Drama Minggu Pagi


Aku baru saja bangun tidur dan kemudian menonton TV ketika Bapak dan Ibu pulang dari Gasibu. Selain lari pagi, mereka juga rajin berburu barang-barang ekonomis di sana. Dan satu-dua kantong belanjaan pun dibawa pulang.

Pagi ini, Ibu membeli kain lap dan keset, juga sekilo jeruk mandarin, dan sebuah kacamata. Oh, kurasa, yang terakhir ini idenya Bapak. Dia memang suka punya ide tak terduga untuk melakukan sesuatu, seperti membeli kacamata berwarna cokelat gelap itu.

Semuanya berlangsung baik-baik saja, sampai adikku turun, dan protes soal kacamata itu. “Kok kacamatanya kayak gini, sih?”

“Lah, tadi kan kamu bilang, minta kacamatanya yang kacanya warna cokelat, yang gagangnya plastik,” jawab Ibu, agak ngotot. “Ibu masih inget kamu bilang gitu tadi, jelas banget.”

“Enggak, tadi aku bilangnya yang gagangnya cokelat, kacanya ya tetep putih. Tadi aku juga udah liatin contohnya, kan?”

“Ah, nggak. Tadi bilangnya yang kacanya cokelat….”

Dan perdebatan itu pun terus terjadi.

Aku yang sedang menyiapkan sarapan untukku sendiri jadi merasa perlu turut campur dan menengahi. Mungkin memang adikku yang salah atau kurang memberikan deskripsi. Jadi, kubilang padanya, lain kali harus lebih jelas dalam mendeskripsikan sesuatu.

Namun tampaknya, adikku tak cukup defensif, terutama saat menghadapi Ibu. Sepertihalnya aku, dia lebih memilih untuk berkata, “Ya udahlah,” agar situasinya kembali baik. Memberi konsesi bukan pilihan terburuk, menurutku.

Saat adikku mengambil charger di kamarku, aku bertanya kepadanya untuk meyakinkan apa yang terjadi sebenarnya. Dia bilang, sebelum Ibu dan Bapak pergi tadi, dia sudah menjelaskan detail kacamata yang dia pesan, bahkan benar-benar memperlihatkan contohnya, seperti yang dimiliki Bapak. Lalu, kudengar, Bapak juga tadi sempat berkomentar bahwa sebenarnya dia sudah menyarankan Ibu untuk membelikan seperti apa yang adikku pesan, hanya saja Ibu tak mau mendengarkan. Ibu tetap kukuh pada pendiriannya bahwa yang dipesankan adikku adalah kacamata yang sudah dibelinya itu. Walau ternyata salah.

Kami bertiga akhirnya diam, paham, dan berusaha tak lagi mempermasalahkannya.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s