I Keep Thinking So Many Things of “Seven Something”


Menonton film hanya bermodalkan “Eh gue pernah denger temen gue nyebut judul Seven Something dan katanya itu film unyu banget tapi gue nggak nanya siapa aja pemainnya dan kayak gimana ceritanya yang pasti unyu dan keren dan entah kenapa gue percaya begitu aja; dan mumpung masih libur gimana kalau kita nonton aja di Blitz daripada beli DVD bajakan yang subtitle-nya acakadul; sekalian kita juga udah lama nggak ketemu itung-itung halal bi halal abis lebaran” jelaslah bukan sebuah aktivitas seorang pencinta film profesional yang ketika mereview-nya kemudian bakal membahas hal-hal yang signifikan.

Jadi, buat yang belum nonton, mungkin review gue ini bakal agak spoiler. Berpikirlah sekali lagi sebelum lo memutuskan untuk benar-benar membacanya terus abis itu nyalahin gue. Dan buat yang udah nonton, mungkin kita bakal nggak sepikiran atau lo bakal nganggap review ini nggak mutu, atau mungkin… malah bisa jadi kita jodoh karena memikirkan dan terpikat pada satu atau beberapa hal yang sama… (?)

Yap. Pertama-tama, gue ucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena gue tiba di studio 2 Blitz Megaplex tepat pada pukul 15:30 seperti yang tertera di tiket. Selain bisa nyaksiin trailer-trailer film lain sebelum film utama dimulai, gue juga bisa woro-woro di Facebook dan Twitter kalo gue lagi nonton film ini… Err… Kedengerannya agak alay ya, tapi mumpung masih suasana lebaran, semoga kealayan gue masih bisa dimaafkan.

Seven Something dibuka dengan adegan sepasang pembaca berita yang sedang membahas angka 7. Katanya, angka 7 itu punya sesuatu yang bisa dimaknai. 7 tahun kehidupan pertama kita di dunia (umur 0-7th) kita lagi deket-deketnya dengan keluarga, rumah. 7 tahun berikutnya, yaitu saat usia kita 14th, kita mulai ketemu sama yang namanya cinta pertama. Ya pokoknya tiap kelipatan 7 tahun berikutnya, bakalan ada banyak hal baru yang terjadi dan mempengaruhi kehidupan kita. Well, gue nggak bisa 700% setuju soal itu. Menurut gue sih, nggak harus 7 ya. Tapi, yaudahlah, iyain aja, toh gue mau nonton, bukan mau debat.

* * *

14

14

Ceritanya dimulai dengan adegan seorang anak cowok berumur 14, bernama Puan blahblahblah gue lupa, yang lagi mainin Facebook. Foto banner Facebook-nya keren, lho! Kayak foto kolase yang suka gue bikin. Jadi, dalam satu frame foto itu ada beberapa wujud kita yang seolah-olah kembar banyak (konsepnya bisa diliat di postingan blog gue yang judulnya: The Art of Split Personality). Nah, visualisasi beberapa detik tadi udah langsung berhasil menghipnosis gue buat jatuh cinta pada pandangan pertama ke film ini.

Ternyata, si Puan (Jirayu La-Ongmanee) ini bisa dibilang maniak Facebook. Tapi, kenapa Facebook? Kenapa bukan Twitter? Menurut gue, ya mungkin karena efek visualisasi Facebook lebih bersifat grafis, dinamis dan dramatis buat menunjukkan aktivitas si Puan ke penonton. Penyampaian pesan bahwa si Puan ini lagi jatuh cinta dan sedang dalam upaya mengubah status dari single ke in relationship with-nya bener-bener jelas. Dan, bener-bener abege masa kini. Perubahan status hubungan itu memancing rasa penasaran temen-temennya di dunia nyata maupun maya. Mereka nanya, sama siapa sih lo jadian? Terus mereka berasumsi, sama si ini ya? Si itu ya? Dan hal itu ditunjukkan dengan sangat kreatif melalui video-video pendek yang pernah diunggah Puan ke akun Facebook dan/atau Youtube-nya.

Puan jadian dengan cewek bernama Milk (Suthatta Udomsilp) yang sangat cantik, unyu, dan tipikal abege masa kini. Hubungan mereka digambarkan dengan sangat, sangat manis. Ngobrol-ngobrol unyu di sekolah, jalan-jalan, makan, skype-an… Dan semua momen manis itu kerap didokumentasikan Puan dengan segala gadget dan segenap kemampuan kreatif yang dimilikinya.

Bagi Puan, segala hal yang terjadi di dalam kehidupannya perlu dia bagi ke semua orang melalui foto-foto dan video kreatifnya. Teman-teman dan penggemarnya di dunia maya adalah suplemen utama bagi hidupnya di dunia nyata. Seberapa banyak orang yang melihat dan menyukai foto dan videonya itu bisa jadi lebih penting dari nilai-nilainya di sekolah. Sampai pada suatu ketika, ada satu orang yang tidak menyukai video-nya, dan hal itu membuat mood Puan rusak parah. Lebih-lebih setelah dia mengetahui siapa yang meng-klik tombol “dislike” di postingan video-nya.

Berbeda dengan Puan, Milk berpikiran bahwa ada beberapa hal yang harus dilabeli kata privasi, hanya untuk konsumsi mereka berdua. Dan bahwa, ada hal-hal yang lebih penting dan nyata daripada apa yang dikatakan dan dilakukan teman-teman di dunia maya. Dan perbedaan inilah yang menjadi bumbu tambahan bagi hubungan mereka berdua hingga menjadi sajian yang sangat nikmat dan lengkap. Bitter-sweet ala ala remaja.

Kegundahan dan kegalauan Puan yang ditunjukkan lewat perubahan foto banner, status Facebook super bijak dan galau, hingga unggahan video permintaan maaf, bener-bener bikin gue senyum-senyum getir sendiri antara lucu pengin ngetawain dan prihatin ke dia sekaligus ke diri gue sendiri pada jaman-jaman masih nista dulu (sekarang juga masih sih, kadang-kadang).

Banyak hal yang gue sukai dari film pertama ini. Visual effect-nya terutama. Bener-bener yang… Kalo ada abege yang nanya, “Terus gue kudu bilang Wow gitu?” Bakal gue jawab, “Iya! Wow banget!” Dan itu bikin mata gue nggak mau lepas sedetik pun dari layar. Selain itu, adegan-adegan manis dan unyu-nya juga bakalan jadi sesuatu yang gue kangenin. Waktu mereka pertama jadian, kencan, foto-foto, ngerekam video, skype-an, apalagi waktu Milk nyanyiin lagu buat Puan pake ukulele di webcam, dan terutama waktu Milk nyium pipi Puan di bus. Sampe ke adegan terakhir waktu mereka mau putus.

Ah, rasanya sampai kapan pun gue bakalan selalu jatuh cinta sama hal-hal yang berbau remaja. Dan film ini salah satu alasannya. Oh iya, tanpa bermaksud narsis, gue ngerasa kalau gue dan Puan punya kembaran karakter. Ya, semacam Soul Brother. Kayak gimana? Ya lo tonton sendiri aja filmnya. Dan nggak usah protes soal ini. Hahaha.

* * *

21/28

21/28

Menceritakan tentang sepasang aktris dan aktor yang pernah sukses membintangi sebuah film drama romantis berjudul Sea You, ketika usia mereka 21 tahun, yang kemudian mengalami beragam hal yang pada akhirnya memisahkan mereka selama bertahun-tahun. Hingga 7 tahun kemudian, ketika akan dibuat sekuel berjudul Sea You Again, si aktris mencari si aktor yang sudah beralih profesi menjadi… Apa ya sebutan untuk seseorang yang berpakaian penyelam dan suka memberi makan ikan-ikan langka sekaligus menjawab pertanyaan pengunjung di sebuah akuarium yang menjadi tempat wisata? Sebut aja dia Penyelam ya.

Usaha Mam (Cris Horwang) untuk membujuk Jon (Sunny Suwanmethanont) memang bakal sesulit yang dia pikirkan. Kenapa? Di luar hubungan profesional, mereka pernah terlibat kisah asmara yang sangat dalam dan berujung menyakitkan. Selama usaha Mam menemui dan membujuk Jon, kita bakal diberi informasi mengenai apa yang pernah terjadi di antara mereka melalui kilas balik. Kenapa Jon sangat membenci Mam. Kenapa Mam sangat menginginkan Jon kembali.

Yang menarik di film ini adalah, chainning dan konektifitas antarperpindahan adegan dan antara kehidupan nyata Mam dan Jon dengan kehidupan mereka di film. Jadi, kayak cerita di dalam cerita, film di dalam film.

Karakter Mam di film ini mau nggak mau ngingetin gue ke karakter utama cewek di film Bangkok Traffic Love Story yang nota bene diperankan orang yang sama, dan karakter mereka hampir sama: konyol, kocak, dan malang. Kalau pemain cowoknya, antara cool, kaku, atau emang dituntut untuk seperti itu. Tapi tetep unyu, walaupun di usianya yg ke-28 perutnya buncit dan bodinya gendut, nggak kalah memesona dari waktu dia diceritakan berusia 21 tahun dan berperan sebagai personil boyband F14 yang sumpah lucu banget.

* * *

42.195

42.195

Perempuan Dewasa yang nama karakternya saya lupa itu diperankan oleh aktris bernama Suquan Bulakul. Suatu hari, ia pergi lari pagi ke sebuah taman, dan takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda berusia 24 tahun yang kemudian diberi nama Finisher88 yang diperankan Nichkhun 2PM. Pemuda itu tak sengaja menabraknya hingga terjatuh. Mereka pun berkenalan, dan rajin ketemuan di taman.

Setelah mengenal pemuda itu, si perempuan dewasa seakan menemukan sisi lain dalam hidupnya. Yang baru, dan lebih berwarna. Melalui analogi lari Marathon, pemuda itu memberikan pandangan-pandangan baru tentang hidup. Hingga memotivasi perempuan itu untuk mengikuti lari marathon.

Secara perlahan namun pasti, si perempuan dewasa mengungkap jati diri, hingga perasaan terdalamnya terhadap si pemuda. Agak dilematis, dan yang pasti cerita ini mengalir manis. Mengantarkan kita dari kilometer yang satu ke kilometer yang lain, sama-sama berusaha melawan setan di kilometer 35, hingga akhirnya tiba di garis finish dengan perasaan lega dan bahagia. Perasaan sebagai pemenang, nggak peduli apakah kita pelari pertama, ketujuh, atau pun terakhir.[]

2 thoughts on “I Keep Thinking So Many Things of “Seven Something”

  1. wah Film Thailand lagi, keren kayaknya. Tipikal pilm Thailand, kalo gak Omnibus (1 film banyak cerita), ya ceritanya panjang 2 jam.
    Reviewnya banyakan yg 14 nih, kangen masa remaja ya om. ahak ahak

    • keren banget! ini ceritanya 2,5 jam loh, tapi nggak berasa lama. iya, aku suka banget sama yg 14 ini. pertama karena emang selalu kangen masa-masa itu, kedua karena aku emang masih remaja kan 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s