelah membawaku pada proses berdamai dengan diriku sendiri dan kenyataan. Semakin besar cinta yang kurasakan, semakin aku harus memberi kesempatan bagi hidupku dan terutama hidupmu untuk tetap berjalan menemukan kebahagiaannya masing-masing, meskipun tanpa harus bersentuhan satu sama lain.

Lam, mungkin sudah saatnya bagiku untuk melepaskan kamu. Untuk mulai menilai dan memaknai cinta dari sudut pandang yang lebih bijaksana. Untuk mulai menerima bahwa kebahagiaanku yang sebenarnya tidak hadir saat kita sedang bersama-sama, melainkan ketika aku tahu bahwa kamu sedang berbahagia, di mana pun kamu berada, bersama siapa pun kamu di sana.

Terima kasih, Lam, kamu sudah menunjukkan kepadaku bahwa cinta itu selalu indah, dan melepaskannya bukan soal menang atau kalah, melainkan pilihan yang pada akhirnya terasa begitu melegakan.

Maaf sudah mengusik sore harimu, Lam. Terima kasih sudah membaca, dan semoga masih ada takdir yang mempertemukan kita.

Berjuta cinta,
Lex

——————–
P.S. Good luck for all your writing projects. Jaga kesehatan, jangan telat makan, dan jangan tidur terlalu malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s