Hari ini Saya Boleh Tersenyum, kan?


Alarm pertama membangungkan saya, memberi tahu bahwa subuh telah tiba. Beberapa hari ini, saya merasa bangun tidur adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Sebuah mukjijat. Sesuatu yang patut disyukuri.

Usai mematikan alarm di ponsel, saya akan menemukan kedatanganmu lewat sebuah SMS yang kamu kirim sebelum tidur. SMS yang membuat saya tersenyum, beberapa saat setelah saya terbangun.

Lantas, hari ini akan menjadi hari yang penuh dengan cerita tentang saya, juga kamu. Cerita sederhana tentang aktivitas kita sehari-hari. Dari mulai bangun tidur, solat subuh, tidur dan bangun lagi, mandi, sarapan pagi, berangkat kerja, hingga pulang dan kembali bergelung di tempat tidur. Tak ada yang spesial dengan semua itu, kecuali sebuah fakta tentang kebersamaan antara saya dan kamu. Kita.

Ini tidak seperti kebersamaan yang pernah saya jalani sebelumnya. Ini semacam sedikit lelucon tentang relatifitas waktu, tentang betapa tak berartinya selisih waktu antara Indonesia bagian barat, tengah, dan timur.

Ini sedikit lucu. Jam kerja saya satu jam lebih awal dari jam kerjamu, namun kita kerap berangkat dan tiba di tempat kerja pada saat yang sama. Terlalu sempurna jika kita memiliki saat istirahat dan pulang yang sama pula. Namun demikian, kamu selalu menyempatkan diri menemani saat-saat istirahat saya di sela jam kerjamu yang sangat panjang itu.

“Halo, lagi makan siang atau mau solat dzuhur dulu?”

Kamu bahkan menelepon hanya untuk mendengarkan saya berkeluh kesah, meracau, atau hanya sekadar membahas hal-hal konyol. Kamu bilang, itu sudah kewajiban. Astaga, itu sangat gombal. Berlebihan.

Tapi, itu sungguh menyengkan.

Diam-diam, kita saling mengintip aktivitas facebook satu sama lain. Mengamati status, pergerakan pesan dinding, curi-curi pandang lewat foto, hingga akhirnya diseret rasa kangen yang memaksa kita untuk saling mencolek dan mengirim pesan pribadi. Astaga, itu sangat abege sekali.

Tapi, itu sungguh menyenangkan.

Dan semua saat terasa menyenangkan, terutama saat-saat yang kita lewati bersamaan.

Sebelum tidur, kamu akan datang lewat sebuah panggilan telepon yang mulai saya rindukan. Ritual ngobrol-sebelum-tidur itu lebih berkhasiat daripada nyanyian nina bobo dan kelonan ibu saya. Pelan-pelan, rasa kantuk datang tanpa harus bersusah payah saya temukan. Pelan-pelan, saya tertidur dengan perasaan nyaman, tenang dan senang. Hingga esok harinya saya kembali dibangunkan alarm pertama, dan mendapati SMS kamu di pagi hari. SMS yang membuat saya tersenyum, beberapa saat setelah saya terbangun.

Hari ini saya boleh tersenyum, kan?**

Bandung, 9 Juni 2010

(Catatan lama tentang saya dan kamu–yang kini telah bersama dia)

Iklan

2 thoughts on “Hari ini Saya Boleh Tersenyum, kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s