Menunggu Senja Bersama Irena Tjiunata


 

Once in a while, right in the middle of an ordinary life, love gives us a fairy tale.” – anonymous

Tulisan pada bagian bawah lukisan indah yang menggambarkan sepasang lelaki dan perempuan yang sedang berpelukan di angkasa dengan latar belakang bulan sempurna dan bintang-bintang, yang dipajang di dinding bermotif batu bata merah itu ternyata tidak hanya menarik perhatian saya semenjak tiba di kafe ini, melainkan juga seorang perempuan yang kini tengah duduk di hadapan saya. Irena Tjiunata.

“Kamu tahu, quote itu beberapa kali muncul dalam penglihatan saya, di mana pun. Dan itu semakin membuat saya ingin terus menulis cerita romantis,” ungkapnya, seraya tersenyum manis.

Pertemuan kami sore ini berawal dari perkenalan kami di situs jejaring sosial. Nama Irena Tjiunata terdengar cukup familier, terutama bagi saya yang sejak beberapa bulan belakangan ini hobi jalan-jalan ke toko buku dan ngecengin kasir. Maka, ketika menemukan namanya di facebook, saya pun langsung mengajukan pertemanan. Sekitar satu bulan yang lalu, saya mengajukan tawaran untuk berbincang-bincang. Dan, saat ini, di sinilah kami bertemu, di sebuah kafe bernuansa minimalis dan manis namun tetap hangat dan romantis.

Yang pertama kali terlintas di benak saya saat bertemu dengan Irena adalah, sebuah novel berjudul “Online Addicted!” sebab setiap kali jalan-jalan ke toko buku, novel itu sering saya lihat. Jadi, ketika kami sudah cukup cair satu sama lain setelah prosedur standar awal pertemuan, pertanyaan tentang itulah yang pertama kali muncul. Dan dengan antusias, Irena pun bercerita soal novel ketiganya itu.

“Online Addicted! Ini sebenarnya project iseng. Tadinya, saya lagi nulis  satu novel yang butuh riset lapangan langsung. Namun, karena satu dan lain hal, proses observasi dan wawancaranya terhambat. Sementara, hasrat saya untuk menulis nggak bisa ditekan. Akhirnya, saya dapet ide baru ketika nonton talkshow di televisi, tentang bahayanya kecanduan internet. Nggak banyak riset sih, untuk cerita yang ini. Dan naskah ini saya selesaikan di sela-sela jadwal praktik saya. Jadi, kalo pasien belum datang, atau nunggu pasien yang berikutnya, pasti saya sempatkan untuk nulis.”

“Jadwal praktik? Pasien? Jadi, Kak Irena ini seorang… Dokter?”

“Kebetulan, latar belakang pendidikan formal saya adalah Psikologi, dan sekarang saya menjadi Psikolog anak dan remaja.”

“Wow… kayaknya menarik, ya, jadi penulis sekaligus Psikolog,” Irena mengangguk, kemudian menyesap secangkir hot chocolate yang tadi dipesannya. “Baiklah, mari kita buka mesin waktunya. Kita flash back ke masa-masa di mana Kak Irena mulai menulis.”

“Kalo di-flash back, saya suka nulis dari kecil. Jaman kelas 1 SD dulu. Saya paling suka kalo dapet PR membuat kalimat atau menyusun kalimat. Bener-bener seneng banget. Ngerasa bisa bebas berkreasi, nulis apa aja yang saya mau. Selain nulis, saya juga suka baca. Waktu kecil, saya langganan majalah Bobo.”

“Kalau mulai menulis secara… katakanlah lebih serius, sejak kapan?”

“Waktu SMP, saya mulai aktif nulis, mulai baca majalah GADIS. Jadi ngikutin genre cerpen remaja. Nulisnya juga masih pake kertas sama pulpen. Aktivitas nulisku agak kehambat pas kelas 3 SMP karena sibuk persiapan ujian dan lain-lain. Mulai aktif nulis lagi waktu kelas 3 SMU, lanjut waktu kuliah, dan sampe sekarang.”

“Pernah kirim ke media, atau ikutan lomba?”

“Waktu SMP, belum pernah kirim ke majalah, masih belum ngerti gimana cara kirimnya. Paling kirim ke mading sekolah, terus dimuat, dan seneng banget. Kalau lomba…,” Irena menatap ke arah jendela, seolah ada jawaban di sana, “waktu kuliah pernah ngirim dongeng ke majalah Bobo, judulnya ‘Pencurian di Desa Bronsa’. Nggak menang, tapi ternyata dimuat juga. Wah… senengnya bukan main. Sejak itu, saya jadi ketagihan nulis untuk Bobo. Dan kayaknya itu cikal bakal saya nulis secara komersil.”

“Kalau mulai menulis novel, itu gimana asal muasal ceritanya?”

“Awalnya iseng aja. Coba-coba nulis panjang, eh dapet beberapa ratus halaman. Bingung mau diapain, saya coba telpon ke GPU, nanya soal prosedur pengiriman naskah, dan akhirnya coba kirim. Tapi ditolak. Lalu saya coba kirim ke penerbit lain, dan ditolak juga.”

“O ya? Saya pikir bakal langsung diterima.”

“Nggak. Justru ditolak terus,” Irena tertawa. “Tapi saya nggak jadiin penolakan-penolakan itu sebagai portal kreativitas, justru sebagai motivasi yang kuat. Saya terus nulis dan berusaha lebih baik lagi. Saya juga sempet coba genre metropop, dan ternyata hasilnya ditolak lagi.”

“Wow… serius? Bener-bener pejuang yang tangguh!”

“Perjuangan saya mulai berbuah manis waktu saya coba kirim naskah ketiga, yang judulnya ‘The Twins Exchange’. Nah, lewat novel itu, saya dapet pelajaran, bahwa ternyata dua novel saya sebelumnya yang ditolak itu hampir sepenuhnya bercerita tentang diri saya sendiri. Terus, saya mikir, hm… berarti cerita hidup saya kurang menarik, hahaha…” tawa itu kembali terdengar renyah, dan lembut, di antara lantunan musik yang melatari kafe ini. “Saya pun mulai ganti strategi, menulis sesuatu yang bukan saya sama sekali. Ya lahirlah ‘The Twins Exchange’ itu.”

Oh, ya, memang, ada beberapa orang yang bakal terlihat lebih baik menulis tentang sesuatu yang dekat dengan dirinya, dan sisanya menulis sesuatu jauh di luar itu. “Oke, sekarang kita bercerita tentang proses kreatif ‘The Twins Exchange’ ini. Dari mulai kemunculan ide, penggodogan dan selanjutnya dan selanjutnya.”

“Kalau nggak salah, saya mulai nulis naskah itu sekitar tanggal 20 Juni 2005, tapi selesainya lupa, kapan. Berbulan-bulan, deh. Nggak ada pake proses nulis teoritis yang ngejelimet banget, pokoknya nulis ya nulis aja. Yang penting saya tau tema besarnya, udah dapet konfliknya, dan udah tau endingnya mau kayak gimana. Konflik-konflik kecil tuh didapet sambil jalan. Sampai sekarang pun, saya kalau nulis ya gitu. Makanya saya pernah bilang, jari-jari saya ini bisa menyelesaikan sendiri cerita yang sedang dibuat. Sambil ngetik, tanpa sadar ada konflik tambahan, cerita baru, dialog pemanis yang muncul di tengah-tengah adegan.”

“Ada cerita menarik di balik proses terbitnya?”

“Yang paling menarik tuh ya panjang sabarnya,” lagi-lagi Irena tersenyum. “Jadi, naskah itu saya kirim sekitaran menuju akhir tahun 2005, dan dapat kepastian ditolak awal tahun 2006. Alasannya kepanjangan. Ide ceritanya sendiri dinilai menarik, dan pihak penerbit yang kontak-kontakan dengan saya bilang, kalau naskah ini sebenernya potensial, sampai-sampai dia terus nyemangatin saya untuk revisi. Dapet semangat itu, saya pun mulai revisi sambil bawa-bawa baby di dalam perut alias lagi hamil. Setelah potong habis-habisan sekitar 50-an halaman, akhirnya saya kirim lagi ke GPU. Nah, di akhir tahun 2007, saya dapet kepastian naskah itu diterbitkan! Tapi penantian nggak berakhir di situ. Ternyata masih harus nunggu ini dan itu. Tahun 2008 baru diminatin softcopy-nya. Dan… bulan Oktober 2009 barulah diterbitkan….”

Kami berdua sama-sama meraih cangkir di hadapan kami dan menyesap minuman di dalamnya. Saya serasa ikut merasakan lelahnya penantian panjang itu. Dan tentu saja merasa kagum terhadap perempuan di hadapan saya ini.

“Hal apa yang sangat menarik dari ‘The Twin Exchange’ sampai-sampai pihak penerbit sebegitu tertariknya?”

“’The Twins Exchange’ itu sebenernya ide ceritanya simple. Temanya tentang dua orang yang mirip dan bertukar tempat. Udah agak umum sih tema ini, tapi yang unik di sini adalah, anak satunya cewek, dan satunya lagi cowok. Dan di sini saya memasukkan olahraga judo sebagai latar belakang cerita. Saya sama sekali nggak tau judo itu seperti apa, tapi pengin banget masukin olahraga itu ke cerita. Maka, nggak ada alasan untuk nggak nyari referensi. Saya pun browsing segala informasi tentang judo. Dan menurutku sukses, karena setiap pembaca mengira saya ini atlet judo atau minimal pernah belajar judo. Bahkan, beberapa dari pembaca yang bilang gitu ternyata aktif di olahraga judo. Dan mereka kaget waktu tau awalnya saya sama sekali nggak tau apa-apa soal judo.”

“Wah pasti keren! Sayangnya saya belum sempet baca. Lalu, kalau novel yang kedua, yang ‘The Bridesmaid’s Story’ itu, gimana proses kreatifnya?”

“Tahun 2006 itu, sambil nunggu kabar kepastian naskah dari penerbit, saya mulai nulis naskah ‘The Bridesmaid’s Story’. Saya tulis setelah menikah, untuk mengenang semua kerepotan yang terjadi selama persiapan wedding itu. Tapi, naskahnya sempat ke-pending. Saya kan baru punya baby, dan lanjutin S2 dengan tugas yang gak ada abis-abisnya. Semuanya bikin saya gak fokus. Tahun 2008 akhir, pas kuliahku udah mulai reda sibuknya, baru saya nulis lagi. ”

Ceritanya tentang kerepotan si pendamping mempelai wanita dalam menghadapi pesiapan pernikahan sahabatnya,” lanjutnya. “Kalau biasa novel bertema pernikahan kan menyorot kehidupan si mempelai wanita, nah kali ini mau dilihat dari sudut pandang si pendamping mempelai.”

“Oh, oke. Kebayang repot dan serunya kayak gimana, secara saya juga hampir tiap minggu berurusah dengan acara pernikahan. Lanjut ke buku-buku selanjutnya, Kak.”

“Buku ketiga, ya ‘Online Addicted!’ yang di awal kamu tanyakan tadi. Kalau yang keempat, bukan novel, melainkan kumcer, judulnya ‘Bukan Cupid’. Di kumcer ini saya punya satu cerpen, judulnya ‘Kak Johan’, bercerita tentang remaja dengan autisme. Tapi yang saya soroti bukan remaja autismenya, melainkan adik dari si remaja itu. Ide cerpennya datang dari hasil konseling dengan seorang pasien cilik yang punya kakak autis. Saya mendapat banyak pelajaran dan hal-hal baru yang bermanfaat dari konseling ini.”

“Dari semua novel itu, mana yang paling berkesan buat Kak Irena? Dan, kenapa?”

“Sebenernya semua novel berksan buat saya. Tapi jujur, yang paling saya suka adalah novel kedua, ‘The Bridesmaid’s Story’. Saya juga nggak tau alasannya. Ya, suka aja.”

“Setelah menulis novel-novel itu, adakah proyek-proyek menulis lainnya yang bisa sedikit dibocorkan?”

“Hmmm… sebenernya, di kepala saya udah banyaaak banget ide-ide, tapi ya harus direalisasikan satu-satu. Ada proyek menulis teenlit yang butuh riset mendalam, tentang kehidupan remaja di kelas akselerasi, dan ada abussive relationship-nya. Deadline pribadi saya sih, Juli 2012 ini harus sudah selesai. Oh, ya, editor saya nanyain terus tiap ketemu, dan dia selalu memotivasi saya supaya cepet-cepet ngelarin novelnya karena tema yang saya angkat sangat menarik.”

Selain itu,” lanjut Irena lagi, “ada proyek nulis bareng temen-temen penulis lainnya juga. Lalu, ada naskah yang saya tulis bareng dengan Monica Petra. Dan masih ada banyak ide lagi yang beberapa di antaranya sudah mulai saya cari referensinya dan data-data lain yang mendukung ide saya tersebut…,” dan Irena pun mulai menceritakan detail ide-ide briliannya tersebut yang bakal saaangat panjang untuk saya tuliskan ulang.

“Omong-omong, Kak Irena masih punya obsesi yang ingin direalisasikan?”

“Ya, tentu saja! Setelah gagal masuk list KLA karena sebuah hal, saya masih punya obsesi lain. Yaitu, saya pengin novel-novel saya bisa difilmkan. Terus, saya juga pengin jadi pembicara di Ubud Writers dan Readers Festival. Dan saya juga pengin novel saya bisa diterjemahkan ke bahasa asing dan dijual overseas.”

“Wah… seru banget ya bincang-bincang bareng Kak Irena. Banyaaak banget hal yang bisa dibahas. Dan sangat inspiratif.”

“Ya, saya kalau ngomongin nulis selau over-excited, dan nggak bisa dihentikan,” untuk yang kesekian kalinya, Irena tersenyum. Tampak sekali passion-nya dalam dunia tulis menulis ini.

“Omong-omong, adakah sosok yang menginspirasi Kak Irena dalam menulis? Atau, seseorang yang selalu mendukung dan memotiavasi Kakak saat menulis? Siapa?”

“Tentu saja. Dan sosok itu adalah mantan pacar saya, alias suami saya tercinta,” wajah Irena bersemu merah, lebih merona daripada sebelumnya.He’s my muse. Dia itu seperti multivitamin yang sangat penting dan ampuh untuk memacu segala aktivitas dan kreativitas saya. Suami saya adalah inspirasi terbesar di hampir semua karya saya. Selain itu, dia juga yang paling mendukung dan memotivasi saya dalam menulis. Bahkan, melebihi ibu saya sendiri. Coba bayangkan, ibu saya pernah bilang, ‘Udahlah, Ren, nggak usah nulis lagi. Daripada kecewa nantinya karena ditolak terus…,’ waktu saya berulang kali dapat surat penolakan dari penerbit. Hati siapa coba, yang nggak ciut denger kata-kata itu?! Beruntunglah saya memiliki malaikat penyelamat seperti suami saya. He’s really the one. Dia bener-bener mendukung secara lahir dan batin. Laptop pertama yang saya gunakan untuk menulis, itu adalah pemberian darinya. Entah apa jadinya nasib novel-novel saya tanpa dukungan suami saya.”  

Entah mengapa, saya seakan turut merasakan kehangatan yang terpancar dari apa yang baru saja diceritakan Irena. Ya, memang, keberadaan seseorang yang tak lelah mendukung dan memotivasi kita jauh lebih baik dari orang-orang yang sekadar mengasihani kita. Dan menurut saya, Irena sangat beruntung karena telah memilikinya.

“Sebelum kita mengakhiri sesi perbincangan ini, ada pesan-pesan untuk pembaca atau penggemar novel Kakak, dan untuk penulis muda yang kurang percaya diri?”

“Untuk para pembaca, saya akan selalu berusaha memberikan hanya yang terbaik untuk kalian. Dan untuk penulis-penulis muda yang mungkin agak kurang percaya diri, jangan pernah menyerah! Jangan tunggu inspirasi datang baru menulis, tapi menulislah, maka inspirasi akan datang sendiri. Saya ngalamin itu sendiri. Di dunia ini nggak ada yang nggak kita bisa. Yang ada cuma mau atau nggak.”

“Terima kasih banyak, Kak Irena, atas waktunya. Semoga, lain waktu, kita bisa kembali berbincang dengan pembahasan yang lebih lebih seru lagi. Sukses terus ya, Kak.”

“Sama-sama, Dadun. Amien. Sukses juga untuk Dadun.”

Kami pun bangkit dari sofa nyaman, meninggalkan dua cangkir kosong, dan kenangan selama beberapa waktu ke belakang. Sebelum berjalan ke pintu keluar, saya sempat melirik lukisan di dinding bermotif batu bata merah yang pertama kali saya lihat saat datang tadi, dan membaca tulisan di bagian bawahnya, sekali lagi, “Once in a while, right in the middle of an ordinary life, love gives us a fairy tale.”[]

***
*Prosesi wawancara ini dilakukan sebelum Irena menerbitkan buku kelima, Seri Petualangan Aleeta #1 “Petualangan Seribu Tangga”

 

Irena Tjiunata dapat dihubungi di:

Facebook: Irena Tjiunata (https://www.facebook.com/sakura.ols)

Twitter: @irena_tj (https://twitter.com/irena_tj)

Blog: http://irena-tj.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s