Cermin


“Beberapa hari ini, kamu kelihatan nggak bahagia. Kenapa?” Kamu memandangku dengan raut serius, membuatku merasa tak nyaman. Sejak dulu, aku lebih suka melihat raut santai bahkan cuek di situ. Bukan serius seperti itu.

“Aku bahagia, kok. Memangnya, apa yang membuat kamu berpikir seperti itu?”

“Entahlah. Aku cuma ngerasa sedikit kehilangan kamu yang ceria, yang suka bikin kata-kata garing di status Facebook, BBM, lebih-lebih di Twitter, tapi mau nggak mau, ujung-ujungnya aku nyengir juga bacanya.”

“Kamu itu lucu. Bagaimana bisa kamu menilai apakah seseorang sedang sedih atau bahagia hanya dari postingan-postingan mikroblogging macam itu?”

“Kenapa enggak? Itu kan pelarian kecil yang paling mudah dilakukan seseorang ketika dia dilanda sebuah kejadian atau perasaan yang berkesan cukup dalam?”

Sejak kapan kamu mulai seserius ini soal hal-hal yang dulu kamu anggap sebagai sesuatu yang absurd dan tak penting untuk dibicarakan seperti ini? “Jangan terlalu ditanggepin secara serius, cukup dinikmati pada saat tertentu aja. Kata-kata selalu punya keajaiban, sihir, bahkan tipuan.”

Kamu menggeleng. “Kata-kata itu bagian dari refleksi seseorang. Dan buat aku, tulisan adalah bentuk paling ekspresif yang bisa kulihat dari kamu.”

Kata-katamu membuatku terdiam selama beberapa saat. “Kamu kenapa? Nggak salah minum obat?”

“Ada yang aneh denganku?”

Aku mengangguk. “Kamu… jadi… lebih… peka.”

Kamu tertawa. “Masa?”

“Kamu pasti lagi akting jadi orang yang peka, kan? Hayo, ngaku!”

Kamu tertawa lagi. “Emangnya kamu, suka akting jadi orang yang bahagia! Ayo, cerita! Ada apa? Akting pura-pura bahagia kamu itu kelihatan banget, tuh!”

“Masa sih? Aku kelihatan semenyedihkan itu, ya?” Aku menuju cermin di sisi dinding kamarmu. Menatap dalam kedua mataku, tak kulihat apa-apa di situ. Dari sisi mana aku bisa kelihatan tidak bahagia?

“Kerjaan kamu di kantor lancar-lancar aja, kan? Kehidupan di rumah juga tetep tentram, kan? Temen-temen kamu? Naskah yang lagi kamu tulis? Atau… ada hal lain yang ngebebanin kamu? Misalnya… aku?”

“Ngomong apa sih, kamu? Kamu bukan kamu banget kalau ngomong kayak gitu.”

“Ayolah, sampai kapan kamu mau jadiin aku cuma sebagai lemari pajangan barang-barang bagus aja? Aku juga mau jadi brangkas pribadi, kotak rahasia, tempat kamu bisa nyimpen segala jenis barang terbaik sampai terburuk dan tersembunyi.”

Aku hampir menangis mendengar kata-kata seperti itu bisa meluncur dari bibir yang selama ini tak lebih manis dan hangat dari saat terjadinya sebuah ciuman dan percumbuan. Namun, melakukannya jelas hanya akan memperpanjang pembicaraan absurd yang khusus untuk kali ini tak kunginkan bisa terjadi di antara kita. “Aku baik-baik aja. Beneran.”

Kamu menghampiriku, memelukku dari belakang. “Aku tau, nggak semudah itu kita bisa membuka diri kepada seseorang. Oke. Aku nggak akan maksa kamu buat cerita. Cuma, aku minta, kamu bisa lebih jujur kepada diri kamu sendiri. Kamu nggak akan bisa ngasih kebahagiaan kepada orang lain, kalau kamu sendiri nggak punya kebahagiaan itu.”

Kali ini, aku tak bisa menahan sesuatu yang menetes dari sudut mata. Dan kamu melihatnya lewat cermin di depan kita.

“Aku baik-baik aja. Beneran.” Aku berusaha tersenyum.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s