Menyurat-Surat


Tiba-tiba saja temanku memberikan seamplop surat berwarna cokelat dengan motif garis merah dan biru di semua sisinya. Tidak langsung meletakkan surat itu di meja si bos yang berjarak beberapa langkah di depan mejaku, temanku malah memberikan surat itu kepadaku. Surat lamaran untuk jabatan Fotografer. Oh, ya, beberapa hari yang lalu, Fotografer di tempat ini resign karena beberapa alasan. Sementara menunggu posisi itu terisi kembali, ada beberapa Fotografer paruh waktu yang dipanggil bosku.

Bosku sedang tak berada di tempat, dan tanpa izinnya, aku tidak lantas membuka surat itu. Selama dua tahun lebih bekerja di sini, setiap kali ada surat lamaran yang datang, bosku selalu memercayakan surat-surat itu kepadaku untuk ditindaklanjuti terlebih dahulu–meskipun tetap saja keputusan akhir berada di ujung telunjuknya. Memosisikan diri sebagai si pembaca surat, aku merasa bahwa ada surat lamaran yang memang ditulis dengan sepenuh hati, dan ada yang hanya dibuat setengah-setengah. Entahlah, apakah ini cuma soal ke-sok-pekaanku saja, tapi memang sebagai seorang pembaca surat lamaran, aku bisa merasakan dan membedakannya. Menulis surat lamaran dengan hati, berarti si pelamar bersungguh-sungguh ingin bekerja di tempat yang dimaksudkannya, bukan sekadar gambling atau iseng-iseng berhadiah. Ya, semacam itulah.

Setidaknya, ketika menulis surat lamaran pekerjaan, aku sendiri cenderung melibatkan hati. Memilih-milih pekerjaan di kolom surat kabar pun kulakukan dengan begitu hati-hati. Nggak asal pilih, kayak nyari temen kencan lalu nginep dikosan. Dan mendadak, aku teringat pada sebuah rencana untuk menulis surat lamaran ke sebuah perusahaan dengan bidang yang berbeda dari yang kujalani sekarang, namun masih di jabatan yang sama. Sudah dua hari setelah membaca pengumumannya di koran hari Sabtu lalu, aku masih menunda-nunda untuk menulisnya. Oh, oke, aku juga belum mengumpulkan portofolio. Sebenarnya aku agak sedikit bimbang soal ini. Tapi, yah, kita lihat saja nanti apakah sang hati punya pilihan tersendiri.

Omong-omong soal kegiatan surat-menyurat, pertama-tama, ini bakal memaksaku melakukan semacam ziarah cinta pertama ke masa lalu. Tentang pertemuanku dengan seorang anak perempuan yang beberapa kali pernah kutemui dalam kompetisi mata pelajaran antarsekolah. Aku tak pernah menduga bahwa ternyata kami bertemu kembali di sekolah menengah pertama yang sama, bahkan kelas yang sama. Oke, kurasa kalian tahu ke mana arah pembicaraanku selanjutnya. Ya, aku jatuh cinta kepadanya, dan aku tak punya keberanian untuk mengungkapkannya.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana orang-orang pemalu dan pendiam sepertiku saat itu bisa hidup dengan kisah cinta diam-diamnya tanpa bantuan metode surat-menyurat. Oh, ya, jaman-jaman itu telepon genggam belum populer, dan keluargaku di kampung saat itu bahkan belum memasang pesawat telepon. Jadi, ya, aku menulis surat untuk dia. Surat-surat yang berisi apa yang kurasakan terhadapnya.

Ini tidak sesederhana dan semudah yang kalian bayangkan dan kuperkirakan saat itu. Kupikir, dengan sekali mengiriminya surat, semuanya bakal tuntas. Kemungkinannya cuma dua, diterima atau ditolak. Aku sama sekali tak menduga bahwa sebenarnya masih ada satu kemungkinan lagi, yaitu digantung. Dan sayangnya, kemungkinan terakhir itulah yang kudapatkan saat itu. Anak perempuan itu tak juga memberikan jawabannya.  Sebulan, dua bulan, berbulan-bulan, dan nyaris satu tahun aku menunggu kepastian sambil mengirimnya surat di hampir setiap bulan. Hingga akhirnya semua berujung menyedihkan.

Belajar dari pengalaman, aku tak lagi menyerahkan sepenuhnya urusan percintaan kepada surat-surat itu. Saat di kelas tiga, aku kembali menemukan seseorang yang membuat duniaku kembali berputar. Selain fakta bahwa ia adalah adik kelasku, bagian yang kusukai dari cerita ini adalah, ia teman sekelas dari sepupuku. Tapi tetap saja, orang sepertiku rasanya masih butuh perantara berupa surat untuk mengungkapkan perasaaan. Jangan pasang tampang sedih dulu, saat itu aku cuma sekali menyuratinya, dan ia langsung membalasnya dengan jawaban yang membuatku senang. Lalu, apa yang bisa kuceritakan dari sebuah kisah yang bahagia? Tidak ada. Hahaha.

Kegiatan surat-menyurat pun berlanjut dan semakin intens setelah aku pindah rumah dan sekolah di Bandung. Aku rajin berkirim surat dengan beberapa orang teman SMP (salah satunya sahabat si cewek yang waktu itu kusurati), juga dengan sepupuku yang berhasil menjodohkanku dengan teman sekelasnya waktu itu, bahkan dengan kecenganku waktu sebelum SMP yang dulu sulit kudekati. Kami saling bertukar cerita sehari-hari dan segala informasi yang kami dapatkan di tempat kami berada. Itu sangat, sangat menyenangkan. Setidaknya, sekali dalam sebulan, kami akan bertukar cerita, curhat, dan menuliskan apa pun dalam berlembar-lembar kertas.

Oh, ya, jaman itu, telepon genggam sudah mulai muncul, tapi masih orang-orang tertentu saja yang bisa menikmatinya. Dan berkirim pesan lewat email pun masih di kalangan terbatas. Aku tidak termasuk ke dalam salah satu atau pun kedua kalangan yang berkesempatan menikmati fasilitas itu. Namun begitu, berkorekspondensi lewat surat jelas jauh lebih menyenangkan. Meski konservatif, ada kesan yang tak terganti dari mulai memilah-milih kertas surat dan amplop warna-warni dengan aroma wangi, hingga saat menuliskan dan membacanya. Ada kehangatan tersendiri yang hanya bisa kalian rasakan saat berada di dalam situasi itu. Belum lagi ketika Pak Pos lewat di halaman rumah, kemudian mengetuk pintu rumahmu dan mengatakan bahwa ada surat untukmu dari seseorang yang sangat kaurindu.

Aktivitas mengasyikkan itu terhenti seiring berjalannya waktu. SMS, e-mail, Friendster, dan segala media lainnya memang membantu mempermudah segala bentuk interaksi dan komunikasi, namun menurutku aktivitas surat-menyurat adalah kegiatan berinteraksi yang paling keren dan seksi dan nggak terganti. Dan, masa-masa itu mungkin nggak akan balik lagi. Tapi, setidaknya, aku pernah mengalami.

Selamat hari surat-menyurat internasional.[]

One thought on “Menyurat-Surat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s