Ketakutan Terbesar


Dari sekian banyak hal yang kuanggap mengerikan di dunia ini, salah satu ketakutan terbesarku adalah kehilangan kamu.

Bertemu denganmu adalah sebuah kebetulan luar biasa yang kumaknai sebagai bentuk sederhana dari sebuah serendipity. Kamu selalu tertawa setiap kali aku membahasnya. Apa-apa mesti dikaitkan dengan serendipity. Hidup kita di dunia ini sudah ada takdirnya sendiri-sendiri. Nggak ada kebetulan. Semuanya sudah digariskan. Terserah. Apa pun yang kamu bilang, bagiku hidup adalah kumpulan kebetulan dan kejutan. Keras kepala. Memang. Kenapa?

Aku mulai percaya bahwa sebuah pasangan yang cukup ideal seharusnya terbuat dari dua orang yang memiliki perbedaan. Seperti sepatu kiri dan kanan–jika dua-duanya kanan, jelas tidak akan laku dijual. Seperti kamu yang cenderung memungsikan otak kiri dan aku otak kanan. Seperti aku yang peduli pada detail, hal-hal sentimentil, intuitif, segala sesuatu yang selalu kamu nilai dengan frasa “apa sih” dan kamu anggap tak lebih penting dari pembahasan tentang lebih dulu telur atau ayam; dan kamu yang lebih suka berbicara tentang pekerjaan, makan-makan, jalan-jalan, bersenang-senang, dan segala sesuatu yang selalu kuanggap sebagai dunia manusia normal yang membosankan.

Ada kalanya, ketakutan itu memaksaku untuk menjadi seseorang yang bukan diriku. Menjadi aku yang tiba-tiba mencintai otak kiri dan membenci detail tentang sesuatu. Memaksaku menjadi manusia paling membosankan di dunia, hanya agar aku bisa hidup dan bertahan lebih lama dengan manusia sepertimu di dunia yang sama.

Dulu, aku pernah melakukannya. Kepadamu. Kepada orang-orang sebelum kamu. Apa yang kudapatkan setelahnya? Ya, aku tetap kehilangan mereka. Kamu tertawa. Kamu sedih ditinggalkan mereka? Dulu, iya. Sedih. Berhari-hari. Sakit hati. Berkali-kali.

Sekarang? Aku tidak tahu. Aku kan belum kehilangan kamu. Memangnya kamu mau kehilangan aku? Dulu, aku sangat takut kehilangan kamu. Aku pernah berpikir, rasanya bakal sulit mendapatkan orang sepertimu kembali. Jadi, kamu takut kehilangan aku, kan? Sebenarnya iya. Tapi, sekarang tidak. Kenapa? Kamu sudah menemukan orang lain yang lebih baik dan lebih lebih dari aku? Belum. Kalau pun sudah, aku tidak akan menjadikan itu sebagai alasan kenapa aku tidak lagi takut kehilangan kamu.

Lalu apa? Ketakutan terbesarku saat ini adalah kehilangan diriku sendiri.[]

3 thoughts on “Ketakutan Terbesar

  1. Jlebbb dun…… Baru ngalamin perpisahan nie… Biasanya sakit bgt dan takut kehilangan tp skrg dah gag takut dan bebas rasanya…. Dan benar saya skrg malah takut kehilangan diri sendiri… Good job… Like it

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s