Tentang Sore yang Tak Lagi Sama


Sore ini terasa berbeda, mungkin karena kamu tak lagi ada.

Aku tak akan pernah lupa pada sore terakhir ketika kita duduk bersama. Kita bersandar pada dinding kamar kosmu yang dingin dan berwarna biru toska. Kita melepas lelah sesaat setelah membongkar lemari pakaian dan barang.

Aku terpekik girang saat menemukan dua buah album Potret berwujud kaset pita di tumpukan paling bawah rak bukumu. Aku punya lima album Potret dari debut pertama. Satu dari dua punyamu melengkapkan koleksiku–setelah kamu memberikannya kepadaku.

Siapa pun tak bakal percaya bahwa kamu masih memiliki dan menjaga baik-baik satu benda purbakala bernama walkman. Termasuk aku. Lalu, kuputuskan untuk memutar satu kaset, yang ternyata suaranya terdengar masih jernih, tak kalah bagus dari suara CD. Dan kita pun berbagi earphone untuk mendengarkan sebuah lagu yang sama-sama kita sukai: Terjaga. Setiap kali lagu itu berakhir, kamu selalu memintaku memutarnya lagi. Lagi. Dan lagi. Sampai kuping kita mendidih. Sampai pita kasetnya kusut dan mungkin sedih.

Sore itu terasa lebih cepat dari sore-sore biasanya. Saat kamu membuka pintu untuk pergi ke luar membuang dua kantong sampah, langit sudah gelap sepenuhnya. Oh, ya, kamu bilang bahwa aku tertidur sekitar satu jam lamanya.

Bagaimana bisa?

Kepalaku sedikit pening, dan kurasakan udara semakin dingin. Kamu menghampiriku, lantas memelukku. Tiba-tiba aku merasa menyesal atas satu jam yang telah kusia-siakan. Saat tertidur, tak ada hal yang bisa kulakukan–kecuali, aku mampu mengatur mimpi. Jika itu dapat kulakukan, aku akan membawamu ke dalam sebuah dunia yang hanya ada kita berdua dan segalanya berpihak kepada kita. Tiada waktu dan jarak. Tiada saat berpisah yang datang terlalu cepat. Dan aku tak akan terjaga sampai kiamat.

Pelukanmu terasa semakin kuat, menekankan rasa hangat. Memberikan keyakinan kepadaku bahwa kita akan baik-baik saja kendati harus berkompromi dengan waktu dan jarak. Di balik bahumu, kulihat sebuah tas besar yang tadi kita isi dengan barang-barang yang kita pindahkan dari lemari. Tas itu yang akan menemanimu pergi esok hari.

Kubalas pelukanmu sepenuh hati. Kuhirup aroma shampo dan parfummu sampai meresap ke dasar indera penciumanku. Kubisikkan, “Jangan pergi!” dan kamu menyetujui. Kita pun saling membohongi diri sendiri bahwa kamu memang tidak akan pergi. Bahwa masih akan ada banyak sore indah yang kita miliki dan lalui bersama sampai nanti….

Orang-orang selalu berkata bahwa apa yang pernah kita punya akan menjadi bermakna ketika ia sudah tak lagi ada. Mungkin iya. Tetapi bagiku, kamu berbeda. Kamu selalu bermakna, ada atau pun tiada. Dekat atau pun jauh. Bersamaku atau pun bersama siapa.

Dan sore ini memang terasa berbeda, karena kamu tak lagi ada. Tetapi, perasaanku terhadapmu tetap sama. Tetap ada. Bahkan ketika kelak kamu kembali untuk menebus sore-sore indah yang kita lalui bersama orang lain selama kita berpisah.

Dan aku yakin bahwa sore ini akan terasa berbeda, karena yang di sampingku bukanlah kamu, melainkan dia. Begitu pun dengan kamu di sana. Tak mengapa, sebab hidup memang harus dilalui dengan kondisi terjaga.[]

2 thoughts on “Tentang Sore yang Tak Lagi Sama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s