Sabar


Banyak hal terjadi di bulan Ramadhan tahun ini. Ada yang kurang menyenangkan dan ada juga yang menyenangkan. Di minggu-minggu awal, penyakit maag saya kumat, bahkan pada beberapa hari sebelum puasa. Dokter bilang, saya nggak perlu puasa dulu kalau memang nggak sanggup. Tapi, saya coba puasa, dan alhamdulillah kuat.

Beberapa hari setelah puasa dimulai, ada kabar baik yang datang melalui email mengejutkan dari seorang Pimred sebuah penerbit terkemuka. Beliau memberikan kesempatan yang sangat menyenangkan dan terlalu berharga untuk diabaikan. Kemudian, saya dikenalkan dengan seseorang yang dipercaya bisa membantu saya untuk mewujudkan apa yang kami bicarakan. Sebutlah ia sang mentor. Proses mentoring dan diskusi pun dimulai.

Maag saya kembali kumat beberapa hari setelah itu. Dan bertepatan dengan itu, seorang sahabat saya memberi tahukan sebuah informasi mengenai sebuah penyakit bernama GERD. Setelah membaca informasi yang dituliskan di akun twitter @blogDokter mengenai penyakit #GERD yang segala gejala dan efeknya mirip dengan yang saya alami, saya pun kemudian berkenalan dengan beberapa orang yang punya keluhan sama. Bahkan, mereka sudah positif divonis GERD, atau pun Mild Grastis yang kabarnya lebih ringan dari GERD.

Sebutlah seorang Bapak, yang pada akhirnya menjadi teman chit-chat di BBM. Beliau membagi segala pengalaman pahitnya tentang penyakit ini. Ia bilang, selain faktor fisik, pemicu penyakit ini juga berasal dari faktor psikis. Penyakit hati dan pikiran. Saya berasa jadi sedang diberi tausiah Ramadhan. Beliau pun memperkenalkan saya pada beberapa orang lainnya yang punya keluhan serupa.

Selain Bapak tadi, saya pun sempat berbincang singkat dengan beberapa orang di twitter. Salah seorang dari mereka memberikan referensi dokter internist di sebuah kawasan di Bandung, ada juga yang merujuk ke RSHS. Setelah dipertimbangkan sana-sini, saya pun memilih dokter internist di luar rumah sakit. Dan, malam itu, setelah buka puasa, saya pergi ke tempat tersebut.

Ada hal yang sangat saya takutkan dan akhirnya mengganggu pikiran saya. Endoskopi. Setelah mendegar cerita beberapa teman yang pernah endoskopi dan membaca di internet, yang kebayang di kepala saya adalah, endoskopi itu merupakan proses pemeriksaan yang sangat mengerikan. Bisa dibayangkan, kabel / selang segede gitu dengan kamera kecil di ujungnya masuk ke dalam perutmu lewat kerongkongan yang sangat sempit dan sensitif. Ada bius total sih, tapi kata beberapa teman, lebih baik minta yang bius lokal. Hah… Nggak mau deh, pokoknya. Nggak mau. Titik. Saya berdoa, semoga ada cara lain. Semoga.

Dan… Dokter yang saya temui malam itu mendengar bisikan Tuhan yang mengabulkan doa saya. Saya nggak perlu endoskopi. Tapi… Tetep harus tes lab. Ah… Seenggaknya, itu terdengar jauh, jauh lebih melegakan. Hanya mungkin, ketakutan saya di bagian pengambilan sample darah. Hahaha. Serem liat jarum suntik, dan pernah ngalamin gagal diambil sample darah sampai harus pindah tangan dari yang kiri ke kanan dan rasanya lumayan sakit, waktu jaman kuliah. Dan satu lagi, Dokter bilang, saya nggak kena GERD, melainkan maag dengan kadar asam lambung yang tinggi. Saya terus-terusan bertanya, dan meyakinkan hal itu. Dan Dokter bilang bukan. Baiklah. Saya lega.

Beberapa hari kemudian, saya kembali menemui dokter dengan hasil tes lab. Dan…. Hasilnya menyatakan bahwa tidak ada penyakit serius yang saya derita. Paru-paru normal, darah normal, hanya sedikit gangguan pada liver tapi nggak parah. Akhirnya, saya hanya diberi obat pereda asam lambung dan multivitamin untuk dua minggu ke depan. Dan, oh, ya, selama proses pemeriksaan itu saya nggak puasa dan nggak masuk kerja.

Baiklah. Saya pun kembali ke rutinitas. Berpuasa. Bekerja. Dan melakukan mentoring jarak jauh bersama sang mentor melalui email dan BBM.

Dan selama hidup masih berjalan, masalah nggak bakal berhenti, bukan? Yap! Ada masalah, atau katakanlah kendala kecil di antara saya dengan mentor saya tersebut. Bukannya saya bernegatif thinking, tap, saya merasa kalau mentor saya itu cenderung punya banyak alasan buat ngeless, menghindari tugasnya membing saya, yang alasannya sangat klise: koneksi lelet lah, nggak ada koneksi internet lah, ini lah, itu lah.

Sebenernya saya nggak maksud untuk mendesak dia cepat-cepat menyelesaikan review atas email yang saya kirim padanya. Lagian email saya nggak panjang, cuma 2 halaman A4. Oke, kalau dia perlu waktu karena sibuk atau apa. Yang saya minta cuma kejujuran. Kalau meman belum diproses ya tinggal bilang, nggak usah belagak sudah diproses dan kemudian nyari-nyari alasan sana-sini ketika saya nanya emailnya kok belum dibales. Dan padahal, kalau dia emang niat (dan tentu udah ngerjain tugasnya) bisa dikirim via bbm juga kan?!

Oh. Ya. Saya harus sabar. Toh beberapa hari kemudian, setelah saya bawelin dia (dan tentu saja setelah dia bener-bener memrosesnya), dibalas juga email saya.

Kejadian yang sama berulang setelah saya mengirimkan hasil revisi. Banyak lah alasannya sampai bikin saya kesel, tapi tetep saya sikapi dengan sabar dan memberikan banyak pemakluman. Tapi akhirnya saya rasa, saya nggak boleh terus-terusan diam. Saya pun mengungkapkan unek-unek saya ke dia via BBM dalam perbincangan santai. Intinya, saya cuma perlu kejujuran dia. Kalau memang belum diproses dan butuh waktu, ya tinggal bilang. Kalau baru diproses sebagian dan belum sempet nulis review keseluruhan, ya tinggal bilang. Saya nggak suka “dibuai” dengan alasan-alasan dan janji palsu semacam: nanti sore ya. Nanti malem ya. Sebenernya tadi malem udah siap tapi takut ganggu dadun. Dsb. Tapi ujung-ujungnya tetep nyari alasan buat ngulur waktu. Apa susahnya sih berkata jujur? Toh saya juga bakal maklum.

Oke. Saya harus sabar.

Dan kejadiannya berulang lagi. Hari Kamis siang kemarin, saya kirim hasil revisi. Dia bilang, “mungkin ntar malem reviewnya”. Oke. Saya nggak begitu ngarepin sih. Jumat paginya belum juga ada kabar. Tapi saya coba tanyain, dan dia menjanjikan pukul 13. Oke, saya agak berharap. Nah, sepulang jumatan, saya sengaja nggak langsung nagih. Nunggu kesadaran dia. Tapi sampai jam 16 kurang, emailnya belum masuk. Saya pun konfirmasi ke dia. Dan dengan gayanya seperti biasa, dia bilang, “Oh ya? Belum masuk? Wah gmail-ku eror. Kayaknya trafiknya lagi padet…”

Saya mencoba membuktikan. Emang di yahoo mail sih bukan di gmail. Dan dari yahoo mail saya ke yahoo mail saya sendiri dan ke akun saya yang lain lancar-lancar aja tuh kirim-kiriman emailnya. Saya bilang ke dia kayak gitu, dan dia bilang tetep, “aku coba dari gmail ke gmail dan gmail ke yang lain tetep failed.” Hhhh… Saya cuma bisa narik napas kesal, dan berusaha sabar.

Sampai sore, sampai malam… Email balasan itu nggak kunjung datang. Oh, baiklah, mungkin emang bener koneksi internet di tempatnya sedang saaangat sangat bermasalah sampai-sampai ngirim email aja gagal melulu. Dan…. Padahal saya udah minta dia kirim via bbm, tapi nggak diacuhkan. Mbok ya apa susahnya tinggal ambil kabel data, pindahin file di laptop ke bb, beres kan?! Terus dia sempet khawatir katanya file nya dia apakah masih bisa nunjukin bagian “comment” untuk review? Wooo… Saya juga nggak bego-bego amat buat maksa buka itu file di bb. Bisa saya transfer secepat kedipan mata ke netbook via blue tooth. Beres.

Tapi, okelah, saya pikir, oh mungkin dia nggak punya kabel data. Jadi, yowislah saya berusaha sabar lagi.

Dan akhirnya tadi malem saya BBM dia, saya bilang, “Yaudah, besok aja lah kirim hasil review-nya. Kalo ngga bisa lewat email, lewat BBM aja.” Dan dia bilang, “Ok.”

Hingga detik detik saya nulis ini, belum ada kabar dari dia. Dan saya juga belum mau mengganggu dia dengan nanya-nanya. Oh ya, mungkin dia sedang sibuk. Oke, nggak ada yang bisa saya lakukan selain sabar dan sabar. Bener-bener deh, berurusan dengan beliau sangat menuntut kesabaran ekstra.

Oke, cukup soal mentor saya itu.

Sabar yang lainnya yang masih harus saya jalani adalah sabar dalam menghadapi bos saya di kantor. Sabar menunggu uang gajian dibayar dua hari setelah batas waktu yang seharusnya saya terima. Dan sabar menerima kenyataan bahwa tahun ini saya harus ber-hari raya tanpa menikmati THR.

Sabar ya, Dadun! Sabar itu bakal berbuah manis.🙂

2 thoughts on “Sabar

  1. Sabar disayang Tuhan, konon sabar juga bisa disayang pacar (?) hihihi…
    Saya sepakat jika buah dari kesabaran akan terasa lebih manis, tergantung sesabar apa orang tersebut. toh konon juga sabar itu harusnya tak berbatas.🙂
    Semangaaaat Daduuun! (ง’̀⌣’́)ง
    Selamat pula atas pencapaian pencapaiannya. salut.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s